
“Wow konser yang luar biasa.” Teriak Febi penuh semangat sambil memandangi foto dirinya bersama bintang K-POP.
Julia hanya tersenyum melihat tingkah Febi tetapi Mira dia terlihat kesal.
“Eh...kayaknya kita kalah strategi deh marketingnya Beauty keren abis. Bayangin produk mereka bisa di bintangi artis Korea.” Ucap Mira.
Tetapi Febi dan Julia tidak menghiraukan ucapan Mira karena Julia sedang asik berkirim pesan dengan dokter Jaya dan Febi tidak bosan-bosan memandangi foto dirinya dengan bintang K-POP tadi lalu segera mengunggahnya di media sosial dan sekarang dia sibuk membalas komentar di media sosialnya.
Mira hanya menarik nafasnya panjang melihat kedua sahabatnya itu. “Heiii...kalian berdua denger gak sih gue ngomong apa?.” Ucapnya kesal.
“Eh...Mir, sorry gue harus bales pesan dari dokter Jaya dan Saka.”
“Sorry Mir, gue lagi asik bales komentar di medsos gue.”
“Haaah...ya sudahlah, besok gue harap kalian sudah bisa fokus kerja.” Ucap Mira tegas.
Febi dan Julia tidak menghiraukan ucapan Mira, mereka sedang asik dengan kesibukan masing-masing.
Mira sangat kesal dengan sikap kedua sahabatnya, dia lantas mempercepat laju kendaraannya supaya dapat mengantar pulang kedua sahabatnya.
Di saat semua mahluk tertidur lelap dibuai angin malam tetapi Mira tidak dapat memejamkan matanya, otaknya terus berputar memikirkan cara untuk dapat mengalahkan Arya.
Matahari belum juga muncul dari persembunyiannya tetapi Mira telah terjaga dari tidurnya.
Dengan perlahan dia berjalan menuju kamar mandi, lalu segera berpakaian. Setelah sarapan ala kadarnya Mira segera menuju mobilnya lalu memacu mobilnya menuju kantor.
Berbeda dari Mira, Julia dan Febi tidur dengan nyenyak semalam. Mereka datang ke kantor seperti biasa.
“Kalian baru datang?.” Ucap Mira saat Julia dan Febi masuk kedalam ruangan nya.
__ADS_1
Julia dan Febi tidak menyadari perbedaan pada Mira, dengan santai Julia menjawab, “yup seperti biasa kan. Ini gue bawaiin kue kesukaan loe.”
...BRAAKKK....
...
Tiba-tiba Mira mengebrak meja. Febi dan Julia sangat terkejut hal ini baru pertama kali terjadi.
“KALIAN BISA SANTAI SEPERTI INI, SETELAH MELIHAT KEBERHASILAN PT MUTIARA AYU DI KONSER KEMARIN?.”
Mira berteriak penuh emosi.
Julia dan Febi ternganga melihat sikap Mira yang seperti itu.
“Mir, loe kenapa?.” Febi bertanya dengan sangat hati-hati.
Nafas Mira terlihat tidak teratur, dia memandang kedua sahabatnya sejenak lalu kembali duduk bersandar di kursinya yang empuk. Mira memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya kembali.
Mira membuka kedua matanya setelah nafasnya sudah kembali teratur, dia menarik nafas melalui hidung kalau mengeluarkannya melalui mulutnya, dia melakukan hal itu beberapa kali sampai dia merasa tenang.
“Feb, Jul, sorry yach gue tadi meluapkan emosi. Gue Cuma ngerasa gagal aja, seharusnya Bintang K-POP itu memegang produk kita bukan Arya. Seandainya gue kemarin gak terlalu sibuk menyiapkan Bazar gue bakalan ikutan masukin penawaran dan bisa saja kita yang di terima menjadi sponsor.”
Sebagai sahabat dan rekan bisnis mereka berusaha menghibur Mira dan meyakinkannya kalau ini semua bukan hanya kesalahannya, tetapi juga kesalahan mereka yang terlalu mengandalkan Mira untuk mengecek email perusahaan.
Febi dan Juliapun sepakat kalau mereka juga akan ikut mengecek email perusahaan, sehingga tidak ada email penting yang terlewat.
