
{{{ Sementara itu }}}
{{{ Arcadia }}}
Langkah kakinya terdengar ringan, namun mampu mengisi lorong kosong itu. Satu-satunya orang yang sedang berjalan di dalam tempat yang redup seakan tempat itu sedang berkabung atas kepergian seseorang
Dia bisa merasakan hal itu. Dia tahu apa yang dialami tempat itu disaat ini. Jadi dia menunduk, memberikan rasa hormat kepadanya
Tatapannya kosong, tapi dia tahu dimana tujuan yang ingin dia capai. Tidak lama lagi, tetapi tempat itu masih terasa sangat panjang—tidak seperti biasanya
Mungkin karena dia biasanya antusias untuk menelusuri lorong itu. Tetapi karena kekosongannya disaat ini, dia sama sekali tidak merasa bergairah
...
Dia bisa mendengar dentuman keras di tembok, mulai meredupkan suara langkah kakinya. Matanya mulai sedikit terangkat, tahu dengan situasi yang akan menyambut dirinya di depan sana
Di dalam sebuah pintu ruangan personel armada. Yang seharusnya diisi oleh 2 orang per kamar, namun sekarang hanya ada satu suara rintihan putus asa saja di dalamnya
"Buka"
{AKSES DITERIMA}
{SELAMAT DATANG VENIA ARIEL}
Dan ya. Dugaannya sama sekali tidak meleset
Dugaannya tidak pernah meleset mengenai 2 orang di semesta ini. 2 orang yang besar bersamanya, walaupun mereka itu 1 dan 5 tahun dibawahnya
Dia masuk ke dalam ruangan itu, menemukan salah satu adik kelasnya yang tercinta—dengan buku-buku tangannya yang berdarah dan sebuah retakan besar di tembok ruangan itu
Dia ingin merasa kesal seperti biasanya. Tapi hatinya juga merasa hampa. Dia paham betul apa yang dirasakan orang di hadapan disaat itu
"... Aku tidak yakin kamu memberi pemberitahuan kalau kamu akan datang kemari kepadaku, Ariel" suara yang terdengar mengusir itu diarahkan kepadanya
Ariel tentu langsung merasa sedih. Tidak biasanya, Jay, yang selalu antusias melihat kehadirannya itu tiba-tiba saja mengusir dirinya
Tidak membahas, kalau mereka baru saja bertemu setelah beberapa lama tidak bertatap muka
Terakhir kali mereka bertemu, Jay mencoba untuk...
"Amitha bajingan itu ingin memberiku hukuman tambahan...?"
"Tidak" Ariel akhirnya membalas. "Aku datang kemari karena mengkhawatirkan dirimu"
"Hmph!"
Jay kemudian tertawa seakan mengejek. Dia merasa seakan apa yang dikatakan Ariel ada sesuatu omong kosong tidak berarti
"Kalian para Venia selalu saja memiliki mulut yang manis. Seakan itu adalah bakat kalian semenjak lahir"
"Tapi-"
"Diam! Kamu tidak berhak mengatakan kamu khawatir kepadaku setelah apa yang dilalui Azure berkat kalian semua!"
Ariel tersentak
Itu bukan pertama kalinya dia dibentak keras oleh Jay, tapi tetap saja terdengar menyakitkan setiap kali hal itu terjadi
Kepalanya lagi-lagi tertunduk. Tapi kali ini-
--- Ariel tidak tahu harus bicara apa
"... Aku tidak butuh simpati palsumu itu. Jadi keluarlah"
Jay lagi-lagi mengusirnya. Sama seperti sebelumnya...
...
...
...
__ADS_1
Namun...
Ariel justru mulai melangkah maju kearah Jay—masih dengan kepala tertunduk. Itu tentu mengejutkan Jay, yang mulai mencoba mengusirnya lebih jauh dengan memberi muka geram
"Ariel-"
Kalimatnya langsung dipotong oleh Ariel yang segera menggapai tangan kanannya, kemudian dengan cepat meletakkan sesuatu diatasnya hingga tangan itu terasa ditepis—membuat Jay terperanjat kesakitan
Dia ingin menjerit, tetapi tidak ingin melakukannya di hadapan Ariel sekarang ini
"Masih bersikap sok tangguh hm...?"
