
" Boleh ikut duduk mbak?"
Seketika aku menoleh dengan suara merdu yang tak asing ditelinga ini, Tomi Prasetya, lelaki yang sudah hampir dua bulan ini terus mengusik hatiku, berawal dari pertemuan saat montornya menabrak mobil yang aku tumpangi dari belakang, sejak saat itulah kami menjadi akrab, karena Tomi yang begitu aktif mengirimi aku pesan, duda anak satu, bekerja di perusahaan kontraktor di kota S dan sedang bertugas di kota B, begitulah pria bertubuh tinggi tegap dan berkulit putih itu memperkenalkan dirinya.
Banyak hal yang dia ceritakan dari keluarga dan penyebab berpisahnya dengan sang istri, lelaki yang selalu bersikap lembut itu tak segan mengutarakan segala hal dalam hidupnya.
"Mas Tomi?, Kok tumben jam segini sudah bisa keluyuran?" Ku tatap lekat wajah tampan yang sudah duduk di depanku dengan gayanya yang mempesona, mata sipit dan bibirnya yang tipis sempat membuatku terpesona, tapi berhasil menepis perasaan yang belum waktunya itu, karena aku belum tau betul siapa lelaki itu, bisa juga kan, dia hanya membual untuk menjerat mangsanya, mengaku duda padahal ada anak istri yang sedang menunggunya pulang, aku harus tetap berhati hati menjaga hati ini.
" Iya, kebetulan saya tadi belum sempat sarapan, tadi ijin keluar sebentar buat cari makan,eeeh malah ketemu bidadari shaleha disini." Ucapnya santai dengan mata yang menyipit.
" Mulai lagi kan, sudah berapa wanita yang mas gombalin kayak gini?."
"Hahahaaa, kamu mah bisa aja jawabnya, aku tidak pernah gombalin cewek, nggak tau kenapa, saat melihatmu ada getar yang berbeda disini." Mas Tomi menunjuk dadanya dengan senyuman manisnya, aku hanya tersenyum tipis menanggapi kelakarnya yang menurutku terlalu lebay.
" Jadi balik kapan?" Mas Tomi melanjutkan obrolannya setelah beberapa detik kami saling diam.
__ADS_1
"Insya Alloh lusa, besok masih ada meeting di kantor pusat."
"Aku akan kesepian lagi dong."
" Sudahlah, hentikan bualan mas, kayak buaya buntung saja."
Kamipun tergelak bersama, ku akui, aku merasa nyaman setiap ngobrol dengannya, tapi hanya sekedar nyaman saja, lelaki yang lebih tua lima tahun dariku itu memang memiliki pesona luar biasa, selain tampan mas Tomi juga termasuk pria yang pekerja keras dan sangat menyayangi ibunya.
Hubungan kami semakin akrab meskipun tak pernah lagi berjumpa, kami saling berbagi cerita dan memberi perhatian lewat ponsel, bahkan setiap hari mas Tomi akan menelpon untuk berbicara banyak hal, seiring berjalannya waktu ada rasa curiga juga cemburu menghiasi hubungan kami, entah siapa yang memulai duluan, tapi yang pasti kami tak pernah absen saling menunjukkan rasa, perhatian juga curiga.
Saat aku sedang mengerjakan laporan, terdengar bunyi notifikasi dari ponselku, terlihat nomor asing yang mengirimi pesan.
" Asalamualaikum, maaf perkenalkan saya Hans, teman sekantornya pak Tomi."
Deg, dengan sedikit rasa heran kubuka foto profil lelaki yang mengaku bernama Hans, oh Tuhan, nampak gambar pria yang begitu berkharisma dengan senyumnya yaang aaah tak bisa ku jelaskan, lelaki hitam manis dengan lesung pipi yang menambah daya tariknya, matanya yang sayu, bibirnya yang melengkung dengan jambang tipis menghiasi wajah tampannya, sempurna itulah gambaran sosok pria bernama Hans di mataku.
__ADS_1
Dengan tangan bergetar dan jantung yang mulai berdetak tak beraturan, aku membalas pesan yang dikirimnya dengan pikiran melayang, bodoh iya itulah aku yang tak bisa berdamai dengan perasaan ini.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?". Lagi lagi jari ini mengetik dengan bahasa formal meskipun hati ingin sekali mengakrabkan diri, tapi aku tak ingin terlihat ganjen pada pria yang baru kukenal, oh tidak aku harus bisa elegan dan tetap anggun terutama pada pria sempurna satu ini, meskipun tak ada yang sempurna di dunia ini, tapi entahlah di mataku pak Hans adalah sosok yang sempurna.
" Boleh kenalan mbak? Mungkin mbak Innara sudah tau siapa saya, karena kita sering adu argument digrup kajian, dan jujur saya salut juga suka dengan pemikiran mbak dalam memahami agama, luar biasa." Balasnya setelah beberapa menit pesanku terkirim. Melambung dan aku tersenyum sendiri membaca setiap kalimat darinya, Pak Hans, benar benar membuatku jatuh hati pada pandangan pertama.
" Alhamdulillah, saya tidak seperti yang bapak kira, karena saya masih sangatlah jauh dari kata paham soal agama, masih perlu banyak belajar dari bapak yang ilmunya insya Alloh sudah jauh lebih banyak dari saya yang awam ini." jawabku merendah, namun memang begitu adanya, aku hanyalah insan yang minim ilmu, sedangkan beliau sudah memiliki gelar seorang ustadz dan pemilik yayasan sosial ternama di kota S.
"Aaah mbak ini suka merendah orangnya, saya bisa menilai dari argument argument mbak dalam setiap apa yang kita kaji di grup, kalau boleh dan mbak Innara bersedia, saya ingin menarik mbak Innara untuk masuk komunitas saya, saya akan masukkan mbak di grup yayasan, gimana, apa mbak Innara keberatan?."
" Alhamdulillah, sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak, dengan senang hati pak." Jawabku bahagia, dan ah aku gak tau apa yang ada di pikiranku saat ini.
"Alhamdulillah, trimakasih mbak."
Sejak saat itu, pak Hans sering mengirimiku pesan pesan singkat, sekedar mengomentari stori atau membahas soal ilmu agama, dan selama bicara dengan beliau, aku jadi tau karakter pria dua puluh sembilan tahun ini, orangnya tertutup dan tak mudah akrab jika beliau tak berkenan, dan aku adalah salah satu wanita beruntung yang bisa dekat dengannya, aaaah jujur rasa ini semakin dalam tenggelam meskipun hanya ku ungkapkan dalam diam.
__ADS_1
' akan ada masanya, dimana semua akan berubah seiring berjalannya waktu, entah berubah seperti yang kita harapkan atau justru sebaliknya.'