Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Menggenggam Luka 4


__ADS_3

Setelah kepergian Erik, Ratmi termenung dalam ruangan yang nampak mewah, hanya ada dirinya dan sang anak yang masih terbaring lemah, namun keadaan Ajeng sedikit membaik, Ajeng sudah mulai mau makan dan minum susunya. Ratmi tak menyangka, perbuatan baik yang dilakukan dulu, kini menjadi jalan penolong untuknya keluar dari masalah yang semakin membuatnya tersiksa. Ratmi teringat dengan ucapan Erik beberapa saat yang lalu, yang mengatakan selalu mentransfer uang ke rekeningnya, yaitu ATM yang dulu pernah diberikannya, menurut Erik jumlahnya sudah lumayan banyak, karena setiap bulan Erik selalu mentransfer empat juta buat kebutuhan Ratmi.


Dan selama kurang lebih sepuluh tahun, tapi Ratmi belum sekalipun mengecek isi di dalam ATM itu, dan ATM pemberian Erik tidak pernah dibawanya, Ratmi menyimpannya dirumah orang tuanya yang dikampung.


"Kalau memang apa yang dikatakan Mas Erik benar, itu artinya, isi dalam ATM itu sudah sangat banyak, aku bisa gunakan untuk membuka usaha. Tapi tadi mas Erik bilang kalau beliau akan memberikan aku pekerjaan. Dan Alhamdulillah semua biaya perawatan Ajeng sudah dibereskan oleh mas Erik, sehingga aku tidak lagi pusing memikirkannya. Untuk uangnya Mbak Nunung, nanti aku akan mengembalikannya kalau dia kemari, Alhamdulillah mas Erik tadi juga meninggalkan uang buat aku simpan selama ada dirumah sakit."


Ratmi terus bicara sendiri di dalam hatinya, dan juga tak berhenti mengucap syukur atas keajaiban yang terjadi atas pertolongan Alloh.


Tok tok tok


Ratmi menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka, wajah Mbak Nunung dan beberapa tetangga penghuni kos muncul, datang untuk menjenguk keadaan Ajeng. Mereka sempat bingung lantaran Ajeng sudah pindah ruangan, padahal saat tadi dengan Nunung, Ajeng masih dirawat di kamar kelas nomer tiga.


"Asalamualaikum." mereka semua mengucap salam berbarengan. Dan membuat Ratmi terharu dengan kepedulian tetangga kos nya, sedangkan hingga kini Bayu suaminya juga belum muncul, ponselnya juga masih tidak bisa dihubungi. Tapi Ratmi sudah tidak perduli lagi, tekadnya sudah bulat jika harus memilih meninggalkan Bayu dan mengakhiri pernikahannya yang hanya menimbulkan rasa sakit dan luka yang tak berkesudahan.

__ADS_1


"Waalaikumsallm." balas Ratmi ramah dan menyambut kedatangan tetangganya dengan haru, nampak matanya sudah berkaca kaca menahan tangis yang mendesak ingin keluar.


"Ini mbak Ratmi, tadi ibu ibu minta bareng kesini, semua khawatir dengan keadaan Ajeng.


Dan, kok bisa pindah kesini ruangannya?


ini kan ruang VIP mbak, pasti mahal biayanya." balas Nunung mengeluarkan rasa penasarannya. "Iya mbak Nunung, tadi ada orang baik yang datang menjenguk Ajeng, masih saudara jauh. Beliau yang memindahkan Ajeng ke ruangan ini." Balas Ratmi jujur apa adanya, dan terdengar ucapan Alhamdulillah keluar dari mulut ibu ibu yang ada di dalam ruangan. Mereka ikut senang dan merasa lega, kekhawatiran tentang nasib Ajeng dan Ratmi terjawab, Ajeng justru mendapat perawatan yang sangat baik.


"Mbak, gimana dengan mas Bayu, sudah bisa dihubungi?" Nunung memberanikan diri untuk bertanya tentang keberadaan ayahnya Ajeng yang dinilainya sudah sangat keterlaluan.


