Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Menggenggam Luka 5


__ADS_3

Lima hari, Ajeng dirawat di rumah sakit. Bahkan tidak sekalipun Bayu menghubungi Ratmi untuk menanyakan keadaan sang anak. Dan bahkan Ratmi sudah berpesan kepada Nunung, jika bertemu Bayu dan dia bertanya keberadaan dirinya, Ratmi meminta Nunung untuk tidak memberitahunya. Kecewa dan sakit hatinya sangat dalam pada Bayu. Tapi selama itu Bayu juga tidak pernah pulang ke tempat kosnya, Nunung tidak pernah mendapati Bayu disana, pun saat Nunung bertanya pada tetangga yang lain, mereka juga tidak pernah melihat Bayu pulang ke kos.


Namun ada satu penghuni kos, Mas Amar yang kerja tak jauh dari tempat warungnya yusnian, sering memergoki Bayu disana, bahkan Bayu sering keluar pergi berdua dengan yusnian entah kemana, hingga membuat orang orang berpikir kalau mereka selingkuh. Nunung mengatakan semua yang dia tau pada Ratmi, tanpa ada yang Nunung tutupi, karena Nunung tidak mau Ratmi terus di bohongi dan dibodohi oleh laki laki seperti Bayu.


"Terimakasih ya mbak, terimakasih sudah memberitahu saya tentang kebenaran ini, ini semakin membuat saya bertekad untuk segera pergi dari laki laki itu, hari ini Ajeng akan keluar dari rumah sakit, dan saya akan langsung kembali pulang ke kampung tanpa pulang dulu ke kosan." sahut Ratmi menjelaskan apa yang akan dilakukan setelah ini.


"Gimana dengan baju mbak Ratmi dan Ajeng, terus barang barang mbak yang lain?" tanya Nunung menatap Ratmi iba.


"Gak ada yang bisa saya bawa mbak. Baju yang ada juga semuanya sudah jelek gak layak pakai, dan barang? gak ada barang yang saya miliki disana. Selama nikah dengan Bayu, dia tidak pernah menafkahi dengan layak, apa lagi membelikan baju baru, jadi tidak ada yang patut diambil dari sana, lebih baik saya langsung pulang dari sini saja. Nanti akan ada mobil dari Kediri yang menjemput kami.


Saya minta tolong sama mbk Nunung, jangan bilang apapun sama Bayu kalau dia bertanya tentang saya dan Ajeng ya mbak, dan tolong sampaikan permintaan maaf dan terimakasih saya sama semua tetangga di kosan." sambung Ratmi panjang lebar mengutarakan semua beban pikirannya.


"Iya, mbak. Mbak tenang saja, percaya sama aku, insyaallah aku akan menjaga rahasia mbak Ratmi.


Tapi apa nanti mas Bayu tidak akan mencari mbak kerumah yang ada di kampung, dia tau kan alamatnya?" sahut Nunung penasaran dengan menatap lekat wanita lembut yang ada di hadapannya.


"Iya, Bayu tau alamat rumah orang tuaku dikampung, tapi dia tidak pernah tau alamat rumah baruku, rencananya aku akan tinggal disana dan membawa serta adik juga ibuku. Biarlah, Bayu tidak akan pernah bertemu kami lagi, karena setelah surat cerai keluar, saya pun akan mengirimnya lewat kurir. Saya tidak ingin lagi melihat dan berurusan dengan laki-laki itu lagi, mbak!" Ratmi menatap kosong ke arah jendela, rasa sakit yang selama ini di rasanya sudah cukup membuat hidupnya menderita dengan sang anak. Sehingga Ratmi memutuskan untuk tidak lagi bertemu dan berurusan dengan laki-laki yang bernama Bayu, laki-laki yang begitu dia benci.


Pukul sebelas siang, Ajeng sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit, dan mobil jemputan yang dikirim Erik pun sudah sampai, dengan dibantu Nunung, Ratmi berjalan keluar menuju mobil jemputan yang sudah menunggunya, Nunung melepas kepergian Ratmi dengan sedih, rasa haru dan welas asih ya membuat Ratmi begitu berterima kasih dengan wanita yang selalu baik padanya selama ini.


