
Hari kedua, Diandra bangun tepat waktu, dia tak ingin terlambat. Setelah mengambil handuknya, Diandra lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, Diandra keluar hanya dengan sebuah handuk yang melilit tubuhnya, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.
Diandra mengeringkan rambutnya, dan memakai pakaian yang rapi, tak lupa juga dia memeriksa roknya, setelah merasa cukup baik karena masih di bawa lututnya. Diandra lalu menyemprotkan parfum dengan wangi vanila.
"Dian? Kamu sudah siap?" Hanson mengetuk pintu kamar Diandra.
"Sudah kak." Sahut Diandra dari dalam.
"Ayo sarapan." Kata Hanson mengajak Diandra untuk sarapan.
"Kakak jaga malam lagi?" Tanya Diandra.
"Ehe, selama seminggu." Sahut Hanson menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Kakak kalo jaga malam hati-hati." Pesan Diandra, karena bekerja sebagai Satpam bisa sangat berbahaya.
Diandra menaiki bus ketempat kerjanya, dia bisa saja naik taksi, tapi dia harus berhemat.
Sesampainya di kantor, Diandra langsung duduk di kursinya, menunggu Airon datang.
Tak lama kemudian Airon pun datang,
"Selamat pagi pak." Sapa Diandra dengan sopan.
"Pagi." Balas Airon.
Saat Airon masuk ke ruangannya, Diandra pun mengikuti Airon.
"Pak, apa yang harus saya kerjakan dan siapkan untuk bapak hari ini?" Tanya Diandra ketika Airon sudah duduk di kursinya dan membuka jasnya, lalu ia sangkutkan di kursinya.
"Tolong kamu atur semua berkas-berkas yang ada di sana, atur sesuai urutannya." Kata Airon menunjuk pada map yang seperti habis di acak-acak maling.
"Baik pak." Ujar Diandra lalu mengerjakan yang di suruh kan padanya.
Diandra bekerja dengan teliti dan benar. Diandra tak ingin melakukan kesalahan yang akan membuat dia kehilangan pekerjaannya.
Karena jika sampai dia kehilangan pekerjaannya, dia tak bisa membantu Hanson mendapatkan penghasilan.
Karena, dia dan Hanson membutuhkan uang banyak untuk sesuatu yang sangat penting.
Diandra dan Hanson harus bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang. Karena uang itu akan dia pakai untuk menebus sesuatu yang berharga baginya dan Hanson.
__ADS_1
"Sudah selesai Pak." Beritahu Diandra jika pekerjaan yang di suruhkan oleh Airon telah pun selesai, map-map di sana sudah tersusun rapi.
"Ada lagi Pak?" Tanya Diandra. Jika mungkin adalagi pekerjaan yang ingin Airon ingin dia lakukan.
"Tidak, kamu bisa kembali ke mejamu." Kata Airon.
"Baik Pak." Sahut Diandra, lalu kembali ke mejanya.
"Diandra, keruangan saya sekarang." Panggil Airon.
"Baik Pak." Sahut Diandra, lalu masuk keruangan Airon saat panggilan di matikan.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya Diandra saat dia sudah berada di ruangan Airon.
"Kamu cacat semua ini di komputer, setelah itu kirimkan ke saya." Airon kembali memberikan Diandra pekerjaan, dan dengan senang hati Diandra melakukannya, karena tak melakukan apapun membuat dia bosan dan kantuk.
Diandra mulai mengetik di komputer, mencatat semuanya tanpa terkecuali.
Diandra memeriksa semuanya dengan detil, agar tak ada satu huruf pun yang salah dan terlewatkan.
Tuk! Tuk! Tuk!
Meja Diandra di ketuk oleh seseorang, saking serius dan fokusnya, Diandra sampai tak sadar ada yang datang.
Mendengar ketukan pada mejanya, Diandra mengangkat wajah, mengalihkan pandangan dari pekerjaan yang sedang dia lakukan.
"Airon ada di dalam kan?" Tanya Syahnni pada Diandra.
"Iya nyonya, bapak Airon ada di dalam." Sahut Diandra kembali mengatur raut wajahnya.
Setelah mendapat jawaban dari Diandra, Syahnni pun langsung masuk ke ruangan Airon tanpa menoleh lagi pada Diandra.
