
Saka tidak mau pulang ke rumahnya, dia justru ingin di antarkan ke rumah Julia karena ingin bermain bersama Dina.
Dengan pasrah Julia mengantarkan Saka ke rumahnya.
Julia hanya tersenyum kepada kedua orang tuanya saat mereka melihatnya masuk ke dalam rumah bersama dengan Saka.
“Halo Oma, halo opa, Saka boleh main di sini?.” Sapa Saka sopan.
“Hai...sayang, boleh dong ayo sini bermain dengan Dina.” Nyonya Kurniawan menyambut ramah tamu kecilnya.
Dengan langkah riang Saka masuk ke dalam lalu segera berlari kecil menghampiri Dina.
Nyonya Kurniawan memandang putrinya seolah meminta penjelasan.
Julia tersenyum sambil memperlihatkan rapot Saka yang baru saja diambilnya.
“Kamu tadi ambil rapot Saka?.” Tanya Nyonya Kurniawan bingung.
“Saka telepon aku pagi-pagi dia mau aku yang ambil rapotnya. Dokter Jaya ada operasi dadakan. Titip saka ya ma, aku mau ke kantor.”
“Oke....”
Sampai di kantor Julia mengirim pesan kepada dokter Jaya bahwa Saka ada di rumahnya bermain dengan Dina.
Julia melihat kegiatan Saka dan Dina melalui HP nya, mereka terlihat sangat akrab, Dina terlihat sangat senang bisa bermain dengan Saka.
Dalam hati Julia mempertimbangkan apakah dia akan melanjutkan ke hubungan yang lebih serius atau tidak. Melihat kegembiraan di wajah Saka saat bersamanya Julia tidak sampai hati kalau harus menolak cinta dokter Jaya.
“Loh, Saka di rumah loe Jul?.” Tanya Mira saat mengintip dari balik pundak Julia.
“Iya, habis ambil rapot dia gak mau pulang, maunya ke rumah gw mau main sama Dina katanya.”
“Cie...cie...yang baru aja ambil rapot calon anak tiri haha....haha...”
Julia mencubit pinggang Mira, “apaan sih loe.”
Selesai melakukan operasi dokter Jaya segera membuka HP nya, dia tersenyum saat membaca pesan dari Julia. Dalam hati dia berharap Julia juga ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius karena Saka sangat menyukai Julia dan juga Dina.
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkan mu, menjelang malam aku akan jemput Saka. Terima kasih Jul.” Dokter jaya membalas pesan Julia.
Julia tersenyum membaca pesan dari dokter Jaya. Dia menyimpan HPnya lalu mengambil laptopnya dan mulai bekerja.
“Mir, sepertinya ada penurunan penjualan nih bulan lalu. Ada apa ya?.”
“Beauty jadi sponsor konser K-Pop. Arya bikin undian berhadiah tiket konser.” Ucap Mira.
“Hmm...begitu ya, kemarin kita sibuk mengurus bazar jadi tidak menyadari akan ada event besar.” Sesal Julia.
“Mir, bagaimana kalau kita manfaatkan demam Korean style ini. Kita bikin tutorial make up Korean style pake produk kita lalu buat promosi paketnya. Bikin di T*k- T*k, atau medsos lainnya.”
“Sip...loe tuh selalu punya ide brilian Jul.”
Julia segera menemui bagian promosi produk untuk menjalankan idenya itu.
Para wanita ini memang sangat cerdas mereka selalu menemukan cara untuk melawan Arya, sepertinya Arya mendapatkan lawan yang sepadan.
Dengan adanya promo make up Korean style penjualan King Hwa tidak terlalu merosot.
Pelanggan setia King Hwa tetap membeli produk king Hwa walaupun produk Beauty sedang ada promo tiket gratis konser.
Setelah menerima telepon Febi, Mira dan Julia segera pergi ke rumah sakit untuk memberikan dukungan kepada Febi.
Arumi sudah ada di dalam ruang perawatan, suhu tubuhnya tidak stabil kadang panas tinggi, kadamh tidak terlalu tinggi, Febi duduk di sampingnya matanya sudah basah oleh air mata.
