Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Luka Batin Seorang Istri


__ADS_3

"Mas! Besok kalau gajian, belikan Fira tas sekolah ya, kasihan. Tasnya Fira sudah pada bolong, dan resletingnya juga sudah rusak." Aku memberanikan diri bicara pada Suamiku tentang keadaan tas anak kami yang sudah tidak lagi layak pakai. Mas Doni bekerja jadi satpam di salah satu pabrik di Surabaya, gajinya perbulan tiga juta bersih, belum lagi ada tambahan seperti uang lembur dan uang bonus, dari salah satu tentara yang juga menjadi penjaga keamanan disana, Namun pak Purwanto hampir tidak pernah datang berjaga, beliau hanya cuma akan datang sekedar untuk absen hadir saja, setelah itu akan pergi lagi, makanya setiap gajian, pak Pur selalu memberikan uang tambahan sama Mas Doni sebesar empat ratus ribu. "Heleh, wong tas masih bisa dipake, gak usah sok kaya kamu, anaknya saja diam, tapi kamu nya yang dari kemarin bingung minta ganti, yang sekolah itu, kamu apa Fira?" sahut mas Doni tak suka, dan itu selalu terjadi setiap kali aku meminta sesuatu. Mas Doni akan bilang tak punya uang atau dengan alasan yang dibuat buat agar tidak memenuhi apa yang kami butuhkan. Sekali lagi, aku hanya bisa diam, dan meneteskan air mata nyeri, kasihan Fira, selalu saja harus dipaksa nerimo padahal ayahnya sanggup mencukupi, tapi Mas Doni, tidak pernah perduli dengan apa yang menjadi kebutuhan anaknya. Beda lagi kalau keluarganya yang meminta, Mas Doni pasti akan langsung mengabulkan.


Beberapa hari yang lalu, kakaknya datang dengan anak perempuannya yang seusia dengan Fira. Kedatangan nya selalu membawa maksud tertentu, dan tak jauh dari uang, selalu seperti itu. Mbak Hana datang untuk meminjam uang pada mas Doni sebesar tujuh ratus ribu, katanya untuk membeli sepatu baru anaknya, entahlah kenapa hatiku selalu sakit saat melihat mas Doni menyodorkan uang pada kakak dan keluarganya yang lain dengan mudahnya, sedangkan jika aku dan anaknya yang minta selalu saja beralasan tidak ada uang, Astagfirullah sampai kapan aku mampu bertahan sama laki laki tak punya hati sepertinya, jujur aku mulai lelah.


"Gak usah nangis, kalau kamu mau beli ini itu ya kamu kerja, jangan cuma bisa minta dan minta, memang cari uang itu gampang apa!" Sentak mas Doni kasar lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkanku yang masih terisak di depan televisi. "Bu, jangan sedih ya, Fira gak papa kok, tas Fira masih bisa di pakai." anakku itu tersenyum, berusaha menenangkan diriku, namun aku tau, di kedua sorot matanya menyimpan duka, 'maafkan ibumu nak.' batinku terasa sesak.


"Iya sayang, sabar ya nak! nanti kalau sudah kenaikan kelas, kita pindah ke kampung, di rumahnya emak, biar ibu bisa kerja dan bisa memenuhi kebutuhan Fira. Sekarang kita sabar dulu sayang, jangan lupa berdoa sama Alloh, minta dimudahkan dan diberi kesabaran." aku memeluk Fira dalam dekapan, rasanya sangat tersiksa melihat duka di matanya, sejak Fira lahir, mas Doni sangat pelit, hampir sama sekali tidak pernah mau membelikan apa yang menjadi kebutuhan Safira anaknya.


"Nanti sore emak datang sama Heru, ini uang, kamu belanja dan masak yang enak enak, emak sama adikku mau nginep disini selama tiga hari, kamu beresin kamar tamu, dan layani ibu dan adikku dengan baik selama disini." tegas mas Doni sambil menyerahkan uang seratus ribu rupiah, aku hanya diam tanpa ingin membalas perkataannya, lelah dan sakit hati dengan semua sikapnya, setiap hari, aku dan Fira hanya dikasih uang lima belas ribu dan itu harus cukup, dan setiap hari, aku dan anakku hanya makan lauk tempe dan sayur sop, kadang hanya kerupuk dan kecap, bahkan anakku jarang sekali bisa beli jajan seperti anak anak yang lain. Tapi, kalau ada keluarganya yang datang, pasti mas Doni akan memberi uang lebih, itupun harus bisa menyediakan makanan dan jajanan enak untuk menjamu keluarganya. Lagi lagi aku hanya diam sambil menahan rasa sakit yang semakin dalam.


Setelah mengantarkan Fira ke sekolah, aku bergegas pergi ke pasar, kali ini aku hanya belanja ayam dan telor, rencana mau memakai bumbu bali saja, dan membeli pisang kepok juga minyak, bikin pisang goreng untuk cemilan, uang sisa dua puluh ribu, bisa aku simpan untuk jajan Fira nantinya, membayangkan anakku bisa beli jajan rasanya hati ini senang sekali, kasihan Fira yang selalu memendam keinginan, hanya bisa melihat ke arah teman temannya saat mengantri membeli jajan kesukaan.

