
Pesta yang di adakan oleh teman bisnis Airon sangat meriah, di hadiri para petinggi-petinggi dunia bisnis. Para gadis dari keluarga kaya raya dan juga pengusaha-pengusaha sukses sedang berdansa di ujung sana.
Begitupun Airon yang berpasangan dengan Syahnni, sedang Ergan dan Airish. Sementara Diandra, dia hanya duduk sendiri meneguk koktail di tangannya.
Diandra menatap tajam ke arah Syahnni yang tengah asik dan bahagia berdansa dengan Airon. Rasa marah di hati Diandra kembali menguak membakar perasaannya.
Diandra tidak terima jika Syahnni bahagia dan tersenyum di atas penderitaan orang lain.
Tanpa sadar Diandra terus menambah minuman memabukkan ke dalam gelasnya.
"Hai, kamu sendirian?" Seorang pria datang menghampiri Diandra.
"Ya, sepertinya aku memang sendiri." Sahut Diandra malas.
"Bisa aku temani?" Tanya pria itu lagi.
"Tentu." Kata Diandra.
Tak lama kemudian pria itu mengajak Diandra pergi, tapi tampaknya Diandra juga tak menolak ajakan itu.
Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Diandra, lalu keduanya pergi meninggalkan bar untuk pergi ke suatu tempat.
Mata Airon menangkap Diandra dan pria itu, Airon juga terlihat tak senang dan gelisah melihat Diandra dan pria itu pergi.
"Kenapa sayang?" Tanya Syahnni saat Airon berhenti berdansa.
"Aku mau ke toilet." Ucap Airon.
"Aku tunggu di sini ya." Kata Syahnni.
Airon tak berlama-lama lagi, dia langsung mengejar Diandra dan pria yang tak di kenalnya itu.
Airon mencari-cari keberadaan Diandra, tapi dia tidak menemukan keberadaan Diandra dan pria itu.
"Argh, apa yang ingin kamu lakukan!" Airon mendengar suara seseorang, dan itu seperti suara Diandra.
Airon dengan cepat menghampiri sebuah kamar di mana dia mendengar suara Diandra.
"Tolong! Apa yang kamu lakukan?"
"Ayolah, kamu pasti akan suka."
Ternyata pria itu sedang menindih Diandra, sedang Diandra sedang meronta-ronta.
"Lepaskan aku!" Kata Diandra.
"Kenapa sayang, bukankah kamu juga suka." Ucap pria itu.
Bukkk!!!
Airon memukul dengan keras wajah pria itu, hingga membuat pria itu jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?!" Airon terlihat begitu marah.
"Siapa kau?" Tanya pria itu.
"Aku orang yang akan menghabisimu jika kau tidak segera pergi dari sini." Kata Airon.
Dengan cepat pria itu pergi, dia terlihat sangat takut dengan ancaman Airon yang akan menghabisi dirinya jika dia masih di kamar itu.
__ADS_1
Sementara Diandra, dia menggeliat di atas kasur.
"Diandra, kamu kenapa?" Tanya Airon terlihat khawatir.
"Panas! Rasanya sangat panas!" Ujar Diandra.
Diandra sudah merasa tak tahan lagi, karena tubuhnya terasa begitu panas.
Diandra menurunkan dressnya hingga ke pinggang.
"Diandra apa yang kamu lakukan?" Tanya Airon.
"Saya kepanasan Pak, saya sudah tidak tahan." Kata Diandra.
Diandra berhasil membuka bajunya, hingga hanya tersisa bra yang menutupi atasnya.
"Diandra!" Airon menahan tangan Diandra saat Diandra akan melepas habis dressnya.
"Ahh, Pak tolong saya." Diandra kembali menggeliat.
Diandra lalu mendekati Airon dan langsung mencium bibir Airon.
"Diandra apa yang kamu lakukan?!" Airon melepas ciuman Diandra.
"Saya tidak tahan Pak." Ucap Diandra.
Airon tahu sesuatu tidak beres terjadi pada Diandra, apakah pria tadi memberikan Diandra obat perangsang? Tanya Airon dalam hati.
"Pak, bantu saya. Saya sudah tidak tahan." Kata Diandra yang hasratnya sudah mempengaruhi otaknya.
Kembali Diandra mendekati Airon, lalu mengambil tangan Airon dan meletakkannya di dadanya.
Milik Airon di bawah sana sudah menegang, bahkan saat Diandra mulai melepas dressnya.
