
{{{ Tahun 2018, Kalender T.E. }}}
{{ Terra }}
Suara pesawat jet terdengar dengan jelas di udara, memekakkan telinga bagi siapapun yang berada di luar dan di dekatnya
Bukan satu atau dua, namun selusin
Satu lusin pesawat jet terbang melintasi bagian atap puluhan bangunan tinggi di kota metropolis nan megah itu, hanya untuk satu tujuan
"Target teridentifikasi. Malefic kelas Chimera. Jarak unit terdekat dengan target diperkirakan mencapai 5000 meter"
"Target bisa terlihat melompati satu bangunan ke bangunan yang lain, menimbulkan kerusakan properti pada tempat dia mendarat setelah lompatan"
"Amankan target segera. Venia Amitha akan sangat senang melakukan eksperimen dengan Malefic yang satu ini"
Satu radio ke radio yang lainnya terus bersahutan selagi mereka terus mempertahankan laju demi mengejar target mereka itu
Sebuah monster berwujud campuran antara gorila dengan kepala yang hanya terdiri dari mulut yang lebar dengan gigi tajam
Sebuah monster yang mereka sebut Malefic. Dan itu hanyalah satu dari wujud lain miliknya
Dia terlihat panik, mencoba melompat dari satu bangunan ke yang lain tanpa memedulikan sekitar. Sesekali dia bahkan menyakiti dirinya sendiri, tapi dia yang sedang menjadi target itu tentu merasa ketakutan hingga hanya berfokus untuk lari
12 jet mengejar seekor Malefic secara sekaligus, mengundang semua mata dari kota di bawah mereka. Beberapa dari mereka bersorak sorai dan takjub melihat semua jet yang melintas, beberapa lainnya terlihat gusar karena mendapati suara bising yang mengganggu. Dan ada beberapa juga yang takut dengan keberadaan pertempuran kecil itu, memilih untuk menghindari kami
"Target semakin dekat. Perkiraan jarak, 3500 Meter dengan unit terdekat"
"Laporan diterima. Keluarkan misil obat bius jenis Alior-II. Jika menggunakan yang lebih kuat dari itu, kalian akan merusak tubuh makhluk itu"
"Siap laksanakan, Venia Jun!"
Seluruh pesawat itu semakin melaju, selagi seseorang dari kejauhan dalam sebuah markas mengawasi mereka dengan wajah bangga. Seorang pria yang tinggi, berbadan proporsional dan memiliki pupil hitam yang gagah. Dia terlihat sangat muda untuk umurnya yang sudah menyentuh 35 tahun dan memiliki uban diantara rambut coklatnya itu
Orang yang disebut sebagai Venia Jun. Nama lengkap, Jun Akira
Seluruh pasukan bagian informasi misi duduk di sekitarnya dan mencoba mengambil data sebanyak mungkin untuk membantu pasukan yang berada di medan ataupun mengisi data untuk dikirim ke database
Seluruh tempat itu riuh, baik di luar maupun di dalam akibat kemunculan sebuah Malefic tingkat menengah-keatas semata
Dan dari luar ruangan, seseorang masuk ke dalam melalui pintu otomatis yang membuka ke samping, disambut langsung oleh Jun yang menyadari kehadirannya
"Amitha Shiv! Temanku yang luar biasa!"
Pria yang baru masuk itu hanya tersenyum, menunjukkan mata kuning gelapnya itu diantara rambut abu-abunya. Tangannya yang berkulit coklat itu menyentuh memegang bahu Jun yang sedang melebarkan tangan untuk menyambutnya
Dia pun mengeluarkan sebuah kacamata dari dalam kantong bajunya. Tanpa sepatah kata lebih lanjut kepada Jun yang kebingungan, Amitha pun mulai mengamati layar monitor kaca depan milik salah satu jet yang sedang berada dalam misi
"Uh... Teman?"
