Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Menggenggam Luka 1


__ADS_3

"Mas, gimana ini? Ajeng rewel terus, dari semalam nggak mau minum susu. Badannya makin panas, aku takut, Ajeng kenapa kenapa Mas. Tolong bawa Ajeng periksa, aku mohon." Ratmi gemetar dan air matanya pun terus mengalir, tak tega melihat anak semata wayangnya terus menangis kesakitan, Ajeng yang masih berusia empat tahun semalam demam tinggi dan terus menangis, minum susu pun tak mau lagi masuk ke mulutnya. Ratmi ibu muda yang masih berusia dua puluh lima tahun, hanya bisa pasrah dengan sikap acuh suaminya yang seolah tak mau perduli dengan tangis anaknya yang sedang sakit.


Ratmi sudah mengompres dan memberi Ajeng obat penurun panas yang dibelinya di apotik tak jauh dari tempat kosnya, namun suhu panas ditubuh Ajeng belum juga turun. Ratmi mencoba memohon pada suaminya untuk membawa Ajeng periksa kedokter pun tidak ditanggapi sama sekali, justru bentakkan dan hinaan yang Ratmi dapatkan. Kalau saja Ratmi memegang uang, pasti sudah pergi sendiri membawa Ajeng ke dokter, tapi sayangnya, Ratmi tidak memegang uang sama sekali, didompetnya hanya ada uang lima ribu rupiah, itu pun uang untuk bayar air, karena Bayu hanya memberi uang nafkah lima belas ribu untuk sehari pada Ratmi.


"Kamu itu bisanya apa sih Rat? Anak satu aja sakit sakitan terus, dasar tidak becus kamu jadi istri. Bisamu cuma nyusahin sama ngabisin duitku saja. Dasar perempuan tak berguna." Tanpa belas kasih Bayu justru membentak dan mencaci Ratmi yang memohon untuk mau membawa Ajeng pergi ke dokter.


" Ya Alloh Mas. Aku juga nggak mau Ajeng sakit, tolong kasiani Ajeng. Panasnya makin tinggi, tolong Mas. Aku mohon." Ratmi masih terus memohon dengan air mata yang masih mengalir deras membasahi pipinya yang mulai tirus, sikap Bayu yang semakin hari makin tak terkendali membuat Ratmi tertekan.


"Aaah sudahlah, aku mau pergi. Urus anakmu sendiri, awas kalau sampai terjadi apa apa sama Ajeng!" Bayu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Ratmi yang mengiba, entah kemana nalurinya sebagai suami dan ayah, hingga tidak sedikitpun ada rasa hawatir akan keadaan anak semata wayangnya.


Dengan dada yang sesak Ratmi hanya bisa memandangi kepergian Bayu yang mulai mengendarai montornya menjauh, penampilannya sangat rapi dan wangi, bahkan Bayu pergi dengan memakai sepatu, tidak mungkin Bayu pergi ketempat kerja, karena hari minggu, pabrik tempatnya bekerja libur. Ratmi mulai curiga dengan sikap Bayu yang berubah drastis, dari uang gaji yang tak lagi pernah jujur dan hanya memberi lima belas ribu setiap hari, dari sikapnya yang mulai kasar, suka main tangan dan berucap kasar, dari yang sudah jarang pulang ke kos, dan kalaupun pulang hanya sebentar, itupun hanya untuk melampiaskan amarahnya pada Ratmi.


Ratmi masih terus berusaha menenangkan Ajeng yang terus menangis, bahkan Ajeng mulai muntah muntah hingga mengeluarkan warna kuning dari untahannya.


" Alloh, ya Alloh nak. Maafkan ibumu. Ibu harus bagaimana?." Ratmi semakin tergugu dengan keadaan Ajeng yang semakin pucat dan mulai lemas.


"Ayo nak, kita ke dokter. Biar nanti ibu bayar dengan cincin kawin ibu, nyawamu lebih penting. Ibu sudah lelah dengan perlakuan ayahmu, ibu janji, setelah kamu sembuh, kita pulang kampung, kerumahnya emak ya nak! Biar kamu tidak terlantar seperti ini." Ratmi bicara sendiri dengan Ajeng yang masih terus menangis, dengan langkah tergesa, Ratmi mengambil dompet dan surat cincin  untuk nanti sebagai alat pembayaran pengobatan putrinya. Karena hanya itulah satu satunya yang Ratmi punya.


Saat Ratmi berjalan mau menuju ke klinik terdekat, Ratmi berpapasan dengan Nunung tetangga kosnya yang tinggal dikamar sebelah Ratmi. Nunung bekerja sebagai satpam di pabrik kertas dan kebetulan sedang kena shif malam. Saat perjalanan pulang Nunung melihat Ratmi berjalan sambil menggendong Ajeng dengan mata yang terlihat sembab, membuat Nunung iba dan berniat untuk menghampiri Ajeng.

__ADS_1


"Mbak Ratmi, mau kemana?." Sapa nunung sopan sambil menatap wajah tetangganya yang terlihat sembab juga Ajeng yang terus menangis.