Kalimat Ariel itu memancing reaksi terkejut dari Jay. Namun nadanya tidak terdengar mengejek. Justru, dia terdengar sangat melankolis
Begitu juga tatapan matanya sekarang ini, selagi dia terus menempelkan modul pendingin yang dia tepis keatas tangan Jay barusan
"Azure tidak akan senang melihatmu sekarang ini" dia berkata lagi. "Memukul tembok hingga retak dan tanganmu berdarah. Tidak memiliki wajah malas khas milikmu itu. Kemudian membentakku"
Ariel kemudian tertawa kecil membayangkan sesuatu. "Mungkin jika dia melihat hal ini, yang akan dia lakukan setelah memarahimu adalah mengajakku jalan-jalan"
"Anak itu suka kepadamu Ariel-"
Jay hampir sepenuhnya membalas, namun dia segera lipat lidahnya agar berhenti. Matanya pun dia palingkan, karena tidak ingin menghadapi Ariel yang mulai menaikkan kepalanya kembali untuk menatap Jay
"Aku tahu" Ariel menjawab. "Hanya saja..."
Ariel juga menghentikan kalimatnya dengan menghela napas dan menunduk kembali. "Tidak jadi..." dia pun berkata
Dia pun menuntun Jay perlahan agar mereka berdua bisa duduk diatas kasur yang lebih nyaman. Sisi ke sisi, selagi mereka tidak menghentikan penyembuhan tangan Jay
"Kamu tahu. Aku bahkan tidak mengingat sebagian besar kejadian setelah kami mulai melawan Maledict of Corruption" Ariel memulai perbincangan lagi
"Ketika aku terbangun, Venia Lumia sudah terduduk dengan telapak kaki yang membiru. Kita tidak perlu membahas Jun. Dan ketika aku membaca kalau selama pertarungan berlangsung aku dikontrol oleh pria bernama Tenet itu, aku jadi merasa malu sebagai seorang Venia...
Aku gagal menyadari setiap ancaman yang ada. Aku gagal menjalankan dan mengeksekusi sebuah misi. Dan aku gagal sebagai seorang teman untuk kalian bertiga..."
"Dan kamu gagal melihat kalau Amitha itulah orang busuk yang harus kamu, dan kalian semua singkirkan"
...
Suasana langsung hening ketika Ariel menjadi marah balik kepadanya. Mata Jay melebar karena dikejutkan, terutama ketika Ariel melempar tangannya dipenuhi kekesalan
"Kita masih butuh Amitha, Jay! Dia adalah satu-satunya orang yang tahu apa yang dia lakukan, hingga bahkan Gunther saja terlihat seperti orang bodoh walaupun dia adalah kepala dari Arcadia!"
"Dan dia juga lah yang akan menjadi kehancuran Armada ini!!"
Mereka berdua kukuh dengan argumen masing-masing. Tidak satupun berniat untuk menyerah kepada sisi yang satunya, dikarenakan ego dan rasa kesal akan sesuatu
Tidak ada yang mencoba untuk melihat sisi satu sama lain. Keduanya juga tahu, kalau rasanya tentu akan sangat berat ketika mereka bisa mengetahui sisi satu sama lain...
Bahkan berada di posisi mereka sekarang ini sangatlah menyesakkan...
...
"Kamu tahu---?"
Jay mulai terisak sembari air matanya jatuh...
Pemandangan memilukan itu membuat Ariel terbelalak dalam rasa iba...
"Ketika kamu menyelamatkanku di hari itu dari kehancuran kampung halaman kita-- Lalu bertemu dengan Azure dan Jun-- Aku sungguh berpikir kita berempat akan selalu jadi keluarga---!"
"..."
