Coretan Pena Hawa

Coretan Pena Hawa
Ayahku memilih anak pelakor nya 3


__ADS_3

Damar langsung bungkam, karena apa yang diucapkan Ratna memanglah kenyataan. Tapi Damar sedikitpun tidak merasa bersalah sama sekali, justru dia berganti menyalahkan Ratna yang bodoh tidak mau dimadu, jadi bukan dia yang salah.


"Kamu saja yang waktu itu bodoh, tidak mau menerima Ana jadi istriku, kan kamu sendiri yang minta cerai, kenapa sekarang menyalahkan aku karena tidak memberi anakmu uang nafkah?


Enak saja, bisa bisa kamu yang memakai uangku buat senang senang dengan laki laki lain. Aku gak bodoh, Ratna!" sahut Damar merasa apa yang dilakukan adalah sebuah kebenaran.


"Aku bodoh kata kamu?


Justru aku bodoh kalau aku menuruti keinginanmu waktu itu, menerima pelacur itu jadi maduku!


Emang siapa kamu? Gaji baru naik sedikit saja sudah berulah. Bahkan kamu hanya memberiku nafkah Lima ratus ribu, dengan alasan uang kamu hanya sisa segitu, tapi kenyataannya kamu justru menghidupi pelacur itu dengan anaknya, aku tidak bodoh, Damar!


Aku hanya menyelamatkan diriku dari tekanan mental dan penderitaan yang kamu ciptakan. Aku masih ingin hidup bahagia dan nyaman dengan anakku."


Ratna memberi penekanan di setiap kalimat yang ia lontarkan, marah, kecewa, benci dan dendam pada sosok laki laki di depannya sudah mendarah daging. Tapi justru Damar sedikitpun tak tersentuh hatinya untuk menyadari kesalahannya.


"Kayak kamu sudah jadi perempuan paling bener saja, buktinya lihat kamu, bisa pakai baju bagus dan wajahmu juga mulus. Emang kamu bisa kerja apa? jadi orang kantoran? mana mungkin, wong kamu cuma lulusan SMP saja! Paling juga jual diri!"


Damar menghina Ratna serendah rendahnya, membuat dada Ratna semakin sesak dan ingin sekali mencabik mulut laki laki yang sudah seperti comberan itu. Saat Ratna akan membalas ucapan Damar, Masayu mencegahnya dengan menggelengkan kepala. Ratna menurutinya dan memilih bungkam.


"Apa kamu sebagai laki laki dewasa tidak malu, bicara seperti itu kepada ibu dari anak kamu?" Tiba tiba Masayu ikut menimpali obrolan Damar dengan Ratna. Masayu sudah tidak tahan mendengar kata kata menyakitkan dari mulut laki laki tak punya moral seperti Damar.


"Siapa anda, kenapa ikut campur urusanku dengan Ratna?" sahut Damar kesal dengan rahang mengeras.


"Saya partner kerjanya mbak Ratna, kami mencari uang dengan cara halal, kerja keras, banting tulang, dengan tenaga dan otak dengan cara yang terhormat. Bukan jual diri seperti yang anda sebutkan tadi!" Sahut Masayu tajam, kekesalannya pada Damar membuatnya kehilangan kendali. Karena manusia seperti Damar tidak bisa untuk diajak bicara baik baik.

__ADS_1


"Emang apa yang bisa dilakukan orang kayak Ratna itu, gak usah sok jadi pahlawan ya anda, dengan cara menutupi perbuatan zina wanita itu." tunjuk Damar pada Ratna yang sudah merah padam menahan gejolak emosi di dadanya. Hinaan demi hinaan terus dilontarkan Damar kepada Ratna, lantaran Damar tidak terima melihat Ratna terlihat semakin cantik dan begitu mempesona, merasa tak terima karena Ratna tidak mau kembali padanya dan istrinya yang sekarang tidak secantik Ratna saat ini. Itulah yang sebenarnya ada di pikiran Damar.


"Keterlaluan kamu, Damar!" teriak Ratna yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya.


"Sabar mbak! Biarkan saja anjing menggonggong. Toh apa yang dia tuduhkan tidak benar sama sekali. Mungin dia sakit hati melihat mbak lebih cantik dari wanitanya yang sekarang, lebih tepatnya iri dan menyesal. Bukankah seperti itu, pak Damar?" Masayu tiba tiba melontarkan ucapan yang membuat Damar salah tingkah, karena apa yang dituduhkan Masayu sangat tepat dengan apa yang ada dipikiran Damar.


"Perempuan itu kenapa bisa membaca pikiranku? ah sial!" sungut Damar di dalam hatinya.


"Saya dan mbak Ratna punya bisnis rias pengantin, satu orang saja yang menyewa jasa kami, kami sudah bisa mengantongi uang juta-an, jadi jangan pernah sekali kali anda bicara sembarangan, atau anda ingin kami laporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik?" Masayu menatap tajam ke arah Damar yang langsung terlihat salah tingkah dan tak lagi bisa berkutik. Matanya menatap Ratna penuh damba. "Menjijikkan" batin Masayu kesal.


"A ku, ti dak bermaksud be gi tu ta di." sahut Damar tergagap, kini pandangannya begitu fokus menatap mantan istrinya yang memang terlihat sangat berbeda. Terlihat lebih cantik dan segar.


