
Cinta apakah yang telah mengambil seluruh tempat di hatimu? Siapa yang paling sering kau ingat? Maka itulah yang paling banyak di hatimu.
Mungkinkah engkau terlalu sering mengingat, mendamba dan memuja seorang makhluk. Hingga siang di lamun hayal. Malam termimpi mimpi.
Mungkinkah cinta shobwah yang telah melebur bersamamu hingga mata hatimu menjadi buta.
Dia hadir bersama nafsu. Laksana seorang penjajah.
Akhirnya lupa terhadap siapa yang lebih pantas memenuhi jiwa. Pantaslah derita tiada henti. Luka makin menjadi.
Suaranya adalah rintihan tak terdengar.
Karena Sang Pemilik dan Penguasa jiwa tidak di tempatkan di dalamnya.
Bila cinta shobwah telah menjajah (jiwa). Gelap, buta menyelimuti. Karena tiada mahabbatullah sebagai penerang. Hingga tertatih tak tau arah. Akhirnya jatuh dalam derita.
Karena mencintai Allah maka cinta itu menghampiri. Namun kenyataannya cinta itu malah menjauhkan dari Allah.
Bagaimana mahabbah itu hadir. Sedangkan cinta lebih besar kepada manusia. Cinta karena Allah itu hanya akan hadir ketika dua insan sama sama mencintai Allah dengan lisan, jiwa dan perbuatan. Bertemu karena mencintai yang Satu. Karena siapa yang mencintai Allah. Pasti akan menjaga dan takkan melukai orang yang dicintai. Akan dijumpai tarbiyyah dalam cinta.
Setiap insani, punya hak untuk berharap. Selepas seperti apa yang akan di jalani. Demikian juga dirimu, wanita dewasa nan cantik.
Lubuk hatimu tersimpan rindu untuk bahagia bersama sang pujaan hatimu. Berdua satu atap dalam nikah. Berbunga cinta mekar pada kasih sayang suami istri.
Namun semua tak seperti yang dibayangkan, hadirmu di tengah sanak saudaranya seperti enggan di terima, buat kerenggangan pada ikatan.
Ketegasannya yang kau butuhkan, terbawa aliran sungai, tak kau temukan walau perlakuan tak adil kau terima.
Meski berat dan terpaksa, dirimu memilih kembali pada ayah bunda. Sambil dalam doa berharap, semoga ada kebaikan hati mereka menyadari…..agar indahnya cintamu bersamanya dapat menyatu kembali dalam ikatan pasangan halal.
Entah kapan harapan itu akan terwujud dalam nyata, tetaplah terus berdoa dengan segenap harap di setiap sujud dan istighfar mu.
__ADS_1
Kau mampu mengendalikan rasamu dengan keikhlasan yang terus kau pupuk, yakinlah jika cintamu tak akan menemukan kesiaan selama kau masih berada di jalan yang lurus dengan tetap memegang prinsip mu sebagai muslimah sejati, menjaga marwah mu sebagai wanita beriman agar kesucian tetap terjaga untuk lelaki halal mu.
Sahira, gadis berusia dua puluh enam tahun, lulusan universitas ternama dengan nilai sempurna, berkulit putih dengan mata lebar mempunyai bulu yang lentik dengan alis tebal, kecantikan yang sempurna untuk wanita namun tidak dengan kisah cintanya.
Sejak kisah percintaannya mengalami kegagalan, Sahira memutuskan untuk menutup hatinya pada cinta yang di tawarkan oleh beberapa laki laki, bukan hatinya saja yang di tutup, Sahira juga telah menutup wajahnya dengan niqap. Hatinya sudah terlanjur terpahat untuk satu nama yaitu ustad Zaki, lelaki kharismatik yang memiliki segudang prestasi dengan bisnis di mana mana.
Terhalang restu yang memisahkan kisah di antara mereka, Zaki yang tak memiliki keberanian untuk menentang keputusan orang tuanya memilih diam dan menerima meskipun hatinya harus terluka. Sadar jika restu orang tua salah satu jalan menuju rumah tangga yang bahagia.
Menempatkan nama Sahira di lubuk hatinya, Zaki ingin memintanya diam diam pada sang pemilik hati, hanya pada restunya cinta yang tak mungkin itu akan menjadi mungkin dengan namanya takdir.
Sejak penolakan itu, Sahira tidak lagi bertemu dengan ustadz Zaki, jarak kian jauh terbentang namun tak menjadikan cinta di hati Sahira luntur, ia percaya jika cintanya akan menemukan jalan di suatu saat nanti. Kini yang ingin ia lakukan hanyalah memperbaiki diri dengan penuh sungguh, yang ia tau soal jodoh ialah wanita baik akan bertemu dengan laki laki baik pula, pun dengan sebaliknya.
