Club para mantan

Club para mantan
Bertemu Niko


__ADS_3

Mira, Julia dan Febi sedang berkumpul di ruang meeting mereka membahas perihal kemajuan produk King Hwa. Mereka tidak menyangka perusahaan yang mereka rintis maju begitu pesat.


“Yes!! Kita berhasil!.” Seru Mira dengan wajah berseri.


“Yup, meskipun kita tidak berhasil menyingkirkan brand Beauty dari pasaran tetapi kita berhasil mencapai puncak.” Balas Julia.


“Teman-teman mari kita merayakan keberhasilan kita. Aku lihat laporan keuangan perusahaan kita untung besarrrr!” ucap Febi penuh semangat.


“Yuk! Kita nginep di mana gitu, cari tempat yang bisa bawa anak sekalian refreshing.” Ucap Julia penuh semangat.


Bogor adalah pilihan mereka karena jarak yang tidak terlalu jauh dari Jakarta.


Mereka memilih penginapan dekat taman safari karena si sana banyak permainan untuk anak-anak.


Mereka membiarkan anak-anak berlari di rumput dengan bebas. Sampai tiba-tiba terdengar suara, “Maaf ya om adik saya gak sengaja.”


Ternyata Dina telah menjatuhkan es cream ke pakaian seorang pria yang sedang duduk santai. Mendengar Aldo meminta maaf kepada seseorang sontak Mira, Febi dan Julia berlari menghampiri anak-anak mereka.


“Ada apa Aldo?” Tanya Mira.


“Ini ma , Dina menjatuhkan es cream ke baju om ini.”


“OH....saya minta maaf ya, nanti biar saya ganti dengan yang baru. Kita bisa membeli di mall dekat sini.” Ucap Julia penuh penyesalan.


“Ah...tidak apa-apa, tidak perlu diganti, di cuci juga hilang kok nodanya. Kalian bertiga orangtua dari ketiga anak ini?.”


“Iya benar, kami orang tua mereka.”


“Perkenalkan nama saya Niko,” Niko mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan ketiga wanita dan ketiga anak kecil yang ada di hadapannya.


“Mira...anak mu luar biasa, pemberani.” Niko mengacak-acak rambut Aldo.


Mendapat perlakuan seperti itu Aldo sangat senang, maklum dia kehilangan sosok seorang ayah.


“Hmm... bagaimana kalau kita makan siang bersama ada beberapa tempat makan di sekitar sini.”

__ADS_1


Mereka menerima undangan makan siang Niko. Suasana makan siang dengan empat orang anak sungguh sangat merepotkan. Bahkan Dina menumpahkan minumannya di atas meja.


Tetapi Niko terlihat tidak terganggu sedikitpun, dia justru menikmati keributan tersebut.


“Niko, apakah kamu sudah berkeluarga? Karena sepertinya kamu tidak terganggu dengan keributan ini,” Tanya Julia penasaran.


“Belum, aku belum berkeluarga.” Jawab Niko singkat.


“Ooo...kami kira kamu ke sini mau survey tempat untuk liburan keluarga,” Mira mulai menyelidik.


“Aku ke sini memang untuk survey tempat, tapi untuk kantor bukan untuk keluarga.” Niko menjawab dengan santai.


Acara makan siang selesai mereka pun berpisah dengan Niko. Di penginapan Julia mengutarakan kecurigaannya terhadap Niko, “ kalian merasa ada yang aneh gak sih, setahu gue kalau survey buat perusahaan minimal dua orang, ini kok dia survey sendirian ya?.”


“Udahlah gak usah dipikirin toh kita Cuma ketemu dia sekarang doang,” ucap Mira.


“Tapi...kayaknya gue pernah lihat dia deh tapi lupa di mana?,” Ucap Julia sambil berusaha mengingat-ingat.


“Ehhh...udah dibilang gak usah dipikirin masih aja dipikirin, jangan-jangan loe naksir ya, dia lumayan ganteng kan,” Febi menggoda Julia.


“Cie...cie...ceritanya loe naksir dokter Jaya nih.” Febi masih menggoda Julia.


Julia pun membela dirinya “loh, gue kan cuma bilang masih gantengan dokter Jaya daripa Niko, gue gak bilang gue naksir dokter Jaya, Febi.”


“Haha...haha...ada yang jatuh cinta...” Mira dan Febi terus saja menggoda Julia.


Setelah puas menggoda Julia, mereka bertiga duduk bersandar di sofa memandang langit-langit ruangan itu. Kebetulan anak-anak mereka sudah tertidur karena kelelahan.