"Kembalilah denganku Ratna, kalau kamu mau, aku akan ceraikan Ana sekarang juga. Dia sudah gendut dan tak sedap di pandang, beda sama kamu yang terlihat semakin muda dan cantik." Damar bicara seolah tidak pernah terjadi apa apa, padahal baru saja dia menghina Ratna dengan begitu rendahnya.


"Siapa yang Sudi kembali dengan laki laki seperti kamu, melihat kamu saja rasanya sudah membuatku pingin muntah." Sahut Ratna membalaskan sakit hatinya, hinaan diganti dengan hinaan. Damar langsung melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang Ratna katakan pada dirinya. Sedangkan Masayu hanya menjadi pendengar sambil menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi Damar.


"Aku ingin bertemu dengan Aruna, aku tidak akan pergi sebelum bertemu dia. Dan aku akan tanya sama Aruna, apakah dia mau menerimaku jadi ayahnya, kalau dia mau, kamu harus mau menikah lagi denganku." balas Damar lancar dan percaya diri. "Dasar laki laki sakit, otaknya miring!" batin Masayu tak habis pikir.


"Asalamualaikum." Suara Aruna memecah kebisuan diruang tamu, Aruna baru pulang dari sekolahnya, tadi dia minta untuk tidak dijemput, karena akan pulang bareng temannya. Aruna terlihat semakin dewasa dan cantik. Kulitnya putih, hidung mancung, bibir tipis, dan memiliki tinggi tubuh yang semampai.


Damar tertegun melihat pertumbuhan anaknya yang tidak pernah dia tau, dulu dia meninggalkan Aruna kecil saat masih berusia tiga tahun, sekarang sudah menjelma jadi gadis remaja yang begitu cantik. Bahkan Aruna tidak menoleh ke arahnya, tidak mengenalnya sama sekali.


"Aruna, ini ayah nak. Sini Salim sama ayah!" Damar memperkenalkan diri pada putrinya yang sudah ia abaikan selama bertahun tahun.


Aruna terdiam, menatap Damar sekilas, lalu beralih pada ibunya yang bersikap tenang dan biasa saja.

__ADS_1


"Ibu, apakah benar itu ayah?" Aruna bertanya pada ibunya dengan raut yang tak biasa.


"Iya nak, itu ayahmu." balas Ratna tenang dan menggenggam jari jari tangan putrinya, berusaha untuk membuatnya tenang dan menguatkannya.


"Iya, Aruna! Ini ayah, nak! kemarilah, ayah kangen sama kamu!" sahut Damar haru dan menatap kagum pada putrinya yang cantik.


"Maaf, Aruna tidak punya Ayah!


Aruna hanya tau, kalau Aruna hidup dengan ibu. Ibu yang selalu ada untuk Aruna, ibu yang sudah membesarkan dan berjuang untuk Aruna selama ini. Maaf, saya tidak mengenal anda. Pergilah ke keluarga anda yang sudah membuat anda lupa kalau saya ini adalah anak perempuan anda, yang selama ini sudah anda abaikan.


Maaf hatiku sudah terlanjur meyakini, jika ayahku sudah mati,. sejak dia tidak pernah mengingatku lagi, ayahku lebih memilih anak pelakor nya dari pada saya anak perempuannya, anak kandungnya!"


Balas Aruna dengan tegas dan penuh kilatan kebencian di sorot matanya yang tajam.


Ratna, Masayu dan Damar langsung tertegun mendengar penuturan gadis remaja yang begitu tegas dengan kecewa yang begitu dalamnya.


Ratna sendiri tidak menyangka, kalau putrinya akan bersikap seperti itu, bahkan kata demi kata yang Aruna lontarkan begitu menyiratkan kebencian yang mendalam di hatinya untuk laki laki yang harusnya disebut ayah olehnya.


"Aruna, maafkan ayah, nak!" balas Damar memelas menatap kilat benci disorot mata putri yang selama ini di abaikannya, dan lebih memilih membesarkan anak dari wanita selingkuhannya.


"Maaf, Baiklah. Saya sudah memaafkan anda tapi saya tidak bisa mengingat kalau anda adakah ayah saya, yang saya tau, saya hanya punya ibu! Ibu yang sudah merawat dan membesarkan saya selama ini, dengan doa dan air matanya. Pergilah, temui anak dan istri lain anda yang ada di sana. Asalamualaikum."


Aruna tak lagi ingin banyak bicara dengan ayah kandungnya, karena itu akan semakin melukai hati dan jiwanya. Aruna melangkah masuk ke dalam kamarnya lalu menutupnya rapat, seperti halnya hatinya yang juga sudah tertutup rapat dari kehadiran sang ayah.


"Pergilah, Mas! jangan tambah luka hati kami lagi. Pergilah ke rumah wanita yang sudah kamu pilih, sehingga kamu tega menelantarkan kami. Pergilah, biarkan hidup kami baik baik saja tanpa kehadiran kamu." sambung Ratna dingin.

__ADS_1


Damar tertegun, menyesali kebodohannya, tapi semua sudah tidak ada gunanya. Ratna dan Aruna sudah begitu dalam terluka, karena derita yang ia ciptakan.


Selesai.


__ADS_2