
{{{ 7 jam 20 menit kemudian }}}
{{{ Planet tidak bernama }}}
Urgh-!
'Jangan melawan'
Aku tidak akan-!
'Aku pikir kita sudah setuju dengan satu sama lain'
Aku hanya ingin kamu untuk-!
'Hatiku sakit mengetahui kalau kamu hanya memanfaatkan diriku...'
Kamu juga hanya memanfaatkan diriku, dasar bajingan...!!
'Hahahaha...! Kamu benar, kamu benar...'
*BZZT!*
"ARGH-!"
'Jadi berhenti melawan agar kamu tidak jatuh ke lantai untuk kesekian kalinya...'
"Tidak akan! Tidak akan pernah aku menyerahkan diri dan mati di tanganmu!"
Rasanya sakit---!
'Lihat? Kamu menderita...'
Ugh-!
"Lebih baik begitu- Daripada membiarkan- Parasit sepertimu lepas..."
'Oh~ Lihat kamu yang sudah mulai kelelahan dan meringis itu...'
*BZZT!!*
"ARRGHHH-!!"
...
'Bajingan. Kamu sama kuatnya dengan orang itu'
"Heh...! Kalau begitu, kamu selalu kurang beruntung rupanya hah...?"
'Diam'
*BZZT!*
"URGH-!!"
*Sialan...*
Hahah...! Hah...
Kekuatannya melemah...
Itu karena aku juga mulai melemah sekarang ini... Dan dia tidak bisa melakukan apapun jika kesadaranku hilang...
"Aku akan menyeretmu bersamaku jika aku harus mati disini... Tidak peduli bagaimana..."
Hah... Hah...
Napasku sudah tidak bisa kuatur...
...
Aku... Sungguh tidak apa mati disini...
Tapi...
Rasanya dingin...
Aah...
Aku harap aku setidaknya bisa meminum satu kaleng soda lagi...
Kesadaranku menghilang. Dalam hitungan menit, aku pun mulai tidak bisa melihat apapun lagi selagi aku masuk ke dalam kondisi seperti sedang tidur
...----------------...
{{{ Di tempat lain, planet yang sama }}}
Pesawat ruang angkasa itu pun turun ke permukaan planet dengan atmosfer yang layak itu. Namun, suhunya yang dingin pun bisa dilihat secara langsung melalui monitor kontrol milik kapal itu, menunjukkan -100°C sebagai angkanya
"Sepertinya karena planet ini berada terlalu jauh dari bintang terdekat" Seorang Primus berkata, kepada ketiga Venia yang terlihat tegang karena harus menghadapi apa yang akan menjadi Maledict sebentar lagi
"Itu pertama kalinya aku melihatmu meminum kopi, Ariel. Dan aku tidak sangka kali pertama itu juga akan sangat agresif" Jun berkomentar
Ariel yang kantung matanya terlihat sangat lebar dengan cangkir kopi yang masih dia pegang itu pun merespon dengan satu lagak saja
Dia meminum lagi isi cangkir itu, tidak menyadari kalau yang tersisa hanyalah beberapa tetes dan ampas saja, membuat Venia Lumia segera menggelengkan kepala dan merampas cangkir itu
Mengetahui cangkir itu sudah tidak ada di tangannya lagi, Ariel pun hanya menghela napas
"... Aku tidak bisa tidur, Jun. Bahkan walaupun kalian semua mencoba meyakinkan diriku kalau situasi akan membaik sekalipun" Ariel memberi keluhan
Jun dan Lumia pun terdiam, sehingga membuat Primus yang tidak tahu apa-apa itu pun secara tidak langsung menutup mulut
Dalam 30 detik selanjutnya, kapal mereka sudah tiba dengan selamat diatas planet itu, aman bagi mereka untuk turun sekarang
"Atmosfer sudah dipastikan aman, walaupun suhu bisa membunuh jika tidak berhati-hati. O-2507 berada 5 kilometer di depan. Dan kalian bisa melihatnya dengan jelas nanti karena planet ini bentuknya tidak jauh berbeda dari satelit Mensis" Primus itu memberi penjelasan selagi menurunkan jalan turun dari pesawat itu untuk mereka
"Aku akan bersiaga di tempat ini seandainya ada sesuatu. Radio selalu terbuka untuk ketua Gunther dengarkan, dan persediaan sudah diletakkan di dalam modul ini masing-masing" Dia menjelaskan lagi, memberi sebuah modul penyimpanan kepada setiap Venia yang ada disitu
Mereka bertiga pun mengangguk paham, dan segera bangun disaat pintu kapal itu terbuka secara otomatis hingga suhu dingin mulai menyergap
Tetapi mereka tidak bisa dihalangi oleh suhu disaat itu. Mereka punya tujuan yang lebih penting, tujuan yang lebih kuat
"O-2507 harus kita dapatkan kembali. Ingat itu, kalian berdua"
"Itu rencana kita semua, Venia Lumia"
Mereka tanpa basa-basi pun mulai keluar dari kapal itu, selagi si Primus memberi mereka semangat dan semoga berhasil dengan keras selagi melambaikan tangan. Sayangnya dia tidak diperhatikan, karena mereka semua hanya fokus kepada satu misi saja disaat itu
...
