Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Menikah karena hutang 3


__ADS_3

"Anisa!


Aku ingin kita menjalani pernikahan ini layaknya pasangan pada umumnya, aku akan belajar untuk membuka hatiku dan kita mulai dari nol. Mulai hari ini!


Apa kamu bersedia?"


Indra tak ingin berbasa-basi, langsung pada tujuan utamanya mengajak Anisa bicara di kamarnya.


Anisa kaget, tak percaya dengan apa yang ia dengar, sampai mulutnya terbuka membentuk huruf O. Indra menyadari perubahan wajah istrinya dan menahan senyum karena melihat ekspresi Anisa yang justru terlihat menggemaskan.


"Apakah aku gak salah dengar?" sahut Anisa ragu dengan raut penuh selidik. Indra gemas dan kembali mengeluarkan suaranya untuk meyakinkan wanita yang kini sudah be diri di hadapannya.


"Aku serius, Anisa!


Bantu aku untuk kembali menjadi diriku yang dulu. Bantu aku untuk keluar dari masa kelam ku.


Aku tidak akan menyentuh kamu, sebelum kamu iklas menjadi istriku sepenuhnya.


"Sekarang istirahatlah, tidur lah di kasur, aku akan keluar sebentar. Kalau butuh apapun, bilang saja sama bibi, dia akan membantumu." Sambung Indra dengan mimik serius yang diulas senyum tipis dibibir nya. Tampan.


Anisa terpaku, menatap kepergian suaminya. Perubahan sikap Indra yang tiba tiba membuatnya bingung, karena semalam saja dua masih bersikap jutek dan kasar padanya.


"Apa yang membuatnya berubah seperti ini?


Huh, tau ah. Semoga saja dia benar benar ingin merubah sikapnya itu." Gumam Anisa pada akhirnya dan memilih untuk merebahkan diri, istirahat sejenak dari keruwetan hidup yang ia jalani.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Anisa kaget dengan suara gaduh yang berasal dari lantai bawah, dengan sedikit ngantuk yang masih tersisa, Anisa memutuskan untuk bangun dari tidur siangnya dan melihat apa yang sedang terjadi di bawah.


"Ada apa sih, kok rame banget, suara siapa itu? kenapa memanggil manggil mas Indra." Anisa turun ke bawah dengan masih mengenakan piyama dan memaki jilbab instan.

__ADS_1


Terlihat wanita cantik dengan pakaian seksi tengah menatapnya dengan senyuman meremehkan.


"Owh ini, perempuan yang dinikahi Mas Indra! Kampungan!"


Belinda langsung menghina Anisa dengan gaya nya yang sombong, sudah merasa dirinya sempurna dengan tubuh molek dan wajah cantiknya.


Sedangkan Anisa memilih bersikap tenang dan tak perduli dengan hinaan yang dilontarkan Belinda.


"Kampungan, tapi jauh lebih baik dari kamu bukan?


Karena aku tidak mendatangi laki laki kerumahnya tanpa status yang jelas, sedangkan kamu, teriak teriak mendatangi laki laki yang sudah jelas dirumah ada istrinya, yaitu aku, wanita Kampungan!" Balas Anisa tegas dan penuh penekanan.


Merasa dihina, Belinda tidak terima dan ingin memukul Anisa dengan tangannya. Namun Anisa dengan cepat menangkisnya dengan meraih tangan Belinda dan mencengkeram nya erat, membuat Belinda kesakitan.


"Jangan pernah sekali kali menyentuhku, Karena kita beda level!" ucap Anisa sinis dengan senyuman miring dibibir tipisnya.


"Kurang ajar!


Kamu cuma perempuan kampung, mana mungkin mas Indra Sudi hidup sama kamu, paling paling juga sebentar lagi diceraikan, dan aku yang akan mendampinginya, karena kami pasangan yang cocok, sama sama dari kalangan atas. Tidak kayak kamu, sudah kere masih saja sok!" Balas Belinda percaya diri.


Mas, apa benar kamu akan menceraikan aku?


Bukankah semalam kamu begitu menikmati permainan kita?


Kamu bilang, kalau aku ini magnet untukmu, yang selalu ingin kamu mengulanginya."


