Club para mantan

Club para mantan
Cowo misterius


__ADS_3

Mira segera menghubungi kedua orang tuanya di Yogyakarta, mereka tidak keberatan kalau cucu mereka tinggal bersama mereka.


Selanjutnya Mira berbicara dengan Aldo dia juga senang tinggal bersama Mbah Kakung (kakek) dan Mbah putri (nenek). Setelah urusan sekolah selesai Mira mengantarkan Aldo ke Yogya.


Di siang hari yang terik, Febi keluar kantor untuk mencari makan siang. Meskipun Febi juga owner perusahan ini tetapi tidak ada karyawan yang mengetahuinya, Febi dan Julia bertindak sebagai karyawan kepercayaan Mira. Jadi saat makan siang Febi mencari makan siangnya sendiri.


Saat dia keluar dari kantor dia melihat Niko sedang berada di seberang jalan tetapi Febi tidak memperdulikan hal tersebut karena dia pikir Niko sedang mencari berita di sekitar kantor.


Namun ketika Febi sudah masuk ke dalam kantor dan melihat keluar jendela dia melihat gerak-gerik mencurigakan dari Niko dan sepertinya mata Niko terus saja mengawasi kantor Putri Kraton.


Febi segera meraih teleponmya untuk menghubungi security, namun dia mengurungkan niatnya karena dia melihat Julia berjalan mengendap-endap menghampiri Niko dan mengejutkannya. Ternyata Julia telah memperhatikan Niko sejak tadi saat dia hendak masuk ke dalam kantor.


“Hei...apa yang kamu lakukan di sini? Sejak tadi aku lihat kamu selalu melihat ke kantor kami.” Julia memandang tajam ke arah Niko.


“Eh...Ibu Julia, saya Cuma makan siang saja kok, di sini makanannya enak,” Niko mengelak.


Tetapi Julia tidak mempercayainya begitu saja, dia sudah mengawasi Niko selama satu jam lebih.


“Ngomong yang jujur, kamu ngapain di sini?.”


“Tidak ada apa-apa, hanya makan siang saja. Aku sudah selesai, aku pergi dulu ya.” Niko segera mengendarai motornya dan pergi menjauh.


“Orang aneh....” ucap Julia lirih sambil melangkahkan kakinya memasuki kantor.


Siang hari di hari berikutnya seorang satpam mengantarkan makanan ke ruangan Febi di dalam plastik makanan itu ada secarik kertas bertuliskan” selamat makan siang,” Febi bertanya kepada satpam siapa yang mengantar makanan tersebut ternyata makanan tersebut di pesan melalui aplikasi online.


Meskipun bingung Febi tetap melahap makan siang gratisnya itu. Menjelang sore satpam kembali ke ruangan Febi mengantarkan Bouqet bunga tetapi lagi-lagi satpam tersebut tidak mengetahui siapa pengirimnya, karena orang tersebut meminta bantuan seorang anak kecil untuk mengantarkannya ke kantor satpam.


Febi segera berlari ke arah jendela lalu melihat keluar mencari seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan, namun dia tidak mendapatkannya.


Febi pun membawa pulang Bouqet bunga tersebut dengan hati yang bertanya-tanya siapa yang mengirim ini semua.

__ADS_1


Tiba-tiba HP nya berdering, sebuah pesan masuk, “hai...Febi, apakah kamu suka makan siang dan bunga yang aku kirim?.”


Febi tidak membalas pesan tersebut tetapi dia langsung melakukan panggilan dengan nomer yang tidak di kenalnya itu tetapi orang itu tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Febi segera membalas pesan tadi bertanya siapakah dia sebenarnya namun orang tersebut hanya menjawab bahwa dia adalah pengemar rahasianya.


Keesokan harinya, Febi kembali mendapat kiriman makan siang tetapi dia tidak mau menerima itu, dia memberikan makan siang itu kepada security. Febi juga berpesan untuk tidak menerima kiriman Bouqet bunga apabila nanti sore ada yang mengirimnya.


Seperti hari kemarin pada sore hari pengemar rahasia itu kembali mengirim pesan kepada Febi,


“bagaimana hari ini Febi? Apakah kamu suka makan siang dan bunga yang aku kirim?.”


Dengan tegas Febi membalas pesan itu, “ makan siang itu saya berikan kepada satpam dan Bouqet bunganya mungkin ada satpam yang membawanya pulang.”


