
“Feb, Mbok Lin lagi pulang kampung ya?.” Tanya Mira penasaran karena sudah beberapa hari Febi ijin pulang untuk menjemput Arumi.
“Iya.”Jawab Febi singkat.
Mira dan Julia saling berpandangan mereka tahu ada yang dirahasiakan Febi dari mereka.
Suara panggilan ponsel Febi memecah keheningan di ruangan itu. Febi menjawab panggilan itu,
“Iya Mbok Lin ada apa?.”
“Tolong bawa Arumi ke RS biasa ya mbok, saya menyusul.”
“Mir, Jul gue mau ke RS Arumi sakit lagi.”
Tanpa menunggu jawaban kedua sahabatnya Febi langsung berlari keluar ruangan.
Mira dan Julia bingung buka kan tadi Febi mengiyakan kalau Mbok Lin lagi pulang kampung? Tapi kok tadi Mbok Lin telepon kasih tau kalau Arumi sakit?
Merasa kuatir dengan keadaan sahabatnya Mira dan Julia segera menyusul Febi ke Rumah Sakit.
Melihat kedua sahabatnya datang Febi langsung memeluk mereka sambil terisak.
Sayup-sayup terdengar suara Amira,
“Papa...papa....”
Hancur hati Febi berkeping-keping mendengar Arumi terus saja memanggil papanya.
Sambil memeluk kedua sahabatnya Febi berkata,
“Mir, Jul tolongin gue. Gue gak tega dari tadi Amira panggil-panggil papanya terus.”
“Loh apa yang jadi masalah Feb? Loe bisa kan telepon Arya buat datang? Atau dia gak mau datang?.” Tanya Julia penasaran.
Febi menggelengkan kepalanya “ bukan dia yang gak mau datang tapi gue yang gak mau dia datang.”
“Feb, ada yang mau loe ceritaiin ke kita? Soalnya akhir-akhir ini Kamu tuh kayak aneh gitu tapi loe diem aja.” Ucap Mira sambil melepaskan pelukan Febi.
Febi menenangkan dirinya sejenak dia menarik nafas perlahan lalu menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Maafin gue, gue keceplosan ngomong jadi sekarang Arya sudah tahu kalau kita bertiga sebenarnya sudah saling tahu.” Ucap Febi penuh penyesalan.
“Ya, gak apa-apa kok Feb tapi sekarang bukan itu yang jadi permasalahanya. Sekarang permasalahan nya adalah kenapa tiba-tiba Mas Arya mau rujuk sama loe kan loe kan cuma punya anak cewe?.” Julia mengkeryitkan keningnya.
“Yach mungkin dia sudah sadar tapi sekarang permasalahannya gue gak mau rujuk sama dia, tapi Arumi sayang banget sama Arya gimana dong.”
Febi meletakan kedua tangannya di kepalanya dia benar-benar pusing tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Bagaimana kalau loe kasih dia persyaratan kalau perlu persyaratan nya di tulis, hitam di atas putih bermaterai tanda tangan loe sama Arya.” Mira memberikan usul terbaiknya.
__ADS_1
“Ya, ide loe bagus juga Mir tapi bantuin gue mikirin persyaratannya apa aja.”
“Iya beres itu sih tapi sekarang ada hal penting yang harus loe lakuin, cepet telepon Arya buat datang jenguk Amira kasian dia.”
Julia menghampiri Amira lalu meletakan tangannya di dahi Amira, “Iya Feb, panas banget loh itu badanya.”
Febi menuruti kedua sahabatnya untuk meminta Arya datang ke Rumah Sakit
Secepat kilat Arya segera datang ke Rumah Sakit dia tidak mau hal buruk terjadi.
...BRAK...
...
Seseorang membuka pintu ruangan dengan kasar.
“ARUMI...PAPA DATANG.”
Arya langsung berlari ke tempat tidur dan memeluk Arumi. Arumi memeluk erat papanya.
Arya tidak menyadari kalau ketiga mantan istrinya ada di dalam ruangan.
Sampai dia menoleh ke sudut ruangan dan terkejut melihat ketiga mantan istrinya sedang berdiri memperhatikannya.
“Oh...hai....” sapanya cangung.
