
Hari ini seharusnya mereka semua pulang, kembali ke Indonesia. Tapi, kembali Diandra mengatur rencana agar dia dan Airon bisa lebih lama berdua, tanpa gangguan dari siapa pun.
Maka, dari itu saat dalam perjalanan ke bandara Diandra dengan kelicikannya memesan taksi yang berbeda untuk Syahnni, dengan cara dia membayar satu taksi untuk cepat membawa Syahnni ke bandara sebelum Airon naik ke taksi itu.
Setelah itu Diandra berpura-pura sakit perut, untuk memperlambat mereka berdua, agar ketinggalan pesawat.
"Apa pesawat sudah akan lepas landas?" Tanya Syahnni pada pramugari.
"Iya nyonya." Sahut pramugari.
"Tapi suami saya belum naik ke pesawat." Kata Syahnni.
"Sebentar lagi kita lepas landas nyonya."
"Saya mau turun." Kata Syahnni, padahal pintu pesawat sudah di tutup.
"Tidak bisa nyonya, sebaiknya nyonya duduk." Kata Pramugari.
"Maaf Pak Airon, gara-gara saya kita jadi tertinggal pesawat." Kata Diandra saat mereka sudah berada di bandara, karena setelah melihat jam keberangkatan sudah lewat, Diandra mengatakan jika dia sudah baik-baik saja dan tidak merasa sakit lagi.
"Tidak apa-apa, kita kembali saja ke hotel." Kata Airon, lalu mereka pun kembali ke hotel.
Di pesawat, Syahnni merasa sangat marah. Pesawat sudah mengudara, dan Airon masih berada di Sydney bersama Diandra.
Saat makan malam, hanya ada Airon dan Diandra. Dan, itulah yang di inginkan oleh Diandra, dia ingin hanya ada dia dan Airon, agar dia bisa lebih leluasa menarik perhatian Airon.
"Saya permisi ke kamar dulu Pak." Kata Diandra.
"Ya, saya juga akan kembali ke kamar saya."
Airon dan Diandra ke kamar mereka masing-masing.
Jam sudah menunjuk pukul 1:30 dini hari, tapi Diandra masih juga terjaga.
Diandra memikirkan bagaimana selanjutnya, dan apalagi rencananya untuk bisa mendekati Airon.
Suara telpon hotel yang berbunyi mengagetkan Diandra. Diandra menggapai gagang telepon menjawab panggilan itu.
"Halo."
"Diandra tolong ke kamar saya sekarang."
Ternyata Airon yang menghubungi Diandra, meminta agar Diandra ke kamarnya.
Diandra sampai di depan pintu kamar hotel Airon, lalu mengetuknya. Tak lama kemudian, Airon membuka pintu.
"Pak Airon kenapa?" Tanya Diandra ketika melihat wajah Airon yang pucat.
"Tolong kamu tutup pintunya." Kata Airon berjalan masuk ke kamarnya.
Kamar Airon adalah kamar president's suit, yang di dalam kamar, ada kamarnya lagi.
"Saya bantu Pak." Diandra berlari kecil menghampiri Airon dan membantu Airon masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Pak Airon sudah minum obat?" Tanya Diandra.
Airon menggeleng.
"Pak Airon punya obat di sini?" Tanya Diandra lagi, dan Airon menggeleng lagi.
"Pak Airon tunggu di sini, saya akan keluar untuk cari obat." Diandra akan berdiri, tapi Airon menahan tangannya.
"Di sini saja, temani saya." Kata Airon tak ingin jika Diandra pergi.
Diandra pun menurut, dia kembali duduk menatap Airon yang memejamkan mata sambil menggenggam tangannya.
Diandra menyentuh dahi Airon, dan sangat panas, Diandra kembali berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Airon yang tak melepaskan tangan Diandra.
"Saya hanya keluar sebentar, mengambil air hangat, Pak Airon harus di kompres." Kata Diandra lalu keluar ruang tamu kamar itu mengambil air hangat.
Diandra melirik jam, susah pukul 4 subuh, Diandra kembali mengecek suhu tubuh Airon, sudah jauh lebih baik, demamnya sudah turun.
Karena Airon sudah jauh lebih baik, Diandra pun memutuskan untuk tidur, dia merebahkan kepalanya di sisi kasur sambil menggenggam tangan Airon.
