
Mira sangat berterima kasih kepada Seno karena telah memberinya solusi. Mira tidak mengetahui kalau Seno masih ada hubungan kerabat dengan Arya.
“Lihatlah Arya, aku akan memenangkan pertarungan ini,” Senyum tipis menghiasi bibir Mira.
Mira meninggalkan pabrik maklon dengan hati yang lega, dia segera menuju kantor PT. Putri Kraton dan memberitahu kedua temannya tentang pabrik maklon itu. Tentu saja Julia dan Febi setuju. Mira lalu menghubungi PT Maklon kosmetik yang berada di daerah Bandung.
Keesokan harinya Mira dan Febi pergi ke sana tanpa Julia, karena Julia belum mendapat jatah cuti.
Mereka berdua memutuskan untuk mengunakan kereta api. Di dalam gerbong kereta mereka
mendengar percakapan dia orang remaja putri:
“ Eh coba cium deh hand body King Hwa wangi banget Yach, wanginya jadi lebih awet kalau pakai body scrub nya juga.” Ucap remaja pertama.
“Ahahhh gue gak suka mandi pakai body scrub soalnya kelamaan mandinya, coba King Hwa produksi parfum yang wanginya kayak gini seneng banget gue, pakai hand body dan parfumnya pasti gue dah kayak raja bunga beneran.” Remaja kedua menimpali temannya.
Mira dan Febi saling berpandangan, hal itu tidak terpikirkan oleh mereka. Benar sekali tidak semua orang senang mandi dengan body scrub karena itu akan membuat waktu mandi menjadi lebih lama, tetapi mereka juga ingin harum.
“Mir, parfum ciptaan loe banyak yang suka tuh. Kita bikin produk parfum aja,” Febi berbisik di telinga Mira.
Setelah beberapa jam akhirnya mereka sampai di pabrik PT. Maklon Kosmetik.
Ternyata Seno telah menghubungi direktur PT. Maklon Kosmetik, sehinga Pak Dodi selalu Owner pabrik tersebut telah mengetahui kisahnya.
Pak Dodi menyambut kedatangan kedua Owner PT. Putri Kraton.
“Selamat datang di Pabrik kami Ibu Mira dan....”
“Perkenalkan saya Febi,” Febi mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Pak Dodi.
“Selamat datang Ibu Febi. Senang bertemu dengan kalian berdua. Seno telah bercerita kepada saya dan saya merasa sangat terhormat PT. Putri Kraton akan maklon produk King Hwa di pabrik kami,” Sambutan Pak Dodi sangat ramah membuat Mira dan Febi terkesan.
Pak Dodi mengajak Mira dan Febi berkeliling pabriknya, supaya calon klien barunya itu dapat melihat proses produksi kosmetik di sini.
__ADS_1
Mira dan Febi merasa puas karena kondisi di sini tidak jauh berbeda dengan pabrik maklon kepunyaan Seno.
Kerjasama pun terjalin, Mira menyerahkan formulasi kosmetik King HWA supaya mereka dapat segera membuat sample, tidak lupa formulasi parfum, Mira ingin segera parfumnya di produksi secara masal.
Mira dan Febi memutuskan untuk menginap selama satu minggu di Bandung selain refreshing mereka juga menunggu pembuatan sample, mereka berharap PT. Maklon Kosmetik sanggup membuat kosmetik dengan mutu yang sama dengan pabrik terdahulu.
Setelah beberapa hari sample yang mereka tunggu sudah selesai, hasilnya sesuai dengan harapan mereka. Produk siap di produksi secara massal.
Sementara itu di kota Jakarta Arya Kusuma merasa geram karena produknya kalah bersaing dengan produk buatan Mira. Konsumen menyukai keharuman dari hand body dan body scrub merek King Hwa.
“Apa formulasi parfum ini? Aku harus mengetahuinya!,” Gumam Arya.
Arya kembali menemui Seno di pabrik untuk berbicara dengan Seno “ Seno beritahu aku apa formulasi parfum yang ditambahkan Mira ke dalam hand body dan body scrub nya.”
