Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Menggenggam Luka 3


__ADS_3

"Keterlaluan kamu, Mas. Lihat saja, aku akan melakukan apa yang tidak pernah kamu pikirkan selama ini, akan aku tunjukkan bagaimana seorang Ratmi jika sudah bertindak. Aku akan pastikan kamu menyesal karena sudah menyakiti hati dan hidupku seperti ini." Ratmi bergumam sendiri di dalam hatinya, bersumpah akan membalas semua hinaan dan perlakuan buruk suaminya, hanya tunggu waktu yang tepat saja, bom itu pasti akan meledak.


Ajeng kembali tertidur, tubuhnya masih lemas, dan pengaruh obat juga sedang bekerja. Dengan hati berkecamuk Ratmi sekuat hati menahan emosi di dadanya. Tak ada pilihan lain, mungkin inilah saatnya. Dengan memantapkan hatinya, Ratmi sudah mengambil keputusan demi kelangsungan hidupnya dan Ajeng agar lebih baik dan terlepas dari laki-laki munafik seperti suaminya itu.


"Bismillah." Ratmi mengambil ponsel jadulnya, dan mencari kontak yang selama ini hanya dia simpan tanpa mau menghubungi. Erik Sasmita Raharja, Laki Laki kaya raya yang dulu pernah menawarinya harta juga pekerjaan, sebab Ratmi sudah menyelamatkan neneknya Erik dari kematian, kalau saja Ratmi tidak datang tepat waktu, mungkin Bu Seruni, neneknya Erik sudah meninggal di tangan para perampok. Berkat keberanian dan kecerdikan Ratmi, Bu Seruni akhirnya selamat, meskipun barang berharga seperti uang, ponsel mewah juga perhiasan raib di gondol penjahat. Karena usia yang sudah begitu tua, membuat Bu seruni sudah tak lagi bisa mengingat, sehingga Ratmi dengan telaten dan iklas merawat Bu Seruni dengan sangat baik, sampai akhirnya keluarga Bu Seruni datang mencarinya, karena merasa berhutang Budi, Erik dan semua saudaranya, ingin memberikan sebuah hadiah rumah juga usaha serta uang yang jumlahnya tidak sedikit pada Ratmi, tapi dengan sopan Ratmi menolak, dengan alasan, jika dirinya tulus menolong Bu Seruni. "Yasudah, kalau mbak Ratmi menolak pemberian kami saat ini, kami bisa mengerti, tapi kami akan tetap menyimpan apa yang menjadi hak mbak Ratmi dari kami. Jika suatu saat mbak Ratmi membutuhkan bantuan kami, kami akan selalu siap membantu sampean dengan senang hati, seperti mbak Ratmi yang sudah dengan sangat baik merawat nenek kami." itulah kata kata yang dulu sempat terlontar dari seorang pengusaha muda, Erik Sasmita Raharja.


"Iya, Mas. saya akan ingat pesan sampean selalu. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih dan kalau di ijinkan, saya ingin datang berkunjung saat saya sedang merindukan Bu Seruni, karena saya sudah menganggap beliau, seperti nenek saya sendiri." Ningsih membalasnya sopan.


Dan Erik juga menyodorkan kartu ATM beserta nomer pin nya pada Ratmi dan juga memberinya kartu nama jika sewaktu waktu Ratmi butuh bantuannya.


Itulah kisah balik dari kejadian beberapa tahun yang lalu, saat Ratmi masih gadis dan belum menikah. Dan kini saatnya, Ratmi menggunakan isi ATM yang sudah diserahkan Erik untuknya, yang bahkan sampai saat ini, Ratmi belum sekalipun tau berapa isi di dalam ATM tersebut, lantaran memang Ratmi belum sekalipun mengeceknya.


Ratmi memutuskan untuk menghubungi Erik, lantaran saat ini Ratmi sedang membutuhkan pekerjaan demi masa depannya bersama Ajeng.


"Halo, asalamualaikum." Sapa Ratmi membuka obrolan setelah panggilan telponnya diangkat diseberang sana. "Waalaikumsallm, Apakah ini mbak Ratmi?" balas Erik memastikan.

__ADS_1


"Injih, Mas. Ini saya Ratmi." balas Ratmi berdebar dan ragu mau berucap meminta bantuan.


