Core of Evil

Core of Evil
Tidak Akan Kalah


__ADS_3

{{{ Beberapa saat kemudian }}}


{{ Markas Arcadia, ruang istirahat }}


"Berapa kali aku harus katakan, kalau kamu tidak boleh pergi dari markas kecuali dalam misi itu?"


"67 kali, jika kamu tidak menghitung 2 kali pertama saat aku baru dalam masa awal menjalankan misi"


"Jadinya 69!"


Aku dan Jay langsung bertepuk tangan dengan satu sama lain kemudian memasang pose gaul yang semakin membuat Amitha terlihat kesal


Kami pun dia buat tenang kembali hanya dengan menunjukkan sebuah senyum kesal yang membuat udara dingin


"Maaf..." Aku berucap


"Tolong jangan blokir akses kami dari kantin 5, Venia Amitha...! Azure sudah berjanji untuk memberikanku sekardus soda selama 2 bulan...!" Jay mulai memohon sekuat tenaga


Semoga akses kami ke kantin 3 dan 5 di blokir sekaligus


"Kamu tidak bisa memilih hukuman untuk dirimu sendiri, Hastatus Jay..."


Beri aku harapan, Venia Amitha...!


"Tapi aku harus bilang, mungkin menguras sedikit uang milik anak yang satu ini akan jadi hukuman yang bagus untuknya"


"Tidak! Jangan lakukan ini kepadaku!"


...


...


"Jadi janjimu tentang soda itu palsu?" Jay bertanya, terlihat kecewa


"Kamu pikir harga satu kardus penyebab diabetes itu berapa coba??" Aku membalas setengah berteriak


"Cukup untuk menguras 1 per 4 uang bulananmu dalam sekali beli. Dan aku hanya bicara tentang yang tidak dingin" Amitha menyela diantara kami, sama sekali tidak peduli dengan ekspresi marahku


"Ayolah Venia Amitha! 1 per 4 itu banyak!"


"Lebih baik daripada membeli konsol game baru bukan?"


Orang ini membuatku kesal saja!


Seperti itulah perawakannya. Venia Amitha, bagaimanapun suasana hatinya, selalu terlihat tenang


Tidak ada yang bisa membuatnya mengeluarkan ekspresi berlebihan. Tapi dia bisa melakukannya kepada orang lain tanpa perlu mencoba


Aku benci dia ketika dia yang mengurus hukuman milikku. Bahkan Venia Loctis saja masih lebih pemaaf walaupun dia dengan jelas bersikap sangat tegas dan ketat


Tapi aku terkejut tidak sekejam biasanya, hukuman ini...


"Dan untuk catatan, kalian akan melalui masa isolasi selama 2 bulan, memblokir sepenuhnya hak kalian dalam menjalankan misi sekecil apapun dalam masa itu dan membatasi pergerakan kalian di dalam bangunan utama markas manapun"


"HAAH??!"


Sudah kuduga dia akan memberi hukuman yang lebih kejam...! Aku baru saja mengatakannya tadi, dan dia segera melakukannya...!


"Kalian juga akan dilarang untuk berkomunikasi dengan personel pangkat Centurion keatas, serta staf administrasi dan pendataan. Tidak boleh ada informasi yang kalian dapatkan tentang misi APAPUN itu selama 2 bulan"


"Ada yang lebih kejam lagi?"


"Ada"


Ya Tuhan


"Kalian akan dikirim ke planet Furion di dalam galaksi Axel untuk melakukan tugas sosial. Pastikan kalian melakukan pengawasan pada laboratorium kita yang terletak disana"


"... Baik..."


Itu planet yang membosankan...


Cocok untuk penelitian, tapi membosankan...


Dia selalu mengirimku kesana ketika aku terkena hukuman isolasi...


Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menghindari amarah Amitha. Bahkan guruku Jun saja tidak berkutik ketika berdiri tepat di belakangnya sekarang ini...


Tidak ada yang bisa membantu...


Selain...


Dari orang yang baru saja masuk ke ruangan, membuat kami semua terkejut


"Aku dengar ada yang melanggar aturan lagi"


"A- ah..."


Seorang wanita. Jika dilihat satu kali, dia terlihat sangat anggun dan menawan. Tetapi sesungguhnya, dia adalah petarung yang bahkan tidak kalah jauh dari kedua orang dengan pangkat tertinggi di akademi Arcadia ini


Selalu membawa turet otomatis yang berbentuk salib itu di punggungnya, tidak pernah mengikat rambut lurus seputis salju miliknya itu, dan berjalan dengan tegap dengan tatapan merah yang lurus


"Venia Aurora. Aku yakin kamu seharusnya bertemu dengan Venia Darius sekarang ini?"


