
“Sepertinya detektif itu salah, gak mungkinlah kami bertiga tersangkanya.” Ucap Arya lirih.
“Tapi kali dipikir-pikir mungkin saja karena penculik itu belum juga menghubungi Julia untuk meminta tebusan atau Julia berbohong? Jangan-jangan penculik itu sudah menghubunginya?.” Arya asik bermain dengan pikirannya sendiri.
Arya segera meraih HP nya lalu menghubungi Julia, “ Julia apakah penculik itu sudah menghubungimu untuk meminta tebusan atau semacamnya?.”
“Ya, penculik itu baru saja menghubungi ku, tapi bukan untuk meminta tebusan. Dia meminta ku untuk tidak mengkhawatirkan Bima karena Bima ada di tempat yang nyaman dan dia berjanji akan mempertemukan ku dengan Bima suatu saat nanti.
Sudahlah Arya jangan bersandiwara pasti kamu yang menculik Bima supaya kamu mendapat warisan, jujur saja!!!.”
“Julia percayalah padaku aku tidak menculik Bima!.”
“Sudahlah Arya aku tidak mau berbicara denganmu lagi.”
“Tapi Julia....”
...TUT ...TUT...TUT...
...
Julia memutuskan panggilan teleponnya.
“Arrghhh.....kalau begitu hanya ada satu orang yang patut aku curigai, Ayah...!!”
“Ayah...!!!.”
Tanpa mengetuk pintu Arya membuka pintu ruang kerja ayahnya dengan kasar,
...BRRAAAKKK...
...
“Arya! Ada apa ini, mengapa kamu masuk dengan cara seperti itu?.”
“Katakan dimana Bima!.” Arya berdiri di depan ayahnya dengan nafas yang tidak beraturan karena menahan amarah.
“Mengapa kamu tanya Ayah? Tanya detektif swasta yang kamu sewa itu.”
“Dia bilang tersangka penculikan nya adalah aku, Julia dan ayah. Aku tidak menculiknya dan sudah pasti Juliapun tidak jadi satu-satunya orang yang aku curigai adalah ayah.”
“Untuk apa ayah menculik Bima? Ayah sudah punya dua cucu laki-laki!.”
__ADS_1
Mata Arya tertuju kepada benda mungil yang ada di atas meja ayahnya, dia meraih benda itu dan bertanya kepada ayahnya, “darimana ayah dapat sample farfum terbaru King Hwa? Sample ini di bagikan secara gratis pada saat acara bazzar kemarin.”
“Dari teman ayah yang datang ke acara tersebut, dia tunjukan kepada ayah dan menantang ayah untuk dapat membuat farfum yang lebih baik dari ini.”
“Hmm...benarkah?.”
“Ya itu benar, orang-orang masih mempercayai ayah, seharusnya mereka memberikan ini kepadamu dan menantangmu bukan ayah.”
Arya meletakan kembali sample farfum itu di meja ayahnya lalu segera keluar dari ruangan itu dengan kesal.
Sebulan sudah Bima di culik namun tidak ada titik terang. Julia yang dahulu selalu ceria dan senang berkeliling dengan sepeda motornya kini menjadi Julia yang pemurung. Dia selalu kelihatan sedih hal ini membuat orang tuanya dan kedua sahabatnya cemas.
Mereka segera menghubungi dokter jaya, mungkin dokter Kaya mempunyai solusi untuk membuat Julia kembali ceria.
“Mira, Febi, bukannya aku tidak mau menghibur Julia tetapi sejak penculikan Bima, setiap kali aku mengajak Julia pergi dia selalu menolak.”
Itulah jawaban dokter Jaya saat Mira dan Febi menghubunginya.
Dokter Jaya berpikir keras dia tidak mau Julia terus bersedih. Sebuah ide melintas di kepalanya.
Malam hari setelah selesai praktek dokter Jaya meminta Saka untuk mengajak Julia makan malam.
Rencananya berhasil Julia tidak mampu menolak permintaan Saka.
Saat menunggu pesanan datang, dokter Jaya bercerita bahwa Saka pernah pergi ke kantor Arya untuk melakukan pertukaran dirinya dengan Bima.
Mendengar cerita itu Julia sangat terharu,
bagaimana tidak anak yang masih berusia 11 tahun sudah bisa menunjukan rasa kepedulian yang sangat tinggi.