Anisa menatap ke arah suaminya yang sedari tadi sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk, diam dan hanya memperhatikan perseteruan dua wanita, Anisa sengaja memancing Indra untuk membuktikan kata katanya yang tadi baru dua ucapkan, menjalani pernikahan yang sesungguhnya. Sedangkan Belinda sama sekali tidak menyadari kehadiran Indra dibelakangnya, dan itu membuatnya sedikit salah tingkah.


"Iya, kamu benar, kamu memang luar biasa dan langsung bisa membuatku jatuh cinta sedalam ini, Anisa! Terimakasih. Aku mencintaimu!" Dengan lancar Indra mengungkapkan isi hati nya dihadapan mantan pacarnya.


"Apa apaan ini?

__ADS_1


Bukankah kamu terpaksa menikah dengan perempuan ini, Mas?


Kamu akan menceraikan dia kan?


Dan kita akan menikah." Belinda rak percaya dengan apa yang didengar rungu nya dari mulut Indra. Jika itu sampai terjadi, benar benar hancur harapannya , bisa menjadi menantu keluarga kaya raya, dan lelaki tampan yang di incar banyak wanita, memikirkan saja Belinda sudah mumet.


"Dia istriku, dan aku tidak akan pernah menceraikan dia. Kami akan tetap menjalani pernikahan ini, selayaknya pasangan lain." Sahut Indra tegas dengan tatapan dalam diarahkan pada Anisa yang mematung, tak percaya kalau Indra akan berani membela dan mempertahankan harga dirinya di depan perempuan yang jadi kekasihnya itu.


"Lalu, kamu anggap apa hubungan kita?


Bagaimana dengan aku hah?


Jangan ngacau kamu, Indra!


Aku gak suka dengan lelucon yang jamu buat, Indra!" Belinda geram dan tak lagi mampu menahan gemuruh di dadanya dengan sikap Indra yang tidak dia duga sebelumnya.


"Hubungan kita sudah selesai, Belinda!


Jangan kamu pikir, aku tidak tau kekakuan kamu diluar sana dengan para pria hidung belang itu hah. Aku tau, tapi aku Dian selama ini. Aku pikir kamu akan merubah, tapi justru kamu menjalin hubungan dengan Respati di belakangku, padahal kamu tau, seperti apa hubungan kami.


Perempuan murahan!" Herdik Indra penuh kebencian, tatapannya nyalang di hujamkan pada perempuan yang tak menyangka akan terbongkar perselingkuhannya.


"Pergilah, jangan pernah temui aku lagi!" teriak Indra dengan dada bergemuruh. Kebenciannya pada sosok Belinda membuatnya hilang kendali.


Belinda tak lagi bisa mengelak, dan tak mungkin tetap bertahan karena tau seperti apa kemarahan Indra, Belinda tidak mau mengambil resiko dan memilih pergi membawa kekesalan pada dirinya sendiri yang sudah bodoh karena tidak berhati hati dalam menjalin hubungannya dengan Respati, musuh Indra sejak jam kuliah dulu.


"Anisa, bantu aku. Kita jalani pernikahan ini dengan sungguh sungguh, aku akan belajar menerima kamu dan mencintai kamu, aku mohon setia lah, karena aku akan menjadikan kamu ratu dalam rumah tangga kita." Indra menatap Anisa lekat dan sungguh sungguh ingin memperbaiki semuanya, Indra yakin, Anisa wanita yang baik dan pantas mendampinginya.


Bahkan jika Anisa didandani, dia akan jauh lebih cantik dari Belinda. Tanpa makeup pun, Anisa sudah sangat cantik.


Tadi Indra pergi hanya untuk berbelanja semua kebutuhan Anisa, mulai dari make up, tas, sepatu, baju dengan merk merk ternama dan juga perhiasan Kudus untuk Anisa. Karena Indra yakin Anisa pasti tidak akan mau jika dia sendiri yang disuruh belanja. Puluhan juta Indra habiskan untuk memberikan uang terbaik buat istrinya.

__ADS_1


"Iya mas, terimakasih. Bismillah ya." sahut Anisa lembut dan membalas tatapan Indra dengan senyuman indah di bibirnya.


SELESAI ☘️🔥❤️


__ADS_2