"Terimakasih mbak, terimakasih sudah membantu saya dan Ajeng selama ini, semoga kebaikan mbak Nunung dibalas Alloh berkali kali lipat, dan saya harap kita tetap saling berkomunikasi ya mbak, meskipun aku sudah tinggal di kampung." Ratmi memeluk Nunung erat, Isak tangis haru hadir diantara mereka, membuat Ajeng dan Orang yang melihatnya ikut sedih.


"Iya, mbak. Semoga mbak Ratmi juga hidup lebih bahagia lagi disana, jaga diri baik baik ya mbak, jangan lupa kirim kabar setelah sampai di kampung." balas Nunung sedih.


"Pasti mbak, oh iya, nomor saya yang ada di mbak Nunung hapus saja, karena saya akan mengganti dengan nomor yang baru, biar mas Bayu tidak bisa lagi menghubungi. Biarlah dia menikmati hidupnya dengan wanita selingkuhannya itu, saya ingin tau seberapa jauh mereka akan bertahan, karena saya sangat tau siapa wanita itu. Dia tipe perempuan yang tidak puas dengan satu laki laki dan akan tidak betah jika laki lakinya tidak punya uang, saya sudah melaporkan perbuatan mas Bayu pada atasannya, dengan semua bukti bukti yang ada, mulai dari kata kata kasarnya yang dia kirim lewat chat, dari Vidio perselingkuhannya, dari sikap kasarnya yang sudah bertindak KDRT, dari dengan sikapnya yang tidak memberikan nafkah yang layak padaku, saya sudah mengirimkan bukti bukti itu, Alhamdulillah atasannya berjanji akan memecat mas Bayu tanpa pesangon. Maka dari itu, saya ingin tau, apa perempuan itu akan tetap memilih mas Bayu atau justru membuangnya. Saya hanya ingin melihat bagian akhirnya saja. Berharap kehancuran laki laki itu. Untuk itulah, saya tidak ingin dia mengetahui keberadaan ku saat ini, mbak!

__ADS_1


Karena saya yakin setelah dia dipecat dan uangnya habis, Perempuan itu akan membuangnya, dan mas Bayu kembali akan mencari kami. Dan jika saat itu terjadi, saya sudah tidak Sudi lagi."


Ratmi bicara dengan berapi api, amarah, kebencian, luka juga kecewa bersarang menjadi satu di hatinya pada laki laki yang bernama Bayu.


"Yasudah, saya berangkat dulu ya mbak, terimakasih banyak sekali lagi, Asalamualaikum." pamit Ratmi pada akhirnya. Dan Nunung melambaikan tangan sebagai salam perpisahan, titik bening itu masih saja jatuh membasahi pipinya, haru juga salut dengan keteguhan dan ketegaran seorang Ratmi. "Semoga hidupmu bahagia mbak." ucap Nunung lirih melepas kepergian wanita malang yang selama ini ia bantu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul tiga sore, mobil yang membawa Ratmi dan Ajeng memasuki pelataran perumahan elit, rumah dua lantai yang terlihat mewah, dengan desain bangunan elegan membuat Ratmi menatap tak percaya, hatinya bertanya tanya, rumah siapa yang ada di depannya saat ini.


"Pak! maaf! ini kita lagi dirumahnya siapa? Pak Erik?"


Ratmi memberanikan diri bertanya pada laki-laki paruh baya yang tadi menjemputnya.


Pak Damar, nama laki laki tersebut, sopir pribadi keluarga Erik, tersenyum ramah menatap Ratmi yang bingung.


Dengan senyuman mengembang semua menyambut kedatangan Ratmi dan anaknya.


"Asalamualaikum."


Ratmi mengucapkan salam untuk menyala semua orang yang kini tengah berdiri menyambut kedatangannya.


Satu persatu Ratmi dan Ajeng menyalimi mereka.


"Duduk mbak Ratmi!"

__ADS_1


Sapa Erik mengawali obrolannya. Dengan sopan Ratmi Pun mengikuti perintah tuan rumah untuk duduk di samping ibu dan adiknya.