Amitha sekali lagi mengabaikannya
Justru, dia tidak punya waktu untuk menanggapi Jun. Ada satu hal yang mengganjal dari tadi untuknya
Karena itu dia pun mengambil sebuah alat audio yang baru saja dipegang oleh Jun untuk berkomunikasi dengan para pasukan
"Pasukan dengan kode personel 0702 di dalam jet 5, aku ingin kamu memberitahukan kepadaku siapa co-pilot milikmu sekarang juga"
Suara panik pun bisa terdengar keluar dari dua mulut. Satu dari suara radio yang ditujukan oleh Amitha, dan satunya lagi dari Jun. Reaksi kecil itu sendiri sudah cukup membuat Amitha menatap Jun dengan wajah kesal diantara senyumannya itu
"Aku tahu kamu membawa O-2507, Hastatus Jay. Arahkan jaringan komunikasi ini langsung kepadanya" Amitha bicara lagi melalui alat komunikasi
Amitha melirik kearah Jun dengan wajah gusar, selagi temannya itu hanya tertawa pelan dengan cara yang canggung sembari mengusap bagian belakang kepalanya
"Dan aku punya urusan dengan Venia yang satu ini"
Tapi sebelum dia sempat melakukan apapun, komunikasi sudah dialihkan kepada orang yang dituju
"A- Ah! Aku yang salah kali ini, Venia Amitha. Aku yang memaksa guruku agar bisa ikut dalam misi ini"
Suara itu pun berhasil menarik perhatian Amitha kembali kearah layar monitor, namun kali ini dengan sebuah senyum
"Anak bodoh. Aku sudah memberitahu kepadamu kalau misi penangkapan tidak perlu kamu ikuti" Dia mulai bicara kembali melalui alat komunikasi
Di dalam sebuah jet tempat komunikasi itu tersambung, aku duduk disana dengan wajah cemberut, mendengus kesal karena tahu apa yang akan datang kearahku setelah misi ini
Sementara temanku yang bernama Jay, seorang pria 4 tahun lebih tua dariku, dengan rambut oranye dan pupil mata biru itu tetap fokus kearah depan mengemudikan pesawat walaupun dia juga panik dengan kemarahan Venia Amitha
"Tapi ya sudahlah. Kamu juga sudah ada disana"
"Tentu aku disini. Diam di dalam armada selama 2 bulan tanpa misi itu membosankan!"
"Kami memilih personel yang paling cocok dalam sebuah misi, anak bodoh. Dan kamu tidak cocok berada di dalam misi tingkat menengah-kebawah ini. Kamu hanya-"
"--- Cocok dalam misi pembasmian skala besar. Ya, ya! Dan kapan terakhir kita punya misi itu hah??"
"Azure"
...
Nama asliku sudah disebut disaat itu. Sesuatu yang tidak biasanya kudengar dari seseorang, terutama Venia Amitha
Aku pun duduk tenang tanpa menggerutu lebih jauh, hanya saja memang masih memasang wajah cemberut
"... Selesaikan saja misi itu. Ketika kamu sampai, kita baru akan berurusan, Azure"
Rupanya dia memang masih marah juga...
__ADS_1
Komunikasi pun berakhir, dan aku perlahan melihat kearah temanku yang masih fokus itu
"Jay. Terbang lebih cepat"
"Aku tidak boleh mendahului Centurion, Azure. Walaupun aku ingin, aku tidak ingin terkena hukuman lebih jauh lagi dari ini"
"Oh ayolah-! Lakukan saja!"
"..."
"Aku akan mentraktirmu satu kardus soda untuk 2 bulan"
"DITERIMA!!"
Suara bermacam-macam mesin di dalam jet itu pun mulai terdengar selagi Jay memencet berbagai tombol untuk melajukan pesawat ini lebih cepat
"Hukuman bisa untuk nanti! Kardus soda selamanya!!!"
"Itu baru semangat!"
