Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Meraih Restu 4


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu, Sahira semakin memantapkan diri dalam perubahannya, waktu nya lebih banyak di isi dengan belajar agama. Dan kesehariannya adakah membantu menjaga salah satu butik mamanya, yang sekarang kusus menjual pakaian syar'i.


Saat jam makan siang, secara gak sengaja Sahira melihat Zaki dan uminya bertandang di butik miliknya, namun Zaki maupun uminya tidak tau kalau butik yang mereka singgahi adalah butik milik orang tuanya Sahira. Karena memang butik yang saat ini dipegang Sahira, baru saja dibuka beberapa bulan yang lalu, dan menjual pakaian kusus wanita bercadar.


Sahira menatap sendu ke arah laki laki yang terlihat begitu menawan di balik kaca ruangannya. Namun netra Safira semakin menajam tatkala melihat kedatangan wanita ayu, yang langsung bergabung dengan Zaki dan uminya, bahkan wanita itu nampak akrab berbincang dengan uminya Zaki. Dan yang membuat Sahira tak percaya, saat matanya menangkap pemandangan yang begitu menyayat perasaannya, wanita itu dengan santai menggamit lengan sang pria pujaan.


Sahira tercekat, pikirannya mulai lelah, "Apakah dia Istrinya?" pertanyaan itu terus menari di pikiran Sahira.


Roda waktu kehidupan terus berputar


Melaju ke depan tanpa rasa gentar


Kita pun kian terbawa dan tiada kan pernah bisa menghindar..


Menghadapi serangan problematika kehidupan yang begitu gencar..


Hidup ini kadang begitu susah


Disaat rencana indah terhentikan oleh suatu masalah...


Dada pun terasa sesak, seakan tercekik rasa resah...


Hati pun merintih di jiwa yang lelah..


Walau perih hidup ini harus dijalani


Tetap berencana, berusaha dan perbaiki diri...

__ADS_1


Selebihnya, biarkan Tuhan yang tentukan sisa takdir ini..


Jalani sebaik-baiknya, terimalah hasilnya nanti...


Hari pun terasa panjang disaat masalah datang..


Indahnya dunia seakan redup,


bagai bayang-bayang..


Langkah kaki pun begitu terasa melayang...


Dikala semangat hidup seakan mulai menghilang...


Kaulah Penyemangat ku... Dan kini semangat itu kau patahkan dengan menghadirkan perempuan lain di sisimu.


Tak terasa air mata Sahira mengalir begitu saja, membasahi cadar yang menjadi penutup wajahnya.


Ketukan di pintu kaca ruangannya telah membuyarkan lamunannya, Sahira melangkah dengan anggun, namun terlebih dulu membersihkan sisa air matanya sebelum pintu ia buka.


"Permisi Bu Sahira, ada yang mau bertemu dengan ibu, katanya mau memesan gamis dengan jumlah banyak." sambut salah satu karyawatinya setelah Sahira membukakan pintunya.


"Baiklah, mbak. Persilahkan mereka menemui saya di dalam, dan bawa contoh gamis yang ingin dipesan ya." bakas Sahira lembut. Berusaha bersikap setenang mungkin, menguasai hatinya agar tidak larut dalam nelangsa. Lagian sekarang Sahira menutup wajahnya, bisa saja Zaki maupun uminya tidak tau kalau itu dirinya.


"Permisi, silahkan Bu. Bu Sahira sudah menunggu di dalam." salah satu karyawati yang memakai pakaian sangat tertutup mengantarkan Zaki dan uminya masuk kedalam ruangan Sahira, dan terlihat Sahira sudah duduk dengan anggun di salah satu sofa yang melingkar.


Tiba tiba Zaki terpaku, menatap manik bening perempuan bercadar di hadapannya, Zaki begitu merasa mengenalnya, sorot mata yang masih sekalu ia rindukan.

__ADS_1


"Apakah dia Sahira yang sama, Sahira ku?" batin Zaki bergejolak dalam pikirannya. Namun sebisa mungkin Zaki berusaha untuk menutupi kegelisahannya, karena bagaimanapun saat ini ada hati wanita lain yang harus ia jaga, yaitu istrinya. Wanita yang jadi pilihan orang tuanya.


