
paginya adik Hanson berada di sebuah perusahaan untuk melakukan interview.
"Maaf mbak, saya Diandra, yang di panggil untuk interview." Kata adik Hanson yang ternyata bernama Diandra pada resepsionis.
"Silakan nona ke lantai sepuluh." Kata resepsionis.
"Baik, terima kasih mbak." Ucap Diandra lalu segera menaiki lift menuju lantai sepuluh.
Saat yang sama, tepat saat pintu lift akan tertutup, Ergan juga masuk dan menaiki lift yang sama dengan Diandra.
Ergan maupun Diandra, keduanya hanya diam sampai pintu lift terbuka karena mereka telah sampai di lantai sepuluh.
"Err, maaf." Kata Diandra pada Ergan.
"Ya, ada apa?" Tanya Ergan.
"Saya di panggil untuk interview, tapi saya tidak tau harus kemana." Kata Diandra.
"Apa anda nona Diandra?" Tanya Ergan.
"Iya pak, betul saya Diandra." Sahut Diandra.
"Ikut ke ruangan saya." Kata Ergan, Diandra pun mengikuti Ergan.
"Duduklah. Sepertinya pemilik perusahaan ini sangat pemalas. Jadi, tunggu saja di sini dengan nyaman." Kata Ergan.
Ergan menghubungi Airon untuk mengatakan jika pelamar itu sudah datang untuk melakukan interview.
"Nona Diandra sudah di ada di kantor pak." Beritahu Ergan saat Airon mengangkat panggilannya.
"Diandra? Siapa dia?" Tanya Airon dari seberang sana karena, dia tak ingat siapa itu Diandra.
"Yang melamar untuk menjadi sekretaris anda pak." Jawab Ergan memberitahu Airon siapa itu Diandra.
"Kamu saja yang urus Gan, hari ini aku cuti, aku mau main sama Deon." Setelah mengatakannya, Airon langsung menutup panggilan Ergan.
"Dasar! Mentang-mentang sudah punya anak." Kesal Ergan, karena lagi-lagi Airon melemparkan pekerjaan yang tak harus dia lakukan.
Tapi itu lebih baik, karena kehadiran Deon membuat Airon jauh, bahkan luar biasa baik. Airon juga sudah sering tersenyum.
Semenjak kehilangan Dania, Airon menjadi sangat pemurung, lebih pemarah dan sangat dingin pada siapa pun.
Airon mulai berubah lagi, setelah Syahnni melahirkan Deon, perlahan-lahan senyum Airon terlihat. Hari demi hari dia menjadi lebih baik dan hangat. Dan, jadilah Airon yang saat ini. Lebih baik dari sebelumnya, sebelum dia bertemu Dania, dan sebelum dia kehilangan Dania. Semua itu berkat Deon. Deon menghidupkan kembali semangat hidup Airon setelah kematian Dania, istri yang sangat dia cintai dan juga anak yang di kandung Dania.
"Diandra, ayo kita mulai interviewnya." Ujar Ergan.
Setelah beberapa menit setelah interview, Ergan merasa puas dengan jawaban-jawaban yang di berikan oleh Diandra padanya.
__ADS_1
Menurut Ergan, Diandra cukup berpengalaman dan pastinya, kinerjanya akan baik nantinya.
"Kami di terima bekerja di sini." Ergan menyampaikan kabar yang di harapkan oleh Diandra.
"Benar pak? Saya di terima?" Tanya Diandra ingin memastikan.
"Ya, kamu di terima." Ulang Ergan mengiyakan.
"Terima kasih pak, saya akan bekerja dengan baik." Ucap Diandra girang.
"Besok kamu sudah mulai bekerja di sini." Beritahu Ergan.
"Baik pak, saya akan datang tepat waktu." Kata Diandra.
"Semoga kamu betah, satu lagi yang harus saya ingatkan agar kamu bisa sedikit lebih lama bekerja di sini. Mungkin." Ergan sendiri tak yakin sebenarnya.
"Apa itu Pak?" Tanya Diandra.
"Kamu jadilah sekretaris yang baik. Meskipun Airon, maksud saya, Pak Airon. Meskipun dia tampan, menarik dan kaya, jangan pernah kamu menunjukkan ketertarikan kamu padanya. Mengerti?" Ergan member saran pada Diandra, jika Diandra ingin lebih lama bekerja menjadi sekretaris Airon.
