Core of Evil

Core of Evil
Legenda Surga


__ADS_3

Itu... Memori yang sangat jauh


Ketika aku masih berumur 8... Mungkin...?


Aku hanya ingat, itu hari ketujuh latihanku dengan Jun


Dan aku ingat di hari itu, dia memintaku untuk menyerang seakan aku sedang ingin membunuhnya


*Tak!*


"Ayolah, kamu sangat lamban"


*Tak!*


"Aku-! Masih-! Kecil-! Dibanding-! Kamu!!"


*Tak!*


Pedang kayu kami terus bersatu dengan satu sama lain. Tetapi tidak sedikitpun ujung milikku berhasil mengenai tubuh Jun. Tidak seperti Jun yang selalu tepat sasaran menepisku dengan pedangnya itu, sehingga aku kehilangan keseimbangan dan terkadang jatuh ke tanah


Melawannya di hari itu sungguh melelahkan, terutama ketika mengingat sekarang kalau aku tidak ahli dalam berpedang atau menggunakan senjata jarak dekat. Yang bisa kulakukan hanyalah mencoba memukulnya sekeras tenaga, selagi mencoba menghindari serangannya juga


Tapi sekuat apapun aku mencoba, aku tetap kalah melawan Jun. Dan setiap latih tarung kami selalu berakhir dengan aku yang terhempas ke belakang, dan pedangku yang sudah tidak kupegang lagi


Jun akan berdiri di hadapanku yang terjatuh kemudian, menodong pedangnya tepat ke leherku, menandakan aku sudah {mati}


"Yahaha! Kamu kalah lagi! Ini sudah yang ke-7 kalinya!"


"Kamu tidak menyenangkan! Lebih baik aku kembali ke Amitha yang membuatku menelan obat tidak jelas daripada harus dipukuli olehmu lagi!" Aku mengeluarkan keluhan itu di hari itu


"Oh ya? Bilang saja kamu tidak berbakat dalam berpedang dan kamu akan kukembalikan, tenang saja~"


Tapi, aku yang masih kecil di hari itu sama sekali tidak terima diejek


Sebagai anak kecil yang sangat ingin menjadi kuat, aku mencoba mengejar segala hal yang bisa membuatku kuat tanpa memedulikan bakatku


Bahkan jika aku tidak suka, bahkan jika aku tidak tahu cara menggunakan benda itu, aku selalu ingin menjadi yang terkuat. Dan ketika aku berlatih tarung dengan Jun, aku sadar kalau aku masih jauh dari kata {kuat}


Lupakan kata {kuat}. Aku bahkan sangat lemah hingga aku tidak bisa dikatakan {lemah}


Yang hanya bisa kulakukan di hari itu adalah mulai meringis kesal kepadanya, selagi mengeluarkan rentetan kalimat penuh kekesalan seperti anak kecil


Perbuatan yang sangat kekanak-kanakan ketika aku mengingatnya


Dan fakta kalau Jun bahkan tidak marah, sangat sabar menangani diriku disaat itu, selalu membuatku kagum kepadanya


Dia bahkan mencoba mencarikan diriku sebuah solusi di hari itu, karena yakin aku tidak ingin menjadi ahli dalam pedang lagi


"Karena kamu sangat pintar, bagaimana kalau kita pergi menemui kepala bengkel utama kita?"


"Hah? Siapa?"


Dia sungguh membawaku untuk menemui kepala bengkel markas utama kami di hari itu juga


Caranya menggandeng tanganku yang kecil disaat itu pun membuatku paham, kalau dia sama sekali tidak pernah mengurus anak kecil dulu


Maksudku, bahkan Amitha dulu menggendongku setiap kali dia membawaku kemanapun, sementara orang ini membuatku harus berjalan cukup jauh ke bengkel. Yah, walaupun itu tidak terlalu melelahkan ataupun membosankan seperti eksperimen Amitha dalam satu hari kepadaku


Dan ketika kami tiba disana, aku menjumpai salah satu Venia favoritku selain Jun dan Aurora. Venia Loctis, yang juga merupakan kepala bengkel dan urusan mekanik markas utama


"Perkenalkan, dia Venia Loctis! Jenius terbaik sepanjang sejarah!"


