Club para mantan

Club para mantan
Perubahan rencana


__ADS_3

Dokter Jaya berhasil mencarikan pengacara untuk Julia. Mereka telah membuat janji untuk bertemu tidak hanya Julia saja yang akan bertemu dengan pengacara, tetapi Mira, Febi ikut serta. Akhirnya satu masalah selesai, Julia bisa bernafas lega semua berkat dokter jaya.


Julia teringat akan Saka,


“Dokter Jaya tolong jangan beritahukan hal ini kepada Saka, saya takut nanti Saka akan merasa bersalah.” Ucap Julia.


“Aku harus memberitahunya, supaya ini menjadi pembelajaran baginya supaya lain kali dia harus meminta ijin terlebih dahulu sebelum memposting foto orang lain di medsosnya.”


Karena hari sudah malam dokter Jaya segera pulang, begitu juga dengan Febi dan Julia.


Dokter Jaya telah sampai di rumahnya, dia segera berbicara kepada Saka. Benar dugaan Julia, Saka merasa sangat bersalah dia menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Julia dan Bima.


Saka ingin bertemu dengan Julia, dia ingin meminta maaf secara langsung, sungguh sikap dewasa di dalam diri anak yang baru berusia sebelas tahun.


Dokter Jaya mengirim pesan kepada Julia, “Julia, Saka mengajakmu makan malam besok, katanya itu sebagai ungkapan permintaan maaf.”


Julia membaca pesan tersebut dia sangat terharu atas sikap Saka yang manis.


Pagi hari di hari ini cuaca sedikit gerimis, Julia mengenakan mantel hujannya dan segera mengendarai sepeda motor nya menuju kantor.


Julia memutuskan untuk tidak pergi lapangan dia ingin menghabiskan waktunya mencari informasi perihal hak asuh anak.


Julia tidak mempunyai ruangan sendiri, apabila dia tidak pergi kelapangan dia akan berada di ruangan Mira.


Sejak pagi hari Julia terlihat sibuk dengan laptopnya. Mira penasaran dengan apa yang sahabatnya lakukan, maka dia mengintip dari balik tubuh Julia.


“Ya...ampun Jul, gue kira loe lagi lihat survey pasar ehh ternyata lagi lihat hukum tentang hak asuh anak.”


Julia tidak menanggapi ucapan Mira.


“Jul...ngapain loe pusing cari informasi di internet, habis makan siang juga kan loe ketemuan sama pengacara. Loe tanya aja langsung ke dia.”


“Astaga...loe bener juga Mir. Gue terlalu takut jadi gak bisa mikir jernih, thanks Yach. Gue laper mau makan siang dulu.”

__ADS_1


Tanpa rasa berdosa Julia segera berlari keluar ruangan untuk mencari makan siang.


Mira hanya bisa melongo melihat sahabatnya pergi makan siang tanpa mengajak dirinya.


Julia telah kembali dari makan siang dia berpamitan kepada Mira untuk pergi ke kantor pengacara.


“Tunggu dulu Jul, gue sama Febi mau nemenin loe ke sana. Kita tunggu Febi sebentar lagi ya.”


Beberapa menit kemudian Febi muncul mareka bertiga pun segera pergi ke kantor pengacara.


Ibu Sri itu adalah nama pengacara yang akan mendampingi Julia di persidangan nanti. Seorang wanita yang ramah usianya hampir setengah abad.


Julia menceritakan kisahnya kepadanya, Mira dan Febi pun ikut menceritakan kisah mereka hal itu sangat membantu Ibu Sri dalam mendalami kasus Julia. Mira dan Febi juga bersedia menjadi saksi apabila gak itu memang di butuhkan.


“Oh...jadi begitu masalahnya. Kalau saya di posisi Ibu Julia, saya akan melakukan hal yang sama. Saya tidak menyangka seorang Arya Kusuma memiliki sifat seperti itu.”


Julia dan Febi juga menceritakan bahwa selama ini mereka membiayai kehidupan anak-anak mereka sendiri, Arya tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk kehidupan mereka.


Mendengar pernyataan dari Ibu Sri, hati Julia menjadi sedikit tenang. Mereka hanya menunggu apakah Arya benar-benar menggugat Julia.


Mereka bertiga pun berpamitan pulang, karena Julia juga harus bersiap untuk makan malam bersama dokter Jaya dan Saka.


