
Sebenarnya Julia engan membicarakan masalah ini dengan dokter Jaya tetapi Arya terus mendorongnya supaya tidak terjadi kesalahpahaman kedepannya.
Julia menuruti apa yang di katakan Arya dia menghubungi dokter Jaya, dokter Jaya segera datang setelah menyelesaikan prakteknya.
Arya, Febi, Julia dan juga Mira berkumpul di ruang tamu. Meskipun hal ini tidak bersangkutan langsung dengan Mira tetapi Julia merasa Mira harus tahu.
“Maaf mengganggumu sayang, sebenarnya aku tidak ingin melibatkan mu tetapi Arya tidak ingin terjadi kesalahpahaman.”
“Ada apa ini sebenarnya Julia?.”
Julia menceritakan pertemuannya dengan Tuan Tikno beberapa hari lalu serta penawaran yang dia ajukan.
“Lalu bagaimana keputusanmu?.” Tanya dokter Jaya cemas.
“Ayah ku adalah orang yang licik sebaiknya kamu tidak menurutinya.” Ucap Arya.
“Aku juga tidak mau rujuk dengan mu tetapi aku ingin Bima segera di temukan.” Ucap Julia.
Suasana hening masing-masing orang bergelut dengan pikirannya, mereka berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
Sebuah ide brilian muncul di kepala Arya. Arya segera menyampaikan idenya, semua setuju dengan ide Arya tetapi Mira tampak gelisah dia kurang setuju dengan ide itu.
Julia segera menghubungi Tuan Tikno untuk bertemu besok sore di cafe saat mereka pertama kali bertemu.
Dengan langkah mantap Julia melangkah menuju meja di mana Tuan Tikno telah menunggunya. Tuan Tikno selalu datang lebih awal saat dia hendak bertemu dengan seseorang.
“Bagaimana Julia apakah kamu berubah pikiran dan menerima tawaran ku?.”Tuan Tikno menunjukan senyum liciknya.
Julia semakin geram melihat senyum licik itu tetapi dia berusaha tenang, “Aku ingin Bima ada di hadapanku dahulu sebelum aku rujuk dengan Arya!.”
“Ha...haa...jadi kamu tidak percaya pada ku?.”
“Tentu saja tidak, kepolisian dan detektif yang di sewa Arya saja tidak dapat menemukan Bima apalagi anda Tuan.”
“Haa...haa...aku punya tenaga ahli yang jauh lebih kompeten dari mereka semua.”
“Tapi tetap saja aku mau Bima terlebih dahulu.”
“Baiklah beri aku waktu beberapa Minggu, aku sendiri yang akan mengantar Bima ke rumah mu.”
Setelah melakukan kesepakatan, Julia segera meninggalkan cafe tersebut.
Beberapa Minggu kemudian Tuan Tikno datang ke rumah Julia bersama dengan Bima.
__ADS_1
“Nah...ini Bima, aku sudah tepati janjiku sekarang giliran mu.” Ucap Tuan Tikno penuh semangat.
Julia segera menarik Bima ke pelukannya dan berjalan mundur menjauhi Tuan Tikno.
“Maaf Tuan Tikno kami harus menangkap anda.” Tiba-tiba saja seorang polisi keluar dari dalam rumah Julia dan bersiap memborgol tangan Tuan Tikno.
“Apa-apaan ini? Mengapa kalian menangkap ku, apa kesalahan ku?.”
“Anda di tangkap atas tuduhan penculikan seorang anak laki-laki bernama Bima.” Ucap salah satu seorang polisi.
“Aku datang ke sini untuk mengantarkan anak ini! Mengapa sekarang justru aku yang di tuduh menculik?.”
“Ayah mau bukti?.”
Tuan Tikno terkejut melihat Arya yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
“Kami sudah punya bukti cukup.”
Arya kemudian menunjukan rekaman Vidio dan foto yang diberikan oleh detektif yang dia sewa.
Ternyata Arya meminta bantuan detektif untuk mengawasi ayahnya, setiap gerak- gerik Tuan Tikno tidak luput dari pengawasan detektif itu.
