
Tiba-tiba ponsel Mira berdering, “Arya dari kemarin telepon gue terus kenapa sih nih orang?.” Ucap Mira sambil menaruh HP nya di meja karena tidak mau menerima panggilan itu.
“Jawab aja Mir, tapi nyalahin speakernya biar kita berdua denger dia ngomong apa.” Ucap Julia.
Mira pun menjawab panggilan telepon itu,
“haloo...ada apa sih kamu dari kemarin telepon aku terus?.”
“Santai Mir, aku itu Cuma mau kasih tahu informasi penting buat kamu.”
“Informasi apa?.” Mira mengkeryitkan dahinya.
“Kamu punya marketing yang namanya Julia kan?.”
Mendengar nama Julia di sebut, Febi dan Julia langsung mendekat supaya dapat mendengar dengan jelas.
“Iya, memangnya kenapa, ada apa dengan dia?
“Dia pernah bilang sama SPV kantor ku kalau dia itu akan bikin pelanggan King Hwa balik lagi pakai produk Beauty asalkan SPV kantor ku bayar ke dia. Kayaknya dia lagi perlu uang katanya gaji di sana kecil.”
“Oo...begitu, kenapa kamu kasih tau aku, bukannya kamu malah untung kalau dia memang bisa bikin konsumen balik lagi pakai produk Beauty?.”
“Aku gak suka main curang seperti itu, lagipula PT. Mutiara Ayu gak perlu bantuan seperti itu toh kami sudah ada di tingkat atas. Kalau aku jadi kamu, aku pecat dia.”
“Apa ini taktik kamu supaya aku memecat Julia lalu dia akan bergabung dengan PT. Mutiara Ayu? Karena seingat aku Julia pernah bilang kalau kamu sempat membujuknya untuk jadi marketing di sana bahkan kamu akan melipat gandakan gajinya.”
“Tidak...!sekarang aku tidak berminat lagi dengannya, aku sudah punya marketing yang hebat sekarang. Kalau kamu tidak percaya terserah kamu.”
“Tentu saja aku tidak percaya, Julia itu pekerja keras dia harus menghidupi dua orang anaknya sendiri karena suaminya meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas, dia tertabrak kereta api. Dia sangat loyalitas, maaf aku tidak percaya ceritamu.’
__ADS_1
“Terserah kamu?.” Arya segera menutup panggilan teleponnya.
“Hahaha...hahaha ....” Tawa Julia dan Febi menggelegar mereka tidak dapat membayangkan wajah Arya saat Mira bilang kalau suami Julia tertabrak kereta api.
“Hah...kurang ajar sekali Julia, dia bilang suaminya meninggal karena tertabrak kereta api, tapi tidak apa-apa berarti Mira tidak tahu kalau Julia adalah mantan istriku juga.”
Arya memijit kedua pelipisnya dengan jari telunjuknya, dia harus mencari cara lain untuk mendapatkan Bima kembali.
Sebuah ide melintas di pikirannya, “aku akan sewa orang untuk menculik Bima, lalu orang itu akan meminta tebusan yang sangat tinggi sehingga Julia akan memohon kepadaku untuk memenuhi tebusannya, aku akan mengeluarkan uang untuk menebus Bima asalkan Bima ikut denganku.”
“HAHAHAAA...HAHAA...”
Arya tertawa terbahak-bahak dianyakin kali ini rencananya akan berhasil. Dia segera menyewa orang untuk menjalankan rencananya itu.
Arya mengatur semuanya, dia memberikan alamat rumah orang tua Julia kepada orang yang di sewanya.
Karena merasa curiga Julia meminta orang tuanya untuk tidak membawa anak-anak bermain di halaman depan ataupun halam belakang, dia juga meminta security untuk waspada.
Hari berikutnya penculik mulai beraksi saat suasana perumahan sunyi, dia berpura-pura sebagai kurir paket dan menyerang security tetapi ternyata security itu menguasai ilmu bela diri sehingga dengan mudah dia membekuk penculik itu dan menyerahkannya kepada Polisi.
