
Dania sedang di sekap di sebuah gudang terlantar dengan tangan terikat dan mulut yang di perban.
"Mmm..." Dania mencoba untuk berteriak tapi percuma karena dia tak bisa.
Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padaku?" Dania bertanya dalam hati tak tahu siapa yang menyekap dirinya.
Dania terus meronta-ronta berharap ikatan di tangannya akan terlepas.
Karena dari drama yang di tontonnya. Jika melakukan itu akan berhasil melepaskan tangan si pemeran yang terikat oleh tali.
Tapi. Sayang, usaha yang Dania lakukan sia-sia. Bukan ikatan di tangannya yang lepas tapi justru dia yang kelelahan.
Dania tak lagi memaksakan diri karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada kandungannya.
Pintu gudang terlantar itu terbuka. Dua orang pria berbadan kekar masuk dan menghampiri Dania.
"Mmmm..." Dania mencoba untuk bicara.
"Bicara apa dia?" Tanya salah satu dari dua pria itu.
"Mana ku tau. Memangnya kau pikir aku bisa mengerti." Sahut pria yang satunya lagi.
"Lepaskan saya perban mulutnya." Kata pria pertama.
Dan pria kedua pun melepaskan perban mulut Dania.
"Siapa kalian?" Tanya Dania langsung setelah perban yang menutupi mulutnya di buka.
"Kau tidak perlu tau siapa kami!" Ujar pria pertama dengan wajah garangnya.
"Apa yang kalian inginkan? Kenapa kalian melakukan ini padaku?" Tanya Dania ingin tahu. Karena dia tidak mengenal kedua pria itu.
"Kau memang tidak mengenal kami. Tapi kau mengenal bos yang menyuruh kami." Ujar pria kedua.
"Perempuan ini cantik juga ternyata. Semakin di liat semakin cantik. Bagaimana kalo kita.." Pria kedua memberi kode pada pria pertama.
"Jangan macam-macam. Jangan membuat bos marah! Kau mau kita tidak di bayar hah!" Ucap si pria pertama.
Sedang Dania dia sudah terdiam ketakutan. Takut pria-pria itu akan melakukan hal buruk pada dirinya.
"Kau diam-diam di tempat ini! Jangan macam-macam! Atau aku akan membunuhmu." Ujar pria pertama memperingati Dania agar tak berbuat sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri.
Dania sudah akan menangis tapi dia menahannya. Dia tak ingin kedua pria jahat itu melihatnya ketakutan.
****
"Bagaimana apa kau sudah menemukan di mana Dania?" Tanya Airon pada Ergan.
__ADS_1
Airon sudah terlihat sangat khawatir memikirkan Dania.
Sudah 24 jam Dania menghilang dan masih belum di temukan keberadaannya.
"Belum Ron. Anak buah ku masih mencari, jika mungkin ada tanda-tanda Dania. Dia akan segera melapor padaku." Sahut Ergan.
"Kurang ajar!" Airon begitu marah dengan menghilangnya Dania.
"Kita berdoa saja Ron, semoga tak ada hal buruk yang terjadi pada Dania." Kata Tania.
Tania sendiri juga terlihat begitu mengkhawatirkan menantunya itu. Apalagi, Dania sedang mengandung cucunya.
"Kemana Dania sebenarnya." Airish pun demikian khawatir pada Dania. Sama dengan yang lainnya.
"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan padanya bos?" Tanya pria kedua pada Syahnni.
Ya, ternyata yang menyuruh mereka menculik Dania adalah Syahnni. Semua adalah ulah Syahnni.
Syahnni merasa sangat sakit hati karena Dania Airon menceraikan dirinya.
Jika bukan karena Dania melaporkan, mengatakan pada Airon jika dia yang mendorong Dania hingga jatuh dari tangga Airon tidak akan menceraikan dirinya.
"Sekap saja dia dulu. Aku ingin dia menderita perlahan-lahan hingga dia menyerah untuk hidup!" Kata Syahnni.
Di dalam gudang terlantar. Dania merasa sangat kehausan. Kedua pria yang menyekapnya itu tidak pernah memberikan makan dan minum padanya.