"Belum mbak, ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi, sepertinya memang sengaja di matikan. Tapi biarlah, aku sudah tidak perduli lagi, biarkan dia mau melakukan apa, setelah Ajeng sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku berniat untuk pulang ke kampung dan mengurus surat cerai, karena aku sudah lelah dan tak sanggup lagi, bertahan dengan hubungan yang hanya menyakiti hati dan hidupku, aku sudah tidak sanggup lagi mbak." urai Ratmi panjang lebar, melepaskan rasa sesak di dadanya, bagi Ratmi, Nunung adalah tetangga yang baik, hingga dia tak sungkan mengatakan apa yang kini ada dalam benaknya. Dengan lembut Nunung mengusap bahu Ratmi. "Iya mbak, aku bisa paham dengan posisi mbak Ratmi saat ini, jika memang mbak sudah gak sanggup, lebih baik lepaskan. Untuk menjaga mental dan hati mbak Ratmi agar tetap sehat." balas Nunung bijak.


"Oh iya, ini uang Mbak Nunung yang tadi aku pinjam, terimakasih ya mbak, aku gak tau seperti apa nasib Ajeng kalau tidak ada Mbak Nunung." Ratmi mengeluarkan lembaran uang merah beberapa lembar dan disodorkan pada Nunung yang terpaku. Nunung tidak sedikitpun menganggap uang yang diberikan pada Ratmi itu hutang, lantaran dia tulus ingin membantu perempuan malang yang selalu dilihatnya menangis sendirian di dalam kamar, karena ulah suaminya yang tak punya hati.

__ADS_1


"Gak usah mbak, aku iklas ingin membantu mbak dan Ajeng. Uangnya Mbak simpan saja buat kebutuhan mbak yang lain." tolak Nunung halus, namun Ratmi terus memaksa lantaran dirinya sudah merasa memiliki uang yang sangat cukup saat ini.


Nunung mau tidak mau akhirnya menerima uang yang diberikan Ratmi.


Mereka mengobrol hingga larut malam, tak terasa sudah pukul satu pagi, Nunung maupun Ratmi akhirnya memilih untuk memejamkan matanya, mengistirahatkan diri sebelum pagi menyapa.


Pukul lima pagi, Ratmi terbangun dan melihat Ajeng maupun Nunung masih terlelap, Ratmi memutuskan untuk mandi dan melaksanakan kewajiban subuh nya, lantas membangunkan Nunung karena hari sudah menampakkan terangnya.


"Aku pamit pulang dulu ya mbak, insya Allah nanti sore aku kesini lagi. Ajeng, cepat sehat ya nak, biar bisa main lagi." Nunung mengusap pucuk kepala Ajeng dan mencium pipinya sebelum dirinya kembali pulang ke kos kosan. "Makasih ya Tante Nunung, terimakasih sudah menemani Ajeng sama ibu." sahut Ajeng yang sudah nampak lebih segar dan kembali ceria. "iya sayang, sama sama. Tante pulang dulu ya, mau kerja." pamit Nunung pada akhirnya.


Sudah pukul sepuluh pagi, dan sampai saat ini belum juga Bayu menampakkan diri, Ratmi semakin membenci laki laki itu. Dihatinya Ratmi bersumpah, tidak akan pernah Sudi memaafkan Bayu sampai kapanpun, dan berkat bantuan Erik, Ratmi sudah memasukkan gugatan cerai ke pengadilan dengan jasa pengacara yang di sewa oleh Erik. Hanya tinggal menunggu waktu saja, semuanya akan segera berakhir dan Ratmi tak ingin lagi, berhubungan dan mengenal Bayu sampai kapanpun, rasa sakit hatinya sudah terlalu dalam, Bayu sudah menghancurkan seluruh hidupnya dengan tidak perduli sama sekali akan kehidupan Ajeng dan Ratmi.


Bahkan Ratmi diam diam juga mengetahui hubungan Bayu dengan yusnian mantannya Bayu dulu, karena secara tidak sengaja Ratmi membaca pesan yang dikirim Yusni ke ponsel Bayu dengan bahasa vulgar dan membahas hubungan ranjang yang mereka lakukan di belakang Ratmi, sejak saat itu, Ratmi bertekad untuk bangkit dan pergi dari laki laki tak punya hati seperti Bayu. Semua sudah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2