"Tapi aku bahkan tidak bisa menyelamatkan satupun dari kalian---! Azure sekarang menghilang-- Jun tiada-- Aku hampir kehilangan dirimu juga---! Semuanya runtuh dalam seketika hanya karena- Aku tidak bisa apapun---!!"
"Jay-!"
"Kamu tidak paham Ariel!! Aku bisa-- Aku bisa menghalau Azure untuk pergi di waktu itu---! Aku bisa- Menghalau kematian Jun dengan begitu---!!"
"Lalu menukar nyawamu dengan Jun?!"
__ADS_1
Ariel pun tidak tahan lagi. Kekesalannya memuncak, hingga dia spontan melangkah maju dan-
*PLAK!*
...
--- Menampar Jay tepat di pipi kanannya
...
...
...
"Sadarlah!" Ariel meneriakkan. "Jun tidak mati untuk menjadikanmu tampil menyedihkan seperti ini!"
Jay...
Dia sama sekali tidak bergeming. Dia diam tepat di hadapan gadis yang mencoba mengatur napasnya agar kembali teratur itu
Ariel pasrah. Mengetahui kalau tidak akan ada yang bisa membuat Jay senang selain mendapatkan diriku—O-2507 sendiri kembali, temannya itu tidak akan sedikitpun mau mendengarkannya
Hati dan telinga temannya itu sudah tertutup dari setiap kalimat yang dia utarakan. Ariel bahkan tidak yakin kalau mereka bisa disebut sebagai 'teman' lagi...
Mereka sekarang tidak lebih dari atasan dan bawahan. Atau lebih buruk, orang asing yang memberi impresi buruk kepada satu sama lain
Orang yang sudah tidak saling mengenali diri satu sama lain lagi...
...
...
...
"Jika ada yang bisa kamu lakukan Ariel, bantu aku keluar dari tempat ini..."
"...!"
Kalimat yang buruk...
Itu kalimat terburuk yang bisa di dengar oleh satu-satunya teman yang setidaknya mau bicara dan mendengarkan dirinya. Teman yang tersisa untuknya melalui semua ini
Tapi, rasa tanggung jawab yang dia miliki atas Arcadia dan manusia di Terra, bercampur aduk dengan perasaan pribadi yang dia miliki. Dia bahkan tidak yakin, apabila dia memang pergi dari Arcadia, dirinya akan memiliki sebuah tempat untuk ditinggali
Terra adalah rumahnya. Tempatnya tumbuh dan berkembang, sehingga nasib planet itu sendiri sekarang terletak di pundaknya. Dan planet itu sangat mencintai dirinya sebagai seorang manusia
Hanya saja, sebagai seorang teman atau seorang pelindung semesta, dia harus memilih
...
Dan dia sudah memilih...
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang. Tapi, akan memungkinkan jika 3 bulan sudah berlalu"
Mata Jay tiba-tiba menyala dipenuhi oleh cahaya harapan. Tidak sedikitpun dia menyangka kalau Ariel akan setuju. Dan jika dia tidak salah...
"3 bulan-? Itu artinya, sampai masa tahananku selesai??"
Ariel mengangguk, sehingga Jay lagi-lagi merespon dengan bertanya, "Sungguh?!"
Tapi dia tidak menunggu jawaban dari Ariel. Refleks karena kepalanya yang dipenuhi rasa senang disaat itu, Jay segera memeluk gadis itu tanpa pikir panjang—sesekali tertawa senang
"Kamu yang terbaik, Ariel! Ayo kita pergi bersama!" dia menyerukan selagi keduanya sesekali berayun layaknya anak kecil
Lucu bukan? Ariel biasanya senang ketika melihat kedua adik lelakinya bertingkah seperti itu. Dia biasanya juga akan ikut melompat-lompat seperti itu dengan antusias
Tapi sekarang...
Tentu saja dia tidak senang...
Dia tidak akan pernah merasa senang lagi. Itu, adalah dosa yang harus dia tebus seumur hidupnya...
__ADS_1
Dia harus menerima, kalau dunia dan semesta terus berputar