Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Luka batin seorang istri 2


__ADS_3

Selama tiga hari menginap, ibu mertua dan adik mas Doni sudah seperti majikan yang selalu ingin di layani, bahkan mbak Hana, tiap hari setiap jam satu siang hingga malam hari juga berada disini. Selama itu, Mas Doni selalu memberiku uang seratus ribu untuk memenuhi perut keluarganya, harus enak dan harus tersedia apa yang mereka minta. Menahan diri untuk tidak protes, meskipun raga dan juga hatiku begitu lelah, mereka seakan tidak pernah bosan untuk memerintahku dan Fira seperti pembantunya yang berhak mereka suruh suruh.


Mungkin ini lah puncak kesabaran ku benar benar di uji, Pagi pagi, ibu mertua sudah membentak bentak Fira hanya karena anakku bangun terlambat dan tidak menyiapkan kopi untuk Heru anak lelakinya, sedangkan Mas Doni dengan lancarnya memaki diriku di hadapan keluarganya hanya karena aku membuat nasi goreng untuk sarapan, pikirku sarapan yang ada dulu, setelah mengantar Fira sekolah baru belanja dan memasak menu daging kesukaan keluarganya, tapi justru hinaan dan amarah yang aku dapatkan, bahkan Mas Doni sudah berani menamparku karena aku menjawab tuduhannya yang mengatakan aku pemalas dan bodoh.


"Terimakasih, Mas. Tamparan mu akan aku ingat selalu, apa kamu pikir kamu berhak menyentuhku dan menyakitiku seperti ini, apa kamu sudah merasa mencukupi hidupku dengan layak. Jangan kalian pikir aku akan terus diam diperlakukan seperti ini, tidak! Mulai detik ini, aku mundur dan menyerah dengan keadaan seperti ini. Maaf, aku memilih pergi dan tak Sudi lagi menjadi istrimu, hanya hinaan dan perlakuan buruk yang aku dapatkan selama ini." dengan emosi yang tak lagi bisa aku tahan, akhirnya semua sesak yang selama ini hanya bisa aku pendam dapat aku keluarkan. Aku sudah tidak perduli lagi apa yang akan mereka pikirkan, aku sudah tak mau tau lagi dengan apa yang akan mereka lakukan, yang pasti aku akan pergi dari kehidupan yang hanya bisa menciptakan neraka untukku dan anakku.


"Fira, ikut ibu nak, kita pulang kerumah emak di kampung." dengan langkah pasti, aku menghampiri anakku yang tengah terpaku di balik pintu kamarnya, aku tau gadisku itu sudah sangat tersiksa dengan keadaan ini, mereka semua sudah memperlakukan kami sangat buruk sekali.


"Iya, Bu!" jawab anakku nurut, dan kami mulai mengemasi baju dan memasukkan ke dalam satu koper, tak banyak yang kami bawa, karena selama menikah dengan Mas Doni, hampir dia tidak pernah membelikan baju untukku dan juga untuk Safira. Kamu di paksa untuk hidup susah yang sebenarnya mampu. Menyedihkan bukan?


Tak ada yang berniat untuk mencegah kepergian ku dan Safira, bahkan Mas Doni terlihat sangat cuek dan santai, matanya sekilas melirik sinis dan bibirnya menyunggingkan senyuman sinis seperti orang yang tengah meremehkan. Aku tak perduli!


"Gaya sok-sokan minggat, mau di hidupi pakai apa anaknya itu, paling juga nanti nangis nangis ngemis minta uang sama Doni, dasar perempuan gak tau di untung." maki ibu mertuaku dengan suara nya yang angkuh, aku tak ingin menanggapi ataupun mendengar ocehannya, biarkan saja. Tapi setelah ini, aku yakin, wanita tua itu akan mengemis padaku, meminta aku balikan pada anaknya, setelah tau aku siapa di kampung.

__ADS_1


Aku berjalan menuju jalan raya mencari tukang ojek, tapi sebelumnya mampir dulu ke ATM untuk mengambil uang secukupnya sebagai pegangan selama di perjalanan. "Bu, ibu punya uang?" tanya Fira saat kami memasuki tempat pengambilan uang di salah satu cabang bank di mesin ATM.


"Alhamdulillah, uang ibu banyak, bahkan sangat banyak nak. Mulai sekarang hidup kita tidak akan kekurangan, tapi Fira janji, ini rahasia. Jangan sampai ayah dan keluarganya tau ya." aku sengaja menyembunyikan hartaku pada mas Doni saat ini, biarlah mereka menghina dan meremehkan diriku, kalau sudah waktunya akan aku tunjukkan siapa Ningsih Ayu Nindita sesungguhnya. Pewaris kebun pohon sengon puluhan hektar, sawah yang ditanami padi puluhan hektar, sapi perah ratusan ekor dan tambak ikan yang jumlahnya tak terhitung. Ya, kakekku haji Sumardji adalah orang terkaya nomor satu di kota Patria, dan beliau sudah mewariskan seluruh hartanya padaku, cucu satu satunya, bahkan uang yang tersimpan di bank cukup fantastis jumlahnya, aku sudah membangun hunian mewah di salah satu desa di kota Patria atas nama Safira, rumah lantai dua yang sangat luas dan berpagar kokoh itu adalah milik Ningsih, perempuan yang selalu dihina dan dianggap benalu oleh suami dan keluarganya.