__ADS_1


Sepulang dari pasar, aku menyiapkan bumbu bumbu, dan merebus ayam. Nanti habis menjemput Fira sekolah baru melanjutkan memasak, karena emak dan Heru akan datang jam empat sore.


"Bu, nenek mau datang ya?" tanya Fira saat aku mulai memasak di dapur. "Iya, nanti sore jam empat." jawabku datar, terlihat anakku itu memanyunkan bibirnya tanda dia tak suka. "Kenapa nak?"


"Fira gak nyaman Bu, nenek selalu suka bentak Fira, belum lagi om Heru yang suka sekali suruh suruh Fira dan pasti nanti ada mbak Bila, pasti nenek dan ayah akan puji puji dan sayang ke mbak Bila, Fira merasa gak dianggap." anak gadisku, sudah bisa merasakan dan mengerti bagaimana sikap keluarga ayahnya itu padanya, bahkan mas Doni sendiri juga bersikap sama, lebih sayang dan mengutamakan Bila, anak kakaknya.


"Sabar sayang, insyaallah ibu akan membahagiakan dan menyayangi Fira nak, karena ibu sangat sayang sama anak ibu yang pintar dan shalihah ini." aku memeluk anakku erat, air mata tak lagi bisa aku bendung, 'tunggu saja Mas, aku akan balas sikap kalian lebih sakit dari luka yang kalian berikan untukku juga anakku.' batinku bersumpah.


"Sih, buatkan emak minuman dingin, haus habis perjalanan jauh." perintah kakak iparku saat aku datang menyambutnya dengan menyalimi semua, yang diikuti Fira di belakangku. "Iya, mbak. Tunggu sebentar ya." balasku datar dan langsung menuju dapur untuk membuatkan es teh.


"Biar Fira yang kasih es nya Bu, ibu siapkan nasi dan sayurnya saja, nenek bilang mau makan, sudah lapar katanya." aku tersenyum tipis dan mengangguk pada gadis kecilku yang sudah biasa mandiri.

__ADS_1


"Kok tumben Sih, kamu cuma masak ayam sama telur, biasanya soto daging. Padahal, ibu sudah membayangkan makan soto daging loh tadi, eeh ternyata cuma disuguhi ayam sama telor saja." protes mertuaku tak suka, tapi mulutnya dari tadi tak berhenti mengunyah, bahkan sudah nambah dua kali di piringnya. Astagfirullah semoga aku bisa menahan amarah ini ya Alloh, batinku kesal.


"Maaf, Mak. uangnya gak cukup, tadi mas Doni cuma kasih uang seratus ribu, dan beras kebetulan juga habis, jadi cuma bisa belanja ayam sama telor." balasku menahan rasa sesak di dada.


"Makanya, kamu itu kerja, jadi perempuan itu kudu serba bisa, biar gak ngarep uang suami saja, kayak benalu saja kamu itu, nyusahin suami itu namanya." balas ibu mertua ketus, 'Astagfirullah, kalau bukan orang tua sudah aku remas mulut pedasnya itu.'


"Awas loh, Sih. Jaman sekarang musim pelakor, hati hati kamu, kalau kamu cuma pakai daster lusuh sama rambut acak acakan gini, jangan salahkan Doni kalau dia punya wanita lain diluar." sahut mbak Hana dengan tanpa berdosa, lancar sekali mulutnya berkomentar tanpa berpikir, jika ucapannya sudah menyakiti hatiku, apakah mereka tak sadar, seperti apa mas Doni memperlakukan anak istrinya, jangankan membeli baju dan kosmetik, untuk makan saja aku harus bisa irit, Ya Alloh ampuni hatiku jika semakin kuat tekad untuk pergi meninggalkan mas Doni dan keluarganya yang tak punya hati ini.


"Sudah, sudah. Kamu itu ya jangan suka ngomong bener to Han, tapi ya mana ada uang dia itu buat dandan, makan saja numpang sama Doni." sindir ibu mertua sinis, aku memilih diam dan tak ingin menanggapi, tapi hati justru semakin yakin untuk memilih pergi demi kewarasan dan kesehatan mental ku dan Fira anakku.


'Lihat saja, aku yakin, setelah ini kalian akan menyesal dengan ucapan kasar kalian padaku, dan hinaan mu mbak, akan kembali pada dirimu sendiri, bahkan kamu tidak tau kalau suamimu sudah menikahi janda cantik teman kerjanya, setelah itu terungkap, aku ingin tau mulutmu yang jahat itu apa masih bisa bicara seenaknya lagi.' batinku bicara sendiri sambil menatap datar ke arah keluarga suamiku, tanpa mereka sadari, aku sudah menyiapkan balasan yang jauh lebih sakit dari perlakuan mereka. Aku yakin, Mas Doni akan mengemis padaku nantinya, dan jika saat itu tiba, hatiku sudah membeku, dan rasa cinta ini sudah lenyap, yang ada benci dan ingin melihat mereka malu dan menyesal dengan ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2