
Arya menghentikan kendaraan nya di tepi jalan bukan karena ingin buang air kecil tetapi dia merasa pikirannya kacau. Daripada terjadi kecelakaan lebih baik dia menepi dan menenangkan pikirannya lebih dahulu.
Suara tangis Arumi yang memanggilnya terus terngiang di telinga Arya. Arya menghubungi Mbok Lin untuk mengetahui keadaan Arumi, setelah mengetahui kalau Arumi baik-baik saja Arya segera melanjutkan perjalanan pulangnya.
Dinginnya udara malam sedingin hati Febi terhadap Arya, Febi tidak habis pikir mengapa Arya ingin rujuk dengannya, “gila saja kalau aku mau rujuk kembali dengannya! Febi menarik selimutnya sampai batas leher lalu tertidur lelap.
Udara di pagi hari ini cukup dingin karena semalam turun hujan deras. Febi memacu kendaraannya menuju kantor PT. Putri Keraton.
Mira memperhatikan Febi, karena sejak dia masuk ke dalam ruangan Febi terlihat tidak tenang.
“Feb, loe baik-baik aja?.”
Febi tersenyum dan menganggukan kepalanya tetapi sikapnya ini malah menambah kecurigaan Mira dan Julia.
Seyum merekah menghiasi wajah seorang gadis kecil bernama Arumi, dia sudah tidak sabar menunggu seorang pria yang dia panggil papa menjemputnya siang ini.
Begitu juga dengan pria yang di panggil papa oleh gadis kecil itu, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Arya memacu cepat kendaraannya sebab dia sudah sedikit terlambat. HPnya berdering karena Mbok Lin menghubunginya Asisten Rumah Tangga itu hanya ingin memastikan apakah Arya menjemput mereka atau tidak.
Arumi melompat kegirangan saat mobil yang dikendarai Arya mendekat ke arahnya.
Arumi segera duduk di kursi depan di sebelah Arya,
“Papa, papa ini papanya Arumi kan?.” Tanya Arumi polos.
“Iya dong ini papanya Arumi, kenapa memangnya?.”
“Soalnya semalam mama bilang kalau papa itu bukan papanya Arumi.”
“Oh...mungkin karena mama lagi marah sama papa, kan waktu di rumah sakit mama juga sudah bilang kalau ini papanya Arumi, ingat gak?
“Iya aku ingat . Papa traktir Arumi Pizza dong ...”
Arya selalu mengabulkan apapun permintaan Arumi karena dia ingin pertemuannya yang hanya sejenak saja meninggalkan kesan yang baik di mata Arumi.
__ADS_1
Setelah puas makan Pizza Arya mengantar Arumi dan Mbok Lin pulang. Arya sangat terkejut melihat mobil Febi terparkir di halaman begitu juga dengan Mbok Lin.
Mira dan Julia memang meminta Febi untuk pulang lebih awal karena mereka melihat Febi terlihat tidak sehat. Sebenarnya Febi merasa kuatir dengan keadaan Arumi dia merasa bersalah karena telah membentaknya semalam.
Mbok Lin terlihat sangat ketakutan dia takut dimarahin oleh majikannya itu “Haduh...Pak Arya bagaimana ini? Mbok takut, pasti ibu marah kalau lihat Pak Arya jemput Arumi.”
Arya berpikir keras dia berusaha mencari jalan keluar “ ah...mbok nanti bilang aja gak sengaja ketemu aku di jalan. Arumi juga bilang gitu ya, bilang ke mama kalau tadi pas kamu pulang sekolah papa lewat.”
“Oke Papa.” Jawab Arumi singkat.
Melihat mobil Arya berhenti di depan rumahnya saja sudah membuat hati Febi kesal, Febi bertambah kesal ketika melihat Mbok Lin dan Arumi turun dari dalam mobil Arya.
“Loh...kok Arumi pulang bareng Arya?.” Ucap Febi kesal dia sudah menunggu mereka di depan pintu masuk rumah.
Arya sengaja mengantar Mbok Lin dan Arumi masuk ke dalam rumah karena kuatir Febi merah kepada Mbok Lin.