"Entahlah. Aku juga tak tau apa yang menimpa Dania karena sampai sekarang belum ada kabar jika anak buahku menemukan keberadaannya." Ujar Ergan menjawab.
"Semoga tak anak hal buruk yang terjadi padanya." Kata Airish penuh pengharapan.
"Semoga." Sahut Ergan juga penuh harap.
Sementara Airon. Dia duduk di ruang kerjanya dengan wajah lesu memikirkan Dania dan juga anaknya yang berada di dalam perut Dania.
"Kamu kemana Dania." Pertanyaan yang tak mungkin Airon dapatkan jawabannya.
Kedua pria yang menyekap Dania di gudang terlantar telah kembali.
"Apa kau haus?" Tanya pria kedua. Dania mengangguk, jika dia memang sangat merasa haus.
"Ini aku berikan." Pria kedua mengeluarkan air kemasan dari dalam plastik. Ia membukanya. Namun, setelah itu dia menumpahkan air itu perlahan-lahan hingga habis tak tersisa tepat di depan Dania.
Sepertinya dia memang sengaja melakukan itu untuk membuat Dania semakin merasa kehausan.
"Ini, minum." Pria pertama menghampiri Dania lalu membuka perban yang menutupi mulut Dania. Setelahnya dia memberi Dania air. Dia membantu Dania minum karena kedua tangan Dania masih terikat.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memberinya air! Bukankah bos sudah bilang kita harus membuatnya tersiksa!" Ujar pria kedua marah menatap pria pertama karena telah berbaik hati pada Dania.
__ADS_1
Pria pertama hanya diam tak menangapi ucapan pria kedua. Membuat pria kedua semakin geram.
"Terima kasih." Ucap Dania setelah hampir menghabiskan sebotol air putih yang di berikan oleh pria pertama itu.
Ucapan terima kasih dari Dania pun tak di tanggapi nya. Dia hanya diam dan pergi kembali ke sudut sana tempatnya duduk.
****
Hari demi hari. Hingga sudah tiga hari Dania menghilang dan belum juga di temukan.
Airon, Tania, Airish dan Ergan semakin khawatir. Entah di mana keberadaan Dania sekarang.
Apalagi Airon. Wajahnya sudah di tumbuhi dengan Kumis dan janggot-janggot tipis.
Airon terlihat begitu putus asah atas kehilangan Dania.
"Mama jadi khawatir liat Airon." Ucap Tania.
"Sepertinya Airon sangat terpukul dengan hilangnya Dania Ma." Kata Airish.
"Entah, di mana Dania sekarang ini."
"Ergan masih berusaha mencari Ma." Beritahu Airish.
"Semoga Dania cepat di temukan."
"Iya Ma, itu harapan kita semua."
Tanpa di ketahui oleh semuanya saat ini Dania masih terkurung. Bahkan, keadaannya terlihat semakin melemah.
"Apa sebenarnya yang kalian inginkan? Kenapa kalian terus mengurung saya di tempat ini?" Dania bertanya pada kedua pria yang terus menjaganya itu.
"Mau kita adalah kau itu tersiksa." Jawab pria kedua.
"Apa salah saya sama kalian? Saya tidak mengenal kalian. Kenapa kalian lakukan ini pada saya?" Dania meneteskan air mata karena sudah tak tahan lagi.
"Bukan mau kita tapi mau bos yang membayar kita berdua." Kata pria kedua menjawab pertanyaan Dania.
"Siapa dia? Kenapa dia melakukan ini pada saya?" Dania bertanya lagi.
"Nanti kalau kamu ketemu dia. Kamu pasti akan tau siapa dia. Dan kamu pasti akan tau apa kesalahan kamu sama dia." Ujar pria pertama.
Sementara pria kedua hanya diam tak bersuara. Entah apa yang dia pikirkan.
"Tolong bebaskan saya." Pinta Dania. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada kandungannya.
Sudah tiga hari tak di beri makan oleh dua pria yang menyekapnya itu.
__ADS_1
Perut Dania pun sudah mulai terasa sakit. Dania menangis karena takut kehilangan anak di dalam kandungannya. Hatinya tak sanggup menerima jika terjadi sesuatu yang tidak dia ingin kepada janinnya itu.