Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Dia yang selingkuh, aku yang di finah 2


__ADS_3

POV Murti


Aneh dan menjijikkan, itulah gambaran laki-laki yang tak punya adab dan otaknya sudah tidak lagi digunakan untuk berpikir jernih, seperti dia, mantan suamiku. Lucu sekaligus dia juga dengan jelas sudah memperlihatkan kebodohannya. Mengaku suami tapi tidak pernah mencukupi, ingin dilayani, tapi tidak pernah mau tau soal kebutuhan hidup.


Baginya, istri itu hanya di jadikan pemuas nafsu dan pembantu gratisan yang bisa di suruh suruh seenaknya.


Cuma perempuan bodoh saja yang mau diperlakukan begitu, dan tidak ada yang sanggup bertahan dari laki-laki sepertinya.


Dia yang selingkuh, dia yang berzina, dia yang menghasilkan anak haram, tapi dia sendiri yang teriak dan terus mencari kesalahan dengan terus memfitnahku tanpa bukti, menjijikkan.


Dulu, aku selalu menangis, bahkan sangat tertekan, jika lelaki gila itu merendahkan diri ini, tapi dengan berjalannya waktu, aku semakin bisa lebih tenang dan tak sedikitpun terganggu dengan semua ucapan kasarnya, tuduhan absurd nya, fitnahan ngawur nya, semua tak ada artinya lagi bagiku, anggap saja seperti angin berlalu dengan gonggongan sang anj**ng.


Cukup diam saja, cukup dilihat saja, dan terus berdoa untuk kemudahan diriku sendiri demi anak dan masa depan. Dengan tidak meresponnya, dengan tidak perduli apa yang dia lakukan, dia akan sakit dan tersiksa dengan pikirannya sendiri. Toh masih ada Tuhan, yang pasti membalas sesuai dengan apa yang sudah dia perbuat. Dan itupun kini terbukti, dia yang terus terusan mendapat masalah di hidupnya, dari perselingkuhan istri sirinya, dulu perempuan yang jadi selingkuhannya yang dengan sengaja menghancurkan ikatan hubungan suami istri. Dan dengan di pecat nya dia dari tempatnya bekerja. Sekarang, dia harus berurusan dengan polisi karena perbuatannya yang sudah melecehkan diriku.


Rasanya masih tak percaya, jika Sugeng berbuat senekat itu, dari dulu dia hanya memikirkan nafsunya saja, tak pernah bisa menghargai perempuan. Untung saja aku bisa terlepas darinya, tapi entah kenapa dia masih saja terus menganggu ku, semoga saja, setelah kejadian hari ini, laki laki itu tak lagi mengganggu kehidupanku. Aku merindukan hidup tenang tanpa di ganggu manusia ajaib sepertinya.


"Bund, boleh Lala masuk?" terlihat anakku sudah berdiri di depan pintu kamar, sambil tangannya membawa secangkir white cofie kesukaanku.


"Masuk saja sayang, sini dekat bunda." aku berusaha bersikap biasa saja, meskipun hati masih diliputi perasaan tak enak akibat dari kejadian itu.


"Lala, buatkan kopi buat bunda. Bunda tidak nulis?" Lala meletakkan cangkir kopi di atas meja rias di kamar, dan mengambil tempat duduk di sampingku dengan merebahkan kepalanya di pundak.


"Bund." sambungnya dengan suara lirih, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi masih ragu.


"Apa nak, Lala mau bicara apa? ngomong saja sama bunda."

__ADS_1


"Kenapa, ayah bisa sejahat itu sama kita? Ayah selalu saja menyakiti Bunda. Lala benci sama ayah, Lala tidak mau lagi ketemu dengan ayah bund." aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Tiba tiba dada ini penuh dan rasanya begitu sesak. Harusnya Sugeng bisa menjadi pelindung dan contoh untuk anak gadisnya, tapi dia selalu saja menorehkan luka di hati Lala, dan kini gadis kecil ku sudah merasakan benci akan sosoknya.


"Lala, gak boleh benci sama ayah nak, karena bagaimanapun itu ayah Lala, doa kan saja, semoga ayah sadar dan tidak lagi berbuat seperti itu, gak boleh benci ya sayang."


Lala terdiam dan merubah posisinya, tangannya melingkar memelukku, kepalanya dia rebahkan di atas dada ini, 'kasihan kamu nak, harus mengalami semua ini, yang harusnya di usianya sekarang, dia sudah bisa merasakan kenyamanan akan perlindungan dan kasih sayang seorang ayah.'


