
Setiap tahun selalu saja saja seperti ini, persaingan ketat terkadang PT. Mutiara Ayu lebih unggul terkadang PT. Putri Keraton yang lebih unggul .
Konsumen selalu dimanjakan oleh promo-promo yang di adakan kedua branded kecantikan tersebut.
Satu tahun sudah Julia kehilangan Bima dan sampai sekarang belum ada kabar tentangnya bahkan si penculik pun tidak pernah menghubungi Julia untuk meminta uang atau apapun, penculik yang aneh.
Satu-satunya pesan yang dikirim penculik itu hanya lah pemberitahuan bahwa Bima baik-baik saja dan suatu saat nanti Julia akan bertemu dengannya. Setelah itu nomer tersebut tidak dapat di hubungi kembali karena sudah tidak aktiv.
Malam ini dokter Jaya mengajak Julia makan malam di sebuah restoran. Hatinya telah mantap untuk melamar Julia.
Makan malam bernuansa romantis di mangkuk bulat berukuran kecil dengan lilin di tengahnya terlihat sangat indah bersanding dengan bunga mawar merah.
Selesai menyantap hidangan makan malamnya, dokter Jaya meminta seorang pelayan membawakan hidangan penutup.
Dokter Jaya mempersilahkan Julia membuka hidangan penutup itu ternyata di dalamnya terdapat piring datar putih di dalam piring itu ada tulisan yang di tulis dengan pasta coklat “Will you Marry me?.”
Mata Julia terbelalak melihat tulisan di dalam piring datar putih itu. Tidak sampai di situ Julia di kejutkan oleh suara dokter Jaya yang sudah berlutut di samping nya sambil berkata “ Will You Marry Me, Julia” , dokter Jaya mengulurkan cincin yang sangat indah kepada Julia.
Julia terdiam sejenak lalu dia segera menyentuh pundak dokter Jaya, “sayang, bangun lah ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
Dengan wajah yang terlihat kuatir dokter Jaya berdiri sambil berkata,” Julia sudah satu tahun kita berpacaran aku rasa selama ini kita sudah saling mengenal dan memahami satu sama lain. Apakah aku masih belum pantas untuk mu?.”
“Tidak sayang bukan seperti itu, hanya saja...” Julia tampak ragu mengatakannya.
“Hanya saja apa Jul?.”
“Hanya saja...aku ingin di moment bahagiaku ada Bima di sisiku tetapi sampai saat ini Bima belum juga di temukan.”
Dokter Jaya segera berdiri lalu merangkul Julia dari belakang.
“Aku mengerti perasaan mu tetapi akan tidak adil bagiku jika kamu bersikap seperti itu, kita harus tetap melanjutkan hidup. Sekarang dihadapan mu ada orang-orang yang sangat mencintaimu. Apakah kamu ingin mengabaikan kami?.”
Air mata Julia mulai mengalir turun membasahi kedua pipinya, “aku...aku...kangen Bima, hanya itu saja. Aku tidak bermaksud mengabaikan kalian semua.”
Melihat kekasihnya mulai menangis dokter Jaya melangkah ke depan untuk memeluk Julia dari depan, dia membiarkan Julia menangis di pundaknya, “menangislah sayang kalau itu akan membuat hatimu lega.” Ucapnya lirih.
__ADS_1
Melihat kondisi Julia yang tidak stabil dokter Jaya bermaksud menunda lamarannya dia bersedia menunggu Julia hingga siap.
“Tidak...sayang ...itu tidak adil bagimu, ucapan mu benar kita harus tetap menjalani hidup ini ada orang-orang di sekitarku yang sangat mencintaiku.”
Dokter memandang Julia sambil tersenyum raut wajahnya penuh pertanyaan.
Kemudian Julia berkata perlahan “ aku bersedia menikah dengan mu.”
Jawaban yang terlontar dari mulut Julia membuat dokter Jaya sangat bahagia dia memeluk erat Julia lalu mencium seluruh wajah Julia, kedua pipi, dahi, bibir secara bergantian.
Dokter Jaya segera menyematkan cincin di jari manis Julia, keduanya tertawa bahagia.
Julia memamerkan cincin pemberian dokter Jaya kepada kedua sahabatnya. Mereka turut merasa senang.
