
Julia terbangun dari tidur nyenyaknya karena suara alarm HP nya. Dia mengeriap-ngeriapkan matanya, tangannya meraba- raba mencari HP nya.
Ternyata bukan hanya alarm bangun pagi tetapi juga alarm pengingat bahwa hari ini Julia harus menentukan sikap kepada dokter Jaya. Waktu enam bulan yang mereka sepakati sudah habis.
Julia kembali berbaring di ranjangnya memandangi HP nya, menimbang-nimbang perasaannya kepada dokter Jaya.
Sebuah keputusan sudah dia buat di dalam hatinya, dia lalu turun dari ranjangnya lalu menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor.
Dokter Jaya mengirim pesan kepada Julia, dengan sopan dia mengajak Julia makan malam.
Julia menerima undangan makan malam dokter Jaya tetapi dia berpesan supaya dokter Jaya tidak mengajak Saka.
Hari ini tidak ada yang curhat soal asmara baik Febi maupun Julia, mereka fokus dengan pekerjaan mereka. Namun hari ini mereka pulang lebih cepat dari biasanya.
Febi bergegas pulang untuk menghibur Arumi karena dia tahu Arumi pasti menunggu Arya.
Sedangkan Julia ingin mempersiapkan diri untuk makan malam dengan dokter Jaya.
Lalu Mira ... Ya Mira dia tetap di kantor, di antara mereka bertiga hanya Mira yang terobsesi dengan bisnis ini dia ingin sekali menyaingi Arya, mantan suaminya itu.
Febi memacu kendaraannya secepat yang dia bisa, dia menghela nafasnya lega karena tidak melihat mobil Arya di halaman rumahnya. Arya benar-benar tidak datang lagi untuk menemui Arumi.
Julia juga memacu motor kesayanganya secepat yang dia bisa, dia ingin tampil menawan malam ini karena malam ini adalah malam yang istimewa.
Julia langsung membersihkan dirinya, memakai pakaian terbaiknya lalu menunggu dokter Jaya menjemputnya.
Detik demi detik berlalu, Julia berusaha untuk meyakinkan dirinya kalau keputusan yang akan dia ambil adalah keputusan yang tepat.
...TING...TONG...
...
Suara bel pintu membuayarkan lamunan Julia. Julia tahu siapa yang ada di depan pintu, dokter Jaya berdiri di depan pintu menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Julia bergegas menuju pintu untuk membukakan pintu, dokter Jaya segera masuk ke dalam rumah dan berbincang-bincang sebentar dengan kedua orang tua Julia lalu mereka berdua segera pergi menuju restoran yang telah di reservasi oleh dokter Jaya.
“Hai Julia hari ini kamu terlihat begitu menawan.” Ucap dokter Jaya sambil tersenyum ke arah Julia.
Mendengar ucapan dokter Jaya, Julia tersipu malu karena tidak pernah dokter Jaya bersikap seperti itu.
Mereka pun sampai di restoran tersebut, ternyata dokter Jaya telah memesan ruangan exclusif jadi hanya ada mereka berdua saja di ruangan itu. dokter Jaya telah menyiapkan meja tempat mereka makan, di atas meja Julia ada setangkai mawar merah yang masih segar.
Lilin cantik menyala di tengah meja, kursi tempat mereka dudukpun di hias dengan bunga bunga segar.
Julia terpana melihat itu semua “ternyata seorang dokter bisa seromantis ini.” Gumamnya dalam hati.
Seorang pelayan dengan sopan memberikan buku menu kepada mereka berdua ketika mereka telah duduk.
Dokter Jaya bersikap seperti biasa, dia tidak menanyakan perihal jawaban Julia. Karena dokter Jaya tidak menanyakan hal itu Juliapun merasa engan untuk membahasnya.
“Mengapa dokter Jaya tidak membahas hal itu? Ah...mungkin nanti selesai makan dia baru membahas.” Pikir Julia.
Namun sampai mereka berdua selesai makan dokter Jaya tetap tidak membahas perihal hubungan mereka. Julia menimang-nimang mawar merah yang tergeletak di sisi mejanya.