...
__ADS_1
...
Mereka menganalisa planet itu cukup lama, dibantu oleh data yang diberikan berdasarkan pengamatan pesawat ruang angkasa yang membawa mereka itu
"Primus itu bilang kalau kita akan menemukan Azure pada 5 km lebih jauh dari tempat ini, menuju timur" Aurora menjelaskan, selagi menelaah data digital yang diberikan kepada mereka melalui ponsel
"Kalau begitu siapkan senjata kalian. Perjalanan kesana akan cukup singkat" Lumia berkata kepada mereka, sudah mengeluarkan pedang anggar dari modul penyimpanan miliknya
Jun dan Aurora pun mengangguk setuju, mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Jun dengan pedangnya yang bisa mengeluarkan cahaya itu, dan Aurora yang memiliki sebuah salib yang setengah kali lipat lebih besar dari tubuhnya. Sebuah senjata turet yang bisa mengeluarkan rantai tajam untuk dia gunakan
"Maju!" Venia Lumia pun memberi perintah, dan dibalas oleh kedua orang itu dengan "Baik!"
Ketiganya pun melesat dengan cepat untuk menggapai posisi keberadaanku sekarang ini
Karena kecepatan mereka yang tidak normal itu juga walaupun sedang membawa senjata, mereka bisa tiba di jarak 3km hanya dalam hitungan 5 menit
Dan ketika mereka sudah tiba di jarak 4km, Lumia pun memberi mereka isyarat untuk berhenti seketika
...
"Kita akan berjalan mulai disini" Lumia berkata
Mereka pun mulai berjalan perlahan mulai dari tempat itu, selagi memperhatikan lingkungan sekitar. Tapi nihil, tidak ada kehidupan disana selain mereka bertiga
Walaupun memiliki atmosfer sekalipun, planet malang seperti yang satu ini tidak akan mau ditinggali oleh makhluk hidup manapun. Kecuali jika mereka dipaksa untuk beradaptasi di dalam lingkungan dingin seperti ini, sehingga mereka harus bermutasi
Kosong. Hanya bebatuan disana
Hanya ada bebatuan, hingga...
"Yo"
Suara yang bukan milik mereka bertiga, namun sangat ramah tanpa niat buruk itu pun terdengar menyapa sehingga mereka tersentak setengah mati. Perlahan mereka menoleh, untuk menangkap siapa gerangan sosok yang menyapa mereka itu
Dan betapa terkejutnya Jun ketika melihat sosok yang dia cukup kenali itu
"Kamu-!"
"Hey hey! Stop! Aku disini datang dengan damai!" Noah berkata, panik
Ya. Orang yang dikenali oleh Jun itu adalah Noah. Dan dia dikirim kesana terlebih dahulu untuk satu hal : Mengetes apakah para Venia itu akan bertindak agresif atau bisa diajak bernegosiasi
Tapi kenapa dia yang harus dikirim kesana, Noah tidak tahu, selain fakta kalau mereka mungkin melakukannya karena Noah mungkin saja akan dipotong oleh salah satu Venia itu
"Aku paham kalau aku pernah menyerangmu malam itu, tapi dengarkan aku" Noah berkata lagi, sepenuhnya mengangkat tangan
Jun pun menelaah setiap jengkal badan Noah untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan. Dan ketika dia sudah yakin, dia pun dipotong oleh Lumia yang meminta penjelasan
"Jelaskan sekarang juga"
Jun diam sejenak, sebelum akhirnya mulai ikut bicara
"Maledict of Eternity. Dialah orangnya" Dia berkata
Lumia dan Ariel pun tersentak, segera siaga untuk membelah Noah menjadi dua. Tetapi mereka berdua segera dihalau oleh Jun yang ingin mendengar penjelasan dari Noah terlebih dahulu
Noah yang awalnya panik lagi itu pun segera merasa rileks ketika mengetahui kalau Jun bisa diajak negosiasi
"Aku datang kesini untuk menyelamatkan bocah itu juga" Noah pun berbicara
"Hah?" Jun dengan ketus menjawabnya
"Mungkin aku terdengar gila. Mungkin kalian tidak percaya aku. Tapi percayalah kepadaku
"..."
