
“Loe harus yakin juga kalau dokter Jaya juga sayang sama Dina dan Bima.” Ucap Mira lagi.
“Ngomong-ngomong soal Bima, kemarin gue dapet WA dari penculiknya katanya gue gak usah kuatir soal Bima, dia ada di tempat yang aman dan suatu saat nanti gue akan bertemu Bima lagi, hmm...loe ngerasa aneh gak sih sama isi pesannya Mir?.”
“Hmm...aneh banget ya pesannya.” Mira menghentikan kegiatannya lalu memandang serius ke arah Julia.
“Jul, mungkin gak penculik itu adalah orang yang loe kenal? Gak tau juga apa motif nya tetapi kata-katanya menginsyaratkan itu.”
“Arya...ya aku mencurigainya sejak awal. Pasti dia yang menculik Bima dia sedang bersandiwara.”
“Kalau memang Arya yang menculik Bima, berarti loe bakalan ketemu Bima setelah Bima berusia 17 tahun, hehee...hee..."
“Astaga...Bima sudah pasti lupa sama gue Mir.” Ucap Julia lemas.
“Jul, bukannya gue minta loe buat lupaiin Bima, cuma loe harus tetap menjalani hidup ini, ada Dina yang perlu perhatian loe ada dokter Jaya dan Saka yang sedang menunggu keputusan loe.”
“Ya, loe bener Mir, yang penting gue tahu kalau Bima baik-baik saja tadinya gue takut dia di jual.”
Mira memeluk Julia sambil berkata, “ setidaknya sekarang loe tahu dia baik-baik saja, tetap semangat jalanin hidup ya Jul.”
“Inilah saatnya memperkenalkan dokter Jaya kepada keluargaku.” Gumam Julia dalam hati.
Sore hari sepulangnya dari kantor, Julia menceritakan hubungannya dengan dokter Jaya. Ternyata kedua orang tuanya mendukung Julia untuk mencoba berumah tangga kembali. Mereka juga ingin bertemu secara langsung dengan dokter Jaya dan Saka.
Nyonya Kurniawan mengundang dokter Jaya untuk makan malam di rumahnya, dengan senang hati dokter Jaya datang bersama dengan Saka.
Tuan dan Nyonya Kurniawan kagum dengan sikap Saka yang sopan, bahkan saat orang dewasa sedang berbincang-bincang dia dengan senang hati menemani Dina bermain.
Setelah acara makan malam selesai dan dokter jaya sudah pulang Julia meminta penilaian kedua orang tuanya.
“Bagaimana dokter jaya dan Saka menurut kalian?.”
“Kalau menurut mama sih dia orangnya baik dan Sopan, lihat saja anaknya sopan banget dan kelihatan sayang sama Dina.”
“Papa juga sependapat sama mama kamu, tapi bagaimanapun juga kamu yang lebih mengenal mereka intinya kalau kamu memang ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan dokter Jaya kami merestuinya.”
Sebenarnya dalam hati kecil nya Julia memang menyukai dokter Jaya hanya saja dirinya masih takut untuk memulai berumah tangga kembali.
Bayang-bayang kelam masa lalu masih menghantuinya. Dia sudah terlanjur nyaman hidup sendiri.
__ADS_1
Seminggu sudah sejak dokter Jaya meminta Julia untuk bersedia menjalin hubungan yang serius, namun Julia masih ragu. Karena tidak ingin membuat dokter Jaya menunggu lama, Julia menemuinya, “ dokter Jaya saya ingin membahas tentang permintaan anda untuk membawa hubungan kita ke tingkat yang lebih serius, tetapi mohon maaf saya belum bisa memutuskan dalam waktu dekat karena masih ada beberapa pertimbangan dan juga trauma masa lalu.”
Dokter Jaya tersenyum lalu menjawab ,” tidak apa-apa Julia, aku dan Saka akan menunggu jawabanmu.”
“Hmm...begini dok, saya tidak ingin kalian menunggu terlalu lama, kalau misalkan saya terlalu lama dan ternyata ada seseorang yang cocok dengan kalian silahkan saja.”
