
Selama delapan hari Hanung sakit, dan selama itu pula, Ningsih tidak bekerja. Mencoba menelpon suaminya tapi justru hinaan yang Ningsih dapatkan. Bingung, sedih dan sakit hati bercampur menjadi satu hingga membuatnya sesak, Namun Ningsih sadar, dirinya harus bangkit, harus kuat, karena nasib Hanung ada ditangannya, Hanung butuh obat, Hanung butuh susu dan juga sekolah. Berbekal keyakinan, doa dan juga perjuangan uang tak kenal lelah. Ningsih menghubungi teman temannya untuk menanyakan pekerjaan. Hingga akhirnya Ningsih bertemu dengan Fadli, teman semasa sekolahnya dulu. Fadli iba melihat hidup Ningsih, karena Fadli sudah mendengar cerita Ningsih dari salah satu temannya yang juga tetangganya Ningsih.
"Ning! kamu mau kerja di toko sarung milikku, baru jadi sih, dan mau dibuka Minggu depan, gak jauh juga dari tempatmu, kamu bisa ajak anakmu sepulang sekolah ke toko. Nanti ada satu orang yang menemanimu menjaga toko, dia adikku sendiri, masih kuliah. Toko buka jam delapan pagi, tutup jam tujuh malam. Pagi kamu masih bisa antar anakmu ke sekolah, dan las waktu jemput kamu bisa gunakan jasa abunemen, nanti biar jadi tanggunganku." Ningsih mengerjap, ada tetes bening yang mengalir di pipi tirusnya. "Apa aku gak salah dengar dly?" balas Ningsih ragu. Fadly tersenyum dan menatap lekat ke arah perempuan yang dulu pernah mengisi hatinya, meskipun tak pernah dia ungkapkan, tapi Ningsih selalu menjadi cinta sejatinya hingga saat ini. "Gak, aku serius, Ning. Kamu mau kan?" sambung Fasli yakin.
"Alhamdulillah, Terimakasih ya, kamu Sudi menolongku disaat aku sudah menyerah dengan keadaan ini." Isak Ningsih pada akhirnya, rasa haru dan syukur menghinggapi hatinya yang sempat menyerah karena sulitnya mencari pekerjaan.
"Maaf, bagaimana hubungan rumah tanggamu, Ning, kamu baik baik saja kan? Maaf!" Fadli menatap manik basah wanita yang masih kuat mengisi hatinya, yang membuat Fadli hingga kini enggan menikah bahkan sekedar mendekati perempuan lain, entah apakah dia yang ikut andil atas prahara rumah tangga Ningsih atau memang sudah harus takdirNYA, masalahnya Fasli selaku melangit kan doa agar bisa hidup berdampingan dengan Ningsih suatu saat nanti. Dan mungkin inilah jalan dan jawaban dari doa doa tulusnya.
__ADS_1
"Aku gak tau, Dli. Semua jadi abu abu karena aku yang tak memiliki harta. Dia sudah menikah lagi disana, melepas tanggung jawabnya pada Hanung anak kandungnya, tapi dia enggan untuk melepaskan aku, aku bingung, aku berniat untuk mengajukan gugatan, tapi keadaan ekonomiku tidak memungkinkan. Saat ini, bisa makan saja sudah Alhamdulillah. Fadli terdiam, bayinya seperti diremas, sesak dan juga marah, wanita yang ingin di milikinya dengan kasih sayang ternyata hidupnya penuh dengan air mata dan penderitaan.
"Kamu yang sabar, Ning. Insya Allah, Gusti mboten sare. Percayalah akan selalu ada pelangi setelah hujan. Mulai saat ini, aku akan membantumu semampuku, kamu jangan pernah sungkan jika membutuhkan bantuan dari ku." balas Fadli tegas dengan sorot mata iba menatap Ningsih yang masih menjatuhkan tetesan air kristal dari kedua matanya.
"Ning! apa kamu ingin menyelesaikan hubunganmu dengan suamimu itu?" tanya Fadli pada akhirnya, setelah beberapa saat terdiam, menimbang apakah harus dilontarkan pertanyaan yang mungkin saja semakin membuat Ningsih tertekan. Ningsih menatap Fadli, dan dengan pasti kepalanya mengangguk. "Iya, karena sudah tidak ada alasan untukku mempertahankan hubungan yang sakit ini, untuk apa berstatus istri, tapi aku harus mati Matian berjuang sendirian demi hidupku juga anakku, bukankah lebih baik aku sendiri, agar terlepas semua beban yang justru membuatku sakit.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah empat bukan berlalu, Ningsih menjalani kehidupan barunya, menjaga toko sarung milik Fadli yang selalu ramai pembeli, dan Hanung juga semakin sehat dan kembali ceria, setiap pulang sekolah Hanung menghabiskan waktunya di toko menemani ibunya bekerja, bahkan Dian adiknya Fadli sangat menyayangi Hanung seperti adiknya sendiri, Dian bahkan mengajari Hanung belajar mengerjakan PR dan kalau sore diantar mengaji di masjid tak jauh dari toko. Tak ada lagi yang berani menghina Hanung dan mencibirnya seperti dulu, Hanung kini tumbuh semakin sehat dan cerdas. Bahkan hidup Ningsih jauh lebih baik, karena Fadli benar benar mencukupi semua kebutuhan Ningsih dan Hanung dengan baik, rumah yang di tempati Ningsih juga sudah direnovasi oleh Fadli menjadi dua lantai. Hidup Ningsih benar benar berubah, bahkan Ningsih terlihat lebih cantik dan segar.
Proses gugatan cerainya sudah ketuk palu dari tiga bulan yang lalu, dan selama itu suaminya juga tidak sekalipun pulang berkunjung menemui Hanung, dan belum tau kalau Ningsih sudah menggugat cerai dirinya. Namun Ningsih tak perduli, yang terpenting dirinya sudah terbebas dari lelaki egois itu bahkan masa Iddah nya pun sudah berlalu.
Dari waktu ke waktu kedekatan antara Ningsih dan Fadli semakin erat, hingga Fadli memutuskan untuk melamar dan menjadikan Ningsih istrinya.
Duka itu telah berlalu.
__ADS_1
Selesai.