Tuan Tikno kerap datang ke sebuah rumah di kawasan elit, dia terlihat asik bermain dengan seorang bocah laki-laki yang memanggilnya opa no.
“Arya, ayah melakukan ini demi kebaikanmu.” Ucap Tuan Tikno.
Tidak mau mendengar perkataan ayahnya, Arya segera meminta polisi segera membawa ayahnya pergi.
“Tunggu dulu.” Tiba-tiba Mira berteriak dari dalam rumah Julia.
Semua mata memandang ke arah Mira dengan pandangan penuh tanda tanya.
“Ada apa Mir?.” Tanya Arya.
Mira mendekati petugas polisi yang hendak membawa Tuan Tikno ke kantor polisi.
“Kami akan menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan.”
“APA??Apa kamu sudah gila?.” Arya semakin geram.
“Pak, bawa orang ini ke kantor polisi segera! Jangan dengarkan wanita ini.”
Atas permintaan Arya petugas polisi segera membawa Tuan Tikno pergi dari rumah Julia.
__ADS_1
Mira menarik nafas panjang melihat mantan mertuanya di giring dengan tangan di borgol masuk ke dalam mobil polisi.
“Apa-apaan kamu ini? Apa yang ada di otakmu?.”
Arya menunjuk-nunjuk Mira dengan jari telunjuknya.
“Aku hanya merasa tindakan kita sudah keterlaluan, bagaimanapun juga Tuan Tikno adalah orang tua mu dan juga mantan mertua kita bertiga.”
“Hah...lalu apa kamu pikir tindakannya menculik Bima itu tidak keterlaluan?.” Juliapun ikut geram.
“Ya...aku tahu tetapi itu di lakukan karena dia ingin Arya mempunyai anak laki-laki. Entah mengapa dia begitu ngotot untuk mempunyai cucu laki-laki dari Arya.”
“Apapun alasannya dia tidak berhak berbuat seenaknya sendiri dengan menculik Bima dari tangan Julia, untung saja Julia tidak gila.”
“Tapi Arya, aku yakin polisi tidak akan bisa mengurung nya terlalu lama mungkin besok atau lusa dia pasti akan keluar.”
Setelah mengatakan hal itu Mira segera berpamitan pulang dia tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Ternyata apa yang dikatakan Mira benar, keesokan harinya Tuan Tikno dikeluarkan dari sel.
Karena sebenarnya petugas polisi yang datang kemarin sudah mengetahui kejadian sebenarnya karena sejak awal mereka telah menerima uang dari Tuan Tikno untuk tutup mulut tetapi mereka harus bersandiwara di depan Arya.
Tuan Tikno hanya beberapa jam saja di dalam sel lalu dia dikeluarkan, setelah keluar dari dalam sel dia menginap di Hotel.
Tuan Tikno kembali menteror Julia dan memaksa Julia untuk segera rujuk dengan Arya.
Mendengar hal itu Arya sangat geram lalu datang ke kantor polisi untuk meminta penjelasan.
Polisi hanya mengatakan kalau bukti yang diberikan Arya tidak kuat tanpa adanya penjelasan lain.
Teror Tuan Tikno sangat menggangu Julia dan mempengaruhi kinerja Julia. Mira mendekati Julia untuk mengetahui apa yang sudah terjadi dengannya.
Setelah mengetahui kejadian sebenarnya, Mira segera mengambil tindakan. Mira memutuskan untuk bertemu dengan Tuan Tikno.
Mira datang ke rumah Tuan Tikno, Dengan wajah bingung Tuan Tikno mempersilahkan Mira masuk ke dalam rumahnya.
“Tuan Tikno saya datang ke sini untuk meminta anda berhenti menteror Julia.”
“Tidak bisa, saya sudah menepati janji saya sekarang giliran Julia menepati janjinya.”
“Selama ini anda lah yang telah menyembunyikan Bima jadi tentu saja anda sanggup memberikan Bima kepada Julia, itu tidak adil.”
“Aku melakukan hal ini demi kelangsungan keluarga Kusuma, aku harus memastikan kalau Arya mempunyai ahli waris sebelum aku memberikan warisan kepadanya.”
__ADS_1