"Mungkin mbak Ratmi bingung ya, baiklah saya akan menjelaskan dan menjawab kebingungan mbak Ratmi dengan penyambutan kami.


Saya dan semua keluarga, sengaja berkumpul untuk menyambut kedatangan mbak dirumah yang memang kusus dibangun buat mbak Ratmi tinggali, rumah ini pemberian dari nenek kami buat membalas kebaikan mbak Ratmi. Dan ini surat kepemilikan rumah ini, sudah tertulis atas nama mbak Ratmi, mohon diterima ya mbak." ucap Erik panjang lebar dan di iyakan oleh seluruh keluarganya. Mereka semua tersenyum ramah ke arah Ratmi yang bingung dan tak percaya dengan kenyataan yang kini ada di depan matanya.


"Apa saya mimpi? kok rasanya seperti .."


Sebelum Ratmi melanjutkan ucapannya, semua orang tertawa melihat raut bingung di wajah Ratmi yang polos.


"Mbak Ratmi gak mimpi kok, ini nyata, rumah ini dibangun kusus untuk mbak Ratmi, hadiah dari nenek sebelum beliau meninggal, dan kami sudah menyampaikan amanah dari beliau buat mbak, Alhamdulillah kami merasa lega."


Sahut Masayu adiknya Erik. Meskipun mereka dari keluarga kaya raya, mereka memiliki sifat dan sikap yang sangat baik dan selalu ramah pada siapapun.


"Dan satu lagi, kemarin Mas Erik sempat meminta saya buat mengurus perceraian mbak Ratmi dengan suami, dan Alhamdulillah semua berjalan lancar, insyaallah minggu depan semuanya sudah beres, saya yang langsung mengurusnya, kebetulan saya juga pengacara." sahut adiknya Erik yang lain menimpali.


Lagi dan lagi, Ratmi di pertemukan dengan orang orang baik di hidupnya, tak terasa air matanya berjatuhan, terharu dengan apa yang dialaminya. Mungkinkah ini buah dari kesabarannya selama ini, yang selalu diam diperlakukan sangat tidak manusiawi oleh suaminya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Waktu begitu cepat berlalu, sudah enam bulan Ratmi menjalani kehidupan barunya, rumah mewah, banyak uang dan sekarang bekerja di salah satu kantor miliknya Erik, dengan gaji yang tidak sedikit.


Ratmi yang dulu terlihat kusam dan Kumal, kini menjelma menjadi wanita yang begitu cantik dengan wajah Glowing, kulit putih, dan tubuh yang berisi. Bahkan kini Ratmi kemana mana tidak lagi jalan kaki apa lagi naik ojek, Ratmi sudah memiliki mobil mewah yang elegan. Hidup Ratmi dan keluarganya tidak hanya cukup, tapi bahagia dan indah.


Dan itu terjadi tidak untuk Bayu, setelah dirinya di pecat, sampai sekarang hidupnya luntang luntung, tidak mendapatkan pekerjaan, hanya bisa menjadi kuli kasar di gudang gudang sebagai kuli panggul dengan gaji yang cukup untuk makan. Bahkan setelah dia tidak lagi bekerja, yusnian yang katanya sangat mencintainya, memilih pergi dengan laki-laki lain yang lebih bisa mencukupinya, Bayu frustasi dengan hidupnya yang semakin susah, bahkan dia tidak bisa menemukan keberadaan Ratmi dan Ajeng, sudah berkali kali mendatangi rumah orang tuanya Ratmi di kampung, tapi hasilnya nihil, tidak ada satupun tetangga yang mau memberitahu keberadaan mereka.

__ADS_1


Menyesal sudah tidak ada gunanya, nyatanya Bayu sudah kehilangan segalanya, kesombongan dan keangkuhan yang selama ini melekat pada dirinya, luruh oleh kesusahan hidup yang saat ini dia jalani, mungkin inilah karma dari perbuatannya yang selalu memperlakukan anak dan istrinya dengan begitu kejam. Karena setiap perbuatan akan mendapat balasan setimpal dari apa yang sudah diperbuatnya. Dan inilah balasan dari perbuatan yang Bayu lakukan selama ini.


Selesai.


__ADS_2