"Fira, nanti kita pulang kerumah eyang di Blitar, karena emak sudah pindah kesana, rumah yang di Kediri sudah dijual, jadi nanti kita akan terus tinggal bareng dengan emak dan Mbak Siska di rumah baru yang dibelikan eyang buat Safira di Blitar. Pasti nanti Fira sangat senang kalau sudah sampai dan melihat rumahnya, bagus dan nyaman nak, tapi Fira janji gak boleh komunikasi dulu dengan ayah ataupun keluarganya ayah, oke? untuk sementara kita menjauh dulu nak, biar bunda menyelesaikan semua urusan bunda dan ayah dulu ya." panjang lebar aku berusaha memberi pengertian anakku, dan itu bukan hal yang sulit bahkan berat buat Fira, karena selama ini tidak pernah ada kedekatan antara anakku dengan ayahnya, mereka selalu menganggap Safira tidak ada.


"Iya, Bu! Fira paham kok, yang penting buat Fira ada ibu dan cinta ibu saja. Fira juga senang kalau emak dan Mbak Siska akan tinggal bareng sama kita, karena emak dan Mbak siska sayang banget sama Fira, pasti deh Fira nanti bahagia." anakku terlihat bahagia membayangkan akan tinggal dengan ibu dan adikku, karena selama ini, ibu maupun Siska sangat menyayangi Fira dengan tulus, selalu memperlakukan Fira bak seorang putri, Dan aku akan mulai mengurus surat cerai ku dengan Mas Doni, biar saja aku akan memberi mereka sedikit shock terapi, menghilang tanpa jejak dan saat muncul membawa surat cerai juga kabar yang tentunya membuat mereka menyesal.


Setelah sampai di stasiun Wlingi, disana sudah ada Rudi yang menjemput ku dengan membawa Pajero milik kakek. Rudi adalah anak dari Om Agus adik ibuku yang sudah meninggal karena kecelakaan tiga tahun yang lalu beserta istrinya, sejak umur sepuluh tahun Rudi sudah menjadi yatim piatu dan di asuh langsung sama kakek, sekarang dia sudah tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah, bahkan Rudi sudah menjadi perwira polisi.


"Asalamualaikum, mbak." sambut Rudi padaku dan langsung menyalimi ku dengan takzim, lalu disambut dengan senyuman hangat dan riang dari anakku. "Wah, Fira sudah besar sekarang, sudah kelas berapa?" sapa Rudi pada Safira yang dijawab riang dengan celoteh khas anak anak.


"Emak sama Siska sudah dirumah kan Rud?" sambung ku pada adikku yang kini sedang fokus menyetir. "Iya, Mbak. Emak aku jemput kemarin pagi, dan kakek lagi kurang sehat, maklum sudah sepuh, tapi kakek sangat antusias menunggu kedatangan mbak Ningsih." jawab Rudi panjang dengan senyuman yang terus terukir di bibir tipisnya. "Alhamdulillah, mbak seneng dengarnya."

__ADS_1


"Mbak! mbak sudah yakin dengan keputusan mbak?" tanya Rudi sambil melirik Fira yang sudah tertidur di kursi sampingnya. "Insyaallah mbak yakin Rud, mereka sudah sangat keterlaluan dalam memperlakukan mbak dan Fira, mbak sudah gak tahan. Kamu bisa kan , bantu mbak untuk mengurus kepindahan sekolahnya Safira? karena mbak ingin fokus mengurus perceraian mbak dengan Mas Doni, agar saat dia tau siapa mbak yang sebenarnya, gak berani mengusik dan macam macam pada mbak, karena mbak sudah bukan istrinya lagi."


"Oke mbak, aku akan bantu mbak, dan selalu ada buat mbak dan Safira, karena aku sudah anggap mbak seperti ibuku yang selama ini selalu perhatian dan sayang sama aku, hingga aku bisa jadi seperti ini, makasih ya mbak."


"Itu sudah jadi tugas mbak, kamu adalah tanggung jawab mbak dan kakek, mbak senang melihatmu sukses seperti ini, jangan sombong dan tetap berjalan menunduk ya, mbak sayang kamu Rud."


"Makasih mbak, Rudi juga sayang banget sama mbak, emak dan kakek. kalian sudah menjadi orang penting dalam hidup Rudi."


"Owh iya Rud, kamu sudah atur agar mas Doni dan keluarganya tidak bisa mencari keberadaan kita kan?"


"Mbak tenang saja, semua sudah Rudi atur, mereka gak akan bisa menemukan kita tinggal dimana, kecuali mbak sendiri yang sudah siap muncul dengan identitas baru mbak, janda kaya raya dari desa Wlingi." hahahaa Rudi tertawa lebar setelah berhasil meledekku, meskipun bukan saudara kandung tapi kita begitu dekat karena meskipun Rudi jauh, aku akan selalu menasehati dan memberinya perhatian lewat telepon.


'Tunggu kejutan indah untuk kalian, dariku. Aku sudah gak sabar melihat reaksi mereka dengan status baruku. tunggu tanggal mainnya, Mas.'

__ADS_1


__ADS_2