
...
...
...
"Siapa kamu...?"
Aku punya puluhan pertanyaan, tapi hanya itu yang bisa kukeluarkan untuk saat ini
Sayangnya, orang yang mirip sekali denganku itu sama sekali tidak tertarik untuk menjawab, hanya memiringkan kepalanya sebagai respon
Tatapannya dengan jelas berkata kalau dia akan menerkam seperti harimau kearah seekor rusa mangsanya. Sedikitpun tidak ada belas kasih yang terlihat di dalam matanya itu
...
Baiklah, jika itu yang ingin kamu lakukan
Sayang sekali bagimu, tapi...
Aku bukan si rusa di dalam perburuan ini
Orang itu pun melesat maju dengan kecepatan yang ringan seperti seekor macan tutul. Pukulannya mengepal, siap meluncur tepat kearah wajahku, ditambah dengan matanya yang diisi penuh oleh niat membunuh
Kecepatannya itu tentu mengejutkanku, hingga aku harus mengandalkan refleks tubuhku, nyaris terkena serangan yang bisa saja melubangi kepalaku itu dan hanya mengalami goresan yang tidak terlalu dalam
Refleks lagi aku segera melompat mundur, namun makhluk itu sama sekali tidak memberi ruang. Jadi aku pun terpaksa menggunakan senjata yang kumiliki sekarang ini
Kutangkap tangannya yang mengarah kepadaku itu, dan di detik selanjutnya kunyalakan kekuatan sarung tangan itu hingga ke titik kekuatan tertinggi yang bisa kucapai
Lawanku itu pun menjerit kesakitan. Namun tanpa memberi dia ruang sekarang, aku langsung melemparnya agar menciptakan jarak yang sangat jauh diantara kami, hingga tubuhnya itu memecahkan sebuah tabung yang berisi tiruanku yang lainnya
Tch. Jangan sampai dia terbangun. Mengurus satu dari tikus lab ini saja sudah menyusahkan, apalagi jika lebih...
Dan dia sepertinya sudah tidak bisa bergerak sekarang. Mungkin sebaiknya aku segera menginterogasi dirinya mengenai situasi aneh dan tidak masuk akal ini
Ya. Dia tidak memberi tanda-tanda melawan. Atau setidaknya, dia tidak mampu memberi tanda-tanda melawan, mungkin karena aku sudah menyetrum badannya terlalu keras
Aku memang tidak mengukur kekuatan tegangannya tadi...
"Tapi aku harus bilang aku terkesan. Manusia biasa mungkin akan mati jika terkena tegangan sebesar itu walaupun hanya sedetik. Aku bahkan tidak membatasi kekuatannya secara spesifik"
Tegangan yang bisa kuhasilkan itu mampu menyetarai petir dan halilintar. Jika yang barusan itu bisa kuukur, maka spekulasi kalau kekuatannya lebih kuat dari 2 unsur alam itulah yang bisa kuhasilkan
Akhirnya tiba, aku pun segera menjongkok ke lantai dan menarik erat rambut tikus lab yang mirip wajahnya denganku itu. Kupaksa dia menatapku, hingga aku bisa melihat sepasang mata yang bentuknya sama persis seperti milikku ini
"Bahkan hingga ke bentuk mata, kamu terlihat sama persis denganku. Amitha sungguh melakukan percobaan yang tidak aku senangi"
Pertanyaannya adalah, bagaimana dia bisa mengambil DNA milikku untuk menciptakan puluhan, mungkin ratusan tiruan seperti ini
Dia pasti butuh banyak dengan suplai konstan. Dan selama umurku yang sudah nyaris mencapai 17 ini, aku ragu dia bisa mengumpulkan sebanyak itu tanpa diketahui olehku secara langsung
Orang itu memang selalu menggunakan trik murah dan taktik rendahan, tapi dia selalu menganggap serius setiap hal yang dia teliti. Apa tujuan dia membuat percobaan lab seperti ini?
...
Ada banyak pertanyaan yang bisa keluar dari mulutku, tapi tidak satupun berhasil mencapai titik itu. Jadi aku hanya diam, menatap tikus lab itu tepat di mata, dan mencoba mencari jawabannya sendiri
Hingga...