Dia pun mendorong tuas akselerasi ke depan, membuat jet yang berada kedua paling belakang itu melaju dengan cepat dan mulai bersampingan dengan jet milik pemimpin pasukan yang berada paling depan dalam hitungan detik
Jay yang mendahului mereka semua itu pun mengundang suara riuh dari radio, berisi protes dan suara marah dari anggota lainnya dalam pasukan ini
Tetapi dia mengabaikan semua itu, selagi kami berdua terus fokus kepada target yang masih cukup jauh di depan
"Target berada 1000 Meter! 950! 900! 850!"
"Aku harus keluar sekarang?"
"Silahkan! Tapi jangan jatuh dan kenakan modul membran yang kuletakkan pada bagian penyimpanan itu di sarung tangan dan sepatumu"
"Dimana meriamku!?"
"Ada di bagian penyimpanan bersama dengan kotak soda milikku! Kamu yang meletakkannya disana!!"
"Baiklah pemarah! Aku naik keatas dulu!"
"Sudah pakai!?"
"Sudah!"
Tapi bohong
Memakai benda itu hanya akan membuang waktu. Lagipula, aku sudah cukup ahli bertahan diatas tekanan udara seperti ini
Kita sudah berlatih bersama tapi malah meragukan kemampuanku. Hmph!
Aku pun berhasil keluar keatas jet, sepenuhnya berada diluar dan segera disambut oleh angin kencang yang menerbangkan kacamata hitam yang kukenakan
"Ya sudahlah. Aku bisa beli lagi besok dari Venia Beryl"
Baiklah, sekarang aku harus melompat
Fokus, aku perlahan mulai pemanasan. Dan ketika posisi jet sudah cukup stabil, kaki kananku pun terangkat dan segera kutempelkan ke bagian atas jet
Kaki kiri pun perlahan mengikuti, hingga aku sepenuhnya berada diatas jet, dan tetap baik-baik saja
Sepertinya latihan dengan Jay selama ini membuahkan hasil. Aku bahkan tidak tegang lagi ketika berdiri diatas jet miliknya yang sedang melesat dengan kecepatan tinggi
"Jay! Beritahu aku jarak target!" Aku bicara melalui alat komunikasi milikku
"200 meter! Dan dia justru semakin memperjauh jarak lompatannya hingga menimbulkan kerusakan lebih besar!" Jay membalas dengan detail
"Situasi ini gawat rupanya..."
"Baru sadar???"
Berisik! Telingaku sakit!
"Sudahlah! Aku akan mengakhiri komunikasi untuk sementara waktu! Aku akan melihat sendiri jarak target dengan kita!"
"Tapi jangan-!"
*Tit!*
Tidak mau dengar tidak mau tahu~!
"Mari kita lihat..."
Kugeser tubuhku perlahan dengan kaki yang terus tertempel di bagian atas jet, menuju ke bagian depannya agar bisa melihat target kami dengan jelas
Dan rupanya memang sudah cukup dekat. Lompatan makhluk itu bahkan sudah mulai mencapai 10 meter di udara dari satu bangunan ke yang lain
Gawat jika dia sampai meneruskan hal ini. Dengan terus menambah jarak lompatannya di udara, momentum beratnya ketika jatuh keatas bangunan itu mungkin bisa menghancurkan 2 lantai lebih
Malefic yang satu ini berukuran cukup besar oke?
Aku harus menangkapnya secepat mungkin
"Halo! Tes tes!"
Heh?!
"Kenapa audio nya masih menyala?!"
"Uh... Ini aku, guru kesayanganmu"
__ADS_1
Ini Jun?
"Ada apa guru?"
"..."
"Guru...?"
"... Kamu tahu apa yang aku ingin katakan, Azure"
...
...