“Mama...mama jangan pergi, sini temani Arumi.”
Arumi mencegah Febi untuk keluar ruangan.
Dengan berat hati Febi berjalan kembali menuju tempat tidur Arumi, Mira dan Julia tetap keluar ruangan.
Febi berpura-pura bersikap ramah kepada Arya di depan Arumi. Wajah gadis kecil itu terlihat sangat gembira sampai akhirnya dia tertidur lelap.
Setelah Arumi tertidur Febi memanggil Mira dan Julia untuk masuk ke dalam ruangan.
Arya sudah duduk di kursi yang ada di sudut ruangan, Febi, Julia dan Mira duduk di kursi yang ada di depan Arya, Arya merasa dirinya sedang di sidang oleh ketiga mantan istrinya.
“Aku tahu ini adalah waktu yang tidak tepat untuk membicarakan masalah kita tetapi mumpung semua sedang berkumpul di sini kita tetap akan membahasnya tetapi usahakan tetap tenang.” Febi membuka percakapan.
Arya pasrah dengan apa yang akan terjadi, dia berusaha tetap tenang dan duduk dengan tegap.
“Kamu mau rujuk dengan Febi, Mengapa?.”Tanya Mira tegas.
“Aku ingin menebus kesalahanku dimasa lalu.”
“Bagaimana dengan kami? Bukankah kamu juga punya kesalahan kepada kami berdua juga?” ucap Julia.
Arya terdiam sejenak memikirkan apa yang harus dia katakan kepada para mantan istrinya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu aku akan rujuk dengan kalian bertiga. Apakah kalian bertiga bersedia?.” Tanya Arya kembali.
“Tentu saja tidak, aku malah justru ingin menjatuhkan mu!” ucap Mira .
“Aku juga tidak, aku sudah move on dari kamu.” Ucap Julia.
Arya memandang ke arah Febi dengan pandangan penuh harap.
“Aku terpaksa menerima rujukan mu tetapi ini hanya demi Arumi.”
Arya bernafas lega dia tersenyum mendengar jawaban Febi.
“Tetapi...kami bertiga akan memberikan persyaratan, aku dan Julia akan tetap mengawasi Febi meskipun kalian sudah rujuk.”
“Oke katakan apa persyaratannya.”
“Aku tidak mau ada hubungan badan.”
“Kita akan tidur di ranjang terpisah.”
“Kita akan tinggal di rumahku bukan di rumahmu.”
“Aku tidak mau tinggal bersama denganmu di rumah orang tuamu bersama dengan ayahmu.”
“Aku tidak mau di perlakukan seperti dahulu, ingat itu!.”
Setelah Febi selesai berbicara kini giliran Mira dan Julia.
“Kami akan tetap mengawasi Febi, jadi jangan macam-macam!.”
“Febi akan tetap bekerja di PT. Putri Keraton, kamu tidak boleh melarangnya.”
“Arya apa kamu yakin ingin rujuk dengan Febi walaupun dia hanya memiliki anak perempuan? Apakah kamu tidak menyesal dan akan menuntut Febi kembali?.”Tanya Julia.
“Tidak! Aku pastikan aku tidak akan menuntut kembali, aku sudah sadar kalau anak laki-laki dan perempuan sama saja.” Arya meyakinkan ketiga mantan istrinya.
Febi kembali mengingatkan Arya kalau nanti mereka tidak akan melakukan hubungan badan, Febi tidak mau memiliki anak dari Arya kembali karena dia melakukan hal ini hanya demi Arumi.
“Oke hanya itu saja?.” Tanya Arya memastikan.
“Ya, kami akan pikirkan nanti dan kalian berdua akan tanda tangan.” Ucap Julia.
“Baiklah aku akan menunggu , aku akan berusaha untuk dapat memenuhi tuntutan itu.” Ucap Arya.
“Febi, bolehkah malam ini aku menjaga Arumi?.”
“Malam ini aku yang menjaganya mungkin besok kamu bisa menjaganya.”
Arya tidak mau menawar lagi, dia menunggu sampai Arumi bangun tidur dan menemaninya sampai malam lalu pulang saat Arumi tertidur.
__ADS_1