Club para mantan

Club para mantan
Jadi Kambing hitam


__ADS_3

Julia memeluk Papanya yang terlihat sangat terpukul, terlebih lagi mamanya.


“Jul, maafin mama ya, seandainya mama tetep di rumah nurut apa kata kamu hal ini tidak akan terjadi.” Nyonya Kurniawan menangis di pelukan putrinya.


“Papa juga minta maaf, tenaga papa tidak bisa mempertahankan Bima.”


“Sudah papa, mama ini bukan salah kalian pasti ada orang yang berniat jahat sama kita.” Julia berusaha menenangkan kedua orang tuanya.


Dokter Jaya dan Saka baru saja tiba ke area Bazar mereka langsung datang ke kerumunan orang banyak karena mereka mengira sedang ada pertunjukan yang menarik, tetapi alangkah terkejutnya mereka saat melihat Julia dan kedua orang tuanya sedang menangis.


Dokter jayapun mendekati Mira dan Febi dan bertanya, “Mir, Feb ada apa?.”


“Ada yang culik Bima dok.” Jawab Febi singkat.


Mira mendekati Julia dan mengajak Julia serta kedua orang tuanya dan Dina untuk masuk ke tenda operasional.


Dokter Jaya, Saka dan Febi mengikuti mereka dari belakang. Mira segera mengecek rekaman CCTV untuk mendapatkan petunjuk.


Mereka memperhatikan setiap detik kejadian penculikan itu, “nah itu Arya ...tuh yang ngelawan penculik terus lari ngejar.”


“Pantesan HP nya jatuh di lokasi penculikan , apa ini berarti bukan dia penculiknya?.” Ucap Febi.


“Dia memang bukan penculiknya tetapi dalangnya, bisa aja ini cuma sandiwara, buktinya dia gak nongol lagi kasih laporan dia berhasil atau tidak kejar penculiknya.” Ucap Julia geram.


Dokter Jaya mengantar Julia dan kedua orang tuanya membawa rekaman CCTV itu ke kantor polisi untuk melaporkan penculikan mereka berharap polisi dapat dengan cepat menangkap penculiknya.


Tidak ada yang memperhatikan Saka, anak berumur 11 tahun itu merasa sangat bersalah dia masih berpikir seandainya dia tidak memposting foto bersama itu pastilah hal ini tidak akan terjadi.


Dokter Jaya mengantar Julia dan kedua orang tuanya pulang, sepanjang perjalan Saka hanya terdiam tidak ada satu patah kata pun terucap dari mulutnya.


Saka minta diantarkan pulang ke rumah dia tidak berniat lagi untuk datang ke acara bazzar itu.


Dokter Jaya tidak menyadari perubahan sikap anaknya, dalam pikirannya dia ingin sekali menghajar Arya.


“Saka kamu masuk dulu ke dalam rumah ya, papa mau pergi sebentar.”


Setelah Saka masuk ke dalam rumah, dokter Jaya memacu kendaraannya dengan cepat menuju rumah Arya.


“ARYA...KELUAR KAMU...!!”


Dokter Jaya menekan bel pintu berkali-kali tanpa henti sambil berteriak memanggil nama Arya.

__ADS_1


Akhirnya Arya membukakan pintu untuknya, baru saja Arya membuka pintu dokter Jaya langsung mendorong tubuhnya sambil berkata dengan penuh amarah, “dimana Bima...katakan padaku di mana Bima. Kamu menculik Bima kan?.”


“Jaya...aku tidak menculik Bima, justru di sana aku berusaha merebut Bima dari tangan penculik itu tetapi gagal.” Arya berusaha memberikan penjelasan.


“Halah...itu hanya sandiwara kamu saja, maling teriak maling. Katakan sekarang juga di mana Bima?.”


“Jaya aku benar-benar tidak menculik Bima, percayalah padaku.”


“Huh...percaya padamu? Tidak akan pernah!.”


BUK...BUK...


Dokter Jaya mendaratkan tinjunya di wajah Arya darah segar keluar dari hidung Arya.


Mendengar ada keributan di ruang tamu Tuan Tukni segera turun untuk memeriksa.


Alangkah terkejutnya dia melihat anaknya babak belur sinhajat dokter Jaya, “Jaya...! hentikan, apa-apaan kamu. Mengapa kamu memukuli Arya?.”


“Tanya saja ke anak Om.” Dokter Jaya segera keluar menuju mobil pribadinya lalu pergi.