"Otorisasi ditemukan. Database telah menentukan, nomor serial milik 'pemberontak', yaitu O-2507"
Dia tiba-tiba menyebut satu nama yang familiar di telingaku. Nama yang selalu Amitha gunakan ketika kami berbicara atau berinteraksi dengan satu sama lain
"Apa itu... Barusan...?"
"O-2507. Subjek yang tergolong berhasil, merupakan eksperimen ke-7 yang berhasil dengan 'ketidaksengajaan' faktor dari luar. Dikatakan sebagai subjek paling sempurna dengan sikap selayaknya manusia biasa dikarenakan inti Maledict yang tertanam tanpa campur tangan manusia
Profesor Amitha telah mengakuinya sebagai Azure Pandruwin, seorang anak laki-laki dari mendiang Lloyd Pandruwin dan mendiang Sylvia Archefania yang meninggal setelah di diagnosa memiliki penyakit"
Kalimatnya terus berlanjut. Terus dan terus, seakan tiruanku yang terbuat sepenuhnya dari daging itu adalah robot tanpa pikiran
Tapi aku berhenti mendengarkan. Telingaku terlalu sakit untuk meneruskannya, hingga mataku serasa di dorong keluar dari dalam oleh suara miliknya itu. Setiap hal yang dia katakan semakin membuat duniaku berputar, hingga aku mulai melamun tanpa disadari
Kalimat terakhirnya pun dia utarakan sebelum dia kembali diam seakan kehabisan daya
"Subjek dilarang untuk disakiti, dan bukanlah objek latihan. Penelitian masih dibutuhkan untuk menentukan pola pemikiran subjek yang semakin kompleks selagi bertambahnya usia"
"Diam"
...
Aku tidak tahan lagi. Satu lagi kalimat yang keluar dari mulutnya, aku mungkin harus merobek benda itu dari wajahnya
...
"Subjek mengalami tekanan emosional. Protokol penghapus memori dibutuhkan saat ini untuk menstabilkan keada-"
*Srak!!*
...
...
...
*Ts...!*
"Aku sudah bilang, diam"
...
Ah. Aku sungguh merobek mulutnya...
Darahnya terciprat kemana-mana, terutama ketika aku melempar robekan mulutnya itu menjauh dari tempatku
Menjijikan. Aku refleks melakukannya. Tetapi dia pantas mendapatkan hal itu...
Hanya saja, tikus lab ini sama sekali tidak menunjukkan reaksi seakan dia kesakitan. Mulutnya bergetar, tentu. Tapi dia justru terlihat seperti ingin bicara lagi dibandingkan terlihat seperti ingin menjerit kesakitan
"Subjek... Menolak identitas dirinya sendiri. Tekanan emosional... Mencapai tingkat tertinggi..."
*BRAK!!*
__ADS_1
...
Kali ini kepalanya yang kuhantamkan ke lantai, hingga beberapa giginya bisa terlihat lepas dan tersembur keluar karena kerasnya hantaman yang kuberikan padanya itu
*BRAK!!*
Aku terlalu frustasi untuk bertindak rasional...
*BRAK!!*
Mungkin sebaiknya aku bunuh saja makhluk ini sebelum dia berbicara lebih lanjut...
*BRAK!!*
Tapi bagaimana dengan perkataannya...?
*BRAK!!*
Aku masih belum tahu apakah yang dia katakan itu adalah kebenaran atau kepalsuan...
*BRAK!!*
*BRAK!!*
*BRAK!!!*
...
...
...
"Hey. Masih hidup bukan?"
Aku menghantamkan kepalanya secara terus menerus tanpa kusadari...
Dan, dia sudah tidak bernapas. Wajahnya bahkan sudah tidak berbentuk dilumuri darah, hingga bola matanya sudah terlepas dan keluar satu barusan ini
Sepatuku dilumuri darah juga...
...
Aku benci ini...
"Wah~ Sepertinya aku terlewat beberapa pesta disini"
...
Suara itu...!