"Siang sayang." Syahnni masuk dan langsung mencium pipi Airon.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Airon yang tampak tak suka kehadiran Syahnni di sana.
"Ya, untuk ketemu kamu sayang." Sahut Syahnni kini sudah duduk di pangkuan Airon tanpa Airon perduli padanya.
"Yang di luar itu sekretaris baru kamu ya?" Tanya Syahnni menanyakan Diandra.
"Ya," sahut Airon pendek, karena tak ada gunanya juga jika menjawab panjang. Lagipula, dia berharap agar Syahnni segera pergi dari kantornya.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, sebaiknya kamu segera pulang. Deon, juga pasti ingin segera bertemu kamu." Ucap Airon. Dia sudah sangat risih dengan Syahnni.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pulang." Syahnni pun berdiri, dia kembali mencium Airon, namun kali ini di bukan di pipi, melainkan bibir Airon, Syahnni melayangkan bibirnya tepat di bibir Airon.
Syahnni keluar dari ruangan Airon tanpa menoleh ke arah Diandra.
Sementara Diandra terus menatap punggung Syahnni hingga menghilang.
Di wajah Diandra terpancar kebencian yang besar pada Syahnni.
Tatapan Diandra pada Syahnni adalah tatapan yang seperti pembunuh yang siap membunuh targetnya.
"Tadi aku ketemu dia." Diandra membuka suara saat dia dan Hanson akan makan malam sebelum Hanson berangkat untuk bekerja.
"Siapa?" Tanya Hanson.
"Wanita itu." Jawab Diandra.
Hanson mulai mengerti siapa yang Diandra maksudkan.
"Di mana kamu ketemu dia?" Tanya Hanson yang juga terlihat begitu serius.
"Di kantor, ternyata, kantor itu adalah kantor suaminya. Tadinya aku pikir hanya nama mereka yang sama, dan itu bukan dia. Tapi, kedatangan wanita itu membuat aku sadar, jika Airon atasanku, adalah Airon yang kita tahu." Ujar Diandra menjelaskan semuanya pada Hanson.
"Kakak tau, saat melihat wanita itu, rasanya, aku ingin langsung membunuhnya. Mencabik-cabik tubuhnya tanpa ampun." Kata Diandra.
"Kita harus bersabar, kita harus mendapatkan apa yang kita ingin sebelum kita membuatnya tersiksa." Ujar Hanson.
"Aku-" Diandra diam tak melanjutkan ucapannya.
"Aku akan pastikan dia kehilangan suaminya, aku akan merebut Airon darinya." Ujar Diandra melanjutkan kalimat yang di gantungnya tadi.
"Kamu mau menggoda Airon?" Tanya Hanson.
"Iya kak." Sahut Diandra.
"Tapi, itu bukan rencana awal kita Diandra." Ucap Hanson.
"Ya, itu memang bukan rencana awal kita kak. Tapi, tadi setelah bertemu langsung dengan wanita itu, aku ingin merampas sesuatu yang membuatnya gila." Ujar Diandra yang sudah sangat yakin dengan apa yang ingin lakukan. Iyaitu, menggoda Airon, dan membuat Airon jatuh ke pelukannya.
"Tapi, pastikan, kamu tidak membahayakan dirimu. Karena, Syahnni itu adalah wanita yang sangat jahat, dia akan melakukan apa agar keinginannya tercapai." Kata Hanson.
"Jika dia wanita yang seperti itu, maka aku akan melawannya dengan cara yang sama." Ujar Diandra.
Dia akan memastikan Airon jatuh kepelukannya, hingga membuat Syahnni sangat marah.
__ADS_1
"Kakak akan membantu kamu." Hanson tak melarang dan menghalangi Diandra, justru Hanson setuju dan akan membantu Diandra mencapainya.
"Tidak, kakak tidak boleh menunjuk diri kakak di depan Syahnni, biarkan aku sendiri yang melakukannya. Aku tidak mau rencana ini gagal, jika Syahnni sampai melihat kita berdua, dan Syahnni jadi tau jika aku adalah adik kakak." Kata Diandra. Dia ingin rencana berjalan dengan mulus.