Sayangnya, ketiga orang itu hanya diam dan mulai berdiskusi dengan gerakan tubuh. Satu kelemahan dari Noah yang sama sekali tidak paham dengan bahasa tubuh dalam komunikasi
"Tapi kenapa? Kamu dan Hector Misleif juga adalah seorang Maledict?" Lumia yang kali ini bertanya
Noah tidak tahu harus bicara apa lagi karena Hector tidak membantunya melebihi negosiasi pertama itu. Karena itu, dia pun mengeluarkan keringat dingin selagi mulai mengucapkan kalimat versinya sendiri
"Kami memang Maledict. Tapi kami bukan Maledict Maledict. Paham?"
...
Wajah mereka menggambarkan dengan jelas kalau mereka memandang rendah kearah Noah sekarang ini
Dia langsung lesu karena tidak ada yang paham, maka dia harus menjelaskan lagi
"Kami hanya ingin O-2507 oke? Dan jika Maledict of Corruption bangkit, kami tidak bisa mendapatkan bocah itu" Noah menjelaskan
"Kamu bisa menjelaskan hal itu sejak awal kamu tahu?" Ariel berkata ketus
"Salah orang itu aku tidak tahu harus bicara apa! Dia juga memintaku untuk!"
*TAM!!*
*BRAK BRUK!!*
Tanpa disadari Noah, tangannya tiba-tiba bergerak sendiri dan menghantam dirinya. Sangat keras, sehingga dia terlempar cukup jauh selagi ketiga Venia itu mulai merasakan kehadiran 3 orang lain lagi
Tetapi mata Jun langsung terbelalak hingga dia mematung ketika melihat satu sosok yang lebih familiar dengannya. Sosok yang sangat dia rindukan untuk temui selama bertahun-tahun, dan sekarang kembali di hadapannya dengan wujud yang sehat
Sosok yang juga dikenali oleh kedua Venia lainnya, namun justru membuat mereka semakin merasa berada dalam bahaya
"Kami sungguh tidak akan menyerang, seperti yang dikatakan anak bodoh itu. Tapi, jika kalian menyerang duluan, beda lagi bahasanya" Hector pun bicara, selagi matanya perlahan menatap menuju kearah Jun
Tetapi dia segera memalingkan wajahnya menjauh dari tatapan rindu teman lamanya itu, dan bersembunyi di balik Ulysses yang lebih tinggi darinya
"Maaf atas kejutan yang kami berikan... Tapi kami sungguh datang dengan damai...
Kamu sudah tahu Hector, maka aku juga akan memperkenalkan diri, walaupun sangat disayangkan kami harus menggunakan kode nama..." Ulysses mengambil alih pembicaraan, selagi Jun tetap berharap setidaknya Hector mau bicara dengannya lagi
"... Silahkan" Venia Lumia pun berkata, menyarungkan pedangnya dengan perlahan
Ariel, walaupun merasa tidak yakin, juga mulai menutup kembali senjata turet miliknya dengan perintah suara
"Aku Tenet... Dan ini adalah Flair... Sementara yang aku buat agar dia memukul dirinya sendiri itu adalah Span..." Ulysses berkata, selagi Lumia mengangguk paham
Noah di sisi lain, akhirnya tersadar dan berlari kearah Ulysses, mencoba menyerangnya
Namun dia justru terlontar ketika Ulysses menggerakkan kepalanya untuk menatap kearahnya, sehingga dia kembali ke posisi awal tempatnya terjatuh tadi
...
"Ah... Lalat kecil itu sungguh, tidak bisa kupahami..." Ulysses berkata, memasang lagak khas miliknya, yaitu tangan menyatu layaknya berdoa
"... Kamu punya kekuatan yang misterius..." Lumia berkomentar, setengah takjub
"Tapi aku bukan Maledict... Aku hanya...
__ADS_1
Lahir dengan sebuah {kutukan}..."
Lumia tidak mau basa-basi lagi
"Kalian bilang kalau kalian ingin menyelamatkan O-2507 juga? Bagaimana kami bisa percaya denganmu?" Dia pun bertanya
"Jika kamu mendengarkan dengan baik, bocah bernama Span itu sudah bilang kalau kami ingin mengambil O-2507. Maledict of Corruption hanyalah bonus, dan sejujurnya ingin kami hilangkan juga" Hector tiba-tiba bicara dari balik Ulysses
"Kalian itu Maledict"
"Dan entah bagaimana kami bisa bersikap rasional dan tidak menyerangmu dengan membabi buta sekarang ini, nenek tua" Hector menyela
...
