
Aruna, gadis berusia sebelas tahun, harus mengalami nasib kurang beruntung, hidup pas Pasan bersama sang ibu. Tak tau apa itu indahnya dunia remaja.
Aruna dipaksa untuk bisa menerima keadaan, meskipun sebenarnya dia memiliki ayah yang punya kehidupan cukup. Tapi sayang, ayahnya sudah kepincut wanita lain dan pergi meninggalkan Aruna bersama ibunya tanpa mau perduli lagi dengan nasib Aruna.
Bu Ratna, bekerja sebagai buruh cuci gosok di desanya, beberapa tetangga memakai jasanya ada yang kasihan ingin menolong dan ada yang memang benar benar membutuhkan tenaganya.
Bu Ratna hanyalah lulusan SMP, tak ada yang bisa dia lakukan selain bekerja kasar, sebenarnya Bu Ratna perempuan cerdas dan serba bisa, keadaan lah yang memaksanya harus melakukan pekerjaan kasar itu. Tak ada pilihan lain.
Bu Ratna hidup sebatang kara, tak ada saudara ataupun keluarga. Memiliki anak yang beranjak remaja, membuatnya was was dan tidak berani meninggalkan Aruna sendirian dirumah tanpa pengawasan nya.
Apapun akan Bu Ratna lakukan, asalkan anaknya tidak kekurangan dan kebutuhannya tercukupi.
Kehidupan nya yang miskin, membuatnya tidak memiliki teman, namun tak masalah bagi Bu Ratna, asal dia masih bisa mencari nafkah untuk anaknya tercinta.
Aruna sekolah kelas enam SD, tiap hari Bu Ratna mengantar jemput dengan motor matic nya.
Mereka hanya hidup berdua, saling menjaga dan menyayangi.
"Bu, sebentar lagi, Aruna mau masuk SMP. Kalau ibu tidak punya uang, tidak apa apa Aruna tidak sekolah, Aruna akan bantu ibu jualan saja, bantu ibu cari uang." percakapan Ratna dan Aruna beberapa hari yang lalu, sebelum Aruna jatuh sakit karena tertabrak motor saat menyebrang.
Lukanya tidak terlalu serius, hanya lecet lecet di bagian tangan dan kakinya, tapi cukup membuat Aruna tidak bisa bergerak karena seluruh badannya sakit semua.
Perempuan cantik dan masih muda, Masayu, Nama perempuan yang waktu itu menabrak Aruna.
Masayu bekerja jadi perias pengantin, ramah dan lembut, Masayu mempertanggung jawabkan perbuatannya, membawa Aruna berobat dan membiayai semua perawatan Aruna dirumah sakit, bahkan Masayu juga memberikan uang permintaan maaf sebesar satu juta pada ibu Aruna.
Awalnya Ratna menolak, tapi Masayu terus memaksa dan bahkan Masayu selalu datang menjenguk Aruna setiap hari.
Hati Masayu merasa iba melihat kehidupan Ratna dan Aruna, dia berjanji akan menjadi teman baik buat Ratna dan mengajaknya bekerja ikut dengannya. Entah kenapa, saat pertama kali melihat Aruna, Masayu begitu menyayangi anak itu, Masayu melihat ada luka disorot gadis kecil itu.
__ADS_1
Ratna termenung menatap nanar ke arah jendela, air matanya jatuh membasahi wajah kusamnya, Ratna sebenarnya cantik, tapi keadaan membuatnya tidak mampu merawat wajahnya, sehingga kecantikan yang dimiliki terlihat pudar oleh kusamnya kulit.
"Kamu keterlaluan, Mas. Disana kamu hidup kecukupan dengan wanita itu, dan kamu memenuhi semua kebutuhan wanita mu dan anaknya, kalian hidup bahagia dan enak. Tanpa kamu memikirkan Aruna ku, anak kandung, darah daging kamu."
Ratna tak bisa menahan sesak di dadanya, sakit hatinya terlalu dalam pada laki-laki bernama Damar, mantan suaminya.
Damar pergi meninggalkan Ratna saat usia Aruna masih tiga tahun, Damar lebih memilih pelakor yaitu janda beranak satu teman satu kerjaan sama Damar. Tak ada yang bisa Ratna lakukan selain mengiklaskan, karena hatinya tidak bisa menerima jika harus dimadu, apa lagi perempuan itu sangat tidak tau malu dan tak punya hati.
Tak ingin menambah sakit hatinya, Ratna lebih memilih bercerai dan melepaskan Damar, karena selingkuh itu adalah penyakit yang tak bisa disembuhkan.
Sejak saat itu, Ratna berjuang sendirian membesarkan Aruna meskipun dengan keadaan serba kekurangan, namun ketaatan dan keyakinan Ratna begitu besar terhadap Tuhannya. Ratna yakin suatu saat dia akan meraih kebahagiaan bersama putrinya.
