
Julia mengusap kepala Saka supaya Saka menjadi lebih tenang. “Saka kamu gak usah merasa bersalah tadi itu Om Arya bilang ke Tante kalau dia gak jadi menuntut Tante buat serahin Bima ke dia, jadi semua sudah baik-baik saja ya.”
Hal itu terdengar seperti kabar baik bagi Saka tetapi tidak bagi Julia dan dokter Jaya.
Setelah selesai makan malam mereka bercengkrama sejenak, “Tante Julia dan papa sudah berteman berapa lama?”
“Kira-kira tiga tahun, memangnya kenapa?.” Jawab dokter Jaya.
Saka berpaling memandang Julia dengan kedua bola matanya yang berwarna hitam,”Tante Julia mau gak jadi mama buat Saka?.”
“Saka...!” Dokter Jaya menegur Saka.
“Wah ...kalau itu Tante harus pikir-pikir dulu.” Jawab Julia santai.
“Saka janji gak akan nakal dan janji akan jaga Dina dan Bima, mau ya Tante jadi mama ku?."
Perkataan Saka membuat Julia tertawa kecil, Julia tidak habis pikir mengapa Saka ingin sekali dirinya menjadi mama.
“Saka...gak boleh ngomong gitu. Sudah malam sana kamu masuk kamar, papa mau antar Tante Julia pulang dulu.”
“Oke deh papa.” Dengan langkah yang malas Saka berjalan menuju kamar tidurnya. Tetapi di tengah jalan dia menoleh ke arah Julia sambil berkata,
“Tante...mau ya...jadi mama ku.”
“SAKA....!”
Mendengar papanya menaikan nada suaranya, Sama segera berlari masuk ke dalam kamarnya.
“Julia, maafin Saka ya. Apa yang dia katakan tolong jangan di ambil hati.”
“Santai saja dok, namanya juga anak-anak.”
“Ayo, aku antar kamu pulang.”
Sampai di rumah Julia tidak dapat tidur dengan tenang dia memikirkan rencana busuk apa yang akan di mainkan Arya untuk merebut Bima.
Pagi hari dengan langkah tergesa-gesa, Julia berjalan menuju ruangan Mira di sana sudah ada Febi.
“Mir, Feb, gue punya kabar entah ini kabar baik atau kabar buruk gue juga bingung.”
“Tenang Jul, tenang, baru juga sampe udah heboh aja.” Ucap Febi.
“Iya nih, duduk dulu lah. Nih ...air putih minum dulu.”
Mira memberikan segelas air putih kepada Julia.
__ADS_1
Julia pun segera duduk di salah satu kursi, setelah jantungnya berdetak secara normal Julia menjelaskan kepada kedua temannya apa yang dikatakan Arya di telepon semalam.
“Hmm...cukup aneh memang...bagaimana kalau kita beritahukan hal ini kepada Ibu Sri?.” Ucap Mira.
Julia segera menghubungi Ibu Sri dan menyampaikan apa yang dikatakan Arya semalam.
“Ibu Sri terus terang saya bingung apa maksud Arya mengatakan hal itu? Yang ada di pikiran saya adalah Arya akan menculik Bima.”
“Tenang Ibu Julia sepertinya dia sudah berdikusi dengan pengacaranya dan pasti mereka akan menunggu Bima remaja lalu mereka akan membujuk Bima untuk ikut dengan Arya.”
“Oh...begitu, baiklah Ibu Sri terima kasih penjelasannya.”
Julia menutup panggilan teleponnya dengan perasaan sedikit tenang.
“Jul, kalau gue boleh kasih saran, lebih baik loe pasang CCTV di rumah loe buat jaga-jaga.” Febi memberikan usul.
“Mungkin loe harus sewa security juga Jul.” Mira memberi usul tambahan.
“Mir, Feb, gue minta ijin gak masuk hari ini ya, mau cari CCTV dan security.”
“Oke.” Jawab Mira dan Febi bersamaan.
Julia segera berlari keluar kantor menuju motornya dan memacunya cepat untuk membeli beberapa CCTV.
Febi merilik Mira sambil tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia masih sibuk mengecek keuangan perusahaan.
Berkali-kali Arya menelepon Mira, tetapi Mira tidak mau menjawab panggilan teleponnya karena dia tidak mau merusak mood hari ini, karena ada banyak pekerjaan yang harus dia siapkan menjelang peluncuran farfum terbarunya yang bekerjasama dengan Bee Florist.