Tuan Tikno meminta penjelasan kepada Arya mengapa dokter Jaya sampai memukulinya.


Arya pun menceritakan apa yang telah terjadi di acara Bazzar tadi sore.


Tuan Tikno membantu Arya untuk berdiri dan berjalan menuju kamarnya lalu dia menelpon dokter pribadinya supaya memeriksa keadaan dan mengobati luka-luka yang di derita Arya.


“Aku harus cek keadaan Julia.”


Arya mengambil ponselnya yang lain lalu menelepon Julia.


Julia melihat di layar HPnya ada panggilan telepon dengan nomer tidak di kenal dia menyangka kalau itu adalah telepon dari penculiknya.


“Haloo... siapa ini?.” Tanya Julia.


“Jul, ini aku Arya aku mau cek keadaan mu. Apakah penculik itu sudah menghubungi mu?.” Tanya Arya.


Namun perhatian Arya itu justru membuat Julia marah,” Kamu jangan bersandiwara ya, aku tahu pasti kamu yang menculik Bima.”


“ Tapi Jul, aku benar- benar tidak menculik Bima.”


“ Omong kosong.”

__ADS_1


Julia langsung mematikan HP nya dia tidak ingin mendengar omong kosong Arya.


Arya lalu mengirim pesan kepada Julia,” Julia, aku hanya ingin menolongmu, apabila nanti penculik menelepon meminta tebusan yang cukup tinggi jangan sungkan mengabari ku, aku akan membantu.”


Membaca pesan dari Arya Julia sangat kesal, dia lalu membalas pesan tersebut, “dasar munafik tunggu sampai polisi menyelidiki mu dan menetapkan mu sebagai tersangka.”


Arya menarik nafas panjang ketika membaca pesan dari Julia, “Julia, bagaimana caranya supaya kamu percaya bahwa aku tidak menculik Bima.” Gumam Arya. karena pengaruh obat yang dia minum Arya segera tidur dengan lelap.


“Auww.” Arya menjerit kesakitan, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit saat dia bangun tidur pagi ini.


“dokter kurang ajar, aku tidak menyangka seorang dokter mampu memukul orang dengan keras seperti itu. Huft...”


Dengan penuh perjuangan Arya berhasil masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dengan air mandi yang hangat, rasa sakitnya sedikit berkurang.


Setelah mandi dia meminum obat penghilang nyeri yang diberikan dokter pribadinya kemarin. Meskipun sedikit nyeri Arya tetap harus pergi ke kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia tangani.


Menjelang sore hari sekretarisnya mengetuk pintu ruangannya, “Pak Arya ada seorang anak laki-laki ingin bertemu dengan anda, namanya Saka.”


Arya sangat terkejut mendengar nama Saka. Kantor PT. Mutiara Ayu memegang tidak terlalu jauh dari sekolah Saka. Arya pernah mengajak Saka ke kantornya untuk merayunya jadi tidak heran kalau Saka berani datang ke kantor Arya.


“Biarkan anak itu masuk.”


Sekretaris mengantarkan Saka masuk ke dalam ruangan kerja Arya.


“Saka, ada apa kamu datang ke sini?.” Tanya Arya penasaran.


“Om Arya aku mau menjadi anak om, om bisa adopsi aku tapi dengan satu syarat kembalikan Bima kepada Tante Julia.” Ucap Saka sambil memandang penuh belas kasihan ke arah Arya.


Mendengar pernyataan Saka, Arya sangat terkejut, “Saka, Om Arya tidak menculik Bima dan Om Arya juga tidak bisa adopsi kamu tanpa persetujuan papa kamu.”


Mendengar jawaban Arya wajah Saka berubah menjadi lesu.


“Apakah papa mu tahu kalau kamu datang ke sini?.”


“Tidak, Papa tidak tahu aku ke sini.”


Saka menarik nafas panjang lalu menelepon dokter Jaya.


“Jaya, anak mu ada di kantor ku. Mau aku yang antar ke rumah atau kamu mau jemput dia?.”


“Hah...? Ngapain dia di kantor kamu? kamu gak mau culik dia kan?.”

__ADS_1


“Hah...Loe tanya aja sendiri sama dia.”


Dokter jaya segera menjemput Saka dari kantor Arya. Tanpa banyak bicara dia langsung menarik Saka keluar dari ruangan Arya.


__ADS_2