“Tidak ada orang lain kok, kami akan menunggu jawabanmu kalau ternyata jawabanmu tidak, barulah aku akan mencari yang lain. Selama kamu belum memberikan jawaban aku dan Saka akan tetap berharap.”
“Haduh...kok jadi kayak terbeban begini Yach gue.” Gumam Julia dalam hati.
Dokter Jaya menyadari ketidaknyamanan Julia, dia lalu berpikir untuk mencari cara yang membuat Julia nyaman.
“Bagaimana kalau aku memberikanmu deadline waktu saja biar sama -sama enak. Aku beri kamu waktu untuk mengambil keputusan selama enam bulan.” Ucap dokter Jaya.
“Ah...lebih baik begitu dokter, terima kasih atas pengertiannya.”
Sejak saat itu Julia dan dokter Jaya sering menjadwalkan pergi bersama keluarga mereka untuk dapat lebih mengenal satu sama lain.
Perhatian yang diberikan dokter Jaya tidak terlalu berlebihan, malah terkesan biasa saja bagi seorang pria yang sedang PDKT.
Setiap mereka pergi bersama Julia selalu mengabadikan moment tersebut dalam bentuk Vidio dan Foto.
Julia terbangun di pagi hari karena HP nya berdering, matanya mengeriap melirik jam dinding di kamarnya, “astaga masih jam 6 pagi siapa yang menelepon sepagi ini?.” Ucapnya lirih.
Julia meraih HP nya di layar muncul nama dokter Jaya. Dia langsung cepat-cepat menjawab, “Halo dok.”
“Selamat pagi Tante Julia.”
“Saka? Ada apa telepon Tante sepagi ini?.”
“Tante Julia bisa gak ambil rapot Saka hari ini Jam 8.”
“Hah? Ambil rapot?."
Tiba-tiba terdengar suara dokter Jaya berteriak,
“Saka kamu telepon siapa?.”
Dengan cuek Sama menjawab” Tante Julia, Saka minta tolong Tante Julia aja yang ambil rapot Saka, jangan Mbok Nini.”
__ADS_1
“Tante Julia mau ya.” Saka berteriak karena dokter Jaya sedang berusaha mengambil HP nya.
“Saka jangan ganggu Tante Julia, dia kan harus kerja.”
“Julia maaf ya, tenang nanti Mbok Nini aja yang ambil rapot Saka.” HP sudah ada di tangan dokter Jaya.
“Gak mau, Saka maunya Tante Julia yang ambil.” Teriak saka dari belakang.
“Tidak apa-apa dokter Jaya, nanti saya saja yang ambil.”
“Hore...hore....” teriak saja girang.
“Maaf ya Julia jadi merepotkan mu karena aku ada operasi dadakan.”
“Iya tidak apa-apa dok, nanti saya jemput Saka biar ke sekolah bareng.”
“Terima kasih Julia.”
Julia pun memutuskan panggilan telepon lalu segera turun dari tempat tidurnya dan segera mandi.
Julia lalu menghubungi Mira, ijin masuk terlambat.
Julia segera meluncur ke rumah dokter Jaya. Saka sudah menunggunya di depan rumah, Saka langsung berlari menghampiri Julia dan langsung naik di belakang Julia ketika Julia baru saja menghentikan motornya.
Bocah laki-laki itu tampak riang duduk di belakang Julia sambil melingkarkan tangannya di pinggang Julia.
Sampai di sekolah dengan riang Saka mengandeng tangan Julia berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kelasnya.
Satu persatu wali kelas memanggil nama murid- murid sesuai dengan nomer absen.
Tiba giliran nama Saka di panggil, Saja berjalan ke depan diikuti Julia.
“Wah...ternyata sudah ada Ibu baru, pantesan nilai Saka mengalami peningkatan.” Ucap wali kelas saat Julia dan Saka duduk di kursi.
Juliapun hanya tersenyum dia bingung mau menjawab apa, sementara wali kelas memberikan laporan kepada Julia perihal sikap Saka di kelas selama ini.
“Ibu mohon kerjasamanya supaya Saka dapat meningkatkan prestasinya.”
“Iya, baik Bu. Terima kasih.”
__ADS_1
Julia pun menjabat tangan wali kelas lalu segera pulang.