Club para mantan

Club para mantan
Ancaman Arya


__ADS_3

Entah mengapa Julia merasa ada sesuatu yang harus dia lakukan ketika selesai sesi berfoto bersama, tetapi dia benar-benar lupa apa itu.


Hari ini Julia menemani Mira pergi ke Bee Florist untuk bertemu dengan Violetta Eagle, untuk membicarakan kerjasama bisnis.


Ketika mereka baru saja sampai di tempat tujuan, HP Julia berdering sebuah pesan WA masuk itu adalah pesan dari Arya.


Pesan yang disertai foto dengan pesan singkat namun menusuk, “anak siapa ini?.”


Membaca pesan tersebut jantung Julia terasa berhenti berdetak, “ini yang kemarin aku rasa kurang, aku lupa memberitahukan dokter Jaya dan Saka untuk tidak mempost foto ini ke medsos.”


Julia berusaha bersikap setenang mungkin dia tidak ingin merusak pertemuan bisnis ini.


Karena Julia tidak juga menjawab pertanyaannya maka Arya terus saja melakukan panggilan telepon, sampai akhirnya Julia menonaktifkan HPnya.


Setelah kerjasama berhasil terjalin barulah Julia menunjukan pesan WA Arya kepada Mira.


Mira sangat terkejut ketika membaca pesan itu.


“Mir, gue harus bagaimana?.”


tanya Julia cemas.


“Untuk sementara blokir saja nomer HPnya, gak usah loe jawab pertanyaannya.” Usul Mira karena dia sendiri juga bingung apa yang harus dilakukan.


Julia menuruti apa yang dikatakan Mira karena dia juga belum tahu jawaban apa yang akan diberikan kepada Arya.


Untunglah lalulintas hari ini tidak begitu macet sehingga dengan cepat mereka sampai di kantor, mereka langsung masuk ke ruangan Mira, Mira memanggil Febi ke ruangannya untuk membahas hal ini.


Saat mereka bertiga berkumpul HP Julia kembali berbunyi, nomer tidak di kenal tanpa ragu Julia mengangkat panggilan tersebut karena memang sudah biasa dirinya menerima panggilan dari nomer yang tidak dikenal.


Baru saja Julia mengangkat panggilan tersebut, suara penuh amarah langsung terdengar. Julia langsung menyalakan speaker supaya kedua sahabatnya ikut mendengar.


“JULIA...KAMU TELAH MENIPUKU, AKU SUDAH CEK KE DOKTER KANDUNGAN YANG DAHULU KAMU KUNJUNGI, BERDASARKAN CATATAN MEDIS DI SANA HASIL USG JENIS KELAMIN ANAK KEDUA KITA ADALAH LAKI-LAKI. KAMU TELAH MENIPUKU DENGAN MENGATAKAN ANAK DALAM KANDUNG MU ADALAH PEREMPUAN. SERAHKAN ANAK ITU KEPADA KU!!!.”


“TIDAK BISA, kamu sudah menceraikan aku sebelum aku melahirkannya. Bukankah aku sudah memintamu untuk menemani ku melihat jenis kelamin janin? tetapi kamu tidak mau. Bukan kah aku juga sudah bilang supaya menunggu aku melahirkan barulah kamu ceraikan aku? Tetapi kamu tetap menceraikanku saat itu juga. Jadi anak ini adalah anak ku bukan anak mu, KAMU TIDAK PUNYA HAK ATAS DIRINYA!!!.”


Julia tidak mau kalah galak dengan Arya.


“Lihat saja Julia, aku akan mendapatkan anak itu. Aku akan menempuh jalur hukum.”

__ADS_1


Arya mulai mengancam Julia. Tetapi Julia tidak takut dengan ancaman Arya,


“Silahkan, aku pasti akan memenangkan persidangan itu!!.” jawab Julia mantap.


Julia segera memutuskan panggilan, dia tidak mau mendengar perkataan ancaman Arya lagi.


“Darimana Mas Arya tahu tentang Bima?.” Tanya Febi.


Julia menunjukan pesan WA yang dikirim Arya tadi.


“Ohh...astaga kita lupa bilang ke dokter Jaya supaya tidak perlu memposting foto kita.”


Julia duduk dengan lemas, jari-kari tangannya sibuk memijit dahinya.


“Kalian ada kenalan pengacara yang hebat dalam kasus ini gak?.” Tanya Julia dengan nada lemas.


“Kita gak punya kenalan pengacara, tetapi gue tahu siapa yang punya banyak kenalan.”


“Siapa Mir?.”