Di kantornya Arya juga sedang berdiskusi dengan pengacaranya. Pak Kevin, dia adalah pengacara keluarga Kusuma. Semua perceraian dari pernikahan Arya beliaulah yang menangani, sehingga dia sangat paham duduk permasalahannya.


Dengan menggebu-gebu Arya mengatakan maksudnya, tetapi Pak Kevin mengelangkan kepalanya sambil berkata “tidak tuan...sebaiknya Tuan tidak melakukan gugatan sekarang ini.”


“Apa maksud mu Kevin? Apa kau kini mau membela mantan istriku?.” Ucap Arya geram.


“Bukan begitu maksudku Tuan. Kalau Tuan menggugat ini sekarang maka Tuan akan kalah telak.”


“Mengapa bisa begitu? Bukankah kau pengacara hebat? Sudah banyak kasus besar dan sulit kau menangkan lalu mengapa kau takut menghadapi kasus kecil ini?.”


“Tuan dengarkan aku, kita akan kalah karena selama ini anda tidak memberikan tunjangan apapun kepada Julia, tetapi Julia sanggup memberikan kehidupan yang layak kepada anak-anaknya. Terlebih anda hanya ingin hak asuh untuk anak laki-laki sedangkan anda tidak perduli dengan anak perempuan, hal ini akan membuat anda terlihat berprilaku diskriminatif terhadap kaum perempuan padahal perusahaan anda bergerak di bidang kosmetik. Tidak kah Tuan berpikir kalau hal ini akan berpengaruh terhadap bisnis Tuan?.”

__ADS_1


Arya berpikir sejenak, apa yang dikatakan Pengacara Kevin memang benar, “kalau begitu apa yang harus aku lakukan supaya aku mendapatkan Bima?.”


Pengacara Kevin berpikir sejenak, “Tuan harus menunggu sampai Bima remaja, mungkin nanti Tuan dapat membujuknya untuk tinggal bersama Tuan dan meninggalkan Julia.”


“Hmm...ya benar, dengan begitu secara otomatis aku memiliki Bima, karena dia sendiri yang memilih untuk tinggal bersama ku. Ide mu boleh juga.”


Tetapi setelah pengacara Kevin pulang.


“Tidak...aku tidak mau menunggu Bima sampai remaja itu terlalu lama. Aku harus mengajarkan bisnis kepadanya sejak dini dan juga nilai-nilai keluarga Kusuma, aku harus mencari cara lain.”


Arya memikirkan sesuatu yang jahat, dia berpikir untuk menghancurkan pekerjaan Julia. Dengan begitu Julia tidak dapat memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anak, saat itulah dirinya akan muncul sebagai penyelamat anak-anak.


“Tetapi bagaimana cara membuat Julia kehilangan pekerjaan?.” Arya berjalan bolak-balik di dalam kamarnya yang luas.


Sebuah ide muncul entah dari mana, “aku akan memfitnah Julia di depan Mira sehingga Mira akan memecat Julia.”


Arya bersorak kegirangan, dia segera menelepon Julia yang kebetulan sedang berada di rumah dokter Jaya.


Julia melihat nama Arya di layar ponselnya dia segera keluar untuk menerima panggilan itu karena dia tidak mau Saka mendengar percakapan ini.


“Julia, aku menarik kembali ucapan ku. Aku tidak akan menuntut mu untuk menyerahkan Bima saat ini, jadi nikmatilah kebersamaan dengan Bima selagi kamu bisa haha...haha....”


“Apa yang kamu rencanakan, mengapa tiba-tiba kamu membatalkan gugatan mu?.”


“Lihat saja nanti, aku pasti akan mendapatkan Bima.”


Arya segera mengakhiri panggilan teleponnya, membuat Julia bertanya-tanya rencana busuk apa yang sedang di rencanakan mantan suaminya itu.


Ternyata Saka menguping pembicaraan Julia dan Arya di telepon tadi, dia benar-benar merasa sangat bersalah.


“Tante Julia maafkan aku, kalau bukan karena perbuatan ku mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.”


“Ini semua bukan salah mu Saka, ini semua salah Om Arya. Jadi jangan meminta maaf lagi ya.” Julia menenangkan hati Saka.

__ADS_1


__ADS_2