"Kamu berlebihan Jun. Dan aku tidak yakin kalau kamu bilang akan datang membawa seorang anak-"


"Dia bukan anakku"


"Aku paham. Tapi dia tetap seorang anak, oke?"


"Oke"


Interaksi macam apa itu?


Itu yang terlintas di kepalaku


Tapi kemudian, pikiranku teralihkan dari pembicaraan mereka itu, menuju kepada setiap kegiatan yang dilakukan oleh para mekanik dan insinyur di tempat itu


Mereka terlihat sangat senang dengan pekerjaan mereka. Dan aku senang melihat apa yang mereka lakukan


Terutama ketika aku melihat seorang anak muda yang akan menjadi Venia juga, sedang merakit sesuatu di dalam bengkel itu, sendiri di sebuah meja kerja di pojok


Anak muda yang memiliki rambut merah keunguan yang bergelombang dan berantakan. Matanya yang berwarna hijau itu terlihat fokus sekali, sehingga aku tertarik untuk setidaknya tahu kenapa dia begitu


Jadi aku tanpa sadar melepas tangan Jun, dan mendekat kearah anak muda itu untuk melihat apa yang sedang dia buat


Jun dan Loctis menyadari hal itu, tetapi hanya membiarkanku pergi untuk memuaskan rasa ingin tahuku


Di sisi lain, anak muda itu masih tetap fokus dengan apa yang dia lakukan


Setiap baut yang dia ambil dari dalam sebuah plastik di sisi meja itu dia perhatikan dengan seksama dan serius, mengukur mereka apakah sudah sesuai atau tidak untuk membuat peralatannya


Ketika cocok, dia selalu berkata, "Ya, ini pas". Kemudian memasangnya untuk melengkapi ciptaannya


Dan ketika tidak untuk satu kali itu, dia segera menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak bisa digunakan", sebelum berniat untuk membuang baut itu ke tong sampah


Tetapi sekali dia melakukan itu, dia menoleh kearah kiri, dan langsung menjumpai wajah mungilku yang penasaran dengan apa yang dia lakukan


Aku perlahan menoleh kearahnya yang mendadak berhenti entah kenapa itu. Tapi itu justru membuatnya tiba-tiba terkejut sehingga tidak sadar membuat sebuah saklar di alatnya itu menyala hingga mulai bergetar dengan sangat hebat


Dengan refleks karena terkejut, aku langsung membalikkan saklar itu ke posisi semulanya, selagi memperhatikan alat itu mulai berhenti bergetar perlahan-lahan


...


"Wow...! Dia bergetar!" Aku dengan takjub berseru, walaupun tidak tahu sedikitpun apa benda itu


"I- Itu berbahaya! Jangan- Jangan disentuh sembarangan!" Anak muda itu berkata dengan nada gugup kepadaku

__ADS_1


"Tapi aku bisa mematikannya. Jadi, oke" Aku berkata, mengacungkan kedua jempol kepadanya yang tertegun


Kedua orang dewasa tidak bertanggungjawab itu pun akhirnya mendekat untuk melihat situasi, selagi aku memasang wajah datar karena mereka baru saja tiba


Loctis bahkan mulai memarahi anak muda itu, yang ternyata namanya adalah Justin, selagi Jun hanya menatap mereka dengan wajah bodoh khasnya itu selagi sesekali mengangguk menyetujui Loctis


Tapi, aku tentu tidak setuju dengan perbuatan Loctis kepada Justin


"Kakak itu tidak salah! Dia hanya kaget!" Aku berkata kepadanya, membuat Loctis berhenti menegur Justin


"*-*-*-tapi kamu nyaris-"


"Lalu kenapa? Pada akhirnya aku mematikannya bukan?"


"Dan jika kamu gagal"


"Kalau begitu gagal saja. Kenapa kakak itu harus salah sementara mekanik lain disini mungkin saja melakukan kesalahan yang sama?"


...