“Siapa lagi kalau bukan jurnalis kenalan kita.”


“Yup, benar Feb, Niko kan kerja di stasiun TV pasti punya banyak kenalan. Hmm...loe bisa gak hubungi Niko, Feb?.”


“Kenapa harus dia sih, gue gak mau ahh. Gimana kalau kita tanya teman lama kita di Healthy Food.”


“Gimana Jul menurut loe?.”


Karena tidak mendapatkan respon dari Julia, Mira dan Febi cepat-cepat menghampirinya.


“Jul...loe gak apa-apa kan?.”


Febi mengundang tubuh Julia. Febi sangat terkejut karena Julia tidak bergerak tubuhnya lemas sekali.


“MIR....JULIA...,MIR....” Febi sangat panik.


Dengan cepat Mira segera memanggil security lalu membawa Julia ke klinik terdekat.


Saat Julia sedang di rawat oleh suster, ponselnya berbunyi panggilan masuk dari dokter Jaya. Mira menjawab panggilan itu, “ Halo....”

__ADS_1


Baru saja Mira bicara, dokter Jaya sudah berbicara panjang lebar,


“Jul, Saka ada posting foto bersama waktu dia ultah di medsosnya, kebetulan Arya berteman dengan Saka di medsos, lalu Arya tanya anak yang di gendong kamu itu anak siapa? Saka bingung jawabnya, sebenarnya ada apa antara kamu dan Arya?.”


“Dokter Jaya, maaf ini Mira. Julia sedang ada tamu, dokter Jaya bisakah anda datang ke rumah saya nanti malam? Kami bertiga akan berkumpul malam ini untuk menceritakan hal yang kami rahasiakan selama ini.” Terpaksa Mira berbohong karena dia tidak mau membuat dokter Jaya panik.


Dokter Jaya menyanggupi permintaan Mira, jadi hari ini dia sudah berpesan kepada susternya supaya memberitahukan kepada para Medrep bahwa hari ini dirinya tidak menerima Medrep karena ada urusan mau pulang cepat.


Setelah Julia sadarkan diri, Mira menceritakan bahwa tadi dokter Jaya meneleponnya.


“Jul, sorry tadi gue pikir sudah waktunya dokter Jaya tahu yang sebenarnya. Jadi gue minta dia datang ke rumah gue nanti malam. Kita bertiga akan berkumpul juga.”


Julia pun berpikiran yang sama seperti Mira. Jadi nanti malam dokter Jaya akan mengetahui hal yang sebenarnya.


Dengan pikiran yang penuh pertanyaan dokter Jaya memacu mobilnya menuju ke rumah Mira.


Begitu sampai di rumah Mira dokter Jaya berlari kecil menuju pintu masuk, Mira sudah melihat kedatangannya tanpa menunggu dokter Jaya mengetuk pintu Mira sudah membukakan pintu untuknya.


“Julia ,Febi, Mira, katakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.” Tanya dokter Jaya.”


Mira, Febi dan Julia menceritakan kejadian yang sebenarnya secara bergantian supaya dokter Jaya tidak bingung.


Ketika mereka sudah selesai bercerita, mereka menunggu respon dokter Jaya. “Nah...itulah kisah yang sebenarnya dokter.” Ucap Julia.


“Wow...kisah kalian sangat luar biasa, jujur aku katakan aku tidak menyangka kalau Arya ternyata pria seperti itu.”


“OH...ya, bagaimana dokter bisa mengenal Arya?.”


“Arya adalah teman SMA ku, setelah lulus dia kuliah di fakultas ekonomi sedangkan aku falkutas kedokteran.”


Dokter jaya berhenti sejenak dia menarik nafas, lalu melanjutkan kisahnya,


“Keluarga ku memang bukan keluarga kaya raya, bahkan untuk membiayai kuliahku saja aku harus membantu ibu ku membuat kue untuk di jual di depan rumah. Hasilnya lumayan untuk membeli buku-buku dan juga alat-alat kedokteran untuk praktek. Bahkan saat lulus gaji ku juga masih kecil, itulah sebabnya Arya mengejekku dokter miskin.


Mungkin dia masih berpikir aku adalah Jaya yang dahulu sehingga dia mau membeli Saka."


“Kali ini Arya tidak akan menggangu Saka lagi, dia sekarang ingin merebut Bima dari tanganku.” Ucap Julia sedih.


“Sepertinya aku bisa membantu mencarikan pengacara.”

__ADS_1


Dokter Jaya segera menghubungi pengacara Rumah Sakit untuk di carikan pengacara yang handal untuk kasus ini.


__ADS_2