
Awalnya karena dia seorang teman yang aku kenal, dan rumahnya pun juga tak jauh dari tempat tinggal ku, dia tinggal di desa sebelah. Pertama kali dia ambil barang dengan sistem kredit di tempat aku bekerja, dia mengambil satu set meja kerja, murah sih hanya seharga satu jutaan, pas nya satu juta empat ratus, dengan cicilan seratus empat puluh selama sepuluh bulan. Awalnya lancar dan baik baik saja, hingga angsurannya lunas, dan setelah lunas dia ambil lagi, tapi kali ini dia mengambil ponsel yang biasa alias bukan ponsel merk mahal, dengan angsuran dua ratusan setiap bulan, saat masih dapat lima angsuran dia membawa teman, dan meminta untuk aku memberinya pinjaman, sama. Minta ponsel yang murah katanya, karena iba dan lagi lagi modal percaya, aku mengiyakan. Dimulai dari sini lah, hidupku jadi tidak baik baik saja dengan ulah temanku itu, tiap bulan ada aja alasannya setiap kali di tagih, dan imbasnya, aku sering kena teguran bahkan amarah atasan hanya karena ulah orang yang ku sebut teman.
Namanya Arip, sebut saja begitu. Aku tidak begitu paham apa pekerjaannya, tapi yang pasti katanya dia kerja sebagai wartawan di salah satu tabloid swasta yang aku pun tak begitu tau dengan tabloid tersebut, karena memang tidak terkenal di kalangan masyarakat. Tiap hari sering dia lewat dengan membawa mobilnya, gayanya Masya Allah, sudah kaya eksekutif saja, padahal tiap kali di tagih ilmu berkelit nya bikin dada sesak.
Bulan ini, bulan terakhir dia bayar angsuran, rasanya plong sekali hatiku, karena setelah ini, aku terbebas dari orang ruwet sepertinya, itulah yang aku rasakan dan bahkan aku berjanji pada diriku sendiri, untuk tidak lagi memberinya pinjaman, cukup aku dibuat jungkir balik hanya karena ke mbuletannya dalam membayar. Pusing juga stres jika berhadapan dengan orang seperti itu.
"Pak, sudah waktunya angsuran, di tunggu ya, tolong bayar tepat waktu, karena aku tidak mau di marahi lagi sama atasanku, malu aku pak." Pagi pagi aku sudah mengirim pesan pada Arip untuk mengingatkannya kalau sudah waktunya dia bayar angsuran, karena aku sangat tau, dia itu bukan tipe orang yang bisa tepat, ditagih hari ini pasti bayarnya nanti masih banyak hari yang dia janjikan, sedih dan kesal menghadapi dia, tapi sebisa mungkin, aku tahan agar dia mau menyelesaikan hutangnya.
"Sabar Mak, tunggu lima hari lagi ya, tunggu gajian dulu." itulah balasan yang selalu dia gunakan, untuk mengelak agar tidak terus ditagih, lima hari waktu yang dia minta, tapi setelah lima hari tiba dan kembali aku menagihnya, dia akan kembali meminta waktu lagi, lagi dan lagi. Tapi semoga saja kali ini dia tidak begitu. Apa lagi ini angsuran yang terakhir, sabar dan sabar yang aku sematkan pada diriku sendiri. Ya Tuhan, beri kesabaran yang lebih.
Dan benar saja, untuk kali ini, dia tepat waktu sesuai janjinya, setelah lima hari dari waktu itu, sore hari dia datang ke rumah buat membayar uang angsuran terakhirnya, lega sekali dada ini. Itu artinya aku sudah terbebas dari orang mbulet kayak dia yang selalu membuatku kena damprat atasan, malu sekaligus kesal saja.
"Mak, ini angsuranku. Lunas kan?" Arip menyodorkan uang dua lembar ratusan dan satu lembar dua puluh ribuan ke arahku, dan langsung saja aku terima dengan perasaan senang campur lega. "Iya, pak. Lunas! Alhamdulillah." balasku lega dan bersikap biasa saja, padahal dalam hati, aku sangat kesal dengannya.
"Mak, umpama aku ambil hape lagi gimana? Kan sudah lunas yang ini." Deg, ya Tuhan, padahal aku merasa sudah sangat lega karena terbebas dari orang ruwet seperti dia, eeh ternyata tanpa merasa bersalah dia kembali ingin mengambil kredit hape.
__ADS_1
"Maaf, pak! sementara masih belum bisa, karena banyaknya permintaan, jadi harus antri dulu." jawabku mencari alasan yang tepat, agar tak terkesan langsung menolak, karena bagaimanapun kita pernah satu sekolah dan juga masih tetangga desa.
"Owh, yasudah. Nanti kalau sudah bisa, kasih kabar ya, soalnya aku butuh banget hapenya, buat kerja ini." sambungnya dengan wajah yang memelas.
