
Hari sudah sangat larut, tapi Ratih masih terjebak di jalan yang cukup sepi. Mobilnya mogok karena ban yang kempes tiba-tiba, cemas, takut dan Panik itulah yang saat ini Ratih rasakan, belum lagi anaknya terus menelpon menanyakan kapan ibunya pulang.
Ratih habis datang dari kondangan dan tak bisa langsung pulang karena mobilnya terparkir di belakang sendiri, tidak mungkin harus memindahkan beberapa mobil yang berjejer di depannya, sedangkan pemiliknya tidak di ketahui.
Akhirnya mau tidak mau Ratih harus menunggu acara hingga selesai.
Pukul dua belas tepat, acara baru selesai dan Ratih baru bisa pulang dan apesnya saat di tengah perjalanan ban mobilnya kempes. Panik dan marah bercampur jadi satu, dalam ketakutan dan kekalutan, Ratih hanya bisa berdoa dan menangis sambil menelpon siapa yang bisa dimintai bantuan.
Dari kejauhan terlihat ada tiga kendaraan bermotor yang mendekatinya, Ratih sudah sangat panik, takut kalau itu penjahat yang memiliki niat jahat padanya. Tapi ternyata mereka adalah petugas keamanan yang tadi di temui di acara hajatan temannya. Dua orang polisi yang memakai pakaian biasa, dan satu orang tentara dengan pakaian dinasnya.
"Kenapa dengan mobilnya, mbak?" tanya salah satu pria yang konon katanya adalah seorang Intel.
"Ban nya kempes, Pak!" sahut Ratih cemas dengan wajah yang sudah terlihat pucat.
"Ada ban serepnya, biar kami bantu ganti." kembali pria itu bicara dan menawarkan bantuan.
"Tidak ada pak, makanya saya bingung harus bagaimana." sahut Ratih jujur dan masih dengan wajah cemasnya.
__ADS_1
"Begini saja, ini sudah malam. Bengkel juga sudah tutup. Gimana kalau mbak diantar sama pak tentara itu saja. Mobilnya biar saya urus sama teman saya ini, nanti akan kami minta anggota yang lain untuk kesini, untuk membawa mobilnya ke markas biar aman, baru besok di datangkan orang bengkel. Mbak bisa datang ke polres Sambi untuk mengambil mobilnya." sambung pria yang katanya adalah salah satu pimpinan polres Sambi.
"Apa ini tidak merepotkan?" tanya Ratih ragu sekaligus tidak enak. Dan tentu saja bingung dengan apa yang harus dilakukan. Dirinya adalah seorang janda dan sudah memiliki anak gadis, apa kata tetangganya kalau ada yang tau jika malam malam diantar pulang oleh lelaki. Serba salah dan kalut hingga membuat Ratih semakin pucat pasi.
"Apa mbak gak percaya sama kami? Insyaallah niat kami baik, takutnya kalau mbak tetap disini, justru ada orang jahat yang datang dan mencelakai mbak. Tapi semua tergantung mbak, maunya gimana?" kembali salah satu dari dua orang polisi itu berbicara. Sedangkan lelaki yang memakai pakaian dinasnya hanya diam memperhatikan sejak tadi. Terkesan dingin dan angkuh.
"Bagaimana ya, bukannya saya tidak percaya. Saya hanya bingung dan takut saja. Kalau saya pulang larut begini dan terlihat diantar laki laki, akan jadi bahan omongan tetangga yang tidak tidak!" sahut Ratih bingung dan mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini.
"Ini kan darurat mbak. Kan yang penting mbak gak berbuat macam macam. Jadi abaikan saja omongan tetangga. Asal keselamatan mbak yang utama." balas tentara yang sedari tadi diam kini ikut menimpali dan membuat kedua temannya menahan senyum.
"Wah berlebihan itu. Saya hanya ingin memastikan keamanan dan menjaga keselamatan warga, itu saja. Itupun kalau mbaknya gak keberatan." sahut pak Pram, nama yang tertulis di baju dinasnya. Pria tinggi tegap dengan kulitnya yang sawo matang, hidungnya mancung dan matanya yang sipit. Tampan tapi terkesan dingin, karena mahal senyum dan terkesan irit bicara.
"Baiklah, saya terima tawaran bapak bapak. Karena anak saya juga sudah telpon dari tadi, dia dirumah sendirian. Besok saya akan datang mengambil mobil di kantor nya bapak ya?" sahut Ratih pada akhirnya.
Dan langsung di iyakan oleh Ketiga pria baik di hadapannya.
Dua orang yang berstatus polisi itu mengurus mobil Ratih yang mogok, dan Pram mengantarkan Ratih pulang dengan selamat.
__ADS_1
"Terimakasih pak! Maaf kalau sudah merepotkan!" Ratih mengucapkan rasa terimakasih nya karena sudah diantar sampai rumah dengan selamat sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Sami sami mbak! Kalau begitu saya permisi.
Asalamualaikum!" balas Pram sopan dan kembali menaiki montor matic nya.
"Pak! kalau umpama saya besok mau ke kantor mengambil mobil bagaimana ya? saya harus menghubungi siapa?" kembali Ratih mengeluarkan suaranya sebelum Pram menyalakan motornya kembali.
"Mbak simpan nomor saya saja, besok hubungi saya. Biar saya yang antar ke kantor!" sahut Pram mantap dan mengeluarkan ponselnya lalu mencatat nomor Ratih dan mengirimkan pesan ke nomor Ratih dengan mengetik nama nya.
"Sudah?" tanya Pram menatap datar ke arah Ratih yang terlihat gugup.
"Sudah pak! Terimakasih!" sahut Ratih salah tingkah.
"Baiklah, saya permisi ya mbak. Asalamualaikum!" balas Pram sopan tanpa ada senyuman sedikitpun. Wajahnya yang datar selalu terlihat dingin dan angkuh.
"Waalaikumsallm, hati hati!" sahut Ratih lirih dan menatap kepergian pria berpakaian dinas dengan tatapan nanar, wajah tampannya mampu membuat hati ratih kalang kabut, namun harus patah karena sikap dinginnya.
__ADS_1