“Aaaahkkkk...kurang ajar sekali Mira, dia tidak menjawab panggilan telepon ku.”
...BRRAAKK.......
Arya melempar HP nya di atas sofa. Arya memutuskan untuk kembali menelepon Mira nanti.
Julia kembali ke rumahnya dengan membawa beberapa kamera CCTV dan juga petugas untuk memasangnya.
Mamanya heran melihat putrinya pulang bersama dengan petugas yang akan memasang CCTV di rumahnya.
“Mas...tolong pasang di halaman depan, halaman belakang, rumah tamu, dapur, kamar anak-anak, dan pintu masuk ya.”
Perugas itu langsung mengerjakan apa yang di minta Julia.
“Ada apa Jul, kok kamu tiba-tiba pasang CCTV? Gak percaya sama mama dan papa nih?.” Tanya namanya heran.
“Bukan begitu ma, Julia hanya wanti-wanti aja, sekarangkan banyak kasus penculikan anak, jadi harus ada CCTV biar kalau ada apa-apa bisa langsung teratasi.” Julia memang tidak memberitahu kedua orangtuanya kalau Arya ingin merebut Bima.
__ADS_1
“Loh...papa masih kuat kok buat lawan penjahat, kamu tenang saja Jul.”
Julia tersenyum geli, papanya masih belum berubah dari dulu selalu merasa dirinya sanggup melindungi keluarganya, maklum papanya adalah seorang pensiunan Polisi.
“Iya papa, Julia yakin banget kalau papa bisa jaga Dina dan Bima, Julia juga sudah cari partner buat papa jaga cucu-cucu kesayangan papa, nanti sore papa deh yang interview dia.” Julia tidak ingin menyinggung perasaan papanya.
Semua CCTV telah terpasang dan telah terhubung dengan ponsel Julia. Papanya juga sudah interview security, dia akan mulai bekerja besok pagi. Kini hatinya sedikit lebih tenang.
Malam hari yang sunyi, Julia menatap kedua permata hatinya dia menciumi keduanya dengan lembut supaya mereka tidak terbangun.
Matanya memandang Bima dengan pandangan penuh harapan,
“Aku akan membuat Bima merasa nyaman dan senang berada di sisiku sehingga apabila dia remaja nanti Arya tidak akan dapat membujuknya untuk mengikutinya.”
Dinginnya angin malam membuat Julia menarik selimut untuk anak-anaknya dan untuk dirinya sendiri, Julia pun tertidur dengan lelap di samping kedua anaknya.
Pagi ini suasana hati Julia sangat bagus dia sudah sedikit merasa tenang, dia bisa memantau keadaan rumah dari ponselnya, dan ada seorang security yang menjaga rumahnya dari pagi sampai sore hari.
Julia sampai di kantor lebih awal dia ingin mengecek pekerjaan para sales.
“Wow...ada yang sudah semangat nih pagi-pagi.” Seru Mira saat melihat Julia sudah duduk di ruangannya.
Beberapa menit kemudian Febi datang lengkap dengan sarapan pagi, Febi memang selalu membawakan sarapan buatannya sendiri untuk kedua sahabatnya.
Satu persatu karyawan sudah mulai berdatangan, PT. Putri Kraton hanya memiliki dua puluh seorang karyawan.
Julia bersiap untuk meeting dengan lima orang sales. “Jul, nanti habis meeting balik ke sini lagi ya, ada yang mau kita bicarakan.”
Julia meberi kode OK dengan jari tangannya lalu segera keluar dari ruangan Mira.
Setelah selesai dia kembali ke ruangan Mira, Febi masih ada di sana,” mau bicarakan apa Mir?.”
“Mulai sekarang loe gak usah lagi ke lapangan buat ngecek kerjaan para sales, serahin itu ke sales yang menurut loe kinerjanya bagus angkat dia jadi SPV.”
“Terus kerjaan gue apa Mir.?”
“Kemarin kita sudah diskusi, gue sama Febi sepakat loe sekarang jadi wakil direktur aja. Lebih banyak di kantor biar loe bisa pantau keadaan rumah.”
“Aneh ahh...masa dari marketing lompat ke wakil direktur.”
“Suka-suka kita lah kan kita ownernya, mau apa aja sebutannya toh penghasilan tetap sama.” Celetuk Febi.
“Manager aja deh ya, biar gak terlalu lompat, nanti karyawan lain curiga kalo tiba-tiba gue jadi wakil direktur.”
“Oke lah... terserah loe.” Ucap Mira.
__ADS_1