"Owh mbak Nunung, ini mbak, mau bawa Ajeng ke klinik, badannya panas tinggi dari semalam dan ini muntah terus." Ratmi menjawab dengan suara yang bergetar menahan tangis.


" Ya Alloh, kalau begitu biar aku antar mbak. Ayo naik, biar cepat sampai dan Ajeng segera bisa mendapatkan pertolongan." 


" Alhamdulillah, terimakasih mbak Nunung, maaf jadi merepotkan."


" Sudah, mbak Ratmi santai saja. Kita harus saling tolong menolong, apa lagi ini keadaan urgent, ayo mbak cepet naik." Nunung, melajukan montornya dengan kecepatan yang lumayan, karena Ajeng sudah terlihat pucat. Hanya dengan waktu sepuluh menit akhirnya montor yang dikendarai Nunung sampai ditempat tujuan.


"Sepertinya, pasien harus opname karena sudah sangat lemas. Anaknya harus segera di infus, tapi di klinik ini tidak melayani rawat inap, saya kasih rujukan di rumah sakit manukkan ya Bu, tempatnya nggak jauh kalau dari sini, karena adiknya harus segera ditangani." Dokter menjelaskan pada Ratmi setelah memeriksa Ajeng.


"Mbak Ratmi ayook." Nunung mencolek punggung Ratmi, karena sedari tadi Ratmi terlihat melamun dengan raut kebingungan.


" Iyaaa mbak Nunung, ta  pi ii tuu, anuu" Ratmi tergagap menjelaskan kalau sebenarnya dia bingung tidak memiliki biaya untuk kerumah sakit. Nunung yang langsung paham tanpa banyak bicara langsung menggandeng Ratmi untuk segera meninggalkan tempat menuju rumah sakit, karena Ajeng harus segera diselamatkan.


" Mbak Ratmi tenang saja, aku akan bantu mbak, aku paham keadaan mbak saat ini, ayook, kasihan Ajeng. Sebelum semua terlambat mbak." Nunung berusaha untuk meyakinkan Ratmi kalau semua akan baik baik saja, dengan sikap dan bantuan yang ditawarkan Nunung, membuat Ratmi kembali meneteskan air mata haru juga sedih.


" Makasih mbak Nunung"

__ADS_1


" Sudah mbak Ratmi, ini kita bahas nanti saja. Sekarang kita harus segera membawa Ajeng kerumah sakit."


"Alhamdulillah, trimakasih mbak. Kalau tidak ada mbak Nunung, saya nggak tau seperti apa nasibnya Ajeng." Ratmi menangis sesenggukan disamping ranjang dimana Ajeng dirawat, selang infus sudah terpasang dan Ajeng tertidur karena lelah menangis juga karena pengaruh obat yang diberikan suster tadi.


" Nggak papa mbak, aku paham dan bisa merasakan bagaimana hati mbak Ratmi saat ini, maaf kalau aku tidak sengaja mendengar mas Bayu bicara kasar sama mbak selama ini, kenapa mbak Ratmi masih bertahan dengan kondisi seperti ini? Mbak Ratmi berhak bahagia."


"Jujur saya lelah mbak, dan berniat untuk pergi, tapi saya saat ini sedang tidak punya pegangan sama sekali, entah dengan apa saya akan bayar biaya rumah sakit nantinya nya." Buliran bening masih berjatuhan membasahi pipi mulus Ratmi yang kini nampak tirus.


Nunung menghembuskan nafasnya dalam, sebagai perempuan dia dapat merasakan bagaimana menderitanya Ratmi.


" Insyaallah ada jalan, mbak Ratmi orang baik, dan Ajeng anak yang istimewa, yakinlah pertolongan Allah itu sangat dekat, sedekat urat nadi kita, berdoa dan tetaplah yakin, insyaallah." 


Ratmi merasa beruntung dipertemukan tetangga satu kos seperti Nunung yang begitu baik, bahkan tidak kali ini saja nunung menolongnya, seringkali Nunung memberinya bantuan, bahkan saat Ratmi tak punya sepeserpun rupiah dan Ajeng menangis minta beli jajan. Nunung lah yang selalu membawa Ajeng membeli jajan diwarung depan kos kosan.


" Mbak Ratmi yang sabar, aku akan pulang ke kosan dulu, besok pagi aku akan kembali lagi kesini membawakan baju ganti mbak dan Ajeng. ini terimalah untuk pegangan mbak disini." Nunung menyelipkan uang lima puluhan tiga lembar ke dalam tangan Ratmi sebelum berpamitan.


" Mbak, tidak usah. mbak Nunung sudah banyak membantu saya." Tolak Ratmi sungkan, meskipun Ratmi sangat membutuhkan uang itu, tapi Ratmi tidak ingin terlalu membebankan tetangganya yang berhati peri itu.


" Nggak papa mbak, simpan saja. Aku tau mbak Ratmi membutuhkannya, Insyaallah aku iklas." Nunung pergi dengan senyuman, meskipun hatinya ikut merasakan perih dengan nasib yang dialami Ratmi.

__ADS_1


'semoga Alloh balas lebih dengan semua kebaikan mbak' Ratmi berdoa dalam hati untuk tetangganya yang kini melangkah pergi menuju pulang.


__ADS_2