"Jika aku jadi kamu, aku tidak akan melangkah lebih jauh dari situ, Amitha..."
Dia mendengarkan. Karena itu dia pun berhenti melangkah maju lebih jauh
Sayangnya aku juga mendengarkan. Dan dari posisinya, bukan hanya dia saja yang sudah tiba kemari
Jadi aku pun berbalik, menangkap basah sosok yang dengan tepat kutebak barusan itu, dan seseorang lagi di sisinya
"Venia Vanir..."
"Lama tidak berjumpa, bocah"
Itu kalimat pertamamu setelah tidak berjumpa denganku selama 5 tahun hah...?
Dan dari nadanya, aku paham kalau dia tidak berniat menyelesaikan masalah ini dengan cara yang halus
Dia tidak berubah bahkan setelah 5 tahun berlalu. Dingin dan efisien, layaknya pembunuh, dengan tangan yang sudah siap mengeluarkan salah satu dari banyak pisau belati khusus yang ada di pakaiannya
"Sepertinya kamu juga familiar dengan tempat ini hah...?" Aku mengutarakan kepadanya
Dia bukan teman dekatku, tapi sakit rasanya ketika aku mengetahui ada lebih banyak orang yang kuketahui merasa tidak asing dengan tempat terkutuk ini
Dan ini semua karena kamu, Amitha...
"Aku harap penjelasan tidak diperlukan lagi. Semua hal yang kamu lihat disini sudah bisa menjadi bukti 'kekejian' dari perbuatanku"
"Itulah sebabnya aku butuh penjelasan. Utamanya, KENAPA...?!"
Amitha diam. Dia hanya perlahan tersenyum, selagi mengatur kembali kacamatanya yang sedikit turun
Senyum itu...
Hentikan senyum itu sekarang juga... Aku benci ketika kamu melihat seseorang seakan sedang mengejeknya...
"Aku tidak berniat mengejekmu, O-2507. Tapi kamu harus paham satu hal
Setiap makhluk yang kuciptakan di dalam laboratorium ini, merupakan penyelamat yang dibutuhkan setiap umat yang ada di semesta Astraus" Dia berkata, seakan dia adalah seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk memberi wahyu
...
"Dan aku termasuk diantara makhluk-makhluk itu, bukan...?"
...
Dia diam tapi tidak menolak. Bedebah itu tetap tersenyum, bahkan ketika ada seseorang yang sedang merasa kesal kepadanya
Tidak. Dia mungkin menemukan kesenangan dari semua ini. Orang itu pasti mengejek kondisiku sekarang ini
Bajingan...!
"Menyingkir. Aku sudah tidak punya urusan lagi denganmu"
"Hm? Tentu kamu masih punya urusan di sini denganku
Dan juga dia..."
Vanir, bersamaan dengan perkataan Amitha, tiba-tiba mulai memasang kuda-kuda. Tidak banyak yang terlihat berubah, tapi aku bisa tahu kalau badannya sedang condong ke depan sekarang ini
...
Ah begitu
Jadi mereka akan menyerang diriku karena sudah mengetahui rahasia lab ini hah...?
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan kepadaku...?"
"Penghapusan memori. Ini akan jadi yang pertama kali untukmu. Mungkin akan jadi subjek penelitian yang menarik bagiku dan yang lainnya"
"Aku bukan binatang, Amitha...!"
"Siapa yang bilang kamu binatang? Tapi, aku juga tidak bisa bilang kalau kamu itu manusia yang harus diperlakukan dengan layak"
...!
"Apa... Maksudmu...?"
...
Tetapi bukannya menjawabku sesegera mungkin...
Amitha justru tertawa. Tertawa lelas, seakan ada sesuatu yang lucu baginya di tengah penderitaan yang aku rasakan sekarang ini. Mataku terbelalak geram, hingga dia akhirnya bicara kembali
"Kamu itu Maledict! Subjek paling mengesankan yang pernah aku temui, subjek paling sempurna untuk diteliti! Jika kami bisa mendapatkan lebih banyak lagi data mengenai para Maledict, aku yakin kita bisa menang melawan para monster itu!