Di tengah kebahagian tersebut, Julia menerima sebuah pesan dari Tuan Tikno. Tuan Tikno ingin menemuinya di sebuah cafe namun Julia harus merahasiakan pertemuan ini.
Walaupun merasa curiga Julia tetap datang menemui tuan Tikno di cafe yang telah di tentukan.
“Hai Julia apa kabar.” Tuan Tikno mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Julia tetapi Julia tidak menyambut uluran tangan Tuan Tikno.
Menanggapi sikap Julia yang dingin terhadap dirinya Tuan Tikno hanya tersenyum dia memaklumi sikap Julia tersebut.
Julia segera duduk di hadapan Tuan Tikno. Hatinya penasaran gak penting apa yang ingin di sampaikan orang tua dihadapannya.
“Julia, maukah kamu rujuk kembali dengan Arya?.” Tuan Tikno melontarkan pertanyaan yang sungguh tidak masuk akal bagi Julia.
“Tentu saja tidak lagipula Arya sudah rujuk dengan Febi.”
“Aku, punya penawaran baik untuk mu kalau kamu mau rujuk kembali dengan Arya.”
Julia tersentak dia bersandar di kursi dan memandang sinis ke arah Tuan Tikno tetapi orang tua itu terlihat sangat santai.
“Pemawaran apa?.” Jawab Julia ketus.
“Apakah kamu tidak merindukan anakmu Bima?.” Ucapan Tuan Tikno santai.
__ADS_1
Mata Julia terbelalak begitu mendengar nama Bima di sebut.
“Tentu saja aku merindukannya dan masih berharap dia dapat di temukan.”
Tuan Tikno tersenyum sambil menghela nafasnya setelah itu dia mulai melakukan penawaran.
“Aku akan mengerahkan semua kemampuanku untuk menemukan Bima jika kamu mau rujuk dengan Arya. Bagaimana menurutmu?.”
Sekali lagi mata Julia terbelalak tangannya mengepal wajahnya memerah menahan amarah.
“Apakah anda yang menculik Bima?.” Bibir Julia bergetar menahan amarah.
“Tenang Julia...aku tidak menculik Bima, buat apa aku menculik nya?.” Tuan Tikno berusaha menenangkan Julia.
“Sudah ada seorang pria yang melamar ku, pria itu lebih baik dari Arya aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan berusaha sendiri mencari Bima.”
Setelah mengatakan hal itu Julia segera berdiri lalu melangkah pergi, baru dua langkah Julia berjalan, Tuan Tikno memanggilnya,
“Julia jika kamu berubah pikiran segera hubungi aku.”
Julia tidak memperdulikan Tuan Tikno dia Justru semakin mempercepat langkahnya dia tidak ingin melihat wajah orang tua licik itu.
Malam hari Julia bergumul dengan dirinya, dia memandang cincin pemberian dokter Jaya yang melingkar di jari manisnya tetapi di telinganya masih terngiang-ngiang penawaran dari Tuan Tikno.
Julia meyakinkan dirinya sendiri bahwa meskipun tanpa bantuan mantan ayah mertuanya dia akan dapat menemukan Bima.
Namun semakin dia berusaha meyakinkan dirinya, dia justru semakin ragu.
“Aku tidak mau dikelabui oleh orang tua licik itu, sepertinya besok aku harus ke rumah Febi dan berbicara dengan Arya.”
Sepulangnya dari kantor Julia mampir ke rumah Febi kebetulan Arya sedang bermain dengan Arumi.
Julia mendekati Arya lalu meminta waktu Arya sebentar. Julia menceritakan tentang penawaran Tuan Tikno kepadanya, Febi pun ikut mendengarkan.
“Oh...gue tidak masalah kalau loe mau rujuk sama Arya tapi bagaimana dengan dokter Jaya, dia kan sudah melamar loe?.” Ucap Febi dengan cuek menanggapi cerita Julia.
__ADS_1
Arya memandang Febi dengan tajam dia tidak setuju dengan ucapan Febi.
“Pangil dokter Jaya, kita akan berdiskusi terlebih dahulu. Karena ayahku adalah orang yang licik , bisa jadi selama ini dialah yang menyembunyikan Bima.”