
Suara yang terdengar tidak asing di telinganya,
“Ni...ni...ko...?” Ucapnya lirih.
“Ya, kamu benar Febi.” Niko memberikan Bouqet bunga itu kepada Febi. Febi menerima bunga itu dengan perlahan seolah dia tidak percaya cowo misterius itu adalah Niko.
“ Kita pesan makanan dulu ya, kita ngobrol sambil makan aja.” Ucap Niko.
Saat Niko dan Febi sibuk melihat buku menu, Julia dan dokter Jaya masuk ke dalam restoran tetapi mereka pura-pura tidak melihat Febi. Mereka mengambil meja dengan jarak tiga meja dari meja Febi. Julia pun sempat terkejut ketika dia melihat Niko bersama Febi.
Sambil menunggu pesanan datang Niko mulai mengutarakan isi hatinya, dia berbicara berputar-putar sempat membuat Febi menjadi jenuh, tetapi akhirnya keberaniannya muncul diapun segera mengutarakan maksud sebenarnya.
“Feb, terus terang saat pertama kali aku memata-matai kalian karena urusan pekerjaan, aku jatuh hati kepadamu. Apalagi saat aku melihatmu menjaga Arumi sewaktu di taman safari, hal itu membuatku kagum. Jadi ...maksudku adalah bisakah kita menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih?.”
Niko memang sudah mengetahui kalau ketiga wanita yang di jumpainya di taman safari saat itu adalah single parent.
Kebetulan saat itu pelayan restoran sudah datang sambil membawa pesanan mereka, sehingga Febi tidak langsung menjawab pertanyaan Niko.
Sementara itu Julia sesekali berusaha mengawasi sahabatnya itu dari tempat duduknya.
Setelah pelayan restoran pergi Febi segera menjawab pertanyaan Niko dengan tegas,
“Niko...maafkan aku kalau aku belum bisa membuka hati ku untuk pria lain. Aku masih perlu waktu, untuk saat ini aku hanya ingin fokus membesarkan Arumi.”
“Apa karena aku hanyalah seorang jurnalis lepas, maka kamu tidak mau menjamin hubungan serius dengan ku?”
“Niko, bukankah aku sudah jelaskan alasanku tidak dapat menjalin hubungan serius dengan mu, jadi jangan berasumsi macam-macam!” Febi sudah mulai kesal nada suaranya sedikit tinggi, sehingga hampir semua orang dalam ruangan itu mendengar suaranya.
Melihat hal itu Julia segera menghampiri Febi dan menyapanya, “hei...Febi ternyata kamu sedang makan di sini juga. Aku ke sini bersama dokter Jaya, sepertinya lebih seru kalau kami bergabung dengan kalian, boleh?”
“Julia...syukurlah kamu ada di sini, ayo gabung bersama kami di sini.” Ucap Febi.
Julia dan dokter Jaya bergabung bersama Febi dan Niko, kebetulan pesanan mereka belum datang jadi tidak begitu merepotkan saat mereka pindah meja.
__ADS_1
“Loe gak apa-apa Feb? Tadi gue denger nada suara loe agak keras.”
“Gak ada apa-apa kok Jul, sebentar lagi juga gue dah mau pulang.” Jawab Febi cuek.
Julia melihat wajah Niko, wajah Niko terlihat sedikit kesal karena kedatangan dua tamu yang tidak diundang tetapi Julia cuek saja.
Febi makan dengan cepat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah selesai makan dia pergi ke toilet, Julia mengikutinya dari belakang.
Febi menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada Julia. Julia sedikit terkejut lalu bertanya, “ Feb, darimana Niko tahu kalau loe dah janda? Kan kita gak pernah cerita ke dia, terus dia bisa dapat Nomer HP loe darimana?. Yang pernah hubungi dia kan cuma Mira.”
Febi segera mengecek media sosialnya, tiba-tiba dia berteriak, “sial...gue lupa hapus nomer HP gue di medsos, dia pasti tau gue janda dari medsos deh, waktu itu gue iseng banget lagi gabut gue bikin status kalau gue janda di tinggal mati. Waktu itu gue kesel banget sama Arya.” Ucap Febi dengan wajah sedih.