“Ehh...kita kan sudah lama jadi janda nih, kita sukses dalam berbisnis. Hmm...ada yang kepikiran buat merit lagi gak sih?,” tanya Mira.


“Kalu gue sih kayaknya engak ya Mir. Soalnya serem juga, anak gue kan cewe takut kenapa-kenapa aja nanti, jaman sekarang kan gila.” Ucap Febi.


“Kalau gue sih mau merit lagi tapi harus hati-hati cari suami, gue juga kan punya anak cewe, kalau loe mir gimana?” Julia melirik ke arah Mira.


“Hmm...gue sih pengen merit anak gue kan cowo dia butuh sosok ayah tapi sekarang gue lebih hati-hati milih pasangan hidup.” Mata Mira menerawang ke langit-langit dia mengingat hal pahit yang di terimanya saat dinikahi Arya.

__ADS_1


Bagi ketiga wanita itu sekarang ini menikah bukanlah hal yang utama lagi karena mereka juga memikirkan anak mereka. Mereka kuatir suami mereka tidak sayang dengan anak mereka.


Setelah beberapa hari liburan di Bogor, mereka kembali ke Jakarta. Ketika mobil yang mereka kendarai sampai di kota Jakarta, Julia membuka matanya lebar-lebar menyisir setiap sudut kota, “aku yakin pernah melihat Niko di sekitar sini, mungkin kalau aku beruntung aku dapat melihatnya, karena aku merasa ada yang janggal dengannya,” ucapnya dalam hati.


Namun sampai mereka tiba di rumah masing-masing Julia tidak juga menemukan sosok Niko di jalan yang dia rasa pernah melihatnya.


“Ah...mungkin hanya perasaanku saja, sudahlah.”


Hari-hari berlalu mereka bertiga sudah melupakan pertemuan mereka dengan Niko.


Di pagi hari yang cerah Mira membuka email perusahaan bola matanya membulat saat membaca email yang dikirim dari salah satu acara reality show.


Mira segera memanggil Febi ke ruangannya “Febi, coba baca ini.”


Febi mendekat dan membaca email tersebut “Wow...kita di undang ke acara talk show dalam rangka hari Kartini, keren banget. Terima aja Mir, ini akan berdampak baik untuk perusahaan kita.”


“Oke, kalau begitu gue minta pendapat Julia juga.”


Mira lalu meneruskan email tersebut ke Julia karena Julia sedang berada di lapangan, Julia jatuh cinta dengan pekerjaan di lapangan dia lebih suka berkeliaran di jalan daripada duduk diam di kantor.


Julia membaca email tersebut, Julia juga memberikan pendapat sama seperti Febi. Karena sudah mendapatkan persetujuan dari kedua sahabatnya Mira membalas email tersebut untuk menerima undangan talk show itu.


Hari yang telah di tentukan tiba Mira datang ke studio untuk syuting di temani Julia.


Pertanyaan demi pertanyan di lontarkan oleh host acara ini, pertanyaan standart yang dapat di jawab Mira dengan cepat.


Namun Mira agak sedikit terkejut ketika host meminta tim multimedia menunjukan sebuah foto lalu bertanya “Ibu, Mira, ini kita dapat sebuah foto yang menarik, di sini terlihat ibu Mira selalu pergi kemanapun bersama ke dua wanita ini, siapa mereka? Karena sepertinya mereka sangat akrab dengan Ibu Mira," wajah host tersenyum ke arah Mira.


Mira terdiam sejenak lalu tertawa kecil dan berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan santai, “Ya...ya...mereka adalah karyawan kepercayaan saya, salah satunya hadir di sini menemani saya. Wanita hebat ini turut berperan dalam kesuksesan PT. Putri Kraton. Dialah sales pertama saya dengan gigih dia menawarkan produk King Hwa ke warung dan toko-toko dan sekarang dia menjabat sebagai Area manager."


Host meminta Julia berdiri lalu meminta semua penonton bertepuk tangan.


Lalu Mira melanjutkan ucapannya, “Wanita yang satu lagi namanya Febi, dia berperan sebagai pengatur keuangan di perusahaan saya, dia pengatur keuangan yang hebat berkat Febi perusahaan kita mampu memproduksi produk yang cukup untuk di jual di pasar."


Karena penasaran Mira bertanya.” Darimana anda mendapat foto-foto ini?.”

__ADS_1


Namun host hanya tertawa dan menjawab,” kami punya jurnalis yang handal.”


__ADS_2