"Tidak lagi ketika mendengar kalau kedua adik kelasku sedang mengalami masalah"


Namanya Aurora. Aurora Morgan


Dan wanita ini sebenarnya...


Aku dan Jay sukai


Terutama Jay, karena mereka kebetulan tidak beda jauh dalam hal umur


"Hukuman mereka berdua sudah ditentukan, Aurora. Kamu tidak berhak mengubahnya lagi, apalagi setelah aku sudah mengirim catatan misi ini kepada semua Venia"


"Dan kapankah kamu mengirim laporan itu, Tuan Amitha?"


"Baru saja sekarang ini"


Orang ini membuat kesal saja


"Yang paling mungkin kamu lakukan sekarang ini hanyalah mengawasi mereka di dalam masa isolasi itu. Aku yakin kamu juga sudah terbiasa seperti ini, apalagi mengetahui catatan kesalahan milik O-2507 yang umumnya dibantu oleh Hastatus Jay beberapa kali"


"Panggil dia dengan namanya, Venia Amitha..."


...!


Situasi jadi tegang sekarang... Dan itu karena permasalahan sebutanku...


"... Sepertinya kamu sudah jadi terlalu sombong setelah menjadi seorang Venia, Aurora..."


"Entah darimana aku belajar. Bukannya hidup sebagai seorang Venia memang seperti ini bagimu, Tuan Amitha...?"


"Teman-teman... Jangan bertengkar..."


"Diam Jun. Tetaplah berdiri di tempatmu itu"


...

__ADS_1


Jadi...


Ada yang mau melerai mereka berdua...? Karena aku yakin 100 persen aku tidak akan mampu


"Venia Aurora, Venia Amitha. Tolong berhenti bertengkar. Kami berdua juga sudah menerima hukuman itu"


Oh, Jay yang melerai


Dia memukul pinggangku sedikit untuk mendukung pernyataannya itu, hingga aku dengan hebat mengangguk agar kedua Venia itu berhenti bertengkar-


Heh? Menerima?


Mendengar perkataan Jay, Aurora pun memasang wajah kesal kearah Amitha yang tersenyum tanda menang


"Apapun itu, mereka tidak boleh dibiarkan begitu saja kali ini. Disiplin adalah hal terpenting menjadi seorang OPS dalam melawan Malefic"


Aurora yang sepenuhnya kalah dalam argumen itu pun hanya menunduk ke bawah, membiarkan Amitha keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berempat dengan beberapa staf yang masih berada di dalam ruangan itu


...


...


Tidak lama setelah Amitha keluar, Aurora menatap kearahku


"Kamu"


"Ya?"


Dia kemudian mendekat secepat mungkin, membuatku panik. Dan sesuai dugaanku, gerakan khas nya pun keluar ketika sedang ingin menceramahiku


Kedua tangannya yang mengapit kedua pipiku selagi dia menarik wajahku agar terus menatapnya


"Kamu pasti pelaku utamanya. Merengek kepada Jay biasanya menjadi gerakan utamamu"


"Tapi aku sungguh tidak merengek kali ini, Aurora..."


"Dia menjanjikan untuk membeli beberapa kantung keripik kentang untukku selama sebulan. Ditambah dengan 2 bulan kardus soda, aku tentu tergiur"


"Rupanya aku salah menuduh orang"


Jay hanya tertawa kecil selagi Aurora melepaskan genggamannya dari wajahku


Kuusap kedua pipiku yang sedikit nyeri karena dia baru saja mengapitnya dengan keras itu


Tatapan Aurora kali ini mengarah kearah guruku Jun, tetapi mulai terlihat rileks


"Venia Jun. Aku harap kamu mau menjadi orang yang mengawasi mereka nanti" Aurora berkata kepadanya


"Amitha berencana seperti itu, walaupun dia bilang, 'Jika Aurora mau, kamu boleh digantikan' atau semacamnya" Jun membalas


"Hmph. Aku tidak menyangka orang itu bisa perhatian juga hah?"


"Amitha memang seperti itu semenjak kecil..."