"Pak, saya tidak bisa, saya tidak tahan lagi." Kata Diandra, lalu Diandra mencium paksa Airon.
"Diandra! Kamu akan menyesal jika kamu tidak bisa kawal diri kamu dan menghentikan diri kamu." Kata Airon memperingati Diandra.
"Saya tidak bisa Pak, saya menginginkan Pak Airon." Kata Diandra kembali mendekat lalu kembali mencium Airon.
Airon kembali melepaskan ciuman Diandra.
"Saya sudah memperingatkan kamu Diandra, jadi jangan salahkan saya dan jangan menyesal" Ucap Airon.
"Saya tidak akan menyesal." Sahut Diandra dengan nafas berat dan suara yang serak membuat Airon semakin bergairah.
Airon menyunggingkan senyum, lalu melahap bibir Diandra dengan buas.
Diandra pun tak tinggal diam, dia membalas ciuman Airon tak kalah buasnya.
Keduanya melepaskan tautan bibirnya ketika tak lagi ada oksigen yang terhirup oleh paru-paru mereka.
Airon mulai melepas dress Diandra hingga hanya tersisa bra dan ****** ***** yang melekat di tubuhnya.
"Kami yakin ingin melakukan ini dengan saya?" Tanya Airon ingin memastikan.
"Saya yakin Pak, saya sudah tidak tahan lagi." Ucap Diandra menggeliat.
Mendapat jawaban dari Diandra membuat Airon kembali mencium Diandra.
__ADS_1
Ciuman Airon lalu turun ke leher jenjang Diandra.
"Ahh..." Diandra mendesah merasakan sensasi yang di berikan Airon padanya.
Setelah leher, Airon turun ke dada Diandra, lidah Airon bermain di sana , sementara tangan Airon meremas sebelahnya.
"Ahh.." Diandra kambali mendesah merasakan kenikmatan yang baru pertama kali di rasakan nya.
Put**ng Diandra yang masih berwarna merah jambu itu begitu menggoda Airon, hingga lama Airon bermain di sana membuat Diandra semakin tak tahan.
Permainan pun semakin panas, Airon memasukkan miliknya kedalam Diandra.
Diandra mengerang kesakitan.
"Kamu?" Diandra menghentikan aksinya saat tahu ternyata itu adalah pertama kali bagi Diandra.
"Kenapa Pak Airon berhenti?" Tanya Diandra.
"Apa benar kamu tidak apa-apa jika saya melakukannya?" Tanya Airon.
"Saya tidak apa-apa Pak Airon." Kata Diandra.
Airon pun kembali menerobos masuk secara perlahan, agar Diandra tak merasa kesakitan.
Awalnya Diandra merasa kesakitan, lama kelamaan, rasa sakit itu berubah nikmat, membuat Diandra terus mendesah kenikmatan.
Diandra dan Airon terbaring lemas karena aksi yang mereka lakukan tadi.
Diandra berbaring di lengan Airon, sementara Airon memeluk tubuh Diandra.
"Kamu sudah berasa lebih baik?" Tanya Airon.
"Iya Pak, saya merasa sudah sangat baik." Sahut Diandra.
"Apa kamu masih merasa sakit di sini?" Tanya Airon menyentuh area sensitif Diandra, karena efek obat perangsang yang sudah hilang membuat Diandra menjadi malu.
"Terasa nyeri." Sahut Diandra pelan malu-malu.
Ponsel Airon berbunyi, Airon meraih ponselnya, dan ternyata itu dari Ergan.
"Saya rasa mereka mencari kita." Kata Airon.
"Pak Airon sebaiknya pergi." Kata Diandra.
"Kita pergi bersama, saya tidak mau kamu sendiri di sini, nanti jika orang tadi kembali bagaimana." Kata Airon.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapi." Kata Airon.
Diandra segera memakai dressnya kembali, dan memperbaiki riasannya.
"Aww!" Jerit Diandra merasa sakit di bawahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Airon.
"Nyeri pak." Kata Diandra.
"Pelan-pelan saja jalannya, sini saya bantu." Airon memegang tangan Diandra membantu Diandra berjalan.
__ADS_1
Saat keluar kamar, di ujung sana sudah ada Syahnni yang berjalan ke arah Diandra dan Airon, dengan cepat Diandra melepaskan tangan Airon.
"Ada bu Syahnni Pak." Kata Diandra.