“Oh...tentu saja dari ku Julia, kamu suka?.”
“Ya, aku suka. Terima kasih untuk makan malam romantis ini, aku suka bunga mawar ini, aku akan membawanya pulang dan menaruhnya di vas kecil berisi air.” Julia tersenyum memandang mawar merah itu.
“Apakah itu berarti kamu menerima cinta ku, Julia?.”
“A...a...apa ?.” Julia tersentak dia lantas meletakan bunga mawar itu di atas meja kembali.
“Oh...kamu meletakkannya kembali berarti kamu menolak mu.” Ucap dokter Jaya lesu.
“Eh...Bu...Bu...kan itu maksud ku. Hanya saja aku bingung ini maksudnya bagaimana?.” Julia jadi serba salah.
“Dengan kamu menerima bunga mawar itu berarti kamu setuju untuk membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius tetapi kalau kamu meletakan bunga itu dan tidak membawanya pulang berarti hubungan kita hanya sebatas teman tidak lebih.”
__ADS_1
“Oh...begitu, maaf aku tidak tahu. Sebenarnya aku sedang mempertimbangkan untuk membawa hubungan kita ini setingkat lebih tinggi karena aku melihat Saka dan Dina sangat akrab, terlebih kalau aku melihat Saka aku menjadi sedikit terhibur."
“Syukurlah, aku senang mendengarnya akhirnya....”
“Tetapi dokter tetap saja aku akan terus membuka mataku lebar-lebar, jadi bisa saja aku akan mengakhiri hubungan kita kalau aku mulai merasa tidak nyaman karena jujur saja aku sebenarnya masih trauma dengan kehidupan rumah tangga ku yang lalu.”
“Ya, aku mengerti tapi aku minta kamu harus mengkomunikasikan hal itu terlebih dahulu supaya aku tahu kalau kamu merasa tidak nyaman dan mungkin saja aku akan memperbaiki sikap ku, bukan kah kita memang harus saling lebih mengenal satu sama lain?.”
Jawaban dokter Jaya cukup bijak dan membuat Julia merasa tenang.
“Tapi dokter....”
Dokter Jaya segera memotong ucapan Julia, “mulai sekarang jangan panggil aku dokter Jaya, panggil aku sayang.”
“Astaga kayak pacaran anak SMA aja, tapi ya sudahlah.” ucap Julia dalam hati sambil tersenyum kecut.
Julia lalu melanjutkan ucapannya yang terpotong tadi , “tapi sayang bunganya jangan Cuma satu tangkai, tambahin lagi dong.” Goda Julia.
“Ha...ha...ha...tenang besok akan aku bawakan Bouqet bunga mawar untuk kekasih ku ini.”
Dokter Jaya menarik kursinya supaya dia dapat duduk dekat dengan kekasih barunya itu.
Mereka bersenda gurau sesekali dokter Jaya mengusap lembut pipi Julia hal itu membuat wajah Julia memerah.
Setelah hari sudah mulai malam dokter Jaya pun mengantarkan Julia pulang ke rumahnya, kedua orang tua Julia menunggu mereka berdua di rumah tamu.
Dengan sopan dokter Jaya menghampiri mereka berbasa-basi sebentar lalu memberitahukan kepada mereka tentang hubungan mereka saat ini.
Tuan dan Nyonya Kurniawan menyambut baik berita ini, mereka senang putri mereka kembali menemukan cinta yang hilang.
“Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih atas restu kalian atas hubungan kami berdua semoga semua berjalan dengan baik, sampai ke jenjang pernikahan.” Dokter Jaya tersenyum sambil melirik Julia.
Julia mencubit lengan dokter Jaya, melihat hal itu kedua orang tua Julia merasa senang.
__ADS_1
Keesokan pagi nya Julia datang ke kantor dengan hati riang, dia menceritakan kejadian semalam kepada kedua sahabatnya.
Febi dan Mira ikut merasa gembira akhirnya sahabat mereka menemukan cinta kembali dan mulai bisa melupakan kejadian buruk yang menimpanya.