Sejak berpisah hingga Aruna kini berusia sebelas tahun, Damar tidak sekalipun menemui anaknya, jangankan bertemu, ingat menafkahi pun tidak.
"Asalamualaikum." tiba tiba Masayu sudah ada di dekat Ratna dengan tatapan iba.
Ratna kaget dengan kedatangan Masayu yang tiba tiba, malu karena Masayu melihatnya menangis.
Masayu menatapnya iba, wanita cantik itu tersentuh hatinya dengan nasib Ratna yang begitu miris, hidup sebatang kara dan harus berjuang untuk anak perempuannya, Tanpa ada tempat buat bersandar.
"Nangis saja mbak, tidak usah malu. Aku akan menemanimu, cerita lah, dan keluarkan semua sesak di hatimu, aku akan jadi teman mbak, dan berjanji tidak akan mengatakan apapun pada orang lain."
Masayu mengusap lembut wanita dihadapannya, matanya ikut berkaca kaca, seolah bisa merasakan kesedihan Ratna.
Baru kali ini, ada seseorang yang perduli dengan nasibnya, baru kali ini ada seseorang yang datang padanya penuh kasih sayang, baru kali ini ada seseorang yang menawarkan diri berteman dengannya. Ratna semakin terisak, haru, sedih dan sesak bercampur jadi satu.
"Menangis lah, tapi setelah ini, berjanjilah untuk tidak menangis lagi, harus kuat demi Aruna, demi bahagia dan masa depan Aruna." Masayu terus memberikan kekuatan untuk Ratna agar menjadi wanita tangguh, wanita kuat yang tak mudah menyerah oleh takdir.
Masayu juga seorang janda yang ditinggal selingkuh suaminya, tapi bedanya, Masayu dari keluarga kaya, tentu hidup dan nasibnya berbeda jauh dengan Ratna yang memang terlahir dari keluarga miskin dan terbiasa hidup mendiri, berjuang sendiri.
__ADS_1
Setelah mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya, Ratna terdiam, menatap Masayu dengan sayu dan kagum, wanita cantik yang usianya lebih muda darinya namun memiliki hati begitu baik, tak perduli dengan kasta dirinya yang dianggap rendah oleh sebagian orang. Miskin.
"Aku kesini, mau melihat keadaan Aruna, mbak!
Gimana, apa dia sudah baikan? Dan ini aku bawakan susu, buah dan cemilan buat dia. Gak tau kenapa aku tuh keingat terus sama Aruna, senyumnya itu loh, ya Alloh aku suka banget, apa aku rindu punya anak perempuan kali ya. Sedangkan anakku laki laki juga seusia Aruna, tapi ikut dirumah budhenya, jarang sekali mau tidur di rumah." terang Masayu dengan senyum sumringah, dan berharap, Ratna bisa sedikit terhibur dengan celotehannya, karena merasa dihargai dan di pedulikan.
"Alhamdulillah, Aruna sudah membaik keadaannya, sekarang sedang ada di kamar, tidur. Tadi habis minum obat." Balas Ratna dengan suara parau, sisa habis menangis.
"Mbak!"
Masayu menaruh tangannya di atas punggung tangan Ratna yang di taruh di kedua pahanya.
"Aku menawarkan pekerjaan sama Mbak Ratna, aku harap mbak gak tersinggung ya?" sambung Masayu hati hati, takut jika Ratna merasa tersinggung dengan tawarannya.
"Tersinggung kenapa, Mbak?
justru aku bingung, pekerjaan seperti apa, aku ini cuma lulusan SMP loh." Sahut Ratna menunduk sedih.
"Eh, gak masalah. Mau SMP, atau SD.
Asal ada kemauan dan pekerja keras, semua pasti akan sukses. Aku mau ajak mbak ikut aku rias, bantu bantu gitu. Nanti aku kasih sangu, sesuai dengan job. Gimana?" tawar Masayu serius.
"Mbak Masayu yakin mau ajak saya?
Saya gak bisa rias loh, dandan buat diri sendiri saja gak pernah." balas Ratna jujur.
"Gak papa, mbak Ratna gak harus merias. Cukup bantu bantu aku saja, misalnya bantu gantiin baju pengantin, nyiapin alat alat make up dan bantu beres beres, seperti itu loh mbak. Gimana?" Masayu menjelaskan apa yang harus dikerjakan Ratna jika ikut dirinya.
"Wah, kalau begitu, saya mau mbak. Terimakasih ya." balas Ratna senang dan mengucap syukur berulang kali.
__ADS_1
Masayu tersenyum, merasa lega bisa membantu Ratna. Dalam hati Masayu berjanji akan merubah penampilan Ratna dan juga Aruna. Dan membantu mereka agar dapat hidup dengan layak.