“Arrrkkkk...rencanaku gagal lagi, sejak kapan Julia menyewa security untuk menjaga rumahnya. Kurang ajar!!!”
"Kalau begini caranya terpaksa aku harus menunggu Bima berusia 17 tahun. Kecuali ....aku dapat membujuk Ayah.
Arya segera menemui Ayahnya di ruang kerjanya.
“Ayah...tidak bisakah ayah merubah peraturan surat wasiat itu? Masa aku harus mempunyai anak laki-laki terlebih dahulu barulah ayah memberikan ku warisan?.”
“Ayah tidak bisa merubahnya, ini keputusan ku, kalau kamu tidak mempunyai anak laki-laki maka kamu tidak akan mendapat warisan.”
__ADS_1
“Lalu ayah mau memberikan warisan kepada siapa? Ke Mas Boby? Bukankah ayah sudah pernah bilang kalau mas Boby tidak akan mendapat warisan karena dia menentang ayah?.”
“Terpaksa aku mencabut ucapanku itu, aku akan memberikan warisan keluarga Kusuma kepada kakak mu karena dia punya dua orang anak laki-laki. Kalau kamu ingin mendapat warisan mintalah kepadanya, ayah yakin dia akan memberikanmu sebagian warisannya."
“Aku tidak Sudi meminta warisan darinya.”
“Kalau begitu jalan satu-satunya kamu harus menikah lagi dan berharap kali ini istrimu melahirkan anak laki-laki untuk mu.”
“Sebenarnya aku mempunyai anak laki-laki dari pernikahan ku dengan Julia, dia menipu ku. Anak kedua yang dikandungnya ternyata laki-laki tetapi dia bilang perempuan sehingga aku menceraikannya.”
“Itulah kesalahan mu Arya, ayah sudah bilang jangan memilih wanita yang cerdas atau wanita yang mampu menghidupi dirinya sendiri tetapi kamu gengsi, kamu tetap memilih wanita yang cerdas sebagai istrimu lihat dia sanggup menipumu.”
Tuan Tikno menarik nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya, “sekarang pertanyaannya adalah apakah kamu bisa merebut Bima dari tangan Julia?.”
“Pengacara Kevin menyarankan supaya aku menunggu Bima berusia 17 tahun lalu membujuknya untuk ikut dengan ku, karena kalau aku menuntut sekarang kemungkinan kalah besar pasti pengadilan akan memberikan hak asuh kepada Julia karena selama ini aku tidak memberi nafkah kepada Julia tetapi Julia dapat memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anaknya."
Tuan Tikno mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi ayah tidak bisa menunggu selama itu, ayah tidak tahu apakah ayah masih hidup sampai Bima berusia 17 tahun atau tidak, jadi ayah akan tetap membuat surat wasiat ini, jika nanti ayah masih hidup saat Bima sudah ada di tanganmu ayah akan merubah suatu wasiat ini.”
Dengan terpaksa Arya menerima keputusan Ayahnya, lalu berjalan menuju pintu keluar dengan langkah lesu.
Baru saja tangannya memegang gagang pintu, Ayahnya memangilnya.” Arya...bagaimana dengan anaknya dokter Jaya, istrinya masih ada hubungan saudara dengan kita, kamu boleh mangadopsi anaknya dan mendapat warisan, bukankah itu lebih mudah daripada merebut Bima dari tangan Julia?."
Arya membalik tubuhnya menghadap ayahnya dengan lesu dia menjawab ayahnya,” tidak ayah, nama anak itu Saja usianya 11 tahun dia tidak bisa dibujuk sedangkan dokter jaya tidak mau melepas Saka dan yang lebih buruk lagi ternyata dokter Jaya sedang menjalin hubungan dengan Julia.”
“Hahaha...hahaha...hahaaa....., Arya...Arya malang betul nasib mu.” Tuan Tikno menertawai nasib buruk anaknya dengan suara yang keras.
Arya merasa kesal dia segera keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya dengan kasar.
“Ayah macam apa yang menertawakan nasib buruk anaknya.” Gerutunya dalam hati.
__ADS_1