"Aku paham"
Padahal aku tidak berniat menggunakan kekuatanku juga. Aku sudah dengan khusus memodifikasi meriam ini kemarin, dan membuat semua rencana untuk menyusup ke dalam misi kecil ini
Tapi, aku tidak boleh meleset sama sekali sekarang ini. Satu kali meleset, aku mungkin justru akan meledakkan sesuatu di dekat bangunan-bangunan ini
"Kekuatan 15 persen. Meriam dibuka. Amunisi obat bius Roxwell-III. Siap menembak"
Seluruh bagian meriam sudah di cek. Meriamku mulai bergetar cukup intens dan mengeluarkan cahaya, tanda kalau dia sudah siap untuk melontarkan amunisinya
Aku perlahan mencoba untuk bangun, dan disanalah Jay paham untuk lebih menstabilkan posisi jet agar aku tidak terjatuh
Alat komunikasi milikku kembali kunyalakan untuk menyambungkan dengan radio milik Jay
"Jay!"
"Ya!?"
"Kurangi kecepatan dalam hitungan 10 detik"
Setelah perintah itu, meriam ku pun mulai terangkat dan membidik kearah target, selagi Jay mulai menghitung selagi aku mendengar
Bagian pelontar milik meriamku pun mulai mengeluarkan cahaya kekuningan yang terlihat berbeda dari sebelumnya, selagi meriamku semakin bergetar cukup hebat akibat batasan yang kuletakkan kepadanya
Dan jika dia sudah mengeluarkan cahaya kekuningan bidikan telah terkunci
"Target diterima. Inisiasi peluncuran obat bius"
"3! 2! 1!"
Jay pun menarik tuas akselerasi jet miliknya, membuat seluruh pesawat itu bergetar karena dipaksa berhenti
Tetapi meriamku sudah berhenti berputar sebelum dia menarik tuas itu. Sebuah tanda kalau dia akan meledak dan melontarkan obat bius di dalamnya
*BOOM!!*
Amunisi berhasil ditembakkan kearah target. Benda berbentuk misil kecil seukuran kepala manusia itu pun pergi meluncur mengejar kepala Malefic yang sudah terbidik itu
Malefic itu panik melihat sesuatu yang terlontar dari meriamku, kemudian melompat setinggi mungkin untuk menghindarinya
Tetapi dia tidak menyangka satu hal
Jika meriamku sudah menargetnya dalam sepuluh detik, dia tamat
Seberapa tinggi pun dia melompat, seberapa jauh pun dia mendarat...
Peluru meriam ini tidak pernah meleset ketika dibidik selama 10 detik
*DUAR!!*
Peluru meriam yang terlontar itu berbelok dan mengenai targetnya yang melompat di udara, menutupnya dengan asap obat bius sepenuhnya
Tidak lama dari balik asap itu, Malefic yang terkena serangan itu pun sepenuhnya tidak sadarkan diri hingga terjatuh keatas sebuah atap bangunan
Fyuh!
Setidaknya dia dengan tepat waktu memperlambat kecepatan jet-nya sekarang!
Bergantung kepada keahlian orang lain memang membuat panik...
"Kerja bagus, Hastatus Jay Mocking..."
"Terima kasih, Tribunus Azure Pandruwin. Kamu juga hebat"
Aku akhirnya bisa mengusap keringatku ini. Adrenalin ku terpicu terlalu keras barusan
Mungkin bekerja di bengkel selama beberapa hari akan membantu...
"Misi selesai, Centurion Rowin. Target bisa diambil sekarang juga" Jay melapor kepada kepala pasukannya
"Laporan diterima, Hastatus Jay"
Komunikasi diantara mereka berdua berakhir begitu saja, meninggalkan kami berdua yang mendengarkan orang itu dalam keheningan
...
"Sepertinya dia marah, Azure"
"Bagaimana tidak? Kita baru saja mengambil kemungkinan untuknya naik pangkat"
"Benar juga ya...?"
Aku pun mulai tertawa kecil selagi Jay menggeleng-gelengkan kepalanya
__ADS_1