"Baik Pak." Sahut Diandra, lagipula, dia tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya. Dan, lagi pekerjaan ini sangat berarti untuknya.
"Bagus, semoga berhasil dan kuat." Ucap Ergan.
"Terima kasih Pak." Ucap Diandra.
"Baik Pak." Sahut Diandra lalu pergi.
Ergan, dia berharap, kali ini Diandra akan lama bekerja menjadi sekretaris Airon. Dia tak ingin lagi memiliki pekerjaan ganda yang menyita banyak waktunya.
Karena memiliki dua pekerjaan, menjadi manager keuangan dan juga sekaligus sekretaris Airon membuat Ergan tak punya banyak waktu untuk bertemu dengan Airish.
Di rumahnya, Airon tengah asik bermain dengan Deon. Di sana ada Tania dan Syahnni.
"Tumben sekali kamu di rumah. Biasanya kamu sibuk di luar." Ujar Tania pada Syahnni.
"Butik Syahanni lagi tidak terlalu rame Ma, jadi. Ya, Syahnni bisa sedikit santai hari ini." Jawab Syahnni dengan memasang senyum, meskipun itu adalah senyum terpaksa.
Sampai sekarang Tania masih tak membuka hatinya untuk menerima Syahnni sebagai menantunya.
Jika bukan karena Deon, sudah lama Tania akan menyuruh Airon untuk menceraikan Syahnni.
"Kamu itu harusnya lebih banyak memberi waktu kamu untuk Deon, bukan malah kamu lebih banyak menghabiskan waktu untuk butikmu itu." Ujar Tania.
Selama ini Tania perhatikan, Syahnni seperti tak memposisikan dirinya sebagai orang tua. Syahnni tak pernah memberikan Deon kasih sayang yang cukup.
"Butik Syahnni itu penting Ma, lagian kan ada Mama, Airish dan Airon." Kata Syahnni.
__ADS_1
"Mama ayo main.." Panggil Deon.
Syahnni pun berlari kecil menghampiri Airon dan Deon karena terlalu malas meladeni Tania yang selalu saja memojokkan dirinya.
****
Ke-esokan paginya, Diandra datang tepat waktu dan mengetuk pintu ruangan Airon.
"Masuk." Kata Airon.
Diandra pun masuk dengan sopan.
"Selamat pagi Pak, saya sekretaris bapak yang baru." Ucap Diandra.
"Selamat pagi, duduk." Kata Airon.
"Terima kasih Pak." Ucap Diandra.
Pagi ini Diandra begitu formal dengan mengenakan kemeja panjang putih yang di padukan dengan rok hitam selutut. Diandra juga memakai sepatu hak tinggi yang memperindah kakinya, meskipun sebenarnya dia merasa pegal karena sudah terlalu lama dia tak memakai hak tinggi.
"Tolong kamu ambil map yang ada di sana dan bawa kemari." Kata Airon yang tak melihat langsung wajah Diandra, Airon terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk di atas mejanya.
"Ini Pak." Diandra meletakkan map yang di minta Airon.
"Ada lagi Pak?" Tanya Diandra yang berdiri.
"Kamu boleh keluar, nanti kalau saya butuh apa-apa lagi saya akan panggil kamu." Kata Airon.
Diandra pun keluar tanpa Airon melihat wajahnya. Sedang Diandra, dia hanya melihat Airon yang menunduk mengerjakan pekerjaannya.
Diandra keluar, duduk di kursinya. Baru sebentar Diandra duduk, telpon yang ada di mejanya berdering.
"Ya, Pak." Diandra mengangkatnya.
"Tolong bagian dapur untuk membuatkan kopi untuk saya." Kata Airon.
"Baik Pak." Sahut Diandra, lalu pergi untuk memberitahu bagian dapur.
Tapi, setelah sampai, tak ada satu pun orang di sana. Diandra memutuskan dia yang membuatkan kopi untuk Airon.
"Permisi Pak, ini kopinya." Diandra masuk dan meletakkan cangkir kopi di meja Airon.
"Baik, terima kasih." Ucap Airon masih sibuk.
"Saya permisi keluar pak." Diandra kembali ke mejanya.
Saatnya pulang, Diandra sudah pamit lebih dulu untuk pulang. Sementara Airon, masih di ruangannya. Kopi pagi tadi masih utuh di atas mejanya, Airon melihatnya, Airon meneguk perlahan kopi yang di pesannya itu. Dan, seketika wajah Airon berubah.
__ADS_1