Club para mantan

Club para mantan
Febi mengusir Arya


__ADS_3

“Anak laki-laki atau perempuan sama saja, mereka sama-sama dapat memberikan kesenangan. Anak perempuan pun bisa menjadi penerus bisnis bahkan mereka lebih tangguh dan kreatif, lihat saja ketiga mantan istrimu mereka sanggup memulai bisnis dari nol dan sanggup menyangi bisnismu.” Itulah ucapan Mas Boby kakak laki-laki Arya yang selalu menjadi perenungannya.


Jam dinding di ruangan kantornya sudah menunjukan pukul 17.00, Arya segera bergegas pulang.


Tuan Tikno mencari anaknya itu di ruangannya namun sudah tidak menemukannya. Merasa ada yang aneh dengan anaknya dia meminta seseorang untuk mengikuti kemana Arya pergi.


Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan di kantor PT. Putri Kraton, Febi sampai di rumah sedikit terlambat.


“Bukankah itu mobil Arya?.” Gumamnya dalam hati saat melihat mobil mantan suaminya terparkir di halaman rumahnya.


Febi membuka pintu rumahnya secara perlahan, dia melihat Arya sedang bermain dengan Arumi, Arya masih mengenakan pakaian kerjanya. Wajah ceria terpancar dari raut wajahnya.


“Hai Febi, apakah setiap hari kamu selalu pulang terlambat?.” Sapa Arya.


“Tidak juga, kebetulan hari ada pekerjaan yang harus di selesaikan, kamu sendiri sedang apa di sini? Bukankah ada proyek besar?.” Sahut Febi.


“Sudah ada orang yang menanganinya, lagipula aku punya malaikat kecil di sini aku tidak akan menyia-nyiakannya.”


“Malaikat kecil mu? Enak saja kamu bicara, Arumi bukan anakmu ingat itu.” Teriak Febi.


“Ssttt....jangan bertengkar di depan Arumi.” Ucap Arya.


Febi masuk ke dalam kamarnya, membanting dirinya di atas kasur dengan kesal. Ingin rasanya dia mengusir Arya dari rumahnya tetapi dia kuatir Arumi akan sakit kembali. Ingin rasanya dia melarang Arya datang ke rumahnya tetapi dia tidak tega merebut keceriaan dari wajah Arumi saat Arya datang.


Febi segera membersihkan dirinya supaya segar. Lalu keluar dari kamarnya ternyata Arya masih belum pulang,Arya ke kamar Arumi lalu menidurkan Arumi.


“Mas, aku mau bicara.” Febi mengajak Arya ke rumah tamu untuk berbicara serius.


“Katakan padaku apa maksud ini semua, mengapa tiba-tiba kamu perduli dengan Arumi?.” Tanya Febi penasaran.


Arya terdiam sejenak, sebenarnya dia ingin meminta maaf tetapi dia terlalu gengsi.


“Aku...hanya ingin dekat dengan Arumi saja, aku tidak mau dia sakit kembali. Bagaimanapun juga dia adalah darah dagingku.”

__ADS_1


“Aneh, baru sekarang kamu mengakui Arumi adalah darah dagingmu? Kemana saja kamu selama ini? Bukankah anak laki-laki lebih berharga bagimu?.” Ucap Febi sinis.


“Kemana perginya wanita yang lemah lembut yang dahulu aku kenal? Apakah dia sudah berubah?” gumam Arya dalam hatinya.


Febi dahulu adalah wanita yang sangat kemah lembut dan manis, selama menjalin hubungan dengan Arya dia tidak pernah menuntut macam-macam. Bahkan Arya tidak tega membiarkannya pergi ke dokter kandungan seorang diri sesekali Arya menemaninya.


Bahkan Febi sampai menangis saat meminta bercerai karena dia sangat kecewa dengan sikap Arya. Berbeda dengan Mira dan Julia yang terlihat santai saat Arya menceraikan mereka.


“Bukankah kamu sendiri yang meminta diceraikan? Seandainya kamu tetap ada di sisiku aku pasti akan memberikan perhatian.”


“Hah...memang benar aku yang telah meminta bercerai tetapi itu semua karena kamu bersikap buruk saat aku melahirkan Arumi, malahan kamu menolaknya karena kamu menginginkan anak laki-laki. Mana mungkin kamu akan memberikan perhatian kepada kami, jangan mencoba memutar balikkan Fakta.”