"Bund, Lala tidur sama bunda ya malam ini, Lala rindu di peluk bunda."


"Iya sayang, tidurlah, Bunda juga kangen di peluk anak gadis bunda. Besok sekolah kan? yuk tidur." Lala, memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya padaku. Ya Tuhan, mampukan lah aku, untuk menjadi orang tua yang baik untuk anakku, semoga aku bisa melindungi dan menjaga anakku hingga nanti dia menemukan seseorang yang dengan tulus menerimanya penuh cinta dan kasih sayang.


Malam terus merangkak, tapi mata ini belum juga bisa terpejam. Hati sedang tak baik baik saja, rasanya begitu sesak hingga membuatku tak nyaman. Terbaring dengan memeluk putriku, air mata tak lagi bisa terbendung, mengingat perlakuan ayahnya selama ini.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Lagi pingin ganti suasana saja, dan lagian nanti di sekolah kan waktunya olah raga, katanya mau ada jalan sehat melewati kampus UNIBRAW. Lala mau barengan sama mbak Nana jalannya."


"Owh gitu, yasudah gak papa, tapi ada jalan sehat kok Lala gak kasih tau bunda, kan bisa dibuatkan bekal."


"Gak usah bund, Lala bawa roti saja sama air minum, kan jalannya juga gak jauh jauh, cuma muter di belakang sekolahan, lewat UNIBRAW."


"Yasudah, nanti bunda kasih uang jajannya lebih. Dan ingat, harus hati hati, gak boleh jauh dari teman temannya ya, kalau capek bilang sama gurunya." pesanku pada anak gadisku yang memang dia tidak bisa kecapean karena penyakitnya. "Siap Bunda." jawabnya riang.


Rumah kembali sepi, setelah Lala berangkat sekolah. Seperti biasa, aku akan melanjutkan tulisanku yang sudah terikat kontrak di salah satu platform, bukan cuma satu judul, tapi ada tiga judul dan semua harus update dua bab tiap hari nya. Inilah satu satunya pekerjaan yang bisa membuatku tetap di rumah, bekerja sekaligus bisa mengurus rumah dan anak secara bersamaan. Karena tidak mungkin, aku meninggalkan Kaka dirumah sendirian, jadi aku harus bisa menghasilkan ide di setiap tulisan tulisanku, agar bisa menarik para pembaca.


Sudah dapat dua bab setelah tiga puluh menit berada di depan laptop, tapi tiba ada suara pintu di gedor dengan keras. Sebelum membukakan pintu, terlebih dulu aku mengintip dari kaca jendela yang memang di pasang kusus, kaca yang bisa melihat dengan jelas dari dalam ke luar, tapi tidak terlihat dari luar ke dalam. Astaga, ternyata di luar ada ibu dan kakaknya Sugeng. Mau apa lagi mereka datang kesini.

__ADS_1


"Boleh masuk, aku mau bicara." tiba tiba mantan kakak ipar ku itu sudah melangkah masuk sebelum di persilahkan, bahkan wajahnya terlihat tidak bersahabat, pun dengan mantan ibu mertua yang nampak sinis memandangku, drama apa lagi yang akan dibuat oleh keluarga ini, benar-benar meresahkan.


"Ada yang bisa aku bantu." tanyaku setelah mereka sudah duduk di sofa yang terletak di ruang tamu tanpa aku menyuruhnya dulu.


"Buatkan kami minuman dingin dulu, kalau ada, sekalian makanan, karena kami sudah lapar, tadi kesini tidak sempat sarapan." Sabar! Sabar! aku harus punya stok sabar yang banyak menghadapi orang seperti mereka, Ya ampun, kenapa hidupku selalu ribet dengan kehadiran keluarga ini. Tanpa banyak bicara, aku pergi ke dapur untuk membuatkan dua es sirup, dan dua piring mie goreng lengkap dengan telurnya.


"Silahkan di makan dulu, maaf hanya ada itu." aku meletakkan nampan yang berisi minuman dan makanan di atas meja. "kaya kok pelit, masa ada tamu hanya diberi mie instan saja." okeh mbak Lilis tidak terima, tapi tetap di makan, bahkan terlihat sangat lahap. Aku hanya bisa membaca istighfar sebanyak mungkin di dalam hati.


