Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Wanita Bercadar, Itu Istriku 2


__ADS_3

Pernikahan diam diam antara aku dan Shanum tidak ada yang tau, kecuali keluarga inti dariku dan Shanum. Aku suka dengan sikap legowo nya istri keduaku itu, tak banyak menuntut dan selalu nurut.


Sejak aku memintanya memakai cadar, Shanum langsung menurutinya, pergi kemanapun dia selalu bercadar, bahkan tanpa aku meminta, Shanum sudah menghapus semua fotonya yang tidak bercadar di sosmed. Bahkan Shanum mulai tidak aktif memposting status, dia mengurangi kegiatan ya dalam bersosmed. Memang dia wanita yang peka dan sangat menjaga perasaanku sebagai suaminya.


Meskipun Shanum dan Sarah tinggal satu kota, tapi aku membelikan rumah dengan jarak yang lumayan jauh, Shanum aku Carikan tempat yang dekat dengan kantor, agar aku bisa pulang kapan saja aku mau saat aku merindukannya. Karena memang, selama ini aku lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Sekarang, aku punya tempat untuk pulang melepas segala lelah dan resah. Biasanya aku akan makan di luar saat masih belum menikah dengan Shanum. Kalau untuk pulang ke Sarah, jaraknya lumayan jauh, harus menempuh perjalanan hampir satu jam, belum lagi kalau macet. Aku biasanya pulang ke Sarah dua hari sekali, dan Sarah sudah terbiasa dengan itu, hingga sedikitpun tidak akan curiga kalau aku sering tidak pulang, dia ajan tetao berpikir aku sedang mengawasi proyek yang sekarang aku kerjakan. Padahal aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Shanum istri keduaku. Waktu seolah berubah jadi berwarna, tiap kali bersama dengan Shanum aku kembali merasakan jiwa mudaku lagi.


Shanum sangat pandai memanjakan diri d Ngan masakannya, belum lagi saat aku kembali pulang dari kerja, setelah menyiapkan air hangat, dia pasti akan membuatkan kopi dan juga cemilan. Biasanya dia akan memijat kaki dan pundakku dengan lembut saat kami sedang bercengkrama sebelum tidur, yang pasti Shanum tau bagaimana cara memanjakan ku dengan segala kelembutannya, itu lah yang membuatku lebih betah bersamanya. Bukan ingin membandingkan, Sarah memang tidak pernah melakukan apa yang dilakukan Shanum, justru akulah yang akan memanjakannya saat aku pulang, meskipun capek aku berusaha membuat istriku nyaman dan merasa dilindungi, karena dia sedang hamil tua dan belum lagi anak pertama kami sedang aktif aktifnya, aku hanya berusaha untuk memahaminya.

__ADS_1


"Bund, bunda betah tinggal disini?" aku bertanya pada istri keduaku saat kami sedang minum kopi di teras belakang, Sedangkan Innara sudah berada di dalam kamarnya. Anak sambung ku itu punya kebiasaan tidur lebih awal, biasanya dia akan tidur antara jam delapan atau sembilan malam, akan terbangun di jam tiga pagi, melakukan shalat sunah tahajud dilanjutkan dengan tadarus hingga suara adzan subuh terdengar. Itulah kebiasaan rutin putri sambung ku, jujur, aku sangat kagum dengan caranya Shanum mendidik Inara hingga dia tumbuh menjadi remaja yang begitu taat dan shalihah.


"Alhamdulillah, senang dan kerasan kang. Lagian dari dulu bunda kan memang tidak suka keluyuran apa lagi ngerumpi ke tetangga. Dengan akang kasih ijin bunda untuk tetap menulis itu sudah buat bunda bahagia sekali. Apalagi akang sudah buatkan toko yang jadi impian bunda, Masya Allah rasanya bahagia sekali, jadi bunda punya kesibukan yang positif. Terimakasih ya sayang." balasnya panjang lebar bahkan terlihat matanya berkaca kaca. Shanum memang punya impian untuk memiliki toko baju kusus muslimah berhijab lebar, sebenarnya aku ingin membuatkan dia butik dengan menggunakan mama brand sendiri, tapi shanum menolak, dia ingin di buatkan toko saja, agar bisa menjual baju baju yang harganya terjangkau, aku sih tak masalah asal istriku senang dan memiliki kegiatan positif di waktu luangnya. Apalagi setelah ini, Inara akan mulai masuk ke pondok pesantren, Shanum pasti akan kesepian dirumah sendiri, semoga saja dia cepat hamil, aku sangat berharap memiliki anak dari rahimnya.


"Alhamdulillah, ayah senang dengarnya. Maafkan ayah ya bund, kalau tidak bisa setiap saat temani bunda, ayah harap, bunda ridho."


"Bund, besok hari Sabtu, ayah akan ke nuju yayasan, ada pengajian rutinan, dan besok itu giliran ayah yang isi dakwahnya. jadi ayah gak pulang ya, baru kembali Minggu malam, tapi ayah pulang ke Sarah, baru Senin nya ke bunda, gak papakan sayang?" memandangi wajah istriku yang terlihat kelelahan karena ulahku, bibirnya melengkung indah, dengan senyum yang selalu membuatku rindu. "Iya, ayah hati hati dijalan ya, gak boleh nakal." candanya dengan merubah posisinya dengan memelukku erat dan meletakkan kepalanya di atas dadaku.

__ADS_1


"Ayah sudah punya dua bidadari, sudah cukup dan insyaallah tidak akan ingin lirik wanita manapun." jawabku jujur, karena bagiku Shanum dan Sarah adalah wanita wanita luar biasa yang tidak akan aku temukan di diri wanita manapun. Memiliki mereka aku sudah sangat beruntung.


πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“


Sabtu pagi aku berangkat ke yayasan yang ada di kota B, harus ditempuh dengan waktu hampir dua jam perjalanan. Lumayan membuat pinggang ini pegal, tapi demi silaturahim dan ikatan persaudaraan sesama penggerak dakwah, selalu membuat langkah ini ringan.


Pukul sepuluh pagi, aku sudah sampai di yayasan sudah terlihat beberapa mobil sahabat yang sudah lebih dulu datang, ada pak Hamzah juga Pak Akbar yang terlihat duduk di teras sambil menyesap rokok, melihat kedatanganku mereka langsung tersenyum dan menyapa. Ternyata kedatangan ku yang paling akhir, setelah aku datang, acara langsung dimulai.

__ADS_1


Setelah acara kajian selesai, kami duduk bersama menikmati secangkir kopi dan bermacam macam cemilan, lagi lagi yang di bahas Shanum istriku, rasanya selalu sesak tiap kali mendengar Shanum jadi bahasan pria pria mapan dan berilmu seperti mereka, apa lagi pak Hamzah yang selalu antusias bahkan akan segera melaksanakan niatnya untuk melamar Shanum. 'Seandainya mereka tau, wanita bercadar yang kalian bahas sekarang, itu adakah istriku, tapi sayang aku hanya bisa diam menyembunyikan pernikahan ini.'


__ADS_2