“Angkat kakimu dari rumah ini dan jangan pernah mencoba untuk datang ke sini lagi, jangan memberi harapan palsu kepada Arumi.” Akhirnya Febi memberanikan dirinya mengatakan itu karena dia tidak mau disakiti lagi.


Febi tidak percaya dengan perubahan pada diri Arya. Jangan sampai ada maksud tersembunyi dibalik ini semua.


Arya diam mematung di hadapan Febi, baru saja dia merasakan kegembiraan yang selama ini tidak dia rasakan kini kegembiraan itu akan di rampas darinya.


“Apakah ini perasaan yang di rasakan oleh ketiga mantan istriku saat aku mengatakan kekecewaan ku karena mereka melahirkan anak perempuan?.” Gumamnya dalam hati.


“Ya, aku akan keluar. Aku memang pantas mendapatkan perlakuan ini. Febi, apabila kamu membutuhkan bantuanku jangan sungkan untuk menghubungiku.” Arya segera melangkah keluar dari rumah Febi, hatinya hancur karena tidak bisa lagi bertemu dengan malaikat kecilnya yang selama ini dia abaikan.


Hari Febi sangat lega bisa mengatakan hal itu, dia segera bergegas ke kamar anaknya, Arumi masih tertidur dengan lelap Febi mendekati putri semata wayangnya itu lalu mencium pipi mungilnya.


Baru saja Arya masuk ke dalam rumah, ayahnya sudah menegurnya, “ ke rumah mantan istrimu?.”


“Ayah bukankah sudah aku bilang aku sudah dewasa aku bebas kemana saja.”


“Yup, memang benar hanya saja untuk apa kamu ke sana?.”


“Bukan urusan ayah.”


“Arya, ayah hanya mau yang terbaik untuk mu, ayah sarankan kamu menikah lagi.”

__ADS_1


“Ayah tidak tahu yang terbaik untuk ku dan sudah aku katakan berkali-kali kalau aku tidak akan menikah lagi.”


Arya membanting pintu kamarnya dengan kasar lalu menjatuhkan tubuhnya yang sudah penat di atas kasurnya yang empuk.


“Arumi bagaimana papa bisa memelukmu lagi?.” Ucapnya lirih.


Keesokan paginya Arumi tidak mau sarapan dia seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Karena penasaran Febi bertanya “arumi tunggu siapa sih kok kayaknya gelisah gitu.”


“Ma, kok papa belum datang Yach, kemarin papa janji mau datang bawaiin Arumi kue coklat terus mau makan sama-sama.”


Mendengar ucapan Arumi, Febi hanya menerima nafas panjang karena dia tahu kalau Arya tidak akan datang.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Dengan riang Arumi berteriak “ hore...ee papa datang.” Lalu Arumi berlari kecil menuju pintu Febi mengikutinya dari belakang.


Febi menarik nafas panjang sebelum dia membuka pintu.


“Selamat pagi ibu, saya dari toko kue Yummy ingin mengantar coklat cake untuk...malaikat kecil papa.”


Ternyata bukan Arya itu adalah karyawan toko kue yang mengantarkan kue coklat.


“Ya...itu aku, kue ini untuk ku.” Dengan riang Arumi melompat hendak meraih kue coklat itu, tetapi karyawan itu memberikannya kepada Febi karena kue itu lumayan berat untuk anak seusia lima tahun.


“Mama kenapa papa hanya mengirim kue saja, papa kemana?.” Tanya Arumi dengan wajah sedih.


“Mungkin papa sedang sibuk.” Jawab Febi santai.


Febi memotong kue coklat itu lalu memberikannya potongannya kepada Arumi supaya dia makan untuk sarapan.


Setelah itu Febi mencium pipi Arumi berpamitan untuk pergi kerja, “Mama pergi kerja dulu ya sayang, jadi anak baik.”


“Mama, nanti sore papa datang gak Yach?.” Tanya Arumi kembali.


“Sepertinya tidak karena papa ada di luar kota ada urusan pekerjaan.” Febi berbohong.

__ADS_1


Febi memandang Arumi dengan hati pedih, dia berharap Arumi akan baik-baik saja walaupun tidak bertemu Arya kembali.


__ADS_2