Dan aku akan menjadi tenar! Seorang ilmuwan yang mengubah sejarah, penghalau kehancuran masa lalu yang tidak akan datang lagi, berkat dari Tuhan! Pembawa kedamaian untuk semesta Astraus!
Itu sebabnya aku membutuhkanmu selama ini. Itu sebabnya aku menciptakan lingkungan yang baik untukmu, bekerjasama dengan orang-orang yang kamu anggap teman! Setiap perlakuan semua orang di Arcadia yang kami berikan kepadamu tidaklah palsu, tapi kami juga melakukannya untuk niat yang lebih besar! Niat yang lebih mulia! Jadi aku membutuhkanmu, O-2507, karya terbaikku!"
...
...
...
"Jadi aku hanya alat untukmu...?"
"Hm?"
"Jadi aku hanya alat... Untuk kalian semua...?"
Mereka semua tahu...
Mereka semua tahu...!
Mereka semua tahu kalau aku bukanlah 'Azure Pandruwin', tapi seorang hasil percobaan laboratorium...!
Semua orang yang aku ketahui...??
Bahkan Jay? Bahkan Ariel?
Bahkan Jun?
...
...
...
{ PERINGATAN }
{ MENDETEKSI ENERGI MALUS DALAM SKALA BESAR }
{ MENYALAKAN PROTOKOL KEAMANAN }
{ MEMANGGIL SETIAP PERSONEL VENIA }
"Tidak bisa dipercaya..."
"Vanir"
"KALIAN SEMUA PEMBOHONG!!"
{ LEVEL ENERGI MALUS : MALEDICT }
......................
{{{ Sementara itu }}}
{{{ Noah }}}
"Ugh... Menjengkelkan..."
Dia mencoba merambat di tanah, setenang mungkin. Menghindari setiap orang yang berteriak panik, dikarenakan kehadirannya yang membuat keresahan di area lab 25
Tapi dia tidak bisa bergerak lebih cepat. Sebagian besar tubuhnya hilang, hingga yang tersisa hanyalah tangan kanan yang masih pendek, tangan kiri yang bahkan tidak bisa digunakan dengan benar, leher, dan kepalanya, merangkak entah menuju kemana sekuat tenaga
"Tch! Aku tahu aku tidak bisa mati, tapi bukan berarti aku tidak bisa menderita seperti ini!"
Gerakannya sangat lambat, seperti kura-kura. Tapi dia kesal bukan karena itu
"Baju baruku! Bocah sialan itu akan berhutang baju baru untukku! Lengkap dengan topinya juga!"
Dia berhasil kabur hanya dengan satu cara, memutilasi kepalanya sendiri, kemudian melempar benda itu keluar tembok area itu sebelum tubuh bawahnya kehilangan kesadaran ataupun tertangkap
Dia sibuk menggerang selagi terus bergerak. Tetapi karena dia sudah berada diluar area, dia yakin kalau dia sudah aman. Mustahil orang normal bisa mengejarnya dari jarak tembok ke posisinya sekarang, kecuali jika mereka menggunakan pesawat jet atau semacamnya
Noah bersyukur dia punya kekuatan fisik yang cukup luar biasa sehingga kepalanya bisa dia lempar cukup jauh. Jika tidak, dia mungkin sudah tamat di tempat itu, ditangkap oleh personel militer Arcadia rendahan
"Aku harus.....! Lebih...! Cepat...!"
Tetapi dia tiba-tiba berhenti karena terkejut
...
...
Dia pun membalikkan posisi kepalanya untuk melihat kembali kearah area 25, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat kondisi area itu
Aura yang dia rasakan hingga dia terhenti sejenak. Aura familiar yang... Menakutkan, dan menjijikan...
Aura seorang Maledict yang bangkit seutuhnya
Dan sekarang, gambaran Maledict itu sudah secara fisik ada di dunia ini. Pemandangan dari lab 25 yang dilumuri oleh lapisan hitam dan merah. Pemandangan yang menakutkan
Dia pun paham, siapa Picasso dari lukisan pemandangan itu...
"Bocah..."
__ADS_1