“Wow...berarti Niko serius banget sama loe, sampai-sampai dia bongkar medsos loe.”
Ucapan Julia hanya dibalas senyuman oleh Febi dia tidak tau harus bersikap bagaimana terhadap Niko karena memang untuk saat ini dia belum mau menjalin hubungan serius dengan pria manapun lagipula dia juga belum mengenal Niko.
Merasa sudah cukup lama di kamar mandi Julia dan Febi segera keluar. Saat mereka keluar, mereka melihat dokter jaya dan Niko akrab
berbincang-bincang kebetulan makanan pesanan Julia dan dokter jaya sudah datang.
Febi hanya tersenyum tanpa berkata sedikitpun, Julia merilik dokter Jaya dia tahu pasti tadi saat dia dan Febi ke toilet pastilah dokter jaya mengatakan sesuatu.
Walaupun Niko telah meminta maaf Febi tetap merasa tidak nyaman dan ingin cepat pulang. “ Julia, dokter Jaya, Niko, saya pulang duluan ya mobil pesanan saya sudah datang.”
Julia hanya melongo melihat sahabatnya bergegas pulang meninggalkan Bouqet bunga pemberian Niko.
Julia menatap wajah Niko yang kelihatan sedih, Julia berusaha menghiburnya, “Tenang saja Nik, Febi hanya perlu waktu untuk mengenal mu dia kan punya anak perempuan jadi dia harus hati-hati dalam memilih pasangan hidup.”
“Ya, ini semua salah ku, aku bertindak terlalu cepat.”
“Aku sudah selesai makan, bagaimana kdengan kalian?” dokter Jaya sudah meletakan sendok dan garpu nya di atas piring.
“Aku juga sudah selesai kok, yuk kita pulang.” Sahut Julia.
__ADS_1
Dokter Jaya meminta bill pesanan kedua meja, dia memaksa Niko untuk membayar semua tagihan makan malam mereka.
Niko mengambil kembali Bouqet bunga yang ada di meja Febi. Julia dan dokter jaya merasa kasihan melihatnya.
Sebelum pulang ke rumahnya, Niko mempir ke rumah Febi hanya untuk meletakan Bouqet bunga itu di depan pintu rumah Febi lalu segera pergi.
Sebenarnya hari ini sangat lah cerah, udara pagi berhembus lembut terasa sejuk tetapi tidak dengan hati Febi, ketika dia membuka pintu dia melihat bunga yang diberikan Niko semalam ada di depan pintu masuk nya dengan kesal dia memungut bunga tersebut lalu membuangnya di tempat sampah.
Mendadak moodnya menjadi sangat buruk. Bahkan saat dia berkumpul bersama kedua sahabatnya di ruangan Mira.
“Hei, Feb bagaimana semalam siapa cowo misterius nya?”, tanya Mira penuh semangat.
“Tanya Julia aja gua males ceritainnya.”
Mira memandang ke arah Julia dengan wajah bingung, tanpa bersuara hanya mengerakkan bibirnya Mira bertanya “dia kenapa Jul?”.
Julia tertawa kecil lalu menjawab tanpa suara ,
“cowo misteriusnya ternyata Niko, Mir.”
Dengan kedua tangannya Mira menutup mulutnya sambil berkata lirih,
“ooooo”
Mira pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut karena dia melihat wajah Febi yang terlihat bad mood.
“Ya ampun Feb masa bad moodnya lama banget sih, udahlah lupaiin aja. Semalem gue dah tegur Niko kok.” Ucap Julia.
“Kayaknya teguran loe gak mempan memang tuh anak keras kepala, loe tau gak dia itu taruh bunga yang semalem gue tinggalin di restoran di depan rumah gue.”
“Woww...dia romantis juga ya.” Mira menggoda Febi.
“Romantis apanya, bikin bad mood aja.”
__ADS_1
Melihat sikap Febi yang seperti itu Mira dan Julia hanya tertawa geli. Usia Febi memang lebih muda dari Mira dan Julia.