Setelah selesai makan, dokter Jaya meminta Saka untuk menunggu di dalam mobil karena dia ingin berbicara serius dengan Julia.
“Julia...menurutmu bagaimana Saka?.”
“Bagaimana apanya dokter?.”
“Kira-kira apakah Saka dapat mengalihkan perhatianmu sejenak dari masalah yang sedang menimpamu?.”
Julia mengkeryitkan dahinya kedua alisnya hampir menyatu. Melihat air muka Julia yang seperti itu, dokter Jaya berusaha mencairkan suasana.
“Bukan maksudku untuk memintamu melupakan Bima tetapi aku hanya mau melihatmu kembali ceria seperti dahulu dan dapat mengalihkan perhatian mu sejenak.”
__ADS_1
“Oh...ya....” wajah Julia sudah tidak tegang lagi bibir nya sudah mulai tersenyum.
“Saka anak yang sangat baik, sikapnya lebih dewasa di banding usianya, aku menyukainya.” Jawab Julia sambil menyeruput coklat panas terakhirnya.
“Saka juga menyukaimu Julia.”
“Hah....? Maksudnya?.” Julia hampir saja tersedak.
“Ya, setelah satu tahun kepergian istri ku, aku berusaha mencari penggantinya. Namun setiap kali aku memperkenalkan seorang wanita kepada Saja dia selalu menolak dan marah. Sampai akhirnya aku memperkenalkan mu di pesta ulang tahunnya, dia langsung menyukaimu bahkan selalu bertanya kapan kamu mau menjadi ibunya.”
Dokter Jaya berhenti sejenak dia tersenyum kepada Julia, dia memperhatikan Julia yang terlihat sedikit salah tingkah.
“Jadi Julia, apakah kamu mau mempertimbangkan untuk kita menjalin hubungan yang lebih serius? Mungkin Saka dapat sedikit menghiburmu, sambil kita tetap berusaha mencari Bima.”
“Oh....begitu ya.” Ucap Julia lirih.
“Tidak harus di jawab sekarang, jawab lah kalau kamu memang sudah yakin dengan jawabannya. Sekarang lebih baik kita ke mobil kasihan Saka sudah menunggu agak lama.”
Julia mengikuti dokter Jaya yang sudah lebih dahulu berdiri dari kursinya lalu mereka berdua berjalan bersama keluar dari dalam restoran dan masuk ke dalam mobil.
Dokter Jaya mengantarkan Julia terlebih dahulu barulah dia pulang ke rumahnya.
Suasana di rumah Julia sudah sangat hening, papa dan mamanya sudah tidur begitu juga dengan Dina, tetapi keadaan akan berbeda jika ada Bima, bocah kecil itu sangat aktif dan sulit untuk tidur.
Julia masuk ke kamar Dina, dia melihat wajah putrinya dan mencium pipinya, tangannya mengusap rambut Dina dengan lembut, dalam hati Julia berkata, “nak semoga saja adik mu Bima dapat segera di temukan, mama kangen dia.”
Malam ini Julia tidak tidur di kamarnya di ingin tidur di dekat putri kesayangannya itu.
Pagi hari yang cerah Julia mengendarai sepeda motornya menuju kantor. Wajahnya sudah kembali ceria seperti biasanya.
Dengan langkah riang Julia masuk ke ruangan Mira, di sana baru ada Mira karena hari ini Febi ijin tidak masuk karena sedang membawa Arumi berobat.
“Wow...ada sudah kembali ceria nih.” Celetuk Mira saat melihat sahabatnya itu memasuki ruangannya.
“Eh...Mir, semalem dokter Jaya nembak gue.”
“Hmm...bagus dong, loe suka kan sama dia?.”
“Gue butuh bantuan loe sama Febi buat menilai seperti apa dokter Jaya, jangan sampai kayak Mas Arya baik di awal doang.” Ucap Julia sambil meletakan tasnya di atas meja lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Mira.
“Tapi kayaknya dokter Jaya baik deh Jul, lagipula loe juga sudah akrab sama anaknya.”
__ADS_1
“Iya sih, malah Saka pernah minta gue buat jadi mamanya, sampe janji bakalan jaga Dina dan Bima hehe..heee ....lucu banget sih dia.”
“Nah...sudah enak tuh. Biasanya kalau duda yang sudah punya anak bakalan cari istri yang di sukai anaknya.”