
“Ah sialan, mengapa ada Julia dan dokter reseh itu sih?.” Arya menggerutu saat melihat Julia dan dokter Jaya mengantri untuk membeli pop cron bersama febi.
Sebenarnya Arya sudah datang sejak tadi, tetapi ketika dia melihat Julia dan dokter Jaya juga ada di bioskop yang sama dengannya dia merubah rencananya karena Arya tidak mau terlihat bersama dengan Febi di hadapan kedua orang itu.
Arya segera mengirim pesan kepada Febi,
“Hai...sorry aku ada keperluan mendadak, sepertinya aku tidak bisa datang untuk menonton film bersama mungkin lain waktu kita bisa bertemu. Selamat menikmati filmnya.”
Febi bernafas lega ketika dia membaca pesan tersebut, meskipun sedikit kesal tetapi dia lega tidak harus bertemu pria misterius itu di tempat umum.
Setelah menonton film, Febi memutuskan untuk segera pulang karena dia tidak mau menjadi “lalat” bagi Julia dan dokter Jaya.
“Astaga...siapa yang mendekor rumahku seperti ini?.” Mata Febi terbelalak saat dia melihat rumahnya sudah penuh dengan dekorasi bunga segar yang menyebarkan aroma harum di mana- mana.
Febi memarkir mobilnya dengan sembarangan, secepat kilat dia turun dari mobilnya lalu berlari masuk ke dalam rumahnya untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Febi telah masuk ke dalam rumahnya tetapi suasana rumah sangat hening tidak ada seorang pun di rumah tamu yang ada hanyalah hamparan kelopak bunga yang tersebar di lantai dan di sofa.
Febi terus berjalan masuk ke dalam ruangan tengah, ruangan ini gelap. Febi segera berteriak memanggil mbok Lin “Mbok Lin...mbok Lin...ada apa ini? Mbok dimana?.” Febi mulai merasa kuatir.
Tetapi tiba-tiba lampu menyala, seorang pria terlihat duduk di sofa menghadap tembok. Dengan perlahan Febi mendekati pria itu “Hei...siapa kamu? Jawablah sebelum aku menelepon polisi.”
“Tenanglah Febi, ini aku."
“Hah...Mas Arya? Apakah itu kamu?.” Febi segera berlari menuju pria yang dia duga adalah mantan suaminya.
“Katakan dimana Arumi dan Mbok Jum?.” Febi mengarahkan kepalan tangannya ke wajah Arya.
Dengan tenang Arya tersenyum lalu menggenggam kepalan tangan Febi, “Tenang, Mbok Jum sedang menidurkan Arumi di kamarnya, hanya ada kita berdua di sini sekarang.”
“Lepaskan tangan ku! Katakan apa mau mu?.” Teriak Febi.
Tetapi Arya tetap tidak melepaskan genggamannya, sehingga Febi memukul lengan Arya dengan tangannya yang lain.
Dengan santai Arya memutar tubuh Febi dan menarik nya sehingga Febi kini duduk di pangkuannya.
__ADS_1
“Febi tenanglah dulu, dengarkan aku terlebih dahulu jangan marah-marah seperti ini.” Arya berkata lembut di telinga Febi.
Entah mengapa kedua pelupuk mata Febi mengeluarkan air mata, air mata itu jatuh lalu membasahi kedua pipinya.
“Apa mau mu mas? Aku mohon jangan ganggu kami berdua, aku dan Arumi sudah hidup tenang tanpa kehadiranmu.”
“Aku hanya ingin bertanya aku harap kamu menjawab dengan jujur. Apakah masih ada rasa cinta di hatimu untuk diriku?.” Kembali Arya berbisik lembut di telinga Febi.
Febi merasa genggaman Arya sedikit merengang dia mengambil kesempatan ini untuk melepaskan diri dari Arya.
Febi berdiri secepat kilat dan menjauh dari Arya, Arya tidak menduga hal itu sehingga dia tidak sempat menangkap tubuh Febi.
“Hah...setelah perbuatanmu di masa lalu kamu masih berharap masih ada sedikit cita untuk dirimu? Aku sudah menghapus namamu dari kehidupan ku, sekarang keluarlah dari rumah ku.”
Suara Febi yang berteriak membangunkan Arumi dari tidurnya, gadis kecil itu keluar dari kamarnya lalu berlari kecil sambil memanggil mamanya.