"Kedatangan kami kemari, hanya ingin memintamu mencabut laporan tentang Sugeng di kantor polisi. Jangan buat dia makin menderita lagi. Apa belum cukup kamu menyakitinya selama ini, gara-gara kamu, Sugeng hidupnya hancur, dia kehilangan pekerjaan dan luntang luntung tak jelas. Kalau saja kamu mau menerimanya kembali, ini tidak akan terjadi. Yang di untungkan itu kamu loh kalau kalian rujuk, karena Sugeng bisa membantumu mengolah keuangan dan membuka usaha. Tapi kamu terlalu sombong dengan menolak anakku, kayak sudah paling cantik saja." kini giliran mantan ibu mertua yang bicara panjang lebar bahkan tanpa merasa malu sedikitpun, bisa-bisanya dia menyalahkan aku atas apa yang menimpa anak laki-lakinya, Ya Tuhan, drama apa lagi ini.


"Sudah Bu, sudah selesai ngomongnya? sekarang biar aku yang ganti bicara. Tolong ibu dan mbak Lilis dengarkan baik-baik. Maaf, aku tidak akan pernah bisa kembali pada Sugeng, apa lagi rujuk dengannya, tidak akan dan tidak pernah. Cukup hidupku dibuat menderita sama dia, apa ibu tau, kalau selama aku jadi istrinya Sugeng selalu memperlakukanku sangat buruk? Tidak memberi nafkah dengan layak, bahkan hampir tidak pernah, suka sekali bicara kasar bahkan sering merendahkan aku, lebih memilih selingkuhannya dan pergi tanpa kabar selama dua tahun, selama itu dia tidak perduli sama sekali dengan nasib anaknya, dan terakhir, dia sudah berani melecehkan ku di depan anaknya sendiri. Jadi apa alasanku untuk mau kembali pada laki-laki seperti itu, maaf! Aku tidak akan pernah Sudi. Dan, kalau kalian kesini hanya untuk memintaku untuk mencabut laporan, sekali lagi aku juga minta maaf, itu tidak mungkin. Karena biar Sugeng mendapatkan pelajaran dari perbuatannya itu, agar tidak lagi berbuat seenaknya yang bisa merugikan orang lain. Semoga kalian paham dan tidak lagi bersikap seenaknya." ucapku tegas dan penuh penekanan. Karena menghadapai orang orang ini tidak bisa dengan cara halus, yang ada mereka akan semakin menjadi.


"Dasar perempuan tidak punya hati, puas kamu menghancurkan hidup anakku." teriak ibu mantan mertua tak terima dengan jawaban yang kuberikan.


"Terserah, kalian mau menuduhku apa dan mau meneriaki aku apa, aku sudah tidak perduli dan tidak akan merubah keputusanku. Harusnya kalian intropeksi sebelum teriak menyalahkan orang lain atas kelakuan yang kalian buat sendiri." balasku tak mau kalah. Enak saja, mereka yang salah, aku yang di tuduh, aku tidak akan diam saja dong.


"Lepaskan Sugeng, atau ajan kami hancurkan laptop mu, biar sekalian kamu tidak bisa nulis dan sama sama hancurnya." sahut mbak Lilis yang tangannya mulai terulur untuk meraih laptop ku yang masih ada di atas meja.


"Coba saja kalau berani, laptop aku masih bisa beli lagi, untuk tulisan pun aku juga masih bisa menulisnya karena aku sudah menyimpan semua tulisan-tulisanku ke email. Tapi siap-siap saja, mbak akan nyusul Sugeng mendekam di penjara atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan karena sudah merusak milik orang lain. Gimana?" tantang ku dengan sikap tetap tenang. Terlihat mbak Lilis mengurungkan niatnya, wajahnya nampak puas dan jujur aku sangat puas melihatnya.


"Ayo kita pergi saja, percuma di sini, perempuan kayak dia gak bakalan mengerti di ajak bicara baik baik, lihat saja, biar Tuhan membalas sikap sombongnya itu." sungut mantan ibu mertua, dan menarik tangan mbak Lilis pergi menjauh.


"Iya, pergi saja dan jangan pernah lagi datang ke rumahku." balasku angkuh dan sedikit menahan senyuman, senang saja melihat mereka terbakar amarah karena ulahnya sendiri. Enak saja, setelah menyakiti dan be buat di luar batas, masih saja minta untuk di mengerti dan di bebaskan. Sekarang nikmati saja nasib kalian dengan melihat Sugeng tidur di penjara. Semoga setelah ini, hidupku menjadi tenang dan mereka tidak lagi menggangguku.


Selesai.

__ADS_1


__ADS_2