Mereka teman masa kecil. Keduanya juga bergabung disaat yang sama akibat insiden serangan Malefic yang menyerang kampung halaman mereka, Troust


Itu tempat dimana banyak sekali ras berkumpul. Bahkan ras Alien yang tinggal di Terra saja bisa dengan jelas terlihat disana tanpa perlu mengalami penindasan


Tetapi tempat itu sekarang hancur. Tempat yang aku ingin kunjungi karena sudah melihat foto dari Jun tentang reruntuhan masa lalu itu...


...


Terra juga sekarang ini sudah mulai sekarat akibat serangan Malefic. Yang tersisa dari populasi planet asli asal muasal manusia ini hanyalah 50 persennya dari jumlah awal sebelum Malefic menyerang dalam skala besar pertama kali


19 persen pergi merantau ke planet lain, selagi 31 persen dimusnahkan oleh para Malefic


Makhluk yang disebut Malefic ini adalah sesuatu yang keji dan tidak tahu belas kasih. Mereka terlahir hanya untuk menimbulkan kekacauan di seluruh alam semesta


Aku adalah salah satu dari makhluk keji itu...


"...!"


Sebuah tangan menyentuh bahuku yang termenung sejak tadi. Tangan milik Jay


"... Kamu tidak apa, teman?" Dia berbisik perlahan


"... Aku tidak apa"


...


Memikirkan kalau aku adalah manusia yang memiliki darah makhluk menjijikan itu...


Aku sungguh sangat bersyukur, ada orang-orang seperti mereka di dalam hidup ini yang mau menerimaku sepenuhnya


"... Jadi, kapan kita akan pergi ke Furion?"


Pertanyaanku itu pun menarik perhatian tiga orang lainnya


"Um... Jika tidak salah, kapal angkasanya seharusnya sudah siap besok"


"Besok hm...?"


Beberapa jam bisa kugunakan untuk berlatih lagi. Tidak ada salahnya, apalagi setelah mengingat kalau hal ini harus kulakukan


...


{{ Area latihan 5, Armada Arcadia }}


Baiklah...


Bagaimana cara Amitha mengajariku sekali lagi...?


...


Tahan nafas...


Fokus kepada kekuatan di tanganmu Azure...


Lalu luncurkan...


*Bzzt! BZZZZT!!*


Bersamaan dengan semakin kerasnya suara itu, besi yang menjadi alat bantu latihanku mulai digerogoti oleh sebuah benda berwarna hitam dan merah


Sesuatu yang merambat ke sekujur benda itu, dan berasal dari tanganku


"Kekuatan baru saja mencapai 5 persen. Apa aku harus mencoba naik lagi...?"


Mungkin harus


Mencoba sesekali tidak akan masalah


Aku juga penasaran, seberapa keras besi latihan yang diberikan Amitha sekarang ini


*KRRRT!!*


AH-


Hentikan!

__ADS_1


Hentikan...


...


...


Ya Tuhan. Aku baru saja menghancurkan besi itu lagi...


Dan itu baru 7 persen...


...


Inilah... Hasil dari kekuatan tersembunyi milikku. Kekuatan yang tidak seharusnya berada di tubuh manusia, tetapi entah kenapa menempel di badanku


Sebuah Virus, yang bisa menyebar sesuai keinginanku, menutupi setiap bagian dari meja tempat besi itu berdiri tadi. Tidak perlu lagi membahas keadaan besi itu


Virus berwarna hitam dan merah, sepenuhnya bisa dilihat oleh mata telanjang. Dan jika ada orang selain diriku yang menyentuhnya, mereka mungkin akan terkena virus ini juga


Virus yang bisa membunuh segala macam makhluk dalam sekejap jika badan mereka tertutupi olehnya, serta menghancurkan benda sekeras besi itu dengan sangat mudah seakan dia adalah kertas yang terbakar


...


Setidaknya benda itu kali ini tidak menyentuh lantai...


Aku mengambil langkah mundur, takut dengan kekuatan yang baru saja keluar dari tubuhku itu. Takut seperti biasanya setiap kali hal itu terjadi


Tanganku mulai merasakan sakit menusuk karena sudah mengeluarkan kekuatan itu. Dia bahkan mulai menunjukkan reaksi kejang seakan secara konstan di setrum dengan listrik. Dan karena itu, setiap kali aku mengeluarkan kekuatanku, aku harus siap dengan sebuah serum khusus penekan energi Malefic dalam jarum suntik di kantong sabukku


Kumasukkan cairan di dalam jarum suntik itu ke dalam nadi di tanganku, hingga rasa sakitnya justru bertambah sampai aku terjatuh terlipat ke lantai selagi menahan sekuat tenaga


Rasanya sakit... Tapi jika aku tidak melakukannya...