Febi langsung memeluk kedua sahabatnya saat mereka masuk ke dalam ruangan tangis nya pecah di pelukan kedua sahabatnya.
Tiba-tiba seorang perawat datang untuk mengantar obat, dengan sopan dia berkata, “ Ibu Febi maaf kalau saya lancang tetapi berdasarkan pengalaman saya anak perempuan itu lebih dekat dengan papanya. Mungkin saja Amira sedang rindu papanya, coba panggil papanya lalu peluk pasti deh panasnya turun.” Perawat itu tersenyum ke pada Arumi dan Febi lalu segera keluar ruangan.
Mereka bertiga saling berpandangan, “feb, gak ada salahnya sih di coba saran dari perawatan tadi.” Ucap Julia.
Febi terlihat ragu dia tidak ingin berhubungan dengan mantan suaminya itu.
“Ayolah Feb, demi Arumi.” Ucap Mira.
Tetapi Febi tetap tidak mau, dia akan menunggu hasil lab terlebih dahulu, mungkin saja suhu tubuhnya Arumi panas karena ada suatu penyakit.
__ADS_1
Mira dan Julia tidak berani memaksa Febi karena itu adalah keputusannya.
Menjelang malam Mira dan Julia berpamitan pulang. Saat tiba di rumah Julia melihat mobil dokter Jaya sudah terparkir manis di halaman rumahnya.
Dokter Jaya datang menjemput Saka tidak hanya itu saja dia juga membawa makanan untuk makan malam bersama.
Saat makan malam Saka bercerita panjang dan lebar, wajah Julia memerah saat Saka bercerita bahwa tadi di sekolah gurunya mengira Julia adalah mamanya. Semua orang tertawa termasuk dokter Jaya, tetapi Julia hanya menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Dua hari kemudian hasil lab telah keluar namun tidak di temukan penyakit apapun dalam darah, urin, maupun fases Amira, semua normal saja.
Mira dan Julia kembali membujuk Febi untuk menghubungi Arya.
Dengan berat hati Febi menghubungi mantan suaminya itu. “ Mas Arya, ini aku Febi. Mas saat ini Arumi sedang di rawat di RS....”
“Kenapa? Kamu perlu bantuan uang?.” Arya memotong ucapan Febi.
“Tidak! Aku punya cukup uang untuk membayar RS, aku hanya perlu kamu datang ke RS untuk Arumi.” Ucap Febi tegas dia menahan kesal.
“Loh...kenapa? Apa hubungannya Arumi di rawat di RS dengan kedatangan ku?.” Tanya Arya bingung.
Febi pun mengatakan apa yang di katakan perawat tadi. Mendengar perkataan Febi, hati kecil Arya sedikit tersentuh.
Dia teringat saat pertama kali melihat Arumi di RS, itu adalah perasaan yang tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata karena peristiwa itu adalah moment dimana dia menjadi seorang Ayah untuk pertama kalinya.
Arya ingat saat dia menatap tajam wajah Arumi dengan raut penuh kekecewaan karena Febi tidak melahirkan anak laki-laki.
Namun saat itu Arumi membuka matanya dan memandang ke arah Arya, Arumi tersenyum dan menguap terlihat sangat mengemaskan. Arya menyentuh pipi mungil Arumi dengan jari telunjuknya, Arumi terlihat sangat menikmati sentuhan lembut di pipinya dengan cara mengerak-gerakan kepalanya.
Namun sikapnya berubah ketika dia sampai di rumah karena pengaruh Ayahnya yang terobsesi dengan cucu laki-laki.
“Halo...halo...halo...Mas...Mas Arya masih mendengar ku?.”
Arya tersentak dari lamunannya, “ eh...iya...iya Feb, nanti sore aku mampir ke sana ya.” Arya segera menutup HP nya.
“Gimana Feb?.”Tanya Mira dan Julia serempak.
“Mas Arya bilang dia mau datang nanti sore.”
__ADS_1
Apakah Arya benar-benar datang untuk anak perempuannya? baca lanjutannya di bab selanjutnya.