
Sejak saat itu, pak Hans sering mengirimiku pesan pesan singkat, sekedar mengomentari stori atau membahas soal ilmu agama, dan selama bicara dengan beliau, aku jadi tau karakter pria dua puluh sembilan tahun ini, orangnya tertutup dan tak mudah akrab jika beliau tak berkenan, dan aku adalah salah satu wanita beruntung yang bisa dekat dengannya, aaaah jujur rasa ini semakin dalam tenggelam meskipun hanya ku ungkapkan dalam diam.
' akan ada masanya, dimana semua akan berubah seiring berjalannya waktu, entah berubah seperti yang kita harapkan atau justru sebaliknya.'
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Mas Tomi semakin gencar mendekati ku, namun entah kenapa aku mulai merasa tidak nyaman dengannya, risih dan terkesan seperti dipaksakan.
Setiap saat dia telpon, hanya menceritakan keburukan mantan istrinya, dan jujur itu tidak membuatku nyaman dan mulai ingin menghindari nya. Karena laki laki baik tidak akan mudah membicarakan aib pasangannya, itu menurutku.
"Aku merasa kamu menghindari ku, apa ada yang salah dengan sikapku dek?" Pesan yang dikirim mas Tomi melalui aplikasi watshap satu jam yang lalu, tak ingin berniat membalas nya, karena nanti pasti panjang.
Memilih berbalas pesan dengan Pak Hans, membicarakan soal agama dan bisnis. Nyaman itu yang aku rasakan. Beliau tidak pernah menyinggung soal perasaan, kalem dan begitu menjaga sikap dan ucapannya. Tau menempatkan diri sedang berbicara dengan siapa. Itulah yang membuatku merasa nyaman dan menyimpan perasaan pada pria yang tak seharusnya aku suka.
"Satu Minggu lagi, saya akan berangkat umroh dengan istri. Minta doanya."
sederet kalimat yang mampu membuatku tertegun, betapa beruntungnya wanita yang sudah mendampingi pria selembut dan sebaik pak Hans.
Semoga kelak aku mendapatkan jodoh sebaik beliau.
"Doa terbaik selalu buat bapak dan istri. Titip doa juga, panggil nama saya agar bisa segera menyusul." balasku dengan perasaan yang tak menentu, sampai sampai tangan ini bergetar sangking gugupnya.
"Insyaallah, saya akan panggil nama mbak Innara. Dan semoga bisa merasakan panggilan hati saya disana."
Deg, kalimat ambigu yang membuat jantungku berdebar kencang, antara GR juga tak percaya. Berharap itu sebuah kode perasaan yang ada dihatinya, ya Tuhan berpikir apa aku ini.
"Aamiin, terimakasih, Pak!" hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir ini lewat kata kata uang tertulis dalam pesan singkat.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah ada seminggu tidak ada komunikasi antara aku dan pak Hans, beliau sudah berangkat umroh bersama istrinya, mungkin sedang sibuk dan tidak sempat ingat denganku.
Duh, emangnya siapa diriku.
__ADS_1
Innara, sadar. Ya Tuhan apa ini, perasaan ini kenapa begitu menyiksa.
Saat aku sedang gelisah memikirkan pak Hans dengan berbagai pikiran yang menyiksa.
Tiba tiba ada pesan masuk yang dikirim dari nomor pak Hans dan membuatku langsung tak percaya dengan apa yang aku baca.
"Asalamualaikum, mbak!
Lagi apa?
Kenapa ya, disini saya kepikiran mbak Inara terus menerus, seperti ada magnet yang mendorong hati ini untuk mengingat mbak. Maaf!"
Sederet pesan yang membuatku hampir pingsan. Apakah ini artinya kita punya rasa yang sama, rasa yang kita pendam dan kini harus terungkap. Tuhan, apakah ini benar?
"Waalaikumsallm, bagaimana pak?
apakah saya tidak salah baca?" balasku singkat dengan jantung yang berdetak kencang.