Wajah Febi sudah memerah menahan amarah kedua tangannya sudah ada di pinggang, “ Mbok Lin...! Apa-apaan ini?.” Teriak Febi saat Mbok Lin, Arya dan Arumi masuk ke dalam rumah.
“Feb...jangan marahin Mbok Lin, tadi kebetulan aku lewat di depan sekolah Arumi dan kebetulan Mbok Lin dan Arumi duduk di halte jadi aku antar aja mereka pulang.”
“Kebetulan atau kamu memang sengaja mau jemput Arumi hah...?.”
Melihat mamanya marah, Arumi semakin mempererat genggaman tangannya, dia tidak mau lepas dari Arya.
“Arumi ayo sini.”
“Gak mau, Arumi takut dari semalam mama marah-marah terus, Arumi mau ikut papa aja.”
Arumi merangkul Arya, sayup-sayup terdengar suara isakan tangisnya.
Arya dan Febi terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Arumi.
“Arumi ayo ke mama. Mama gak marah sama Arumi, mama marah sama papa. Sudah sana ke mama, mama panggil Arumi tuh.” Arya berusaha membujuk Arumi.
__ADS_1
“Huh...gak usah munafik, kamu senang kan Arumi bilang begitu. Setelah mengambil Bima dari Julia sekarang kamu mau ambil Arumi juga?.” Ucap Febi sinis.
“Aku tidak menculik Bima dan aku tidak mau mengambil Arumi dari sisimu, bukankah semalam sudah aku jelaskan kalau aku mau menebus kesalahanku dimasa lalu? Aku ingin kesempatan sekali lagi biarkan aku ada di sisimu dan di sisi Arumi.”
Febi terdiam tidak berkata-kata sedikit pun. Dia melihat ke arah Arumi yang merangkul lengan Arya dengan erat. Febi lalu meminta Mbok Lin untuk mengambil Arumi dan membawanya ke kamarnya.
“Yuk ,cah ayu ikut simbok.”
“Gak mau, Arumi mau sama papa.” Mbok Lin memaksa Arumi melepaskan rangkulannya, Arya ikut membantu karena dia tidak mau memperburuk suasana.
Arumi menangis dengan keras sambil berteriak,
“ARUMI MAU SAMA PAPA...PAPA ...PAPA....”
Arya dan Febi saling berpandangan, Arya berharap Febi mengatakan hal baik soal hubungan mereka tetapi ternyata tidak.
“Sekarang kamu keluar dari rumahku dan mulai besok aku yang akan menjemput Arumi jangan berpikir kamu bisa datang ke sekolah Arumi lagi!.”
Hancur hati Arya mendengar ucapan Febi, padahal itulah jalan satu-satunya dia dapat bertemu dengan Arumi tetapi kini jalan itu telah tertutup rapat.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Arya segera keluar dari rumah Febi “ tidak ada kesempatan lagi bagiku. Hidupku sudah hancur.” Ucapnya dalam hati.
Arya kembali ke kantornya dengan hati yang tidak bergairah, dia berjalan gontai menuju ruangannya pandangannya kosong, “Pak Arya, apakah anda baik-baik saja? Mau saya buatkan sesuatu?.” Wanita cantik yang merupakan seketarisnya menegurnya.
Arya hanya menggelengkan kepalanya lalu duduk bersandar di sofa empuknya. “Bagaimana cara meluluhkan hati Febi?.” Ucapnya lirih.
Keesokan harinya dengan hati yang gembira Arumi menunggu Papanya untuk menjemputnya. Mbok Lin hanya melihat sedih kepada Arumi, Arumi belum tahu kalau mulai sekarang mamanyalah yang akan menjemputnya.
Wajah ceria Arumi berubah menjadi sedih saat dia melihat mobil mamanya yang datang menjemput.
Arumi duduk di kursi penumpang berdua dengan mbok Lin dia tidak berbicara sepatah katapun.
Dalam hatinya dia bertanya mengapa mamanya yang menjemputnya bukan papanya tetapi dia tidak berani bertanya karena takut dimarahi.
__ADS_1