Virus ini akan mengkorupsi pikiranku...!


Aku harus mengontrol kekuatan ini...!


Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi...!


Tidak mau...!


Tidak---!


Ayah---!


"Azure??"


Suara itu membuatku terkejut


Suara yang familiar, selagi aku dengan sekuat tenaga mencoba menengok kearahnya yang terdengar berlari kearahku secepat mungkin


Tidak perlu waktu lama bagi orang itu untuk mencapai badanku yang masih terduduk di lantai, segera mengecek keadaanku


"Kamu sungguh ceroboh! Aku penasaran kamu kemana tadi- Dan ternyata-!"


"Aurora..."


Dia mengikutiku semenjak aku keluar rupanya. Aku pikir dia sudah kehilangan jejakku hingga aku bisa leluasa latihan...


Tapi ternyata dia menemukanku dalam kondisi ini...


"Maaf..."


Aurora terdiam mendengar ucapan maaf dariku. Sesuatu yang tidak ingin dia dengar dari seorang anak lelaki yang masih kecil baginya itu hingga dia menggelengkan kepala tanda menolak


"Tidak perlu. Aku tahu kamu berusaha dengan keras..."


...


"Aku rupanya masih tidak tahu apakah aku sungguh pantas mendapatkan kalian semua..."


Teman-teman yang sangat paham akan diriku dan mau menerima diriku apa adanya. Sebuah pekerjaan yang aku cintai karena keseruannya. Sebuah tempat dimana aku bisa sebut sebagai rumahku


Aku tidak tahu apakah aku pantas mendapatkannya setelah kejadian itu...


Tetapi Aurora dan guruku selalu meyakinkan kalau aku pantas mendapatkannya. Sebuah tempat dimana aku bisa hidup secara normal dengan caraku sendiri, dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayangi


...


Aurora terdiam kali ini tanpa menjawab. Dia sepertinya lelah memberitahuku jawaban yang sama berulang kali


"Maaf aku merusak suasana. Sebaiknya aku istirahat saja kali ini"


Aku mencoba tersenyum agar dia tidak perlu khawatir lagi, hingga dia akhirnya mengeluarkan sebuah helaan napas


"Baiklah. Jangan paksakan dirimu, Azure"


"Hm"


Aku mengangguk untuk menambah responku itu. Perlahan aku mulai bangun dari tempatku berlutut, memutar lenganku untuk memastikan kondisinya, kemudian pamit kepada Aurora


"Aku pergi dulu"


"Dan bilang kepada Jay agar jangan terlalu banyak makan makanan ringan"


"Dia tidak akan mendengarkan dan kamu tahu itu"


Sebuah tawa kecil keluar dari kami berdua setelah candaan kecil itu


"Istirahatlah. Kondisi adalah hal terpenting bagi seorang OPS"


Ariel mengelus kepalaku dengan lembut, sebelum berbalik dan pergi keluar dari ruang latihan, meninggalkanku yang masih berada di dalam sendirian


"..."


Aku ingat betapa dia ketakutan dulu setelah aku mengeluarkan kekuatanku untuk yang pertama kali


Sebuah gedung hancur berkeping-keping akibat kejadian itu, dan ada cukup banyak korban jiwa walaupun bisa dihitung jari


127 terluka parah, 18 terluka ringan, 5 orang tewas


...


Mereka semua takut kepadaku disaat pertama kali kekuatanku itu diketahui


Tapi ayah ada disana. Dia meyakinkan semua orang kalau kekuatan ini tidak akan melukai orang-orang lagi, membuatku menjalani latihan rutin untuk memperkuat tubuh dan mengontrol kekuatan gelap ini


Mereka mulai menerimaku setelah beberapa saat. Lama, tapi semuanya sudah berlalu


Semua orang sudah menerima kehadiranku sekarang...


...


Kekuatan yang sangat kubenci namun menempel di tubuhku ini...


Kekuatan dari seekor Maledict. Kasta tertinggi dari para Malefic yang keji itu


Makhluk yang memiliki kecerdasan setara dengan manusia dan menempel pada individu tertentu


Aku tidak akan menyerah kepadanya. Jika aku ingat satu perkataan dari ayah kepadaku, aku tidak akan bisa kalah

__ADS_1


'Kamu tidak akan kalah dari makhluk itu. Tubuhmu adalah milikmu, dan dia tidak memiliki hak untuk mengambil alih pikiranmu'


__ADS_2