"Alhamdulillah, akhirnya mbak Ratmi menghubungi saya. Bagaimana kabar mbak? sehat?" Erik melontarkan pertanyaan dengan akrab dan ramah.


"Alhamdulillah, baik Mas. Tapi tidak dengan Ajeng anak saya, dia saat ini sedang berada dirumah sakit." balas Ratmi jujur apa adanya, tanpa ada niat untuk menutupi. "Ajeng sakit mbak? sakit apa?" balas Erik ikut merasa cemas, lantaran Erik tau, jika hidup Ratmi tidak bahagia dengan suaminya, karena Erik mendapatkan kabar dari orang yang pernah ia sewa untuk mencari tau kehidupan Ratmi setelah menikah. Tapi Erik berusaha tetap diam, menunggu Ratmi meminta bantuannya. Bukannya tidak mau perduli, tapi lebih pada menghargai dan tak ingin terlalu ikut campur terlalu dalam.


"Sakit tipus, Mas." sahut Ratmi lirih menahan gejolak dalam dirinya, yang sebenarnya ingin mengutarakan niatnya untuk meminta bantuan agar diberikan pekerjaan.


"Kebetulan, saya lagi ada pekerjaan di Surabaya, kamu sedang di rumah sakit mana, biar nanti setelah meeting saya ingin menjenguk Ajeng." balas Erik yang sebenarnya tengah ada di Gresik, meninjau usahanya yang ada disana.


"Mas, apakah ada lowongan pekerjaan untuk saya?" ucap Ratmi pada akhirnya, dan membuat Erik tersenyum di ujung sana. "Apa kamu butuh pekerjaan mbak? ada yang bisa Erik bantu?" sahut Erik ramah. "Iya, saya lagi butuh pekerjaan, tapi setelah Ajeng kembali sehat lagi." balas Ratmi lirih.


"Baik mbak, saya akan membantumu. Mbak Ratmi mau di kota mana? biar nanti saya carikan posisi yang pas buat mbak." balas Erik serius.


"saya mau pulang ke Kediri, Mas. Tapi setelah Ajeng sehat." Sahut Ratmi masih dengan suara parau nya.

__ADS_1


"Baiklah, nanti kalau kamu sudah di Kediri dan sudah siap masuk kerja, hubungi saja saya mbak, biar nanti saya yang atur semuanya." balas Erik tegas dan sangat serius.


Ratmi merasa lega mendengar balasan dari Erik, setidaknya ada harapan untuk bisa bertahan hidup dan bisa mencukupi kebutuhan Ajeng setelah berpisah dari Bayu nantinya.


Pukul enam petang, Erik datang kerumah sakit beserta istrinya untuk menjenguk Ajeng.


Setelah bertanya di bagian informasi, Erik menuju tempat Yang sudah diberitahukan oleh petugasnya.


"Asalamualaikum." Ratmi menoleh dan ternyata Erik juga istrinya yang berkunjung dengan membawa dua kantung kresek berisi berbagai macam cemilan dan susu. "Waalaikumsallm. Loh mas Erik dan mbak Ayu." sambut Ratmi senang.


Saat Erik dan ayu datang untuk melihat keadaan Ajeng, Ajeng masih tertidur karena pengaruh obat dan karena memang tubuhnya masih belum enak.


Erik, Ayu dan Ratmi saling bercengkrama menceritakan masa lalu, sampai pada akhirnya Ratmi menceritakan semua masalah dan tindakan yang akan dilakukannya, yaitu bercerai dari Bayu.


Mendengar penuturan Ratmi, Erik dan Ayu tidaklah kaget, bahkan mereka sangat mendukung niat Ratmi meninggalkan Bayu dan memulai hidup baru yang lebih baik nantinya. Bahkan Erik juga sudah menanggung semua biaya pengobatan Ajeng, Erik juga memindahkan kamar Ajeng ke ruang VIP nomer satu dirumah sakit itu. Lagi lagi pertolongan Alloh itu begitu dekat, sedekat dengan urat nadi kita. Disaat dalam keadaan tak berdaya, Alloh selalu mendatangkan pertolongannya sesuai dengan CaraNYA yang tanpa bisa duga. Karena rencana Tuhan itu jauh lebih indah dari apa yang kita sangkakan.

__ADS_1


__ADS_2