Cintaku Seperti Butiran Tasbih

Cintaku Seperti Butiran Tasbih
Merestui 1


__ADS_3

Setelah Anissa meletakan Kopi di atas meja,dia pun ikut duduk di samping sang ibu, kedua wanita tersebut saling melepas rindu dan Anissa pun bercerita tentang kampus dan suasana di kota.


Gilang dan Sang Abah pun Asik bercerita,tak lupa di selingi tertawa kecil, padahal Abah sama Gilang barusan saja bertemu.


Anissa yang ingat sudah membeli hadiah untuk nyak sama sang abah lalu berdiri dan mengambilnya, dua bungkusan sudah ada di tangan lalu dia berjalan menuju ketempat kedua orang tuanya berada.


" ini untuk nyak, ini untuk Abah.


keduanya terlihat bahagia,Gilang yang mihat semua ini hanya tersenyum kecil.


bagi Gilang dia merasa keluarga Anissa adalah keluarga yang bahagia.


setelah keberadaan Anissa di meja yang sama sang ayah pun bertanya kepada Gilang.


" nak Gilang teman kampusnya Anissa??


" iya bah, satu kampus beda jurusan dan Juga beda semester, terang Gilang.

__ADS_1


Sang abah tampak menganggangguk, Anissa yang mendengar lalu menimpali pertanyaan Sang Abah, kak Gilang di kesini ikut sama Anissa pulang karena ingin berkenalan sama Nyak sama Abah juga, Gilang pun mengangguk.


" Sang abah yang mendengar penjelasan Anissa pun berkata, apa nak Gilang tidak malu berteman dengan orang kampung??


" gak kok Bah, toh Orang kampung kan juga manusia, kita sebagai manusia tidak boleh merendahkan sesama manusia.


" sang Abahpun tertawa dan berkata, kan kebanyakan orang kota kalau ketemu orang desa pasti bilang dasar kampungan.


" itu orang lain, tapi bagi Gilang mau orang kota atau orang desa semuanya sama, gak ada bedanya, justru orang desa akhlak dan tingkah lakunya jauh lebih baik di bandingkan orang kota.


...****************...


" nyak, apa nyak mau menerima kalau kak Gilang melamar Anissa??? Tanya Anissa tiba tiba.


" Sang ibu pun menoleh ke arah Anissa dan berkata, kalau nyak sih gak keberatan yang penting bagi nyak, kebahagiaan neng adalah kebahagian nyak juga.


Anissa pun memeluk sang ibu. Dan melanjutkan aktivitas dapurnya, satu jam menyibukan diri di dapur akhirnya selesai persiapan untuk makan malam, tinggal menunggu azan magrib..

__ADS_1


Ketika Anissa dan sang ibu selesai dengan urusan dapur keduanya keluar menemui sang suami dan sang kekasih, Anisaa melihat dari kedua wajah abah sama Gilang ada sedikit keteggangan, belum sempat Anissa bertanya terdengar Azan magrib berkumandang, dan akhirnya dia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya, akhirnya satu persatu mengambil Wudhu dan menunaikan sholat berjamaah.


.


.


Setelah semuanya sudah siap di masing masing tempat, sang ayah pun menyuruh Gilang menjadi imamnya, tentu Gilang merasa kaget, karena dia takut surah yang di hafalnya tidak di ingatnya tapi apa mau di kata terpaksa dia turuti kemauan Sang Abah.


Anissa yang sudah siap berdiri di shaf belakan bersama sang ibu, ikut berdo'a semoga Gilang fasih melafalkan ayat Ayat yang akan dia bacakan di dalam rakaat sholat..


Alhamdulillah, akhirnya Finish, Gilang dengan fasih melafalkannya hingga akhir sholat, sang abah pun terlihat tersenyum..


Masih berbalutkan Mukenah, sang ibu, yang Anissa sudah sampaikan kepadanya, bahwa kedatangan Gilang adalah untuk melamar Anissa pun dia sampaikan kepada sang suami.


" pa' sebenarnya Gilang kesini bersama Anissa, dia mau melamar Anissa.


" Sang suami yang mendengarpun tersenyum, iya ma, papa sudah meraskannya tadi, sewaktu duduk bercerita bersama Gilang, papa sudah membaca pikiran Gilang.

__ADS_1


" dari mana papa bisa baca?? Emang ada tulisanya,??


" hehehe, papa bisa baca bahasa tubuhnya Gilang, bahwa dia mencintai Anissa, ya kalau sudah jodohnya mereka kita sebagai orang tua hanya bisa merestuinya, soal rumah tangga mereka yang lalui dan menjalani jadi kita sebagai orang tua hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan mereka.


__ADS_2