Meskipun nanti jodohnya bukan pada ustadz Zaki, Sahira sudah siap dengan hatinya agar tidak menyalahkan takdir, namun jika takdir mempersatukan mereka Sahira sudah mempersiapkan diri agar pantas berdampingan dengan laki laki pujaannya kelak.
Sakit hati dan kecewa tentu Sahira rasakan, namun gadis itu lebih memilih diam dan menyimpannya sendiri, semua ia jadikan sebagai teguran untuk dirinya belajar menjadi lebih baik lagi.
Siang itu saat Sahira pulang dari butik milik ibu nya, Sahira bertemu dengan Zaki yang sengaja menunggu dirinya untuk menyampaikan sesuatu, entah kenapa perasaan Sahira tetiba tak enak, akan terjadi sesuatu hal yang membuatnya menangis, batinnya pun mendadak pilu.
“Asalamualaikum Sahira.” Sapa ustad Zaki mengawali obrolan dengan intonasi yang begitu lembut, hingga membuat dada Sahira berdesir.
“Waalaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh ustadz.” Balas Sahira lembut dengan pandangan yang di tundukkan, hatinya tiba tiba di penuhi desiran halus yang mencipta nelangsa.
“Sahira, boleh saya meminta waktu barang sebentar saja, ada yang ingin saya sampaikan perihal hubungan kita.” Zaki tak berani menatap wajah ayu wanita di hadapannya, dengan hati nyeri Zaki membuang pandangan kearah kiri dengan menatap para pedagang kaki lima yang berjejer di seberang jalan sana.
__ADS_1
Sahira dengan ragu mengiyakan dan menunjuk kursi besi panjang yang ada di pinggir taman tak jauh dari tempat mereka berdiri, tanpa ada satupun yang mengeluarkan suara mereka melangkah dengan batin sendu.
Zaki berjalan mengikuti langkah Sahira yang lebih dulu berjalan di depannya dengan kepala yang masih menunduk, antara rela dan tak rela, namun permintaan umi nya tak bisa di tolaknya dan hari ini Zaki harus menyelesaikan hubungannya dengan gadis yang masih kuat mengisi ruang rindu di hatinya yang terdalam.
Zaki mengambil tempat di ujung kursi sebelah kiri dan pun sahira juga melakukan hal yang sama duduk di ujung sebelah kanan dengan pandangan sama sama lurus ke depan. Hening tanpa ada suara di antara mereka, sibuk dengan pikirannya masing masing.
“Sahira maafkan saya, mungkin hubungan ini harus selesai sampai di sini. Maaf.” Zaki tak mampu meneruskan ucapannya, dengan dada bergemuruh ustadz tampan itu menguatkan dirinya untuk memutuskan hubungan yang tercipta diantara mereka. Karena tak mendapat restu orang tuanya.
Sahira menunduk, tersenyum pilu, ia sudah bisa menebak maksud Zaki saat mengajaknya bicara. Dengan sekuat hati sahira menahan air matanya agar tak lolos membasahi wajahnya, 'harus kuat, harus iklas, sadar diri sahira,' batin Sahira menguatkan dirinya dengan meremas kedua tangannya erat.
Melihat respon Sahira yang hanya diam menunduk tanpa dengan kedua tangan yang saling meremas, membuat Zaki tau jika Sahira juga merasakan kecewa bahkan terluka dengan keputusannya. Tapi dia bisa apa, semua tidak akan mendapatkan keberkahan tanpa ridho orang tua dan Zaki juga tidak ingin menyakiti hati uminya dengan menentang keputusannya.
Zaki memilih untuk pergi setelah sekian menit tak terdengar suara apa pun dari wanita di sampingnya.
“ Maafkan saya Sahira, semoga kamu menemukan laki laki yang lebih baik dan kamu bahagia bersamanya, sekarang saya hanya bisa memintamu dalam doa, jika kita berjodoh pasti takdir akan mempertemukan kita dengan jalannya, dengan caranya.” Zaki melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sahira yang masih terpaku di tempatnya, dengan posisi yang masih belum berubah.
“Aku juga akan terus menyebut namamu dalam setiap doa ku, dan aku akan belajar untuk jadi lebih baik agar kelak pantas menjadi pendamping mu. Sampai kapanpun kamu adalah satu satunya lelaki yang mengisi rindu di hatiku.” Balas sahira lirih sambil memandang kepergian Zaki yang terlihat semakin menjauh. Tentu saja semua yang dia ucapkan tak terdengar ditelinga Zaki. Biarlah cinta yang ada saling memendam dalam rindu yang mencipta sendu.
Mungkin sesunyi ini aku di hatimu.
__ADS_1