"Tidak, itu apa yang saya rasakan." balasnya tegas dan pasti.
"Jangan dibalas kalau masih ragu. Saya menyukai mbak Innara dari perasan yang terdalam." balasnya lagi dengan disertai emoticon love.
"Apakah itu benar pak?
Saya takut, nanti istri pak Hans salah paham." balasku memberanikan diri.
"Justru saya berani bilang begini, karena saya sudah ijin dengan istri. Sekarang saya sedang duduk bersama istri, di dampingi istri malahan. Mau bicara dengan istri saya?" balasnya lagi, dan langsung membuatku gemetar dengan jantung yang terus berdetak kencang.
"Saya gak berani pak, takut Istri bapak salah paham." balasku lagi.
Dan tiba tiba pak Hans melakukan panggilan Vidio, duh bagaimana ini, jujur aku senang karena kami punya perasaan yang sama, tapi aku takut membuat hati wanita lain terluka karena kehadiranku.
Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya aku menjawab panggilan Vidio dari pak Hans. Dan wajah istrinya yang pertama kali muncul dengan senyuman yang begitu teduh.
__ADS_1
"Asalamualaikum, Mbak!
Kenalkan, saya Hanum, istri pak Hans." sapa perempuan cantik yang mengaku istrinya pak Hans, jujur hatiku sudah berloncatan, antara bingung dan takut.
"Waalaikumsallm, salam kenal Bu, saya Innara." sahutku gugup dan salah tingkah, karena tidak tau harus bicara apa.
"Biasa saja, mbak! saya gak gigit kok.
Suami saya sudah cerita semua tentang mbak Innara, dan tadi juga kita sudah bahas tentang perasaan dan keinginan suami saya, dan kami sudah sepakat dan saling iklas menerima takdir.
Saya ingin melamar kan mbak buat suami saya, di terima?" istri pak Hans bicara dengan begitu lancar dan terlihat tenang, wajah teduhnya membuat diriku menelan Saliva sangking kagetnya.
"Apa, Bu Hanum bercanda?
Saya tidak salah dengar kan, Bu?
Maaf!" sahutku dengan hati berdebar.
"Saya dan suami serius mbak.
Insya Allah saya ridho, kalau mbak Innara menerima lamaran ini, insyaallah sepulang dari umroh kami akan menemui orang tua mbak Innara untuk melamar secara sah." balas istri pak Hans dengan senyuman.
"Saya, saya!" sahutku bingung, mau jawab iya tapi takut, mau menolak itu tidak mungkin karena hati terlanjur nyaman dan memiliki rasa pada sosok laki laki berwajah teduh itu.
"Diterima kan mbak?" pak Hans tiba tiba menimpali dan entah bagaimana aku langsung menganggukkan kepala ini. Dan membuat pak Hans dan istrinya langsung mengucap kalimat Alhamdulillah berbarengan.
"Baiklah, tunggu kedatangan kami ya. Setelah umroh saya dan istri akan meminta ijin pada orangtuanya mbak Innara. Terimakasih mbak." sahut pak Hans dengan senyum manisnya, bahkan terlihat istrinya juga ikut tersenyum dan menatap lembut ke arahku yang masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sepulang dari umroh, Pak Hans memenuhi janjinya untuk datang dan mengkhitbah bersama istri dan keluarganya. Awalnya orang tuaku menolak secara halus, namum istri dan pak Hans berhasil meyakinkan mereka, dan acara lamaran pun berganti dengan Ijah qobul.
Masih tak percaya, jika diri ini sudah sah menjadi istri seorang Pak Hans. Alloh sungguh takdirMu begitu rahasia dan tak terduga.
__ADS_1
Kehidupan rumah tangga antara aku dan istri pertamanya pak Hans begitu harmonis dan saling mengerti juga menghargai, kami bahkan sudah seperti seorang teman tanpa ada rasa bersaing.
END