Loctis tertegun dengan jari terangkat seakan dia sedang ingin membalas namun tidak tahu harus bilang apa. Hingga dia pun harus mengakui satu hal selagi menunjuk kearahku


"Kamu cerdas dan empatik"


Kemudian ditambah oleh anggukan dari Justin yang segera membuat Loctis ingin memarahinya lagi


Loctis pun memainkan kumisnya selagi dia berpikir, menghadapiku dan Jun yang kemudian melihat satu sama lain karena bingung dengan kelakuannya itu


Tapi tidak lama kemudian, dia akhirnya bicara


"Jadi... Ini kenapa kamu ingin datang ke bengkel? Menunjukkan bakat milik anak Lloyd ini?" Loctis bertanya


"Ah... Begitulah. Walaupun aku yakin dia akan setu-"


"Jadi, aku boleh datang ke bengkel ini lagi??" Aku memotong Jun yang segera membuatnya diam itu


"... Kalau begitu aku setuju. Berikan akses untuk anak ini di bawah bimbinganmu atau setidaknya Justin" Jun tiba-tiba berubah menjadi pebisnis


"Tentu. Dengan bayaran, kamu harus membawakan barbekyu sate daging dari toko pinggiran di pusat perbelanjaan Beryl" Loctis juga tiba-tiba begitu, membuatku dan Justin jadi kebingungan


"Ugh. Aku tidak suka orang itu, tapi baiklah. Aku akan pergi kesana agar anak ini setidaknya bisa senang"


"Kamu sungguh bertingkah seperti ayahnya-"


"Dia bukan anakku"


"Aku paham. Tapi kamu tetap terlihat seperti seorang ayah"


"Begitukah? Padahal dia baru seminggu di bawah kepengurusanku" Jun berkata, mengusap kepalanya malu


Perjanjian mereka sudah disetujui, dan aku pun mulai diperbolehkan untuk ikut bereksperimen di dalam bengkel itu. Juga, kehadiranku membuat Justin mulai menjadi sangat berani bereksperimen


Penemuan pertamaku, bom anti Malefic, yang kuisi dengan bahan peledak otomatis dan serum anti Malefic itu bahkan dia jadikan sebagai amunisi untuk meriam yang dia ciptakan pertama kali aku bertemu dengannya


Dan kami melakukan tes subjek tepat di dalam bengkel


"Tapi kamu membuat Loctis jantungan nak..."


Jun tertawa pasrah selagi meringis mendengar cerita itu, sementara aku justru terlihat bangga karena berhasil menemukan penemuan pertamaku


"Meriamnya juga akan butuh modifikasi. Dengan cetak biru yang tepat, aku yakin kakak Justin dan aku akan bisa membentuk...


Meriam Anti Malefic yang Tidak Akan Meleset!! MAMTAM untuk singkatannya"


"Ooh~" Jun membalasku yang berlagak bangga itu dengan sebuah tepuk tangan kecil seakan dia kagum


"Penamaan itu bagus juga ya?" Dia juga berkata


"Kakak Justin yang memberi nama. Walaupun aku tahu juga kalau penamaan itu sangat payah"


Jun langsung berubah menjadi batu yang retak karena meleset membuat perkiraan


"Y- Ya... Kalau begitu... Bagaimana kalau kita kembali membahas ceritamu...?" Dia kemudian dengan lemas menawarkan


"Kenapa? Ceritaku sudah habis" Aku berkata, sebelum mulai mencari ide


"Oh ya!"


Aku belum pernah mendengarkan satu hal darinya setelah 2 bulan lebih aku di bawah bimbingannya dan Venia Loctis


"Aku ingin mendengar cerita milikmu sekarang!" Aku pun meminta seakan memerintah


Jun bahkan ikut bermain di dalam dunia kecilku itu


"Hamba akan mulai menceritakannya kepada yang paling mulia..." Dia berkata dengan nada yang sangat rapi dan sopan, membuatku bertepuk tangan antusias selagi duduk


"Kamu tahu, Eden?" Dia mengawali dengan memberi sebuah pertanyaan


"Eden?"


Aku pernah mendengar nama itu dari dongeng, tapi melupakannya karena kuanggap membosankan di waktu itu


"Eden adalah nama sebuah surga dalam legenda. Tempat dimana semua manusia dan makhluk hidup bersemayam setelah peristirahatan terakhir mereka"


Aku mulai tertarik kepada ceritanya entah kenapa, sehingga dengan mata antusias, aku pun mencoba mendengar lebih dekat selagi sesekali bertanya


"Peristirahatan terakhir?"