Fatimah Azahra, perempuan cantik yang memiliki kulit putih mulus, anggun dan penuh pesona, anak seorang kiyai dari pondok Jombang. Pernikahan mereka digelar begitu meriah di rumah keluarga wanita, dan juga akan di adakan acara syukuran besar besaran di kediaman orang tua Zaki. Maka dari itu, mereka sedang mencari gamis yang cocok untuk jadi seragam buat keluarga besarnya.


Sahira dengan sangat ramah menyambut kedatangan tamunya, meskipun hatinya begitu perih, Sahira tidak mau terlihat lemah. Berpura pura tidak mengenal Zaki dan uminya. Namun tanpa Sahira sadari, Zaki sudah bisa mengenalinya, namun lebih memilih diam dan menahan duka di dalam hatinya seorang diri.


"Sahira, akhirnya kita kembali dipertemukan oleh takdir dengan keadaan yang seperti ini. Saling tidak mengenal, saling berdiam dan memilih tak menyapa, pura pura tidak mengingat rasa yang mungkin masih sama. Aku tau, kamu kecewa dari sorot tatap matamu, namun tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengikuti perintah orang tuaku, semoga kelak, Kamu mendapatkan laki laki yang lebih baik dariku, kamu berhak bahagia dan mendapatkan yang terbaik, Sahira." batin Zaki terus bergumam dengan kepala yang ia tundukkan sedari tadi, takut matanya tidak bisa menahan pandangannya dari wanita yang masih kuat mengisi hatinya.


Pun Sahira, berusaha tidak melihat sedikitpun ke arah pria yang masih menguasai hati juga pikirannya, namun kenyataan membawanya harus segera melepas perasaan itu, harapannya kandas seiring perih akan kehadiran wanita lain.


Umi memilih beberapa gamis dengan berbagai model, dan memesan dalam jumlah yang tak sedikit di setiap modelnya, bahkan umi juga Fatimah juga memesan beraneka macam cadar, Fatimah tiba tiba memutuskan untuk memakai cadar setelah ini, tanpa Zaki sadari, Fatimah bisa merasakan kegelisahan antara Zaki dan gadis pemilik butik. Karena itulah Fatimah ingin merubah penampilannya, untuk membuat suaminya merasa dijaga dan dihargai, karena kewajiban seorang istri untuk menjaga kehormatan suaminya, menjaga aurat salah satunya.


Setelah selesai menentukan jumlah dan harga, Zaki dan keluarga berpamitan. Tak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir seorang Zaki, bungkam dan membisu, Zaki terlalu sibuk menguatkan hatinya agar rasa gelisah dan sakit itu segera pergi dan tak ada lagi kecewa dengan namanya takdir.


Saat Fatimah berpamitan untuk ijin ke toilet, Zaki di hampiri sang ibu, dan bahunya di usap dengan begitu lembut.


"Umi tau, kamu pun menyadari kehadiran Sahira." Zaki langsung menatap ke arah uminya dengan mimik terkejut, ternyata uminya juga tau kalau pemilik butik ini Sahira, wanita yang dulu ditolaknya.


"Jadi umi juga tau?" sahut Zaki dingin. Kecewa itulah yang kini Zaki alami.


"Iya, umi tahu. Mata dan suaranya masih sangat umi ingat dengan jelas. Dia Sahira yang sudah menjelma menjadi perempuan kuat dan shaleha, umi kagum dengan perjuangan gadis itu. Tapi sayang, takdir kalian tidak untuk bersama. Lupakan dia, dan mulailah hidup dengan menerima Fatimah di hatimu, jangan sekali kali kamu berbuat dzolim pada istrimu, dengan masih memikirkan perempuan lain yang bahkan haram untuk kamu harapkan.


Umi harap kamu paham dengan maksud umi. Relakan dia, semoga dia mendapatkan jodoh yang lebih baik." Zaki terdiam mendengarkan kalimat demi kalimat yang uminya lontarkan.


"Iya, umi. Insyaallah, Zaki paham."


Zaki melangkahkan kakinya keluar meninggalkan butik, berusaha membuang semua harapan dan bayangan Sahira.

__ADS_1


'Cintaku akan tetap tertinggal, meskipun ragaku tak lagi bisa tinggal. Maafkan aku yang tak bisa meraih Restu itu.'


Selesai.


__ADS_2