“Mama...mama....”
Arumi berlari ke arah Febi lalu memeluk Febi.
“Mama lihat papa bawa bunga banyak sekali, kata papa ini buat mama karena papa sayang mama.” Arumi mulai berceloteh.
“Iya, Febi itu aku. Aku mau meminta maaf atas sikap ku di masa lalu. Aku benar-benar minta maaf, aku akan menebusnya sekarang.” Ucap Arya penuh penyesalan.
“Bagaimana cara mu menebusnya?.”
“Aku...aku...aku bermaksud untuk rujuk denganmu.”
“Lalu bagaimana dengan Julia dan Mira?.”
“Julia dan Mira?.”
“Ya, bukankah mereka juga adalah mantan istrimu?.”
“Oh...kalian sudah saling mengetahui kalau kalian adalah para mantan istriku?.”
__ADS_1
“Oh...astaga seharusnya aku tidak mengatakan hal ini.” Febi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Arya dan Febi terdiam sejenak, Febi melangkah mundur sambil mengendong Arumi.
“Tidak Arya...tidak...aku tidak bisa rujuk dengan mu, hidupku sudah tenang tanpa kamu.”
Arumi mengulurkan kedua tangannya ke arah Arya dia meminta Arya menggendongnya tetapi Febi memanggil Mbok Lin untuk membawa Arumi kembali ke kamarnya.
Arumi meronta-ronta dia tidak mau kembali ke kamar, dia mau di gendong Arya.
Arya mencoba membujuk Febi kembali “Febi aku mohon demi Arumi.”
“Jangan memanfaatkan Arumi, lagipula aku curiga mengapa tiba-tiba kamu mau rujuk dengan ku, aku tidak punya anak laki-laki. Apakah ini ada hubungannya dengan bisnis?.”
“Febi ayolah aku sudah berubah, Mas Bayu lah yang menyadarkan ku bahwa anak laki-laki atau perempuan itu sama saja.”
“Aku tidak percaya, sekarang aku mohon pergilah.”
“Baiklah mungkin kamu butuh waktu untuk mempertimbangkan hal ini, satu hal yang harus kamu tahu setiap orang bisa saja berubah. Ulat bulu yang menjijikan bisa berubah menjadi kupu-kupu yang cantik begitu juga dengan seorang Arya Kusuma, dari pria yang menjijikan menjadi pria yang dapat kamu banggakan."
Setelah mengatakan hal itu Arya segera pergi meninggalkan rumah Febi. Febi segera masuk ke kamar Arumi untuk menenangkan Arumi karena Arumi masih menangis dan berteriak memanggil papanya.
“Mama...hiks...dimana papa...hiks....” isak Arumi.
“Papa harus pergi karena ada keperluan, Arumi bobo saja ya.”
Terapi Arumi tidak mau tidur dia terus menerus memanggil papanya. Kesabaran Febi pun habis dia berteriak kepada Arumi ,
“ARUMI DENGAR MAMA, DIA ITU BUKAN PAPA KAMU. SEKARANG KAMU HARUS TIDUR!."
Arumi sangat ketakutan tubuhnya meringsek di pelukan Mbok Lin. Mbok Lin sangat kasihan melihat Arumi seperti itu, diam-diam Mbok Lin berbisik di telinga Arumi “ Arumi sekarang bobo ya, besok siang kan papa jemput Arumi.”
Mendengar ucapan Mbok Lin Arumi menjadi tenang dia lalu menutup matanya dan tertidur.
Febi menarik nafas panjang dia tidak bermaksud berteriak kepada anak semata wayangnya tetapi telinganya sudah tidak tahan mendengar Arumi memanggil-manggil Arya.
__ADS_1
Dengan perlahan Mbok Lin meletakan kepala Arumi di bantal lalu dia segera keluar dari kamar Arumi.
Perlahan Febi mendekati anak semata wayangnya itu, hatinya berkecamuk” Tuhan...apakah aku harus menerima Arya kembali dalam kehidupanku? Apakah dia benar-benar berubah? Lalu bagaimana dengan Julia dan Mira? Arumi semoga kamu bisa melupakan papa mu ya sayang.”febi mengecup lembut dahi Arumi lalu meninggalkan Arumi tidur sendirian di kamarnya.