"Hmph. Kamu masih lancang seperti dulu rupanya" Lumia pun berkata, sepenuhnya menyerah
Lumia sama sekali tidak bersiaga lagi. Dia paham kalau Hector jujur kepadanya dan sungguh berniat untuk bersekutu
Apa yang membuat Hector yakin kalau mereka sudah percaya dengan penawaran itu adalah, fakta kalau kekuatan Lumia adalah melihat kejujuran seseorang
Lebih tepatnya, dia bisa menganalisa dengan terperinci kondisi tubuh seseorang. Apakah denyutnya berubah, apakah dia gugup, Lumia bisa tahu
Dan dengan pengalamannya selama bertahun-tahun, dia paham siapa yang sedang berbohong dan yang tidak
"Rupanya kamu masih lihai, nenek tua" Hector berkomentar
"Aku selalu lihai Hector. Dan rupanya, gagal memotong lehermu disaat itu bisa membuat kita bertemu lagi sekarang ini"
Jun terdiam mendengar pembicaraan diantara kedua orang itu, selagi Hector perlahan keluar dan sekali lagi melihat kearah temannya
...
...
...
"Jun"
Namanya pun dipanggil. Tidak hanya dipanggil, tapi juga oleh suara yang familiar
Jadi dia menoleh dan mengangguk, selagi air matanya mulai mengalir seperti anak kecil. Sementara, Hector yang melihat temannya itu pun teringat akan satu memori dimana seorang anak kecil yang paling muda diantara keempat sahabat itu selalu saja menangis ketika dia terluka walau sedikit
Mereka berdua hanya diam. Tidak berani berbicara lebih dari itu, selagi Lumia pun mengajak mereka semua yang sudah bersekutu untuk sementara waktu itu untuk ikut pergi menyelamatkanku
...----------------...
...
"Jadi... Apa kabarmu?"
"Baik"
"Uh... Apa kamu punya teman baru?"
"Satu bos dan satu pelayan yang sebenarnya tidak terlalu loyal namun tahu cara membuat minuman"
"Terdengar menyedihkan"
"Kapan hidupku tidak menyedihkan...?"
Jun pun tertawa kecil mendengar komentar Hector, selagi dia mengusap lagi air matanya yang nyaris jatuh
"... Yah, walaupun aku senang dengan semua rekan kerjaku sekarang ini..." Hector pun berkata lagi, setelah melihat Jun yang terlihat senang
Mereka berdua pun terus berjalan di belakang semuanya, yang dimana mereka hanya dipenuhi oleh diskusi namun tidak berani membongkar rahasia kelompok satu sama lain
Kedua sahabat lama itu hanya menyaksikan, selagi mereka terus berjalan. Dalam hati mereka berdua, mereka bersyukur setidaknya bisa bertemu dengan satu sama lain lagi, walaupun tahu harus berpisah setelah itu
...
"Tentang Lloyd..." Jun berkata. "Kamu tahu dia punya anak?"
Hector mengangguk pelan sebelum menjawab dengan "Tapi anak itu pasti sudah mati sekarang ini, karena Sylvia itu lemah"
"Oh, jadi kamu tahu juga kalau Sylvia adalah ibunya..." Jun bergumam
Wajahnya pun turun ketika memperhatikan ulang kalimat Hector
"... Ya. Anak itu mungkin sudah mati. Tapi, Amitha tetap menyimpan tubuh anak itu berharap kalau dia bisa tetap hidup"
"Itu absurd. Dan kamu tahu kalau Amitha itu absurd, tapi tidak menghentikannya"
"Kamu tahu Amitha tidak bisa dihentikan bukan?"
...
Hector tidak tahu bagaimana dia harus melawan pertanyaan yang satu itu
"Lalu? Bagaimana lagi?"
"Aku tidak tahu dimana dia menyimpannya, tapi aku tahu kalau dia melakukan hal itu. Entah apa alasannya"
"Kenang-kenangan"
...
"Maksudmu, Amitha menyimpan tubuh anak itu untuk..."
"Ya. Dia mungkin rindu dengan Lloyd, karena orang bodoh itu adalah penyambung diantara kita berempat" Hector pun menjelaskan
Dia kemudian perlahan menghela napas ketika satu ingatan terlintas
"Tapi ketika dia menjadikan salah satu dari kita sebagai penjahat, 2 lainnya akan mengikuti bukan?"
...
Hector benar
Semuanya berubah di hari itu. Ketika Amitha melakukan eksperimen kepada anak Lloyd, untuk menciptakan sesuatu yang {berguna}
Tapi hingga saat ini, mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Amitha. Bahkan mendiang teman mereka saja tidak tahu
Atau dia tahu, namun tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjelaskannya...
"Aku hanya tahu kalau Lloyd mati karena serangan pertama Maledict of Corruption di era ini" Hector berkata lagi
Jun hanya diam sejenak, hingga...
"Maledict itu...
Adalah anaknya sendiri, kamu tahu?"
__ADS_1
Kalimat itu... Membuat Hector terbelalak tidak percaya...