Airon membuka matanya, dan melihat Diandra yang tertidur.
Perlahan Airon mengusap lembut kepala Diandra, Diandra mengingatkan dia pada Dania, namun Airon tahu dan sadar, jika Diandra bukanlah Dania.
Diandra membuka matanya, mengangkat kepala lalu melihat Airon.
"Ya." Sahut Airon.
"Bagaimana perasaan Pak Airon? Apa sudah lebih baik?" Tanya Diandra.
"Sangat baik." Sahut Airon lalu duduk.
"Pelan-pelan Pak Airon." Diandra membantu Airon duduk.
"Terima kasih, kamu sudah menjaga saya semalaman." Ucap Airon.
"Tidak masalah Pak, saya senang bisa menjaga Pak Airon." Kata Diandra tersenyum.
Diandra melihat jam, jarum jam sudah menunjuk pukul 3 subuh.
"Pak Airon butuh sesuatu?" Tanya Diandra, mungkin saja Airon bangun karena ingin minum.
"Tolong ambilkan saya air, saya ingin minum." Tebakan Diandra ternyata benar.
Diandra keluar mengambil air untuk Airon, tapi tanpa sengaja saat Diandra menuangkan air ke gelas, air itu justru tumpah ke baju Diandra membuat bagian depan Diandra menjadi basah.
"Ini airnya Pak."
"Terima kasih." Ucap Airon lalu meminum air itu.
"Baju kamu kenapa?" Tanya Airon.
__ADS_1
"Tadi air tumpah ke baju saya Pak." Kata Diandra.
"Sebaiknya ganti baju kamu, ambil saja baju saya di lemari, kalau kamu memakai baju basah nanti gantian kamu yang sakit." Kata Airon.
"Apa tidak apa-apa saya pakai baju Pak Airon." Tanya Diandra.
"Pakai saja Diandra."
"Terima kasih Pak Airon. " Ucap Diandra.
"Sekalian saya pinjam handuknya Pak Airon, saya mau mandi sekalian, karena gerah, AC-nya mati." Izin Diandra.
Diandra memang mematikan AC di kamar Airon di karenakan Airon demam, Diandra tak ingin dinginnya AC membuat demam Airon tak turun-turun.
"Pakai saja, maafkan saya, karena takut saya tambah sakit, kamu jadi kepanasan." Ucap Airon merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Pak, saya tidak keberatan kepanasan." Senyum Diandra lalu pamit masuk ke kamar mandi.
"Arkkk..." Diandra teriak, Airon yang mendengar suara teriakan Diandra segera bangun dan berlari ke kamar mandi untuk menanyakan apa yang terjadi pada Diandra, Airon takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Diandra.
"Diandra kamu kenapa?" Tanya Airon di depan pintu kamar mandi yang tak tertutup, Airon tampak khawatir.
"Saya salah pencet air Pak Airon. Saya malah pencet air panas." Teriak Diandra.
"Tapi kamu baik-baik saja kan?" Tanya Airon memastikan.
"Iya Pak Airon, saya tidak apa-apa." Sahut Diandra.
"Pak Airon.." Panggil Diandra.
"Ya." Sahut Airon.
"Kenapa yang keluar air panas terus ya?" Tanya Diandra dari dalam kamar mandi.
"Pakai handuk kamu, saya akan masuk." Teriak Airon.
"Sudah." Kata Diandra.
Airon pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi, di dalam Diandra berdiri dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Air dinginnya tidak keluar Pak." Kata Diandra.
Airon mencoba memencet tombol air dingin, dan benar air nya tidak keluar.
"Mungkin rusak, sepertinya saya harus komplain pada pihak hotel." Kata Airon.
"Ya, sepertinya saya tidak bisa mandi deh Pak." Kata Diandra.
"Saya akan keluar, kamu pakai bajumu." Kata Airon, Diandra pun mengangguk.
Tapi, belum sempat Airon melangkah dari bawah shower, air tiba-tiba keluar menyiram Airon dan Diandra yang memang berdiri di bawahnya.
Keduanya jadi basah kuyup. Dan, handuk yang melilit tubuh Diandra terlepas.
__ADS_1