"Insya Allah ya pak." jawabku singkat, karena gak mau memperpanjang obrolan, apalagi dirumah, aku hanya berdua dengan anakku, tidak mungkin, membiarkan tamu laki laki berlama lama berada dirumah, sekalipun dengan pintu yang dibuka selebar mungkin.
"Aku pulang dulu, nanti jangan lupa kasih kabar ya, kalau sudah bisa." sekali lagi dia menegaskan untuk memberinya kabar kalau sudah bisa memberinya pinjaman, gak akan bisa, batinku kesal. "Insyaallah." hanya itu jawaban yang aku berikan.
"Mbak Salma, tunggu." Bu Cindi nampak berjalan tergesa ke arahku dengan masih memegang sapu di tangannya, duh apa lagi yang akan dibuat bahan gosip dengan wanita tambun ajaib tetanggaku ini. Karena memang Bu Cindi terkenal sebagai ratu gosip di perumahan sini. "Iya, Bu." balasku dengan memasang wajah heran menatapnya yang justru senyum senyum sambil tangannya memutar mutar sapunya, Ya Tuhan, kenapa sih, harus aku menemui orang aneh aneh di hidupku.
"Iya Bu. kok Bu Cindi tau?" balasku heran, karena tetanggaku satu ini selalu mengetahui hal sekecil apapun dari orang lain, lucu dan aneh.
"Ya Taulah mbak Salma. Wong dia itu pernah ada kasus sama temannya suamiku." jawab Bu Cindi dengan berapi- api .
"Hah, kasus? Kasus apa'an Bu?" tadinya aku yang ogah-ogahan karena tau akan diajaknya bergosip, justru sekarang jiwa kepo ku meronta untuk mencari tau dari gosip yang dibawa Bu Cindi.
__ADS_1
"Loh, memang mbak Salma gak tau dia kerjanya apa?" bukannya menjawab, justru Bu Cindi balik bertanya. "Ya, setahuku dia kerjanya jadi wartawan Bu, gak tau benar tidaknya." jawabku jujur.
"Iya, memang katanya sih begitu, tapi dia itu penipu, yang di tipu nya sudah banyak, ibu ibu lagi korbannya." jelas Bu Cindi menggebu. "Korban? korban apa'an to Bu Cindi? aku kok gak paham ini." jujur aku belum mengerti dengan arah pembicaraan Bu Cindi, menurutku Bu Cindi sengaja berputar putar, agar aku penasaran.
"Owalah mbak Salma, lucu ya kamu ini, kayak penasaran banget, sengaja aku gak langsung cerita biar mbak Salma penasaran dulu, hahahaa" Nah, benarkan, Bu Cindi ingin membuat aku penasaran dulu. "Owh iya, gimana, mbak Salma masih ada urusan hutang dengannya, kalau masih ada, cepat selesaikan." alisku menyatu dengan semakin penasaran dengan apa yang ingin Bu Cindi sampaikan. "Alhamdulillah, sudah beres Bu, hari ini angsuran terakhir, sebenarnya mau ambil lagi orangnya, tapi tidak aku kasih, capek nagihnya." aku jawab jujur saja apa adanya pada Bu Cindi, memang kenyataannya aku capek nagih, karena Arip tipe orang yang sangat susah membayar hutang.
"Nah, mbak Salma sudah melakukan hal yang benar, saran ku ya, sudah jangan lagi memberinya pinjaman, apapun itu, dia itu orangnya ruwet."
"Iya, Bu." balasku singkat sambil menghirup udara seluas mungkin.
"Dia itu sudah menipu teman sekantornya suamiku, katanya bisa membantu menyelesaikan masalah hukum yang menimpa temannya suamiku itu, tapi ternyata, dia cuma memeloroti uangnya saja, sudah hampir delapan juta loh, temannya suamiku itu keluar uang, tapi kasusnya tidak selesai selesai, bahkan seperti sengaja tidak di urus. Dan ternyata itu tidak hanya kasus temannya suamiku saja, tapi sudah banyak ibu ibu lain yang jadi korban penipuannya. Wong mobilnya itu loh juga hasil nipu, itu mobil selingkuhannya, wanitanya sudah tua, ih amit amit pokonya." cerita Bu Cindi dengan meletup letup. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepala dan hampir tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar, pantesan kok tiba tiba hidupnya bisa berubah sedrastis itu, dengan waktu cepat, sudah bisa punya mobil dan bangun rumah.
#Hidup itu tidak akan pernah merasa cukup jika kita menuruti gaya dan gengsi tanpa bisa mengukur kemampuan, yang ada justru akan menjerumuskan kita pada lembah kenistaan dengan menghalalkan segala cara demi untuk bisa memenuhi ego diri yang bahkan ego tersebut justru menjerumuskan kita dari panasnya api neraka kelak, Naudzubilahmindalik.
Selesai.
__ADS_1