"Ketika kamu sudah tua dan tiada suatu hari nanti"


"Heeh? Aku tidak akan pernah mati"


"Semua orang akan mati, anakku. Tapi, di Eden, kamu baru tidak akan mati. Kamu akan selalu dihiasi oleh tubuhmu ketika muda. Kamu akan disuguhkan segala hal yang kamu inginkan dan pasti akan dapatkan disana"


"Heh?! Misalnya seperti sebuah bengkel yang tidak bisa hancur?"

__ADS_1


"Ya... Mungkin bisa juga...


Karena semuanya yang ada disana, adalah sebuah dunia yang digambarkan Tuhan untukmu"


"Oh~ Semacam dunia pribadi..."


"Benar sekali. Setiap orang memilikinya, dan semua orang lain bisa berkunjung untuk melihatnya kapanpun dengan menaiki sebuah kereta kuda khusus yang disediakan untuk dunia masing-masing"


"Tuhan itu baik juga ya...?"


"Tentu. Dia adalah orang yang akan selalu melindungimu kemanapun kamu pergi, hanya dengan berdoa"


"Jadi, jika aku ingin pergi ke Eden, aku harus berdoa juga?"


"Ya. Dan kamu juga harus bekerja keras untuk tetap hidup di dunia ini. Karena apa yang paling disenangi oleh Tuhan bukanlah doa semata, tetapi kerja keras dan keindahan hidupmu itu"


"Kalau begitu, aku juga akan bekerja keras"


"Bagus"


"Tapi, kapan aku bisa ke Eden jika begitu? Mati karena umur tua mungkin akan lama bukan?"


"Begitulah. Yang terpenting adalah, kamu tidak boleh menyerah dalam hidup..."


"Heeh, membosankan. Aku ingin pergi ke Eden sekarang"


...


Kalimat terakhirku itu membuat Jun terdiam. Diam dengan hiasan sebuah senyum yang tertempel di bibirnya, untuk mengalihkan kalau wajahnya disaat itu terlihat sangat sedih seakan sedang mengingat sesuatu


Lalu, satu kalimat darinya yang tidak pernah kulupakan selalu itu, dia ucapkan


"Jika begitu, maka kamu harus bekerja keras. Bukan hanya untuk hidup, tapi memastikan kalau kamu juga bisa membuat Eden milikmu sendiri"


...----------------...


"Jun-!"


...


...


...


Haah...


{{{ Kembali ke masa kini }}}


Aku... Rupanya bermimpi hah...?


Bermimpi dalam tidur itu melelahkan...


...


Tapi, kenapa harus tentang dia...


...


...


...


Oh ya... Aku sekarang ini sedang berada di-


"Yo! Selamat pagi!"


!!!


Karena kesal dengannya yang mengagetkanku, aku pun melempar sebuah bantal kearah wajahnya, namun bisa dia hindari tanpa susah payah hingga bantal itu justru menghantam tembok di belakangnya


"Jangan buat aku kaget!" Aku menyerukan kepadanya kemudian


"Wah wah~? Lihat kucing kecil ini marah, ufufufufu~"


Oh, dia mengejekku sekarang hah?


A-


...


Aku tidak punya daya untuk bercanda sekarang ini setelah mimpi itu...


"Haah...!! Kenapa aku harus mengawali hari dengan buruk seperti ini...!!!" Aku berkata dengan gusar selagi menanam kembali kepalaku di bantal


Sementara Noah yang diam melihatku itu sibuk menaruh odol di sikat giginya untuk menyikat gigi di tempat itu juga. Aku tentu langsung mengangkat kepala ketika menangkap basah dia MENYIKAT GIGI DI DALAM KAMAR TIDUR


"PERGI KE KAMAR MANDI! BEKAS MULUTMU ITU AKAN JATUH KE LANTAI JIKA BEGITU!!" Aku meneriakkan kepadanya


"Tapi aku sudah biasa-"


"AAAH!! Berhenti bicara dan lakukan saja sebelum-!"


*Plop!*


...


Ada tetesan odol yang jatuh...


...


...


Aku merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam diriku, namun tidak terdengar...


"Aku akan membunuhmu sekarang..."

__ADS_1


"Oke, maaf. Jangan sakiti aku pagi-pagi begini..."


__ADS_2