“Oh...kamu marah kepadaku? Karena aku tidak mau memperkenalkan diri?.”


“Aku tidak marah karena aku tidak perduli dengan itu semua. JANGAN GANGGU AKU LAGI!!!”


Febi merasa sangat kesal, sejujurnya dia tidak ingin di pusingkan dengan masalah asmara lagi, dia hanya ingin fokus membesarkan Arumi anak semata wayangnya.


Hari berganti hari orang misterius itu tidak menghubungi Febi kembali tetapi hari ini orang misterius itu kembali mengirim pesan kepada Febi,


“Hai...Febi, maafkan atas sikap ku tempo hari. Aku ingin mengajakmu makan malam di sebuah restoran, apakah kamu bersedia?”


Febi sangat terkejut membaca isi pesan tersebut dia meminta pertimbangan Mira dan Julia, kebetulan Mira telah kembali dari Yogyakarta, “bagaimana menurut kalian, apakah gue harus menerima undangan makan malamnya atau tidak?.”


Mira memberikan pendapatnya “kalau menurut gue sih Feb, loe terima aja supaya lega karena sudah tau siapa orangnya tapi jangan sendirian, gimana kalau gue temenin loe makan malam?.”


“Eh...Mir, jangan loe yang nemenin Febi, gue aja karena gue curiga ini dari Mas Arya deh. Coba baca bahasanya sopan banget.”


Mira dan Febi membaca kembali pesan tersebut, ya ...memang orang misterius itu memakai bahasa yang sangat sopan mirip seperti mantan suami mereka saat dahulu PDKT dengan mereka.

__ADS_1


Namun Mira dan Febi tidak paham mengapa Julia melarang Mira menemani Febi.


“Jul, terus kalau orang itu memang Mas Arya apa bedanya gue atau loe yang nemenin Febi?”.


“Kan status loe di PT ini sebagai owner mana mungkin seorang owner sampai mengurusi urusan pribadi karyawannya walaupun dia adalah karyawan kepercayaan nya.” Julia menjelaskan alasannya.


Perkataan Julia ada benarnya juga, Mira dan Febi setuju kalau Julia yang akan menemani Febi makan malam dengan cowo misterius itu.


“Hmmm...lagipula kebetulan dokter Jaya ngajak gue makan malam kan bisa sekalian tuh, jadi kalau nanti cowo misterius itu bikin gara-gara ada dokter Jaya yang akan ngelawan dia hehe...hehe...”


“Oh...ternyata ada yang mau kencan juga nih...?” Febi mencubit pinggang Julia.


“Engak kencan Cuma makan malam biasa aja kok.”


Dalam sekejap ruangan itu menjadi riuh dengan suara tawa canda ketiga sahabat itu.


Julia menceritakan rencananya kepada dokter Jaya, beruntung dokter Jaya bisa di ajak bekerjasama. Mereka mengatur kondisi seolah-olah mereka bertemu secara tidak sengaja di restoran tersebut.


Febi masuk ke dalam restoran terlebih dahulu, dia mencari seseorang yang menutupi wajahnya dengan Bouqet bunga karena itulah yang dikatakan cowo misterius itu kalau dia akan menutupi wajahnya dengan Bouqet bunga, mungkin dia berpikir hal itu romantis.


Tidak terlalu sulit menemukan orang dengan Bouqet bunga di wajahnya, namun mendadak Febi merasa gugup karena dia kuatir orang itu adalah Arya.


Untuk menghilangkan rasa gugupnya Febi melakukan panggilan Vidio Call dengan Julia tetapi dia menyamarkan seolah-olah dia sedang VC dengan anaknya.


Sambil terus berjalan Febi berbicara, “ hai sayang jangan rewel ya, mami gak lama kok cuma mau ketemu sama teman mami, tuh temen mami lucu ya dia tutupin mukanya pakai bunga.”


Febi segera duduk di kursi tanpa memutuskan panggilan VC nya, dengan hati-hati dia menyapa orang yang ada di hadapannya “hai....”


Orang di hadapannya pun membalas sapaannya “hai Febi.”


Febi sedikit terkejut dia tidak percaya dengan pendengarannya, suara orang itu tidak asing di telinganya.

__ADS_1


__ADS_2