Julia pun mengingatkan kembali apa tujuan awal mereka saat memulai bisnis ini yaitu supaya Arya tidak meremehkan wanita dan membuktikan bahwa wanita juga mampu mengelola bisnis, tidak perduli kita ada di posisi pertama atau posisi buncit sekalipun.
“Tapi Jul, gue tetap mau jadi yang pertama kita harus buktikan ke Arya kalau kita tangguh.” Ucap Mira penuh semangat.
__ADS_1
“Ya, kita akan melakukannya secara perlahan tapi pasti, ingat selain sebagai bisnis woman kita juga adalah single parent.” Julia menepuk pundak Mira.
“Mir, kayak nya loe perlu refreshing dulu deh, bagaimana kalau loe ambil cuti ke Jogyakarta nengok anak loe Aldo.” Ucap Febi.
Tetapi Mira menolak usul Febi karena dia berpikir tidak mungkin meninggalkan perusahaan di tangan ke dua sahabatnya yang sedang tidak fokus bekerja, Julia yang sedang kasmaran dan Febi yang sedang berusaha menghadapi Arya supaya menjauh dari anaknya.
Ya, Mira lebih cendrung mengambil tanggung jawab lebih di perusahaan ini. Dia akan mengambil cuti setelah dia memastikan penjualan bulan ini tidak turun drastis, karena penjualan di bulan kemarin ada penurunan akibat promo bagi-bagi tiket konser gratis dari Produk Beauty.
Dengan langkah tegap dan penuh rasa percaya diri Arya datang ke ruangan kerja ayahnya memberikan laporan keberhasilannya.
“Ayah ini hasil kerja keras ku selama beberapa bulan menjelang konser, lihatlah grafik peningkatan penjualan produk kita.” Arya menunjukan grafik penjualan kepada Ayahnya.
“Ya, itu bagus setidaknya kita tidak tersaingi oleh perusahaan milik mantan istrimu.” Ucap Tuan Tikno santai.
“Ya, aku harap ayah mau mempertimbangkan perihal memberikan warisan perusahaan ini kepada ku walaupun aku belum mempunyai anak laki-laki karena selama ini akulah yang berjuang untuk mempertahankan produk Beauty tetap menjadi nomer satu.”
“Ya, itu bisa ayah pertimbangkan asalkan kamu mau menikah kembali, ayah berjanji apapun jenis kelamin cucu ku nanti aku akan tetap memberikan warisan ini kepada mu.”
Arya menolak usul ayahnya karena dia tidak yakin akan sikap ayahnya.
“Mengapa aku harus menikah lagi kalau aku bisa kembali rujuk dengan salah satu mantan istriku? Aku sedang berusaha untuk mendekati Febi kembali.”
“Pikirkan itu baik-baik masakan kamu mau rujuk kembali dengan mantan istrimu dimana harga dirimu, lagipula Febi bekerja di perusahaan yang menjadi saingan kita. Sudahlah menikah saja lagi apa susahnya mencari istri, dengan harta yang bergelimang pasti banyak yang mau menjadi istrimu siapa tahu kamu dapat anak laki-laki.”
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Arya berdiri lalu keluar dari ruangan kerja ayahnya, dari kata-kata yang diucapkan ayahnya dia sudah bisa mengambil kesimpulan kalau ayahnya masih memandang wanita sebagai alat penerus keturunan.
“Harga diri seorang pria? Huh...persetan dengan itu.”
Umpat Arya saat dia masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
“Lagipula harga diriku sudah lama hancur, aku menceraikan ke tiga mantan istriku lalu mereka tidak menerima uang sepeser pun dariku padahal anak-anak mereka masih tangung jawabku tetapi lihatlah mereka sanggup membiayai kehidupan mereka bahkan Mira mampu mendirikan perusahaan yang kini bersaing ketat dengan ku. Sementara pria tua egois itu masih mengatakan tentang harga diri seorang pria? Cuih...”
Di dalam ruangan kerjanya Arya masih terus saja mengumpat dia benar-benar kesal dengan sikap ayahnya yang selalu merendahkan wanita.