Dengan santai Seno menjawab, “maaf Arya, aku tidak bisa memberitahumu karena aku memang tidak tahu. Mira membawa sendiri parfum itu lalu meminta kami menambahkannya ke dalam hand body dan body scrub nya. Dia bilang itu adalah parfum ciptaannya.”
“Bohong! Kamu pikir aku percaya? Mira tidak sepandai itu.”
Arya memang tidak mengetahui kepandaian terpendam Mira. Karena pada saat Mira baru lulus kuliah dia langsung menikah dengan Arya. Waktu itu Mira membawa mimpinya di hadapan Arya tetapi Arya tidak memperdulikannya yang ada di benak Arya saat itu adalah Mira harus cepat memberikannya keturunan seorang anak laki-laki.
“Hmmm...seandainya aku tahu pun, aku tidak akan memberitahu mu, karena sudah kewajiban ku untuk merahasiakannya,” jelas Seno kembali, tetapi Arya tidak mau tahu dia terus saja memaksa Seno.
“Kalau kamu tidak mau memberitahu ku, maka aku akan....”
“Kamu akan apa? Kamu akan pindah maklon di tempat lain? Silahkan! Pintu pabrik ku terbuka lebar.”
“Kamu berani menantang ku?” Arya semakin geram.
“Tentu saja karena tidak ada pabrik maklon lain yang selengkap pabrikku, lagipula pabrikku mengunakan bahan baku berkualitas tinggi. Kalau kamu mendapatkan pabrik maklon seperti pabrikku silahkan pindahkan kosmetikmu untuk maklon di sana.” Seno sudah muak dengan ancaman Arya.
Dengan kesal Arya keluar dari ruangan Seno. Memang benar apa yang dikatakan Seno, tidak ada pabrik maklon yang memiliki bahan baku dengan kualitas tinggi seperti di pabriknya.
Ketika Arya berjalan menuju pintu keluar sekilas dia melihat sosok wanita yang tidak asing baginya, “Julia....apakah benar itu Julia? Mau apa dia ke sini?.”
__ADS_1
Arya kemudian mengikuti wanita yang dia duga adalah Julia, mantan istrinya. Tampak wanita itu berbincang-bincang dengan karyawan dari bagian produksi dan memeriksa beberapa produk King Hwa yang sudah selesai produksi.
Meskipun sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan tetapi Julia senang datang ke pabrik dan melakukan hal itu. karena ini adalah terakhir kalinya King Hwa di produksi di pabrik ini, Julia mentraktir semua karyawan pabrik makanan cepat saji.
“Hmmm.....menarik sekali jadi sekarang Julia bekerja dengan Mira? Apakah mereka berdua tahu kalau mereka adalah mantan istriku?,” Arya bertanya-tanya dalam hatinya.
Arya cepat-cepat keluar pabrik menunggu Julia di pintu keluar, saat dia melihat Julia keluar dari pabrik, Arya langsung memanggilnya “Julia...!.”
Julia mengenali suara yang memanggilnya, dalam hatinya dia berkata “astaga mas Arya, mau apa dia?.”
“Ada apa Mas?.”
“ Ada perlu apa kamu datang ke sini? Apakah kamu bekerja di PT. Putri Kraton?.”
“Kalau memang iya kenapa?.”
“Oh...sebagai apa?,” Arya penasaran.
“Sebagai marketing,” Julia berbohong.
Arya terdiam sejenak dia memikirkan sesuatu, “berapa mereka membayarmu?.”
“Kenapa?.”
“Bekerjalah dengan ku, aku akan membayarmu dua kali lipat.”
“Gila nih orang, dia kira aku akan tergiur setelah apa yang dia lakukan terhadap ku?” ucap Julia dalam hati.
“Hmm...bukankah kamu menganggap remeh seorang wanita? Bagaimana mungkin kamu akan membayar tenaga wanita lebih besar daripada tenaga pria?.”
“Tapi Jul dengarkan aku dulu!.”
“Aku tidak tergiur tawaranmu!.”
__ADS_1
Julia segera memacu motornya menjauhi Arya dia tidak ingin berbicara lebih lama lagi dengannya.
Arya pun tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa melihat Julia menghilang di tikungan jalan.